
Setelah menjawab pertanyaan Galang,Angga pun berlalu tanpa menutup pintu nya.
Dena dan Galang pun saling pandang kini, lalu keduanya sama- sama tersenyum.
"kenapa? " tanya Galang.
" karyawan kamu jomblo semua ya mas" tanya Dena.
" kenapa kamu bisa berpikir seperti itu hem,, emang keliahatan banget ya ngenes nya? " Galang balik bertanya.
"iya, kayak kamu dulu waktu pertama kali kita ketemu" ucap Dena.
" di kampus? " imbuh Galang.
Dena tersenyum, menjawab pertanyaan Galang.
" iya, mas kaku banget dulu kalau sama cewek, bahkan si Anita pernah kecewa lho waktu jatuh cinta sama kamu" saat menyebutkan nama Anita itulah raut wajah Dena berubah sedih, ya, sejak hubungan nya dengan Galang diketahui oleh Anita, Dena tak pernah lagi berkomunikasi dengan sahabatnya itu, bukan Dena yang menghindari, tapi Anita yang tak ingin lagi bertegur sapa dengan dirinya, ketika di kampus Anita bersikap seolah mereka adalah orang asing yang tak pernah bertemu sebelumnya, bahkan Anita memblokir nomor handphone Dena, tragis sekali nasib persahabatan mereka, semoga suatu saat nanti mereka bisa tertawa dan bercerita se akrab dulu, aamiin.
" tuh kan jadi sedih, udah ah, kita bahas yang bahagia- bahagia aja" ucap Galang coba mengalihkan tema pembicaraan mereka.
" aku laper mas, makan aja yuk" ajak Dena yang segera menyantap makanan yang tersaji di depannya.
waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB,ketika Galang kembali naik ke lantai dua, ia baru saja membantu Angga yang keteteran melayani pengunjung yang ramai saat jam makan malam tadi, saat pintu terbuka Galang melihat Dena yang tertidur di single bed milik nya, Galang lalu menghampiri nya, menepuk-nepuk pelan pipi Dena, seraya memanggil- manggil nama Dena pelan di telinga nya.
" Dena, bangun sayang, udah malam, kita harus pulang" ucap Galang pelan ditelinga Dena.
" emm, apa sih mas, gangguin orang aja, ngantuk banget nih" Dena malah menarik selimut dan gulingnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.
" iya, nanti di lanjut di rumah aja tidurnya ya,sekarang mas anter pulang dulu, nanti bapak sama ibu khawatir lho " ucap Galang namun tak di dengar oleh Dena.
" Dena" ucap Galang sekali lagi, tapi kali ini bukan selimut atau guling yang di tarik Dena, melainkan si empunya nya,, merasa terganggu tidur nya, Dena menarik satu tangan Galang yang masih menepuk- nepuk pelan pipinya, Galang yang tidak siap akhirnya terjatuh dan menimpa tubuh Dena, Galang tak pernah sedekat ini dengan lawan jenisnya, ini adalah kali pertamanya dan disini Dena lah sebagai tersangka nya ya.
Galang dapat merasakan lembutnya pipi Dena dan harum rambutnya,,
Dena yang memang tengah berada di alam bawah sadarnya, Dena benar-benar tidur gess, bukan tidur ayam ya,, yang jika mendengar langkah kaki mendekat langsung terjaga,
Dena malah semakin mengeratkan pelukan tangannya pada tubuh Galang,, Galang tau ini tidak baik, ya sangat tidak baik, apalagi kan sebentar lagi si sontoloyo Angga itu akan naik untuk menyerahkan kunci kafe nya kepada Galang, aduh gaswat ini, Galang buru- buru menarik tubuhnya dari pelukan Dena, walaupun Dena sangat erat memeluknya, namun tenaga lelaki sejatinya yang bekerja tentulah itu bukanlah hal yang sulit bagi Galang, namun tentu saja semua harus dilakukan dengan kelembutan, bukan asal tarik saja, bisa gagal jantung nanti Dena nya.
