Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
bertemu rencana papa.


__ADS_3

Galang belum mengakhiri panggilan video nya terhadap Dena, dia hanya mendengarkan suara tangis Dena, yang sesekali menyeka air mata nya.


" menagis lah sepuasmu Dena, agar lepas semua keraguanmu terhadap saya, agar berkurang kegundahan rasa di hati mu sendiri.


Dena semakin terisak kini, ia hapus air mata dengan jari tengah nya.


"saya nggak pernah mendapatkan perlakuan se istimewa ini dari laki- laki pak, selain dari bapak saya, lalu sekarang bapak datang tiba- tiba dengan segala sayang dan cinta untuk saya, bangun kan saya yang terlelap ini pak, sadarkan saya bahwa ini adalah mimpi yang akan sirna bersama terbukanya mata saya, mimpi ini terlalu indah walau hanya untuk sekedar saya bayangkan apalagi berharap menjadi nyata pak,bahkan saya sampai tak ingin terlelap agar mimpi itu tak hadir. dengan sesenggukan Dena berucap.


sementara di seberang sana Galang berkali- kali menggelengkan kepalanya.


"saya tidak akan membangunkan mu Dena, karena ini bukan lah mimpi, tapi saya akan mengajak mu menjadikan yang bukan mimpi ini menjadi semakin indah dalam kehidupan yang sesungguhnya, kamu mau kan menjadikan ini lebih indah bersama saya?


Dena hanya terdiam, sesekali air mata masih membasahi pipi mulusnya, ingin rasanya Galang hadir untuk menghapus air mata Dena.


"saya tau jika kamu pun mempunyai rasa yang sama terhadap saya, hanya saja kamu tidak berdaya untuk mengungkapkannya, kenapa? bukan kah kamu sudah mengetahui apa jawab atas perasaan mu itu? bukan kah kita bisa saling melangkah beriringan menggapai satu tujuan yaitu hidup bersama dalam ikatan cinta yang di Ridho i Tuhan dan orang tua kita.


Galang terdiam, ia mengingat kembali ucapan nya yang ada di baris terakhir tadi.


" orang tua? mama nya jelas sangat menyetujui hubungannya ini, ke dua orang tua Dena? sepertinya mereka adalah tipe orang tua yang sangat mengutamakan kebahagiaan putri nya, apalagi Dena adalah putri mereka satu- satunya, Galang dapat melihat dari sapaan- sapaan mereka terhadap dirinya beberapa hari lalu saat ia singgah di kediaman Dena, hangat dan sangat bersahaja sekali.


lalu apa masalah nya lang?


" papa, ada papa yang tak mengetahui tentang hubungannya dengan Dena, ya walaupun dayung belum bersambut,namun Galang sudah membulat kan tekadnya bahwa Dena adalah wanita yang pantas untuk di perjuangkan, dia akan terus bersampan hingga ke tepian.


terlepas dari restu yang masih belum di pinta nya, Galang akan menuruti apa pun rencana sang papa, karena dia tak ingin membuat orang tua nya kecewa, namun doa sang mama selalu untuk hubungannya dengan Dena, biarlah semua berjalan menurut skenario sang Maha Cinta.


"Tuhan jika memang Dena adalah jodoh ku maka mudahkanlah semua perjuangan ku untuk bisa bersatu dengannya, namun jika bukan, maka rubah lah dan jadikan dia adalah jodoh dunia dan akhirat ku.


" wuih doa nya kok di ganti pak, bukannya pada kalimat yang terakhir itu begini ya.


" namun jika bukan maka jauhkanlah" kok punya pak dosen beda ya? wah ini sih namanya doa tapi maksa pak, tapi mudah- mudahan saja tidak ada yang namanya paksa memaksa ya, karena Tuhan kan Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.


" Dena, Galang mengetuk- ngetuk layar handphone nya pelan.


Dena, mengangguk perlahan tanpa suara.


" kamu ngantuk ya, lelah setelah menangis?


Dena tersenyum.


" ya sudah saya tutup ya, semoga mimpi mu adalah hal nyata untuk hari- hari mu bersama saya.


Galang mengakhiri sambingan video nya.


tanpa terasa hari sudah gelap. Galang sudah rapih dengan kemeja putih dan jas hitam nya. kelihatan formal sekali pak dosen ini, macam orang mau meeting aja pak.


"lang, udah siap belum? papa tunggu di ruang tamu ya.

__ADS_1


" iya pa. Galang meraih handphone yang tergeletak di ranjang nya.


"kamu adalah satu-satunya Dena, Galang mencium wajah Dena pada layar handphone nya, lalu bergegas menyusul orang tua nya yang ada di bawah.


" ayo pa, ma, nanti temen papa sudah sampai di kafe dan terlalu lama menunggu kita. ucap Galang.


"Ardi nya mana lang, emang mau bawa sendiri mobilnya? tanya sang papa.


