Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
klinik bersalin?


__ADS_3

Galang berjalan tanpa menghiraukan Olivia yang menggerutu di dalam bathinnya.


" siapa coba yang bisa melawan pesona seorang Olivia princilie alur, gue beli kesombongan lo Galang aditama Wijaya"bathin nya.


" selamat siang semuanya " sapa Galang yang kini sudah duduk di kursi kebesaran nya.


" siang Pak" jawab seluruh karyawan Galang,


meeting hari itu hanya membahas tentang perkembangan penjualan yang naik secara signifikan di bawah kepemimpinan Galang dan juga mengemukakan terobosan- terobosan baru yang akan di gagas dalam bidang pemasaran nya.


semua karyawan sudah pergi meninggalkan ruang meeting, tersisa Galang dan juga Olivia sekretaris nya, yang kini sibuk memandangi sang presdir.


Galang tau jika wanita itu tengah memperhatikan dirinya, namun ia pura-pura sibuk dengan laptopnya, hingga jam makan siang hampir berakhir namun si olive oil ini tak kunjung beranjak dari posisinya.


" kamu nggak makan siang live, atau lagi puasa? " tanya Galang yang membuat Olivia memutuskan pandangan nya terhadap Galang.


" puasa? puasa senin Kamis maksudnya lang? "


" saya udah kenyang cuma dengan melihat ketampanan wajah bapak" bathin Olivia yang menggeleng kan kepalanya.


" saya belum lapar pak, saya akan makan jika perut saya lapar saja" jawab Olivia.


Galang menyibak jas untuk melihat jam di pergelangan tangannya.


" sebentar lagi waktu makan siang habis" ucap Galang lagi.


Olivia tersenyum lalu membuka menu makan siang yang tersaji di depan matanya, menghindari pertanyaan yang pasti akan di lontarkan lagi oleh Galang.


Galang segera beranjak dari duduknya, meninggalkan Olivia yang tengah menikmati makan siangnya.


" kenapa kemarin aku nggak ikutin saran mama aja ya,,


"kamu sebaiknya pakai cincin juga di jari manis kamu lang"


" ih apaan sih ma, Laki-laki nggak boleh pakai perhiasan seperti itu, haram kata pak ustadz"


kini Galang tau maksud dari perkataan sang mama itu, ya minimal jika dia mengenakan cincin di jari manisnya setidaknya ia tidak harus bersusah-payah menjelaskan kepada si olive oil itu tentang apa status nya saat ini, tinggal acungkan jari manisnya aja, udah selesai, dan mungkin dia akan mundur alon- alon kan,,,


sepertinya memang harus seperti itu, ah pulang nanti Galang akan mampir ke toko perhiasan milik sang papa,, mau apa lang?


" beli cincin tunangan lah, apa lagi? hmmm, good idea,,


Galang melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 14.30.


" Dena pasti sudah pulang kalau jam segini, apa aku telepon dulu ya" bathin Galang yang segera meraih ponsel di saku celananya.


" sayang, kamu dimana sekarang, udah pulang? " tanya Galang pada sambungan telepon nya.


" udah, baru aja sampai, ada apa mas? " Dena balik bertanya.


" aku jemput ya, kita healing kepantai,tapi sebelum nya kamu ikut mas ke toko nya papa dulu ya" pinta Galang.


" ngapain ke toko lagi mas, ada yang tertinggal? " tanya Dena penasaran.


" nanti aja mas kasih tau, sekarang kamu siap- siap aja, mas langung otw ke rumah mu, oke, bye,, " Galang menutup telepon nya.


" mas Galang mau ngapain lagi sih ke sana, aku kok masih trauma ya sama kejadian kemarin " gumam Dena.


Galang kembali lagi ke ruangan meeting nya tadi untuk mengambil berkas yang tertinggal disana, lalu bersiap meninggalkan ruangan itu, namun saat ia membuka pintu tiba-tiba saja Olivia sudah ada di depan pintu dengan wajah seperti orang yang tengah menahan sakit, tangannya bergantian memijit pelipis kapalanya dan juga memegangi perutnya, Galang yang merasa aneh dengan sikap Olivia tersebut pun berhenti lalu memperhatikan sekretaris nya itu.


" kamu kenapa? ada yang sakit, kamu bisa izin untuk pulang terlebih dahulu jika memang merasa tubuh mu sedang tidak fit" ucap Galang.


" kepala saya pusing dan perut saya seperti di tusuk- tusuk pak, tolong saya pak, saya nggak kuat lagi" rintih Olivia, yang kini memegang ujung jas Galang, Galang yang terkejut dengan sikap Olivia itupun coba menepis tangan gadis itu dari ujung jas nya.


