
Galang sengaja berlama- lama di kamarnya,setelah membersihkan tubuhnya lalu memakai pakaian santainya ia sibuk berkutat dengan layar laptopnya, ia memang sengaja mengambil cuti dari kampusnya untuk dua minggu kedepan.
tok
tok
tok,,
teedengar pintu di ketuk.
" lang, boleh mama masuk" suara sang mama dari balik pintunya.
" masuk aja ma, nggak di kunci" jawab Galang tanpa beranjak dari duduknya.
sang mama berjalan menghampiri putra nya, lalu duduk di samping Galang.
" sibuk apa pura- pura sibuk, lagi ikhtiar atau hanya sekedar pasrah" kalimat yang keluar dari bibir sang mama terdengar jelas di telinga Galang, hingga Galang memicingkan matanya menghadap sang mama.
" maksud mama apa? jangan ngajakin Galang main teka- teki silang deh" ucap Galang semakin mendekatkan tubuhnya kepada sang mama.
" mama cuma bisa bantu doa aja lang, selebihnya itu tanggung jawabmu, pasrah boleh tapi jika ikhtiar nya sudah mentok, nggak bisa mundur, berbelok arah, berhenti, apalagi kembali, sekarang kamu sedang di fase yang mana? " tanya sang mama seraya mengelus rambut Galang lembut.
" Galang selalu percaya pada kekuatan doa mama, doa mama selalu menembus langit, begitupun saat ini, Galang merasa sudah berada pada fase di ujung ikhtiar,dan mungkin mendekati pasrah" jawab Galang menggemgam tangan sang mama.
" sekarang turun, temui Anisa, mungkin ada hal penting yang ingin dia bicarakan sama kamu,masalah harus di selesaikan,bukan di tinggalkan"ucap sang mama kemudian bergegas turun ke lantai satu dimana Anisa sedang duduk seorang diri.
Galang menutup layar laptopnya, lalu menyambar ponsel di atas nakas, kemudian bergegas menuruni tangga untuk menemui Anisa sesuai perintah sang mama.
Anisa yang mendengar derap kaki menuruni tangga itupun menoleh lalu menatap Galang dengan senyuman di bibirnya.
" kayak perempuan aja kamu mas prepare nya lama banget"ucapan Anisa membuat Galang menghentikan langkah kakinya.
" kenapa semakin kesini, kamu semakin menguasai diriku Anisa, apapun yang aku lakukan selalu salah di matamu, tak bisakah kamu menghargai sedikit saja urusan pribadi ku, kita ini belum menikah jadi jangan memposisikan dirimu seolah- olah berhak atas diriku" ucap Galang dari atas tangga nya.
__ADS_1
" kenapa harus marah mas, kurasa itu hal yang wajar, dan bukankah kamu memang sudah harus terbiasa dengan sikap ku ini? " tanya Anisa yang kini malah berdiri untuk menghampiri Galang.
" mau apa kamu kesini? "tanya Galang ketus.
" pertanyaan yang mubazir itu mas, nisa nggak perlu menjawab nya" Anisa kembali duduk karena Galang kini sudah melangkah untuk duduk di sampingnya.
" kenapa sikap mu masih belum berubah terhadapku mas, pernikahan kita tinggal menghitung hari, apa kamu masih mengharapkan mahasiswi mu itu? " tanya Anisa seraya memasatkan pandangannya pada Galang yang malah tak melihatnya sama sekali.
" keyakinanku itu urusanku nisa, tidak untuk aku pubikasikan kepada mu, dan maaf sampai kapanpun sikapku akan seperti ini terhadapmu, entah nanti statusku sebagai apa disamping mu" Galang kembali memalingkan wajahnya.
Anisa menarik ujung bibirnya lalu meletakkan kedua tangan di atas tas selempang nya.
" apa yang kamu perjuangkan mas, sedangkan hasil yang akan kamu dapatkan jelas lebih indah dari apa yang sedang kamu perjuangkan itu, come on mas, cinta boleh, bodoh jangan, jangan mengorbankan orang tuamu untuk hal tidak berfaedah seperti itu mas"ucapan Anisa sarat akan hinaan bagi Galang, Galang merubah posisi duduknya dan kini memandang tajam kepada Anisa.
" kenapa kamu tidak menempatkan kalimat itu untuk dirimu sendiri Anisa, cintamu itu adalah sebuah kedunguan yang sebenarnya masih bisa untuk di perbaiki, kamu tau sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa mencintai mu, jadi percuma saja semua usaha yang kau lakukan untuk merebut hatiku, karena hatiku hanya untuk kekasih ku, Adreena, silahkan menjadi ratu dalam istana impianmu, tapi permaisuri ku adalah Dena dalam dunia nyataku" tegas Galang tak ingin di bantah.
wey,, sudah mulai berani rupanya pak dosen ini,, good job pak dos,semoga bukan hanya renyah di awalnya saja ya, tapi langsung kicep kalau sudah disuguhi berbagai macam ancaman dari Anisa.
