Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
datang menjenguk.


__ADS_3

Galang dan juga Dena masih belum beranjak dari duduknya.


" kenapa bapak kesini, mamanya nggak ada yang nemenin donk di rumah sakit, nanti kalau papanya pak Galang butuh sesuatu siapa dong yang nolongin" tanya Dena dengan polosnya.


" papa itu pasien vvip sayang, jadi sudah ada perawat khusus untuk membantu segala keperluan mereka, dan tadi saya juga sudah bilang sama mama kalau mau nemuin kamu " jawab Galang.


walaupun Galang sudah sering memanggilnya dengan sebutan sayang, namun entah mengapa jantung Dena selalu berdebar jika mendengar nya, aduh Dena, you are so lucky woman, hehehe,maaf ye kalau sok English.


Galang meraih handphone nya yang berdering, rupanya sang mama.


" siapa pak? " tanya Dena saat Galang akan menerima panggilan dari mamanya.


" mama sayang, aku angkat dulu ya" ucap Galang lalu menggeser warna hijau pada layar ponselnya.


" assalamu'alaikum ma, ada apa" tanya Galang pada sambungan telepon nya.


" papa udah sadar lang,papa nyariin kamu nih, kamu masih di rumah Dena? " tanya sang mama.


Galang menoleh kearah Dena,dan seolah mengerti maksud dari tatapan Galang, Dena lalu tersenyum.


" iya ma" jawab Galang singkat.


" papa belum boleh banyak bicara nak, tapi papa pingin kamu segera datang ke rumah sakit,, belum selesai sang mama berucap Galang langsung menjawabnya.


" iya ma, Galang segera ke sana, bilang sama papa ya, tenangin papa ma"ucap Galang dan akan segera mengakhiri panggilannya.


" kebiasaan, mama kan belum selesai ngomong, kamu main nyerobot aja, papa maunya kamu kerumah sakitnya sama calon istri mu itu"


ucapan sang mama sanggup membuat Galang panas dingin kini, hingga ia merasakan jika keringat dinginnya mengalir deras di sekitaran dada dan turun ke perutnya, mamanya ini apa nggak tau sih , walaupun tidak di loudspeaker, tapikan jarak yang terlalu dekat antara dia dan Dena saat ini, bisa di pastikan jika Dena mendengar apa yang di ucapkan oleh sang mama barusan, dan lihatlah reaksi Dena yang kini akan segera beranjak dari duduknya,


"pasti Dena pikir jika yang dimaksud mama itu adalah Anisa" bathin Galang yang dengan gerakan cepat segera meraih satu tangan Dena dan dengan gerakan kepalanya meminta agar Dena jangan pergi, Dena pun akhirnya duduk kembali.


" maksud mama calon istri, yang mana ma"tanya Galang yang kini malah mendapat tatapan tajam setajam silet dari Dena, merasa sudah salah bertanya Galang buru- buru menggelengkan kepalanya kepada Dena, Dena pun memalingkan wajahnya tak ingin melihat wajah bersalah Galang.


"dasar buaya grotol- grotol, kalau ngomong nggak di filter dulu, sekarang kamu lagi sama siapa, Dena apa Anisa lang" ucap sang mama kesal.


" oh, iya ma, Galang akan ke rumah sakit bersama Dena, bilang sama papa ma,jangan pingsan lagi nanti kalau bertemu sama calon istri Galang ya" hmmmm,,yang di ajak ngomong kan sang mama ya, tapi lihatlah jhhoooon yang mesam mesem kok Dena ya, hihihihi...

__ADS_1


ya iyalah, secara Galang menyebut Dena sebagai calon istrinya kepada sang mama, terhura Dena gaes,eits salah terharu maksudnya ya.


Galang tersenyum ketika melihat wajah Dena yang tampak merona meroni itu.


" kenapa? " tanya Galang dengan senyum menggoda nya.


Dena tersenyum lalu mengedikkan bahunya, berkata bahwa ia tidak tau dengan pertanyaan yang Galang ucapkan.


" kamu dengar kan apa yang mama katakan di telepon barusan, papa pingin ketemu kamu sayang, kamu bersedia kan, ketemu papa? " tanya Galang menatap intens wajah Dena.


" saya takut pak, saya belum siap? " jawab Dena dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Galang tersenyum, entah apa yang Dena takutkan, bukankah papanya sudah memberikan lampu kuning dan sepertinya akan segera menuju hijau untuk hubungan nya bersama Dena.


" takut apa, papa ingin ketemu sama calon menantu nya yang cantik jelita ini, lalu apa yang kamu takutkan hem? " ucap Galang, menyentuh punggung tangan Dena lalu menggemgamnya.