" maaf, jangan seperti ini, orang lain bisa salah paham jika melihat kita seperti ini" ucap Galang coba menghindar.

__ADS_1


namun Olivia tak bersuara, tubuhnya melemas, dan pegangan tangannya meluruh dari ujung jas Galang.


" Olivia, kamu kenapa " Galang menepuk-nepuk pipi gadis itu pelan, namun Olivia tak memberikan respon apapun, ia terkulai lemah dengan mata terpejam.


" apa dia pingsan? " tanya Galang lirih.


Galang menyentuh denyut jadi yang ternyata masih berdetak walaupun terbaca semakin melemah.


" sepertinya dia benar- benar pingsan, arrggghhh,, bagaimana ini, kenapa nggak ada satu orangpun karyawan yang lewat disini sih!! kesal Galang.


" apa aku harus menggendong nya, arrghh!! tanya Galang kesal.


tidak memiliki pilihan lain selain menggendong sang sekretaris, dengan postur tubuh di atas rata- rata, bukan lah hal yang sulit untuk membopong tubuh langsing sekretaris nya itu.


dengan satu tangannya Galang membuka pintu ruangannya itu, ia berjalan ke arah lift, Galang mempercepat langkahnya, karena ia melihat wajah Olivia yang kini semakin pucat dan berkali- kali Galang meraba denyut nadinya yang kian melemah.


ting,, pintu lift terbuka, Galang segera menuju lobby.


para karyawan yang melihat kejadian tersebut tak berani walau hanya sekedar menegur bos muda mereka yang terkenal dingin itu.


" ngapain itu si ular betina, pak Galang seperti nya panik banget itu"


" iya, kalau aku sih bukan suudzon ya, tapi kita tau sendiri sepak terjang si minyak zaitun[ dibaca olive oil red]itu seperti apa, semua cara halal baginya, semoga saja pak Galang nggak di apa- apa in sama ular sendok itu, kasian, beliau kan sebentar lagi mau menikah" ucap sisi salah satu karyawan di perusahaan Galang itu.


"lah iki piye to, yang pingsan siapa, yang di khawatir in siapa?


"eh ngomong- ngomong masalah menikah, beruntung banget ya calon istrinya pak Galang itu, bisa bersuamikan pria tampan dan mapan macam pak Galang, kok aku penasaran sih seperti apa kiranya calon nyonya Galang aditama Wijaya itu"


" iya, ya, kita yang mimpi tapi dia yang merasakan nya di dunia nyata"memang takdir tak pernah salah menemukan pemiliknya " ujar karyawan lainnya Menimpali.


saat mereka sedang berkasak- kusuk membahas Galang dan juga Dena, saat itulah terlihat seorang laki-laki dengan seorang wanita disamping nya berjalan ke arah mereka.


"biar saya coba tanya sama mereka mbak, barangkali mereka tau mas Galang kemana" ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Ardi dan wanita di samping nya itu adalah Dena.


ya Dena sudah lebih dari satu jam menunggu kedatangan Galang yang berjanji akan mengajaknya ke pantai dan juga ke toko perhiasan milik papanya, namun sudah lebih dari satu jam Galang tak muncul jua, akhirnya Dena berinisiatif menemui Galang di kantor nya saja, namun baru saja ia turun dari sepeda motor nya, Ardi datang menghampiri lalu mengajak Dena menuju ke ruangan Galang, dan disinilah mereka sekarang berada.


" pak Ardi, ada apa pak? " tanya sisi yang memang mengenali sang sopir pribadi Galang tersebut.


"iya mbak sisi, saya mau ke ruangan mas Galang, apa mas Galang ada di ruangannya? " tanya Ardi.


sisi memindahi penampilan wanita cantik di samping Ardi yang malah tersenyum terhadapnya itu.


" a,, ini mbak Dena, calon istri nya mas Galang, beliau kesini mau menemui mas Galang" ucap Ardi coba menjawab rasa ke ingin tau an para karyawan Galang tersebut.


Dena kembali tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.


" saya Dena" ucap Dena menyatukan tangan di dada nya.


" ya Allah, cantik dan ramah sekali calon istri nya pak Galang ini" bathin Sisi yang juga menganggukan kepalanya.


" kita tinggal dulu ke dalam ya" ucap Ardi melangkah masuk ke ruangan Galang, namun langkah kakinya terhenti kala salah satu karyawan Galang itu berkata.


" pak Galang nya nggak ada di dalam, beliau keluar dengan Olivia sekretaris nya "


deg,,,


jantung Dena berdetak lebih kencang kala mendengar ucapan sisi barusan.


"Olivia? bukankah itu nama yang Galang ceritakan kemarin, wanita yang menyimpan rasa terhadap calon suami nya itu,lalu sekarang mereka tengah berdua.


