
Dena memiliki trauma yang mendalam jika ada petir dan guru bersahutan seperti tadi, hujan ya hujan aja, nggak usah di dahului petir atau guruh,
"oh gitu jadi kalau cinta ya cinta aja nggak usah pakei acara pendekatan- pendekatan segala...,begitulah ingatannya kala masih remaja dulu.
" lho emang sekarang bukan remaja den, remaja tapi beda levelnya dek.. hihihi remaja dewasa gitu.
ia sudah tenang sekarang walaupun hujan sangat deras dan mengganggu jarak pandang pada kaca mobil Galang namun hujan lebih menenangkan bagi Dena,mobil Galang melaju pelan di tengah guyuran air hujan.
" sudah beritahu ibu jika kamu terlambat pulang? tanya Galang memecah lamunan Dena.
" handphone saya mati pak.
" ya udah pakai handphone saya aja, Galang mengambil handphone dari saku celananya lalu memberikan nya kepada Dena.
" pin nya berapa? tanya Dena.
" bulan sama tanggal lahir kamu.
pipi Dena kemerahan rek, khumairoh oh khumairoh, tapi hidung jangan kembang kempis ya den, hihihi terharu banget Dena guys. ternyata sang dosen tak pernah bohong dengan apa yang di ucapkannya.
sambil tersipu Dena membuka layar handphone milik Galang. setelah selesai ia berikan lagi kepada Galang.
" perasaan dia belum pernah bertanya tentang tanggal lahir ku, ah pasti dia lihat di akun media sosial aku deh, ih kepo sama perhatian itu memang beda- beda tipis ya.
suasana kembali hening hanya derasnya hujan yang belum ada tanda- tanda akan berhenti ya minimal gerimis aja lah nggak apa- apa deh, karena tanpa sengaja Dena melihat ada payung di bawah kursi belakang. hingga tanpa terasa mereka kini telah sampai di depan lorong rumah Dena.
"mau di anterin nggak? galang menawarkan bantuan.
" nggak usah deh pak, saya jalan sendiri aja, tapi bolehkan saya pinjam payung nya?
" iya boleh,itu memang saya sediakan untuk kamu" sedia payung sebelum hujan ya pak dosen? hmm.
"tapi beneran nggak apa- apa kalau jalan sendirian?
" bapak saya udah nunggu tidak jauh dari lorong ini pak, bapak tenang aja, saya aman kok.
__ADS_1
" ok, Hati-hati jangan sampai tergelincir yah, karena saya tidak bersama kamu jika kamu sampai terjatuh.
Dena tersenyum, "sampai ketemu besok di kampus ya. Dena segera turun dari mobil Galang,dia tidak mau lebih lama lagi di dalam mobil,karena bujang tua disampingnya ini makin nggak karuan aja ngomongnya.
"kok nggak karuan sih den, doi sedang berusaha itu untuk mendapatkan trisno mu hehehe"kemudian tanpa menoleh lagi dia berjalan menyusuri lorong menuju rumah nya.
Dena sudah selesai mandi dan sedang rebahan di kamar nya, handphone ia biarkan tergeletak di samping nya, dia bahkan lupa jika handphone nya mati, hmm.. dena, dena,pasti Galang udah jempalitan nggak tentu arah tu mondar mandir kaya setrika arang... hihihi kuno banget sih lang, iya lah sesuai sama usia lang.
dan benar saja ternyata di kamarnya Galang berulang kali menelpon Dena, namun hanya suara operator yang menyambut nya.
" apa udah tidur ya? handphone nya masih mati kah? duh Dena kamu lagi apa sih! Galang seperti abege yang baru mengenal cinta dek, uring uringan sekali pak dosen ini, lebay yah.. banget.
mungkin nanti jika ia teringat betapa dirinya sangat di perbudak cinta dia akan malu sendiri. kalau sekarang sih seperti nya rasa malu Galang sedang ada di pegadaian, kapan menebus nya lang? nanti kalau sudah dapat lampu hijau dari Dena, kalau sekarang sepertinya masih lampu kuning, itu artinya hati- hati" iya hati- hati nanti hati nya Dena jatuh ke lain hati gimana dong kan jadi patah hati"
lama menunggu akhirnya Galang memilih keluar saja, ia ingin merasakan dinginnya angin malam dengan duduk santai di balkon rumahnya. ia pun membuka pintu.