Galang tak menanggapi ucapan Anisa barusan, dia sibuk membaca majalah yang di ambilnya dari laci di bawah mejanya.
" aku mau pernikahan kita di percepat mas, dua minggu terlalu lama bagiku, aku tidak sabar untuk menyandang namamu di belakang namaku, Anisa aditama Wijaya, hmm, keren banget itu mas"ucap Anisa dan Galang masih bergeming seolah tak mendengar apa yang telah Anisa ucapkan tadi.
"udah selesai mengkhayal nya, semoga kamu tidak gila jika impianmu itu tidak terlaksana dengan baik nantinya" ucap Galang menutup majalahnya kemudian ia silangkan kedua kakinya, menatap jam di tangannya.
" maaf nisa, aku lapar, kamu bisa ikut kalau mau" ucap Galang beranjak pergi meninggalkan Anisa.
" tawaran macam apa itu mas, basa basi mu nggak berbobot" Anisa menggerutu namun tak ayal ia pun lalu mengikuti Galang yang menuju ke meja makannya.
Galang yang memang merasa lapar itupun tak menunggu Anisa, ia kini sedang menikmati makanan nya,Anisa berdiri di samping Galang, lama ia berdiri namun Galang tak jua menyapanya.
merasa jika Anisa hanya berdiri saja sedari tadi membuat Galang menghentikan makannya.
" memangnya nggak capek apa berdiri terus dari tadi, kalau nggak laper lebih baik duduk"ucap Galang kemudian kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
" aku nggak lapar mas, mungkin lebih baik aku pulang saja, kuharap kamu segera mengurus semua keperluan kita, ingat mas aku ingin pernikahan kita di percepat, papa ku akan menghubungi orang tua mu untuk memastikan tentang ini"setelah berucap demikian, Anisa segera berlalu pergi meninggalkan Galang, namun langkahnya terhenti saat Galang berucap..
" kenapa harus aku, bukankah kamu yang menginginkan pernikahan ini untuk di percepat, uruslah sendiri olehmu, aku hanya tinggal datang seperti apa yang pernah kau ucapkan,
"semua atas kendali ku mas, kamu tidak perlu bersusah payah"
masih ingatkan dengan kata-kata yang keluar dari bibir manismu itu Anisa? jika kamu lupa maka aku sudah mengingatkannya tadi"ucap Galang.
Galang tak berniat walau hanya sekedar mengantarkan sang calon istri nya itu sampai di pintu gerbang nya saja,
yo wes karepmu lah lang.
sementara itu dikamar nya Dena berkali - kali membaca pesan yang dikirim oleh Galang, ia mencoba mencerna dimana jawab atas tanyanya,
apakah pada kalimat ini..
" aku masih percaya bahwa takdirku adalah bersamamu
dan yakin ku akhirku adalah kamu"
Dena lelah selalu berasumsi, dia ingin kepastian untuk hubungan mereka ini, namun apa yang di lihatnya di pusat perbelanjaan tadi kenapa berbanding terbalik dengan apa yang coba di pahami nya saat ini, kalimat dari Galang itu kenapa seolah- olah masih memberikan sebuah harapan untuknya, sebenarnya siapa yang masih berharap di antara mereka ini, Dena kah atau Galang kah? , hmm, cinta yang rumit.
" lalu aku harus apa, menunggu dalam ketidak pastian kah, sementara dirimu sudah pasti akan segera menjadi suami dari wanita itu, lalu apa yang aku tunggu, duda mu? " Dena terkekeh merutuki kebodohan nya, namun hatinya sakit dalam kekehannya itu, ada rasa yang masih tertinggal di sana, antara kecewa, sakit hati dan putus asa,namun rupanya semua rasa kekecewaan nya tak bisa menghapuskan jejak rindu, cinta dan sayang yang telah tercipta untuk Galang.
" kenapa rasanya sakit sekali pak, kenapa kamu tidak berusaha menerima perjodohan mu itu, lalu melepaskan semua rasa mu kepadaku, jangan menggantung ku seperti ini, di awal manis dan ku berharap diakhirnya akan lebih manis, tapi aku lupa bahwa antara awal dan akhir ada jedah yang tak bisa aku hindari dan mungkin akan memisahkan kita, entah itu untuk sementara ataukah selamanya, apakah aku harus menyamakan keyakinan kita ini, apakah itu bisa menjadi sebab tak bersatunya wanita itu dengan dirimu pak, lalu jika iya, kenapa aku merasa menjadi wanita munafik, sepertinya ikhtiar ku pun harus berakhir pasrah pak Galang, dan semoga pasrah ku tidak berbuah airmata" Dena mengusap wajahnya lelah.
sepurane, mung author amatiran
trimakasih yang selalu membaca dan menyukai cerita ini,, salam sayang dari jauh.
BarokAllah...
see u...
__ADS_1