perlahan-lahan Galang menarik tangannya yang tertindih punggung Dena, setelah berhasil iapun menarik kakinya yang dijadikan guling oleh Dena, namun naas, belum lagi kaki Galang bergeser dari cengkeraman kaki Dena, terdengar langkah kaki mendekat dan, ,,
" Astaghfirullah hal azim,, istighfar mas, belum halal, jangan menuruti nafsu sayton mas" kalimat itu meluncur sempurna dari bibir Angga, yang datang untuk menyerah kan kunci kafe kepada Galang, namun alangkah terkejutnya Angga saat disuguhi adegan plus- plus antara Galang dan Dena, yang sebenarnya tidak seperti apa yang dia lihat itu.
Galang segera merubah posisinya tanpa membangunkan Dena, meraih bantal di depannya lalu ia lempar kearah Angga, Angga yang memang dalam keadaan siap itupun dengan mudah menangkap bantal yang dilempar oleh Galang lalu di peluknya.
" jangan suudzon kamu ngga,, aku nggak lagi ngapa- ngapain sama Dena ya, nggak usah fitnah kamu!! ucap Galang menolak tuduhan Angga.
" lho saya nggak suudzon apalagi memfitnah mas Galang ya, tapi ini real di depan mata saya,, mas Galang berbuat asusila sama mbak Dena, saya bilangin ibu sama bapak lho, mau bilang apa sampean mas" ucap Angga merasa apa yang dilihat nya itu adalah suatu hal yang melanggar norma- norma susila dan aturan agama.
" bilangin aja sana, dasar tukang ngadu, silahkan ayo sekarang telepon ibu atau bapak, saya punya bukti kalau memang kami tidak berbuat asusila disini, ayo telepon tunggu apalagi! tantang Galang.
" weh, mas Galang, benar-benar ya, apa nggak ada cara lain lagi mas, ngebet banget, udah ketangkap basah masih aja menyela, pakek nantangin lagi" ucap Angga kesal lalu meraih ponselnya untuk menghubungi sang nyonya besar di rumahnya, namun belum lagi ia selesai menekan nomor sang nyonya,Galang sudah duduk di kursi menghadap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV di ruangan itu, Angga pun mengurungkan niat nya itu.
" kenapa nggak jadi, ayo bilangin aja sama ibu saya nggak takut, palingan kamu sendiri yang malu karena sudah salah kasih informasi dan sudah memfitnah kami" ucap Galang mulai memeriksa rekaman CCTV-nya, Angga pun mendekat, ia menunduk malu kini.
" sepurane mas, saya salah" ucap nya pelan.
" udah sadar sekarang, nggak ngegas kayak tadi lagi, aku sampai pangling tadi sama kamu ngga, ini Angga atau petugas keamanan sih, kok semangat banget seolah tengah mendapati pasangan mesum di kamar kost- kost an saja"
" emosi tadi mas, gedeg banget rasanya, nggak percaya aja, tapi ternyata saya salah, terus itu bagaimana mas, mau sampe pagi tidur disini " tanya Angga menunjuk ke arah Dena yang tak berubah sama sekali posisi tidurnya, tidur apa pingsan Den!! hehehe.
" biar itu jadi urusan saya, kamu silahkan pulang" ucap Galang meraih kunci yang diberikan oleh Angga, dan Angga pun keluar dari ruangan Galang.
" huh, hari ini Bener-bener buat spot jantung" ucap Galang lalu kembali menghampiri Dena, yang tak terusik dengan bisik- bisik antara dirinya dan Angga.
Galang menyibak pelan selimut yang menutupi tubuh Dena,
" Dena, ayo kita pulang, hari sudah malam, nanti ibu khawatir "bisik Galang di telinga Dena.
__ADS_1
Dena tampak mengerjapkan kedua matanya, memandangangi ruangan Galang,,
Dena terjengit, kaget Den,ho oh!!
" kok nggak bangunin dari tadi sih mas, ini udah jam berapa, aduh,, ibu pasti sangat khawatir ini, Dena segera meraih ponselnya, namun sial, ponsel nya lowbatt,,
" kenapa, handphone nya mati? "tanya Galang, yang mendapat anggukan kepala dari Dena.