" keluar bersama sekretaris nya, kemana, dan ada apa? " pertanyaan itu langsung memenuhi pikiran Dena.


Ardi membalikkan tubuhnya,


" kemana perginya? " tanyanya singkat.

__ADS_1


" tadi kami melihat pak Galang menggendong Olivia dengan wajah panik dan langkah tergesa-gesa menuju Lobby, itu saja yang kami ketahui, kami tidak berani menanyakannya langsung terhadap pak Galang terlalu beresiko, maaf" ucap sisi lirih.


Ardi mengingat- ingat kejadian sebelum kedatangan Dena tadi, ia tengah berada di mushola untuk melaksanakan sholat zuhur, dan saat ia akan kembali ke tempatnya, ia melihat Dena, mungkin saat dirinya sedang berada di mushola tadi lah, Galang bersama sekretaris itu pergi,,


Ardi coba menghubungi Galang melalui ponselnya, panggilan terhubung namun tak kunjung di jawab.


" biar saya coba menghubungi mas Galang" ucap Dena masih berusaha tenang, walaupun sebenarnya retak dihatinya kembali merekah.


" bagaimana mbak,apa ada respon dari mas Galang? " tanya Ardi.


Dena menggelengkan kepalanya.


" sama saja, berdering tapi tak kunjung dijawab, kamu kemana mas? " lirih Dena yang kini terduduk lemas di kursi.


sisi datang memberikan satu gelas air putih pada Dena.


" minum bu, positif thinking aja, pak Galang pasti baik- baik saja" ucap sisi.


" trimakasih ya" Dena meraih gelas dari tangan sisi lalu meminumnya.


Ardi masih terus mencoba menghubungi Galang walaupun hasilnya tetap sama, hingga seorang cleaning service datang ter gopoh- gopoh dengan sapu ditangannya.


" ini handphone pak Galang, saya menemukannya di atas meja saat membersihkan ruangan meeting tadi" ucap pria tersebut.


Dena menoleh kepada Ardi.


" apa di sini ada yang memiliki nomor ponsel sekretaris nya pak Galang itu? " tanya Ardi.


" maaf Pak, dia sekretaris baru disini, coba tanya di bagian HRD mungkin mereka memiliki nomor handphone nya Olivia itu" Jawab sisi.


" boro- boro mau nanyain nope, lah bertegur sapa saja mereka tidak pernah"


tak membuang- buang waktu, Ardi bergegas menuruni tangga dengan Dena yang berjalan di samping nya,


" kita naik motor mbak Dena saja biar cepat sampai" ucap Ardi lalu meraih kunci motor dari tangan Dena.


" kemana tujuan kita mas? " tanya Dena saat mereka sudah berada di atas kendaraan Dena.


" rumah sakit terdekat mbak, feeling saya, perempuan itu bukan wanita baik- baik, saya takut mas Galang di jebak" ucap Ardi.


airmata Dena akhirnya mengalir juga, ia tak sanggup menahan sesak di dadanya, ia ingin berpikir positif tentang calon suaminya ini, tapi entah mengapa semua angan-angan buruk seolah lebih cenderung condong ketimbang pikiran positif nya.


" sabar dan tenang mbak, semua pasti akan baik- baik saja, saya yakin itu" ucap Ardi coba menenagkan calon istri dari tuan mudanya ini, Ardi melihat sekilas dari kaca spion nya jika Dena tengah menangis kini.


Ardi membelokkan scooter matic milik Dena, saat tak sengaja ia melihat lexus hitam yang diyakininya adalah milik Galang terpakir di halaman sebuah klinik bersalin.


" klinik bersalin? ngapain mas Galang kesini? " Ardi memasatkan penglihatannya, berharap matanya bermasalah, mungkin saja mobil yang sama tapi dengan nopol yang berbeda, bisa saja kan?


masih belum puas akhirnya Ardi pun turun dari kendaraan milik Dena itu.


" mbak Dena tunggu sebentar, saya mau memastikan dulu " ucap Ardi sebelum mendekati lexus hitam yang diharapkan nya bukanlah milik Galang.


tapi apa?? berkali- kali Ardi mengucek- ucek matanya tapi kenapa nopol nya kok sama, mungkinkah mobil yang sama, nopol yang sama namun berbeda pemiliknya?


"ah, sungguh hal yang sangat mustahil,


"tidak salah lagi ini mobilnya mas Galang, duh mas, mau bikin cerita apa lagi sih, udah mendekati akad yo kok nekad emen yo" [ sudah mendekati akad tapi nekad sekali ya]


hmm, klinik bersalin ngapain lang, Galang?


trimakasih, semoga selalu suka


jazakumullah khoiron.


see u,,,

__ADS_1



__ADS_2