Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
cemburu.


__ADS_3

kini tinggallah Wijaya seorang diri merenungi semua kesalahannya yang apakah masih bisa diperbaiki ini, belum terlambat kah?


" ah, sebelum ijab dan sah di teriakkan, perjuangan belum bersertifikat haram bagi Galang"


Wijaya masuk ke kamarnya, hal yang pertama dilihatnya adalah sang istri yang sudah menemani nya selama kurang lebih empat dasawarsa tersebut kini nampak sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


" apakah kamu tidak pernah merasa bahagia hidup bersama ku, Ryanty.."Wijaya mengelus pipi sang istri pelan, ia singkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah ayu sang istri.


sementara itu di dalam kamarnya Galang nampak menatap monitor pada layar laptop nya.


berkali- kali dirinya menguap namun matanya tak kunjung dapat terpejam, matanya melihat sekilas pada smartphone yang ada di sebelah nya.


"Dena, ah, dia udah tidur belum ya" Galang meraih handphone nya lalu menuju aplikasi chat disana, bak Gayung bersambut, rupanya orang yang di isyaratkan masih terjaga layaknya dirinya kini.


"sayang"


ucap Galang saat panggilan nya sudah terhubung, dia hanya melakukan panggilan suara saja terhadap Dena.


" pak Galang, kenapa pak, kok belum tidur, ini udah lewat tengah malam lho, bergadang ya? " tanya Dena membalas sapaan sayang dari Galang.


Galang memaku wajahnya memandangi wajah Dena yang ada pada layar laptop nya.


" kenapa nggak sapa balik sayang juga dan kenapa manggil nya masih pak sih, memang saya setua itu ya? " ucap Galang kesal.


"emm, iya maaf, saya belum terbiasa pak"


" makanya di biasa in dari sekarang, jadi nanti kalau sudah jadi nyonya Galang Wijaya nggak terbata lagi buat manggil mas, oke? " pinta Galang.


Dena tak menjawab, kenapa sih susah banget den, den.


" ya sudah, percuma juga memaksa kamu, nggak bakalan bisa, yo wes, saya belum tidur, lebih tepatnya nggak bisa tidur, makanya saya putuskan buat ngobrol aja sama kamu, dan ternyata orang yang sedang saya pikirkan juga masih terjaga, kenapa? " suara Galang terdengar berat dan serak di telinga Dena.


" pak Galang ada masalah ya, abis nangis, berantem sama papanya, semua yang coba kita sembunyikan sudah terbongkar? " tanya Dena, mencoba membaca suara Galang.


Galang mengerutkan keningnya.


kekasih nya ini apa punya indra ke enam ya, alasan Galang melakukan panggilan suara dan bukan panggilan video itu adalah supaya Dena tak dapat membaca mimik pada wajahnya ini, tapi apa? dari suara Galang saja tebakkan Dena hampir tidak meleset, minus berantem sama sang papa ya, karena Galang inikan sudah dewasa gaes, kalau kata Dena sih hampir mendekati kadaluarsa, beih sadis bin tega lho Den.


" kamu ngomong apa sih sayang, aku cuma nggak bisa tidur, itu aja, nggak ada masalah lainnya, dan pingin denger suara kamu, kangen" gombalnya.


" bohong, malam tadi baru aja ketemu kan di rumah, masa iya udah kangen aja, gombal gembel, nggembel!! ucap Dena.


" beneran Dena, tadi kan kita nggak leluasa ngobrol nya, sekarang boleh ya, temenin sampe kamu tertidur" pinta Galang lagi.


"kalau ada yang ingin di ceritakan, ceritakan aja pak, saya siap kok mendengar kannya, jangan di pendam sendiri, hubungan ini kita berdua yang menjalani, jadi masalah nya pun harus berdua dalam mencari penyelesaian nya"


Dena tak ingin lagi berbasa-basi, apalagi masih mendengarkan gombalan dari Galang, oh ayolah Dena pak dosen mu itu benar-benar kangen katanya kan tadi?


" kamu bener Dena, papa sudah mengetahui tentang kita" Galang menjedah kalimat nya.


" apa kita akan berakhir disini pak? " tanya Dena.


" kita akan berakhir di pelaminan dalam halalan toyiban, heheee " tawa Galang terdengar lirih penuh pengharapan untuk Dena.


Dena mengusap wajahnya lelah, huh....


terdengar Dena membuang kasar nafasnya.

__ADS_1


" kamu lelah Dena? " tanya Galang.


" selama bersamamu aku kuat mas" ucap Dena dengan mata yang mulai ber air. ia tak sadar apa yang barusan di ucapkan nya.


Galang menyunggingkan senyum di hujung bibir tipisnya.


" mau manggil mas aja harus di kasih problem berat dulu" gumam Galang yang ternyata masih terdengar oleh Dena.


Dena salah tingkah di buatnya.


" habis nonton sinetron striping ya, makanya jadi baperan gitu" goda Galang lagi.


"kenapa malah di bully sih, padahal kan saya susah payah untuk mengatakan nya pak" ucap Dena kesal.


" ya.... kok pak lagi sih sayang, padahal tadi mas sudah bahagia banget walaupun mungkin kamu hanya terbawa suasana saja"


ucap Galang dengan sedikit kecewa pada ujung kalimat nya.


" selamat malam Mas, aku udah ngantuk, bye" tutup Dena mengakhiri obrolan mereka.


Galang pandangi wajah Dena pada layar ponsel nya, lalu ia usap perlahan.


ke esok kan harinya di kampus.


" pagi pak" sapa Anita saat berpapasan dengan Galang sebelum masuk ke ruangannya.


Galang tersenyum menganggukan kepalanya.


