Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
Alhamdulillah.


__ADS_3

Dena terus melangkah menuju rumahnya, sepanjang jalan ia tak henti- hentinya menciumi bunga lili putih, Dena, dena, andai kamu tau siapa pemilik bunga itu, apa reaksimu ya, di buang apa semakin di sayang, hmm, embuh lah,,


" bunga nya cantik banget sih, kenapa di buang ya sama pemiliknya, coba kasih aku aja" Dena masuk ke dalam rumahnya, ia letakkan bunga itu di dalam kamarnya.


sementara itu Galang belum beranjak dari posisinya, padahal mobil sang dokter sudah berlalu sedari tadi, dia tampak menimang- nimang ponsel di tangannya.


" akhirnya, pesan ku tersampaikan kepada orang yang ku inginkan, ya walaupun jalannya berbeda, tapi kan tujuannya sama yaitu untuk Dena" bathin Galang sambil tersenyum kini.


Niat Galang ingin menghubungi Dena ia urungkan, ia tak ingin terburu-buru, rasa sakit yang ia torehkan di hati Dena bukanlah hal main- main, lalu kini dirinya sekonyong-konyong koder menghubungi Dena, minta maaf, dan bilang aku cinta kamu lagi, halah mbell, wedus gembel lang, Galang, kamu pikir wanita itu boneka apa! bisa kamu permainkan sesuka hatimu, boneka anabel tuh kalau berani, hayo berani nggak.... hihihi.. horror...


Galang melajukkan kendaraan meninggalkan tempat itu, sepanjang jalan hanya Dena yang ada dipikirannya,


" apa Dena masih mau menerima ku, ataukah pria itu yang sudah menambat hatinya, arrrghhh,, Galang,, tidak ada jawaban untuk pertanyaan yang tidak kau sertai dengan usaha,, usaha lang, cari tau, nggak perlu bertanya- tanya terus, buang- buang waktu saja" gerutu Galang.


Galang tiba di kafenya menjelang sore hari, suasana sedikit ramai, didepan tampak Angga sedang menyajikan makanan di meja, ketika Gakang berjalan ke arahnya, Angga tersenyum.


" sore mas " sapa Angga.


" iya, tolong bawakan minuman hangat ke atas ya ngga, makanan ringannya satu porsi" ucap Galang segera berlalu menuju Ruangannya di lantai dua.


Galang menggeser pintu ruangan kerjanya, semua sudah tersusun rapih.


Galang merebahkan tubuhnya pada single bed milik nya.


" hmmm, padahal sudah lebih dari beberapa minggu tapi harum tubuhmu masih tertinggal di sini Dena" Galang menciumi guling dan selimut yang waktu itu di gunakan oleh Dena, saat beristirahat di ruangan Galang itu.


"ya iyalah masih tertinggal harumnya lang Galang, kan kamu sendiri yang memerintah kan, "selimut dan guling nggak usah di laundry, masih bersih "dalihnya, preet,, bukan masih bersih tapi masih rindu itu, dasar bujang tua, makin tua makin menggila, hahahaha,, peace pak dosen.


saat Galang masih asyik memeluk guling dan selimut nya, Dimas muncul di ambang pintunya, indra penglihatannya menatap heran pada sang tuan muda,


" mas Galang kenapa itu, apa dia lagi tidur terus mimpi basah ya, meluknya itu lho meresapi banget , mesakno nemen sampean mas, mas" gumam Dimas, yang kemudian berjalan menuju meja kerja Galang, lalu ia letakkan semua pesanan Galang tadi.


Dimas tak punya nyali untuk mengganggu mimpi basah sang tuan muda nya, bisa- bisa di deportasi dia dari kafe ini, mau di kasih makan apa si puspita nanti, lho udah punya istri ya mas Dimas, namanya puspita? heheh.. jangan salah paham dulu gess, puspita itu nama kucing anggora peliharaan nya Dimas, pus, pus, pus,


ngeong, ngeong.....

__ADS_1


jadilah sekarang Dimas langsung turun saja meninggalkan sang tuan muda yang sedang berkelana dalam dunia fantasi mimpi basahnya...


hingga malam menjelang Galang belum tampak keluar dari ruangannya, Dimas pun berinisiatif untuk melihat keadaan bos mudanya itu di lantai dua, namun baru saja ia akan menutup layar laptopnya, Galang sudah muncul dari tangga teratas, rambutnya basah gess,,


" keramas dia bray,,,


" welah dalah ueddan tenan mas Galang ini ya, bener- bener hancur dunia persilatan kalau pemimpin padepokan nya modelan kayak mas Galang" gumam Dimas lalu kembali membuka layar laptopnya.