" pakai handphone mas aja, nih" Dena segera meraih smartphone dari tangan Galang, dia memencet nomor handphone sang ibu, setelah menekan tombol panggil,Dena memicingkan matanya,rupanya calon suaminya ini sudah menyimpan nomor orang tuanya ya, dan mau tau namanya apa?
my second parent,,
Dena melihat ke arah Galang, Galang pura- pura tidak melihatnya saja, hingga terdengar Dena tengah bercakap- cakap pada ibunya melalui sambungan telepon.
" udah ngomong nya? " tanya Galang saat Dena memberikan kembali ponsel nya.
" sejak kapan mas menyimpan nope ibu, trus contact name nya? " tanya Dena.
" sejak kita menjalin kedekatan, kamu tau sejak awal mas memang tidak berniat menjadikan hubungan kita ini adalah ajang senang- senang atau sedih- sedih an saja, dari awal mas sudah serius sama hubungan kita ini" jawab Galang lantang.
" o ya, terus waktu mas tinggalin aku tanpa kabar dan berita itu apa dong, berarti mas serius juga dong sama tante Anisa? " tanya Dena kemudian.
Galang melihat kepada Dena, lalu menggeleng kan kepalanya.
" jangan sebut- sebut lagi nama itu, mas nggak mau mengingat nya" ucap Galang lalu meraih kunci mobilnya, Dena menganggukkan kepalanya, mengerti akan peringatan dari Galang itu.
" ayok kita pulang, di bawah udah sepi" Galang meraih satu tangan Dena, keduanya tampak menuruni tangga.
Galang melajukkan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, jalanan masih terlihat ramai.
*
*
*
" iya, lagian aku mana tahan mas lama- lama lihatin handphone, kepalaku pusing, mataku juga lelah" jawab Dena.
Galang pun bergegas meninggalkan kediaman Dena setelah Dena masuk kedalam rumahnya.
" dari mana saja nduk, jam segini kok baru sampai rumah, terus tadi motor kamu kenapa sopirnya nak Galang yang membawanya kesini, handphone juga nggak aktif kenapa?tanya sang ibu yang keluar dari kamarnya.
" Dena pergi sama mas Galang bu, nemenin dia ambil cincin kawinnya, terus diajakin kepantai sebentar lalu singgah di kafe mas Galang, maaf sudah bikin ibu cemas, handphone Dena lowbatt bu" ucap Dena berdiri di depan ibunya, ia sengaja tak memberi tau sang ibu perihal Galang yang nyasar ke klinik bersalin bersama si minyak zaitun itu, bisa- bisa sang ibu kultum ba' da isya nanti. dan saat menelpon ibunya tadi Dena hanya memberi tau bahwa dirinya sebentar lagi pulang, jadilah sang ibu kini bertanya-tanya.
" iya, lain kali kalau pulangnya terlambat segera hubungin ibu, jadi ibu sama bapak nggak khawatir, inget sebentar lagi kalian bakal di pingit jadi manfaat kan waktu berdua semaksimal mungkin, kerjakan yang mesti di kerjakan, nggak usah nyari kerja sambilan"Dena mengerutkan kedua alisnya.
" maksud ibu apa? kerja sambilan? " tanya Dena bingung.
" iya sambil makan sambil suap- suapan, sambil jalan sambil bergandengan tangan dan banyak lagi sambilan- sambilan yang lainnya inget belum H-A-L-A-L" sang ibu mengeja ucapan terakhirnya.
" Dena tau batasan-batasan nya bu, ibu tenang saja, Dena masih gadis solehah nya bapak sama ibu, dijamin ori" ucap Dena menggenggam tangan sang ibu.