Tak ada pembicaraan apapun antara mereka berdua Galang yang yang selalu menjaga sikap jika di depan mahasiswa itu menjadikan ia sosok yang dingin dan di segani di kampusnya.


Galang setengah berteriak saat menyebut nama Dena karena jarak yang agak jauh di antara mereka.


Dena menoleh, lalu tersenyum kepada Galang, ia pun memperlambat jalannya agar Galang dapat menyamai langkah kakinya.


"udah sarapan, semalam tidur jam berapa? " tanya Galang sambil menundukkan kepalanya.


" belum pak, tadi kesiangan nggak sempat sarapan"


setelah berkata demikian Dena pun mempercepat langkahnya meninggalkan Galang, karena mahasiswa sudah mulai ramai akan masuk ke kelas, Dena belum ingin menimbulkan keriuhan di kampus hanya karena kepergok sedang jalan beriringan dengan Galang.


Sampai di ruangannya Dena segera duduk di kursinya, dan rupanya Anita telah terlebih dahulu sampai.


" Hai nit, apa kabar, gue kangen sama lho, nanti pulang kuliah bareng ya, gue mau singgah di rumah lho boleh nggak? Dena langsung meluahkan isi hatinya saat berjumpa dengan Anita, ya memang semenjak peristiwa siang itu, Anita menjadi sangat sulit untuk di temui oleh Dena, padahal kan dulu mereka ini bagaikan sepasang sandal jepit, kalau yang satu berhenti maka pasangan satu nya pun ikut berhenti, nggak ada tuh ya ucapan:


" ya udah gue pergi sendiri ya"


" ayo pergi sama- sama, atau nggak sama sekali "


" maaf, tapi gue ada acara lain sepulang kuliah nanti, jadi sorry nggak bisa pulang bareng " jawaban Anita lebih tajam dari bambu runcing sob... hmm, luka yang tak berdarah namun perihnya serasa di siram cuka, perih nit, sakiit...


Dena tersenyum getir, lalu berbalik ke depan dimana saat ini Galang sudah nampak di depan pintu.


" selamat pagi semuanya "


sapa Galang kepada seisi ruangan. pandangannya berakhir pada Dena yang terlihat sedikit pucat.


" Dena, apa kamu baik- baik saja, wajahmu terlihat pucat" tanya Dion yang duduk di samping Dena.

__ADS_1


yang ditanya Dena tapi yang menoleh Galang.


ia hampir tak dapat menguasai dirinya, saat rasa cemburu datang karena ada pria lain yang memberikan perhatian untuk Dena.


" Dion, jaga sikap,nanti ada yang jealous bahaya! " ucap Anita seperti berbisik namun penuh penekanan pada kalimat nya.


Dion dan Dena saling melirik, Dena menggeleng kan kepalanya sementara Dion hanya tersenyum tipis.


Saat Galang tengah menjelaskan di layar monitor nya, Tiba-tiba saja keriuhan terjadi dan asalnya dari meja Dena.


" Dena, bangun Den, den"


Dion nampak menepuk pipi Dena pelan dan berulang-ulang, namun Dena masih terpejam.


sebenarnya Galang sangat panik dan lebih bahaya lagi adalah cemburu namun masih pada tempatnya, bayangkan saja jhoooon..


pipi mulus sang kekasih di belai- belai mesra oleh pria lain dan ia melihatnya berulang-ulang, apa dia harus diam saja, lakukan sesuai porsi mu lang....


Galang mendekat ke arah Dena.


salah seorang mahasiswi datang dengan peralatan p3k nya.


" saya butuh minyak aroma terapi, apa ada? " tanya Galang.


Galang usap pelan aroma terapi pada ujung hidung Dena, namun Dena masih belum siuman juga,Galang pun menepuk pipinya pelan, namun hasilnya sama saja.


sementara Anita tak sekalipun melihat adegan mesra antara Galang dan Dena,dia bahkan merasa jijik melihatnya, sebegitu bencinya kah dirimu terhadap Dena nit,


bahkan saat ini Galang tengah menggendong Dena untuk dibawa ke ruangan kesehatan, dengan di bantu dua orang mahasiswi nya, Galang tak ingin ada pria lain lagi yang menyentuh kulit mulus Dena, ah, pak Dosen, kekanak-kanakan sekali sih anda, biarlah demi kebaikan bersama ya lang ya...


" tolong ambilkan air mineral"


ucap Galang pada Dinda yang berdiri di samping Galang, sementara mahasiswi satunya sudah kembali keruangan nya, dan kini tinggallah Galang bersama Dena dalam ruangan itu.


" wajahmu pucat sekali sayang, kamu lelah ya" ucap Galang mengecup kening Dena singkat sebelum mahasiswi satu nya tadi datang membawa pesanannya.


" ini air mineral nya pak" ucap Dinda seraya menyodorkan nya pada Galang.


"aku, arrrggg, lirih Dena memegangi kepalanya yang terasa berat dan perutnya yang perih.


" kepalamu pusing? " tanya Galang.


Dena nampak terkejut karena Galang ada di dekatnya bahkan terlalu dekat bagi Dena, hingga dia sedikit beringsut menjauh dari Galang.


" kamu masih lemas Dena, pak Galang yang membawa mu kemari" ucap Dinda menambahkan.


" trimakasih, Din, maaf merepotkan" ucap Dena pelan dan lemas sekali.


" trimakasih nya sama pak Galang Den, bukan ke aku" ucap Dinda dengan senyum di bibir nya.


" sama saja, jangan di permasalahkan"


ucap Galang, namun Dena tau kalimat Galang ini adalah contoh dari sebuah majas ironi yang berarti kebalikannya bukan.


hmmm, masalah berarti ya den...


trimakasih, sudah baca dan semoga selalu suka. jazakumullah katsiron.

__ADS_1


__ADS_2