" siapa yang nganterin makanan ke atas tadi Dim" tanya Galang yang kini duduk di samping Dimas.


" waduh piye iki, di jawab salah nggak di jawab tambah serba salah, yo wes tak jawab apa adanya saja lah" bathin Dimas.


" itu, telinga sama mulut apa perlu di recycle Dim, sepertinya beberapa fungsinya sudah agak berkurang " ucap Galang kesal, karena Dimas diam saja tak menggubris pertanyaan darinya.


" recycle ndas mu peang lang, Galang" gerutu Dimas dalam senyuman nya.


" saya yang nganterin mas, sepurane, nggak berani mbangunin mamas nya, takut mengganggu" jawab Dimas.


Galang yang merasa aneh akan jawaban Dimas itu lalu merubah posisi duduknya, ia duduk menyamping menghadap Dimas, dengan satu tangan menopang dagu nya,


" manis opo, hanya dari senyuman di wajahnya saja Dimas sudah dapat menngendus aroma- aroma hati terpanggang yang gosong, ireng lang, ireng,,


" takut mengganggu? siapa dan apa? " tanya Galang menelisik dengan senyum smirk di bibir nya.


" jangan menyeringai gitu ah mas, bulu kuduk saya berdiri semua nih" ucap Dimas mencoba berseloroh.


Galang melepaskan topangan tangan pada dagunya,


" karena saya sedang bahagia, hari ini kamu saya maafkan, ya walaupun sebenarnya saya sedikit dongkol dengan ucapan kamu itu, gimana, kafe aman terkendali kan selama saya nggak kesini? tanya Galang kemudian.


" aman mas, aman, tenang saja" jawab Dimas.


" syukur lah, kalau gitu saya pamit pulang dulu" ucap Galang kemudian berdiri dan meninggalkan Dimas, yang kini membuang nafasnya lega....


" huh, semoga sampean bahagia terus ya mas, bukan karena apa mas, tapi jantung saya nggak aman jika melihat seringai nya sampean itu "lirih Dimas.

__ADS_1


Galang melajukkan kendaraan nya menuju rumahnya.


tiba di rumah, Galang tidak melihat papa ataupun mamanya di sana,


" Di, kok sepi, bapak sama ibu kemana ya? " tanyanya pada Ardi yang tengah duduk di teras samping sambil menikmati secangkir kopi khas Aceh nya.


" ada di atas mas, baru saja naik" jawab Ardi santai.


. Galang segera menaiki tangga dan benar saja papa dan mamanya tengah berbincang santai di sofa panjang nya.


" malam ma, pa, belum tidur ya? tanya Galang lalu ikut duduk di samping sang mama.


" pa" ucap sang mama, seraya menunjuk- nunjuk dengan ujung bibirnya ke arah Galang.


" apaan sih ma, suka nggak jelas deh, ngomong aja langsung nggak perlu pakai bahasa isyarat segala " ucap Galang bersungut-sungut kini.


" iya nih mama sekarang punya hobi baru lho lang" timpal sang papa, yang membuat Galang merasa sang papa juga tengah menggoda nya.


" mama sama papa sama aja" Galang beranjak dari duduknya hendak masuk kekamar nya, namun ucapan sang mama menghentikan langkah kakinya.


" kalau lagi bahagia, bagi- bagi dong, jangan senyam- senyum sendiri gitu, kayak odgj aja kamu lang, lang" sang mama tersenyum saat Galang membalikkan tubuhnya berjalan ke arah nya.


" bahagia Galang itu adalah doa mama yang di ijabah sama Allah, trimakasih ma, udah ya, ceritanya disambung besok, Galang capek, mau menjemput mimpi indah dulu, bye,, ma, pa" ucap Galang kemudian berlalu masuk ke kamar nya.


Wijaya dan Ryanti saling pandang kini.


" Alhamdulillah" ucap keduanya bersamaan ,dengan posisi Ryanti ada di pelukan suaminya.


Alhamdulillah, akhirnya


trimakasih, semoga selalu suka


BarokAllah.


see u....

__ADS_1


__ADS_2