
Galang masih terjaga di balkon kamarnya, pikiran nya melayang jauh.
" Dena, apa cinta kita ini tak kan pernah terlepas dari masalah, disaat aku sudah teguh dengan pendirian ku, Anisa bukan lah penghalang bagiku, namun apalagi yang akan kita hadapi, apakah lebih parah dari sebelum ini? aku kuat dena, tapi kamu, apakah kamu bisa melewati ini semua, apakah aku terlalu egois Dena? "pertanyaan- pertanyaan penuh ketidak pastian terus saja menghampiri pikiran Galang, ia lalu meraih ponsel yang tergeletak di samping nya.
" hmm, online" begitu gumamnya, saat melihat status yang tertera pada akun sosial milik Dena.
Galang pun kemudian melakukan panggilan suara kepada Dena.
panggilan di tolak, eits,, Galang masih bisa berpikir positif, mungkin dia sedang menerima panggilan dari temannya.
~sayang, lagi sibuk ya~
pesan pun terkirim namun tak jua dibaca oleh Dena, pikiran- pikiran negatif mulai merasuki otak Galang.
" nggak biasanya Dena begini, Sesibuk-sibuknya dia, dia tidak pernah menolak panggilan atau tak membaca pesan dari ku"ucapnya lirih.
Galang meletakkan kembali ponselnya.
tak berapa lama kemudian layar pada ponsel Galang tampak menyala pertanda ada chat masuk.
~maaf Pak, tadi bapak saya yang pegang handphone nya, beliau sedang menghubungi teman kerjanya~
" arrrrggghhh,,, kesal Galang, ia tampak menyugar rambutnya kasar.
Galang pun segera menghubungi Dena.
" iya Pak, kenapa, belum tidur ya, udah malam lho ini" ucap Dena diseberang sana.
" iya, udah malam dan kamu kenapa belum tidur juga hem" Galang balik bertanya.
" tadi sih saya udah mau berangkat tidur, tapi bapak saya bilang jika ada pesan masuk dari Pak Galang katanya,... hehehe " Dena cengingisan di ujung telepon nya.
" kenapa tertawa, ada yang lucu ? " tanya Galang sedikit ketus.
" nggak Pak, cuma pesan dari Pak Galang tadi sudah dibaca oleh bapak saya, emmm, kalau saya sih nggak kenapa, kenapa, lah wong itukan bapak saya, yang saya khawatirkan itu Pak Galang... maaf ya...
" sayang.... ucap Galang tak lagi membahas perihal isi chat mesra nya yang terbaca oleh sang calon mertuanya.
" apa Pak, kok kelihatannya Pak Galang lagi ada masalah ya, o iya gimana papanya Pak" tanya Dena.
" papa udah di rumah sayang, tadi sehabis nganterin kamu, aku langsung jemput papa di rumah sakit, papa memaksa untuk pulang, tapi sepertinya memang kondisi papa udah stabil tadi, sekarang udah di rumah" jawab Galang.
Dena terdiam, dia berpikir dari nada bicara Galang seolah- olah menandakan jika dosen ku kekasihku itu memang sedang ingin bercerita dengan dirinya, Dena tak ingin menanyakannya, dia akan menjadi pendengar setia dulu untuk saat ini.
" kenapa diam, kamu udah ngantuk, ya udah bobok gih, aku matiin ya,..
" nggak Pak, belum ngantuk kok, lagian besok kan nggak ada jadwal kuliah,, pak Galang kalau mau cerita, cerita aja, saya setia di sini " ucap Dena membenahi posisi duduknya.
" kamu dimana sekarang, dikamar ya " tebak Galang.
__ADS_1
" hmm" jawab Dena singkat.
" aku di balkon kamar ku Dena, mata masih enggan terpejam, pagi masih jauh untuk menjelang, sedangkan malam nya saja masih berjalan lamban, temani aku sayang, aku butuh kamu, walau hanya suaramu itu sudah lebih dari cukup buatku...
" Pak Galang kayak pujangga aja ih, pandai ber syair rupanya ya,, emang seorang profesor pandai merangkai kata- kata kayak pak Galang ini ya? " goda Dena yang membuat Galang tersenyum disana.
" cuma buat kamu" jawab Galang singkat.
"sayang,,, " ucap Galang lagi.
" kamu masih betah ya manggil aku dengan sebutan pak Galang, nggak ada niatan untuk merubahnya gitu, kenapa kesannya kok seolah-olah aku ini udah tua banget ya kalau bersanding sama kamu" ekhem, ekhem, Galang tidak tau saja jika kalimat yang di cetak tebal itu sanggup memporak- porandakan guling dan juga bantal di kamarnya Dena.. hehehe untung bukan panggilan video,, Dena oh Dena.
" maunya di panggil apa dong, sayang juga? " tanya Dena sambil menahan senyum di ujung telepon nya.
" nggak, sayang nya hanya buat kamu" Jawab Galang dan lihatlah lang,Galang, Dena kini sudah menutupi seluruh tubuhnya dengan bad cover biru muda bermotif bunga... hehehe bikin klepek- klepek aja ih Pak dosen yang satu ini.
" Dena, kamu masih di sana kan, kok nggak ada suaranya sih" tanya Galang lalu memasatkan pendengarannya.
" Dena masih disini mas"... ucap Dena.
" trimakasih sayang, kamu tidur lah, ini sudah larut, aku sayang kamu Dena, jangan berhenti mencintai dan menemaniku entah bagaimana pun nanti keadaan ku" ucap Galang mengakhiri panggilan suaranya terhadap Dena.