"takut, jika papanya pak Galang akan menolak dan menghina saya yang hanya orang biasa ini, nanti dibilangnya kalau saya ini hanya ingin numpang hidup sama Bapak, kalau saya hanya ingin memanfaatkan pak Galang, kalau cinta saya,, mmmmppp, Dena memukuli telapak tangan Galang yang membekap mulutnya.


" dapat darimana kata- kata seperti itu, itu hanya pemikiran absurd mu sayang, kamu terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang bahkan sebenarnya tidak akan terjadi" ucap Galang setelah melepaskan bekapan tangannya pada mulut Dena.


" bapak nggak akan pernah tau, karena bapak bukan saya, siapalah saya ini pak, saya merasa tak layak berada dalam keluarga bapak "ucap Dena dengan matanya yang mulai berair.


" jangan nangis dong, mau ketemu calon mertua kok nangis sih" Galang menghapus air mata yang mulai membasahi pipi Dena.


Dena tersenyum, lalu melangkah masuk kerumahnya untuk bersiap.


sementara itu di rumah sakit, tampak mamanya Galang tengah duduk di samping sang suami yang sudah membuka matanya.


" kok Galang lama banget sih ma, jalan kaki ya kesininya" tanya Wijaya.


" sabar dong pa, mungkin mereka terjebak macet sekarang " jawab sang istri sekenanya, karena baru juga beberapa puluh menit dirinya menelpon putranya itu, mana mungkin mereka langsung ke rumah sakit kan, pastinya Dena perlu bersolek terlebih dahulu, memantaskan dirinya untuk bertemu ayah dari kekasihnya yaitu dia, tuan besar Wijaya yang kini tergolek lemah di peraduan nya.


namun tiba- tiba saja pintu kamar perawatan Wijaya diketuk dari luar.


tuk


tuk

__ADS_1


tuk


Wijaya memandangi wajah sang istri yang juga sama bingung nya seperti diri nya, namun ia segera beranjak untuk membukakan pintu.


ia terkejut karena yang datang adalah Anisa, namun hanya seorang diri tanpa ayah maupun ibunya.


" Anisa, masuk nak, ayo" ajak Ryanti membawa Anisa masuk, Anisa tersenyum lalu melangkah mengikuti sang calon mertua di depannya.


" assalamu'alaikum om, maaf nisa datang seorang diri, papa sama mama sedang ada kepentingan di luar jadi belum bisa menjenguk" ucap Anisa, ia pun membungkuk untuk menyalami Wijaya, yang juga tersenyum menatap nya.


" nggak apa- apa nisa, om maklum dengan kesibukan orang tuamu, duduk lah" ucap wijaya mempersilahkan Anisa untuk duduk pada sofa yang tersedia di ruangan perawatan nya.


mata Anisa berpendar mencari keberadaan seseorang, pastinya Galang yang sedang di carinya, kemana kiranya sang pujaan hati, yang malah memuja wanita lain itu?


Ryanti tau, kemana arah pandang dan siapa yang tengah di cari oleh Anisa.


" cari Galang? " tanya Ryanti yang kini duduk di samping Anisa dan membawakan minuman hangat untuk nya.


" tante, Nisa jadi merepotkan tante, seharusnya Nisa bisa membuat nya sendiri " tunjuk nya pada segelas teh hangat yang di sajikan oleh Ryanti.


" tante nggak merasa di repotkan kok" jawab Ryanti.


" mas Galang nya kemana tante, tadi Nisa coba hubungin tapi nggak di angkat sama mas Galang" tanya Nisa yang memang sudah berkali- kali menghubungi Galang namun tak jua mendapat jawaban.


" Galang sedang di perjalanan menuju kesini Nisa, mungkin sebentar lagi dia sampai"jawab Ryanti, sungguh dalam hatinya ia sangat khawatir, bagaimana jika Kedatangan Galang dan Dena malah membuat keributan di sini, ya Ryanti pun tak mengira jika Anisa juga akan datang menjenguk.


" sebaiknya aku segera menghubungi Galang, Ryanti meraih ponselnya lalu segara mendial nomor Galang, namun belum lagi panggilan diterima, suara ketukan pintu kembali terdengar.


Ryanti segera berdiri dan akan melangkah untuk membukakan pintu nya, namun Anisa mencekal tangannya.


" biar Nisa saja tante, tante duduk aja" ucapnya dengan senyuman mengembang dibibirnya, dia yakin bahwa itu adalah Galang, dan dalam pikirannya pasti Galang akan bangga dengan dirinya yang ada di antara kedua orang tua Galang saat ini, terlebih kondisi sang calon ayah mertua yang baru sadarkan diri, ehhmm, Anisa tampak mengulum senyuman di bibir nya.


Dia pun meraih handle pintu, dan lihatlah siapa yang ada di sebaliknya....


hehehe, maaf baru update.


trimakasih, see u.

__ADS_1



__ADS_2