"malam minggu pa,minta kompensasi kata Ardi tadi.


" kamu ni ya, kenapa nggak izin sama papa dulu Ardi nya.


" udah lah pa, memudahkan urusan orang lain,maka urusan kita akan di mudahkan sama Allah.


"Galang udah alih profesi ya ma?


sang mama menoleh dengan wajah tak mengerti.


"jadi ustadz sekarang. jawab sang papa. mamanya pun tersenyum lalu beranjak mengikuti Galang yang berjalan terlebih dulu.


" nggak harus jadi ustadz dulu pa, kalau sekedar ngomong kayak gitu. bisik sang mama kepada sang suami. mereka duduk di bangku belakang. Galang yang mengemudikan mobil kini.


Tiga puluh menit setelahnya mereka pun tiba di kafe milik Galang.


" malam minggu rame banget ya lang kafe kamu, banyak kemajuan rupanya. ucap sang papa saat mereka memasuki kafe.


" selamat malam, bapak, ibu dan mas Galang. sapa para karyawan kafe secara bersamaan.


" malam juga, jawab Galang. sementara papa dan mamanya tersenyum dan melanjutkan langkah nya menuju meja yang sudah di booking oleh Galang sebelum nya.


" itu pa, kita duduk di meja yang di pojok itu ya, ucap Galang lalu menuju meja yang di maksud.


seorang karyawan datang menghampiri mereka.


" hot chocholate aja dim, papa sama mama mau minum apa tanya Galang.


" mama jasmine tea aja lang.


" papa samaan sama kamu aja.


" Dim,nganter minuman nya nanti aja ya, soalnya bapak ada janji sama temen mau ketemu disini.


" nggak lucu kan kalau kita udah minum duluan sebelum mereka datang.


" baik mas. Dimas pun berlalu.


" mereka udah tau kan alamat kafe ini pa? Galang memecah keheningan yang tercipta sedari mereka sampai tadi.

__ADS_1


"iya, papa udah kasih info lengkap kok, nah itu dia mas Broto bersama istri dan anak nya.


" anak? pikiran Galang sudah berkelana saja kini, anak, pasti perempuan, aduh... papa, Galang bukan Datuk Maringgi pa. lirih nya dalam hati.


Nampak seorang pria paruh baya berjalan menggandeng perempuan.


" kalau itu papa sebut mas Broto berarti yang di gandengnya itu mbak Broto ya? terus yang di samping nya lagi? Aduh Galang tak berani menatap wanita yang di artikan nya sebagai anak dari rekan bisnis papa nya tersebut.


sang papa tersenyum lalu berdiri menyambut rekan bisnis nya itu.


"owalah, tak kira nyasar mas, Galang sudah khawatir tadi lho.. ucap sang papa seraya menyalami para tamu nya tersebut secara bergantian.


" kok Galang sih pa, Galang menggerutu di dalam hatinya,se penak e dewe menjual nama anak bujang nya, apa coba tujuan nya!


mereka nampak sudah sangat akrab sekali kecuali Galang yang tak bersuara semenjak tadi.


namun saat sang papa akan menyalami anak perempuan rekan bisnisnya itu,ada yang berbeda karena sang anak hanya menunduk sopan sambil menyatukan kedua tangan di depan dadanya.


"hmm, ya ya ya, ustadzah ma cocok nih sama anak bujang mama yang sudah beralih profesi jadi ustadz tadi kan. namun sang mama malah mencubit paha suaminya itu.


" ini Galang anak kami satu-satunya mas Broto, Galang tersenyum.


" perkenalan nya jangan berlebihan ya pa, malu ah, bisik Galang di telinga sang papa.


" wah ada yang sudah tidak sabar nih, mau kenalan sama anak mas Broto.


Galang segera menoleh ke arah sang papa lalu menggelengkan kepalanya.


" ma, kenapa Galang terus sih yang di jadikan objek di sini, padahal kan ini acaranya papa? Galang kini berbisik pada sang mama yang duduk di sampingnya. sang mama nampak mengelus pergelangan tangan Galang lalu tersenyum.


" rupanya anak mas Wijaya ini sangat dekat sekali sama mama dan papa nya.ucap pak Broto.


Galang membalas dengan senyuman nya saja.


ya, dia belum berbicara saja mereka sudah ngalor ngidul bicara nya, apalagi kalau Galang angkat suara, bisa- bisa langsung lamaran aja nih sepertinya.


"ah Dena, aku bukan mengkhianati kamu, tapi aku hanya tidak ingin mengecewakan orang tua ku dan juga kamu, karena kamu adalah perjuangan ku, ikhtiar ku, dan kamu harus tau bahwa mimpi ku adalah kamu, apa pun yang ada di hadapan ku aku tak perduli.


~~mantab kali lah pak dosen ini, tak perlu ada yang harus di kecewakan dan merasa tersakiti ya.


'


'


'


__ADS_1


__ADS_2