" eits, Galang hampir saja jatuh kebelakang karena pada saat yang bersamaan sang mama sudah ada di depan pintu kamarnya.
" mama, ucap nya pelan, yang di balas dengan senyuman oleh sang mama.
" memang nya kamu pikir mama ini nggak ada kerjaan apa, ngintipin kamu dari balik pintu kamar, hmm, Galang, Galang, ayo mama pingin ngobrol berdua sama kamu, kamu mau kemana?
" ayo ma! kebetulan Galang juga mau cari angin malam, duduk situ yok, ajak Galang pada sang mama.
" jangan lama- lama ya, mama nggak tahan kalau lama- lama kena angin malam, nanti papa mu marah.
" seharusnya kata- kata itu buat Galang ma, kan.. belum selesai Galang bicara namun sang mama kembali burucap.
" tua amat sih lang,kamu nggak bisa juga kalau terlalu lama di luar ya?
" bukan yang itu ma, tapi permintaan mama untuk jangan berlama- lama di luarnya, kan mama yang punya pokok pikiran bukan Galang. kalau Galang sih sebagai gagasan pendukung aja mah.
" duh pak dosen kalau ngomong dalem banget ya. sahut sang mama sambil berjalan di samping Galang.
Galang terkejut sekali saat sang mama tiba- tiba saja mengajaknya bicara, ia tau itu pasti yang di bahas nggak akan jauh- jauh dari yang namanya pernikahan" usia udah sangat, sangat matang lang nunggu apa lagi? kalimat itu selalu saja terngiang- ngiang di telinga Galang.
__ADS_1
mereka kemudian duduk pada sofa bundar.
"ada apa nih, kok Galang mencium aroma yang agak tajam yah? tanya Galang seraya memperhatikan sang mama yang duduk di sebelahnya.
" bukan tajam lang tapi menusuk deh sepertinya, Galang lebih dekat lagi menatap mamanya, untuk memastikan raut muka sang mama.
" apa ma, apa ini ada hubungannya sama Galang?
' bepikir itu yang baik-baik baik saja, ya pasti berhubungan sama kamu, kan kamu yang mama ajak ngomong iya kan?
" tapi jangan memutar kaset lama ya ma, bosen denger nya.
" ngawur kalau ngomong! tapi memang masih berhubungan sama yang itu sih lang.
" tuh kan bener, memang nggak ada topik lain apa sih ma, Galang mohon ma, Galang capek jika harus membahas itu dan itu lagi.
" makanya kalau capek buruan nikah halalin tuh calon istrinya!
Galang tersenyum mendengar ocehan sang mama.
" siapa yang mau di halalin ma? calon nya aja belum ada kok?
" o ya? terus cewek yang kamu ajak ke kafe beberapa hari belakangan ini siapa dong, teman aja atau teman dekat?
" Cewek mana ma? Galang mana pernah bawa cewek ke kafe, Galang berusaha berkelit dari tuduhan mamanya."doi berbohong guys ..
"hmm, nggak mau ngaku ya, terus ini siapa? tiba- tiba sang mama mengeluarkan handphone nya dan menunjukan photo seorang gadis yang sangat dikenali Galang. Galang memalingkan wajahnya.
"aduh siapa sih yang ngirimin photo gue sama Dena ke mama? Bathin Galang.
sementara sang mama dengan senyum kemenangan nya semakin semangat menggoda putra satu- satunya ini.
" sekarang kamu tidak bisa mengelak lagi lang, hayu ngaku aja sama mama, atau kamu mau mama selidiki sendiri siapa gadis cantik ini, atau mama kasih tau papa aja ya?
" jangan ma.
__ADS_1
jeng jeng jeng, ketahuan sama mamanya ya pak dosen, kalau Dena ketahuan Anita gimana jadinya ya? hmm, wes angel tenan iki. ( hmm, susah pokok nya)