Dena terkesiap mendengar kalimat yang si ucapkan Galang, seolah sesuatu yang lebih besar akan menimpa mereka, sehingga permintaan nya sarat akan kekhawatiran yang nyata...
" sayang kamu juga mas" balas Dena sebelum panggilan benar- benar berakhir.
Galang melangkah memasuki kamarnya, ia rebahkan tubuh lelahnya, berharap pagi segera menjelang... lah tidur juga belum prof... tidur dulu gih... bangun- bangun kan udah pagi...
{selamat pagi mas,, semoga jawaban atas masalah yang kamu pertanyakan,berakhir baik- baik saja untuk mu dan juga untuk ku... }
begitulah isi pesan dari Dena yang di akhiri dengan emoticon berbentuk hati.
Galang masih terpejam namun sebuah getaran di ponselnya menandakan sebuah notifikasi masuk itu rupanya mengusik tidur lelapnya...
Galang menggeliat lalu mengerjapkan matanya...
ia menyambar ponsel yang tergeletak di sebelah nya...
" siapa sih pagi- pagi" uhhgghh,, ucapnya lalu mengusap layar ponselnya perlahan.
" Dena? " setelah membaca pesan dari Dena Galang bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya,,
[ trimakasih sayang, peluk cium dari sini ya]
Dena langsung melemparkan ponsel nya sembarang setelah membaca balasan dari Galang.
sementara di rumahnya Galang sudah segar dengan setelan celana khaki dan kaos polo hitamnya tampak menuruni tangga untuk sarapan bersama kedua orang tuanya yang sudah menunggu nya di ruang makan.
" pagi ma, pa", ucapnya lalu mencium pipi papa dan mamanya secara bergantian.
__ADS_1
" seger banget kamu lang, hari ini free ya, di rumah aja atau mau ke kafe? " tanya Ryanti yang menuangkan air mineral pada gelas di depan suaminya.
" rencananya hari ini Galang akan berkunjung ke rumah Anisa pa, ma" jawab Galang lalu mulai menyantap makanannya.
Ryanti dan Wijaya saling pandang.
" sendiri atau perlu di temani" tanya sang papa, Wijaya tau kemana arah pembicaraan Galang itu, Galang berencana membatalkan perjodohan nya dengan Anisa, kan pada rencana awalnya mereka ini akan menggelar acara lamaran pada ahad esok, lalu tiba- tiba saja Galang datang dengan membawa kabar buruk pembatalan rencana perjodohan,,
"Galang sendiri saja pa, tapi sebelumnya ada yang ingin Galang tanyakan sama papa, kita sarapan aja dulu, nanti kita bahas di ruang kerja papa aja" jawab Galang kembali mengunyah makanannya.
"mama nggak di ajak juga nih cerita nya" ucap sang mama sedikit kesal.
" maaf ma, ini urusan kaum adam, mama nggak termasuk" jawab Galang lalu tersenyum kepada sang mama.
" iya deh yang sekarang udah nggak butuh lagi sama kaum hawa, mama menyingkir saja lah" imbuh Ryanti lalu bergegas meninggalkan ruangan makannya.
" ck ayo dong ma, udah mau jadi eyang juga, masa masih ngambekan gitu, malu sama ubannya tuh" ucap Galang yang tak di dengar oleh sang mama yang sudah tak nampak lagi punggung nya itu...
Galang dan Wijaya lalu bergegas menuju ruang kerja Wijaya yang berada di lantai dua di samping kamar sang papa.
" duduklah, apa yang ingin kamu ketahui dari papa" tanya Wijaya yang sudah duduk di kursi kerjanya.
" maaf pa, jika pertanyaan Galang ini menyinggung papa,ucap Galang sebelum berbicara kepada sang papa.
Wijaya mengangguk- anggukan kepalanya.
"kesepakatan apa yang sudah papa buat bersama om Broto selain perjodohan Galang dan Anisa" ucap Galang pelan .
Wijaya tampak menghela nafasnya panjang lalu ia hembuskan perlahan.
" sebenarnya kesepakatan itu bukan papa yang menyepakati nya lang" ucap Wijaya tampak menjedah kalimat nya.
Galang menatap sang ayah dengan tatapan penuh tanda tanya.
" jangan bilang jika kesepakatan itu di buat sebelum Galang lahir pa,jika iya, itu artinya papa sudah merenggut satu hak asasi milik Galang" ucap Galang pelan.
" kamu benar lang, dan kesepakatan itu dibuat oleh almarhum kakek buyut mu dan juga kakek buyut Anisa" jawab Wijaya lalu ia pandangi wajah Galang yang kini tertunduk lesuh.
Galang semakin kacau kini, jika pada zaman dahulu perjodohan itu atas kesepakatan kedua orang tua, lalu mungkin sebelum zaman itu perjodohan dari kedua kakek atau neneknya, lalu Galang sekarang hidup di zaman apa, lang, Galang?
bukan dari kedua orangtuanya, pun kakek neneknya, tapi kakek buyutnya... oh Tuhan, bolehkah Galang mengeluh sekarang, hidup di zaman yang serba modern dan canggih secanggih nya, tapi jodoh nya sudah ditentukan sejak Zaman batu, bahkan sebelum benih ayahnya bersemayam di dalam rahim sang ibunda...
" Dena, oh Dena,,,, Galang menyebut nama Dena dalam tunduk nya...
trimakasih, semoga selalu suka,
BarokAllah.
__ADS_1