" aamiin,, syukur lah kalau kamu tau batasan-batasan nya, tunggu sampai semua halal bagi kalian" ucap sang ibu menambahkan, kemudian kembali masuk ke kamar nya,
*
*
*
pagi yang cerah Galang sudah bersiap dengan setelan kantornya, pagi ini seperti biasanya Ardi sudah bersiap di depan menunggu tuan mudanya yang akan berangkat ke kantor.
sementara itu Galang yang baru saja menyelesaikan makan paginya, buru- buru beranjak dari kursinya,
" hari ini pulang jam berapa lang,sama Ardi atau pulang sendiri? " Galang meneguk air minum di gelasnya sebelum menjawab pertanyaan sang mama yang lebih mengarah kepada sebuah sindiran, ya iyalah lang,kamu pulang kan udah malam terus sopir pribadimu itu pulang duluan dengan angkutan online dengan alasan bahwa kamu sedang bersama Dena, nggak inget ya ultimatum sang mama,
"Ardi harus selalu bersama mu sampai akad!! lalu tadi malam apa?.
__ADS_1
" berangkat dan pulang sama Ardi ma, hari ini Dena sibuk dengan kuliahnya, Galang juga harus menyelesaikan perlengkapan buat akad nanti" jawab Galang.
sang mama memperhatikan jari manis Galang yang tersemat sebuah cincin disana.
" kapan ke toko? " tanya sang mama seraya matanya menunjuk ke arah tangan Galang.
Galang tau kemana arah pembicaraan sang mama, ia pun mengangkat tangan kanannya, menunjukkan jari manis nya.
" maksud mama ini" ucap Galang.
" hem"jawab sang mama singkat.
" kemarin, sama Dena ma" jawab Galang lagi.
" kenapa berubah pikiran, baru nyadar kamu kalau ucapan mama itu ada benarnya hem, ada cewek yang nggodain kamu di kantor, apa perlu mama suruh si Ardi merangkap jadi bodyguard untukmu juga? " bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mama, naluri nya sebagai seorang ibu muncul saat melihat hal yang dianjurkannya kemarin ditolak mentah-mentah oleh Galang, tapi kenapa sekarang dituruti? aneh, pasti ada apa-apa nya ini, ada yang nggak beres.
"nggak perlu ma, Galang aman kok, dan untuk cincin,ini permintaan Dena, alasannya sama seperti apa yang di ucapkan mama kemarin" ucap Galang, meraih tangan sang mama lalu mencium nya.
" Galang berangkat dulu ma, assalamu'alaikum "
Galang pun bergegas kedepan dimana Ardi sudah menunggunya sejak tadi.
" ayo berangkat di, saya ada pertemuan dengan klien pagi ini" Galang masuk kedalam mobilnya.
" gimana urusan yang kemarin mas, apa udah kelar? " tanya Ardi di sela- sela perjalanan mereka.
Galang menoleh,
" Alhamdulillah " ucapnya singkat.
" tadi di ceramahin ibu ya mas, maaf saya nggak berani bohong sama ibu, pasti ujung-ujungnya ketauan juga, ibu kan punya indera ke enam mas" ucap Ardi sedikit merasa bersalah.
" iya nggak apa-apa, kamu nggak usah merasa bersalah kayak gitu, kan saya udah bilang kalau saya percaya sama kamu"
" trimakasih mas, sudah mengerti"
" hem" ucap Galang lagi.
*
*
*
sementara itu Dena pun sudah tiba di kampusnya, ia segera memasuki kelas nya yang sudah mulai ramai .
" Dena" sapa Dinda yang kini berdiri di samping Dena,
" Din, udah dari tadi ya? " tanya Dena.
" kamu ini lupa atau sengaja? " tanya Dinda seraya menyolek jari manis Dena dimana disana tersemat berlian mungil pemberian Galang.
Dena segera mengangkat tangannya lalu buru- buru melepas benda berharga itu dari jari manisnya.
" lupa din alias nggak sengaja" bisik Dena ditelinga Dinda.
" hem, besok lupa lagi aja, biar yang lain tau, kebiasaan! hardik Dinda.
Dena menggeleng kan kepalanya seraya memasukkan cincin mungil itu pada saku celananya.
trimakasih, semoga selalu suka sampai
happy ending ya,,
jazakumullah khoiron.
see u,,,,
__ADS_1