
setelah membasuh wajah dan mengganti baju Dena keluar dengan membawa dua gelas teh hangat yang sudah di siapkan oleh ibu nya untuk Galang dan juga untuknya.
" kecepetan ya pak" ucap Dena.
Galang mendongakkan kepalanya lalu menggelengkan kepalanya.
"apanya yang kecepetan? " tanya Galang.
"hehe" senyum Dena sungguh manis.
keduanya sama- sama diam,Galang sibuk dengan smartphone di tangannya, sementara Dena terlihat kesal.
" bapak pulang aja deh, nggak usah nemuin saya kalau cuma mau sibuk sama handphone" ucap Dena kesal.
"maaf, Anisa menanyakan keadaan saya, karena tadi saya bilang kalau badan lagi nggak fit jadi mau istirahat aja dan akhirnya dia pamit pulang"
"hmm, perhatian banget ya pak tante Anisa nya" jawab Dena ketus.
" kok tante sih Den, kalau kamu memanggil dia tante berarti saya ini om, om, ya? "
" iya bapak sama dia kan satu koloni, bujang tua dan perawan tua"
Galang diam dia tak pernah sakit hati akan ucapan Dena, lalu dia meletakkan handphone di meja, tak berapa lama handphone Galang berdering, Galang meraihnya, sekilas ia melihat Dena yang membuang wajah.
" aku angkat telepon dari Anisa dulu ya" ucap Galang yang tak di tanggapi oleh Dena.
" iya, kenapa Nisa" ucap Galang pada sambungan telepon nya.
" kamu dimana sekarang mas, apa masih di kafe?"tanya Anisa.
" nggak, saya dalam perjalanan pulang ke rumah"Galang tidak sedang berbohong ya, dia memang sedang dalam perjalanan menuju rumah nya tapi transit di rumah Dena.
" udah baikkan mas, pulang sama siapa, kenapa nggak hubungin Nisa kalau mau pulang"
Dena nampak semakin kesal mendengar suara Anisa dengan bermacam- macam pertanyaan nya itu dan yang lebih membuatnya kesal adalah suuaranya yang terkesan manja.
" nggak sesuai sama umur" gerutu Dena sambil beranjak sari tempat duduknya.
namun Galang mencekal tangannya, Dena melebarkan matanya dan berusaha melepaskan tangan Galang namun sia- sia, akhirnya ia kembali duduk.
panggilan berakhir Galang kembali meletakkan handphone nya di meja, namun sebuah notifikasi kembali masuk,Galang tak menghiraukannya.
" nggak di lihat apa isi chat nya pak, mungkin tante Anisa nya belum puas bermanis manja group sama bapak" ucap Anisa.
Galang diam lalu meraih handphone nya.
__ADS_1
" tuh kan,laki sama perempuan sama aja, sama- sama ganjen,nggak malu apa sama umur" ucap Dena dalam hati.
Galang memperhatikan raut wajah Dena yang kesal, ia lalu mematikan handphone nya tanpa berniat membaca chat yang berasal dari Anisa tadi, lalu ia perlihatkan handphone nya kepada Dena.
" kenapa dimatiin pak, nanti tante Nisa nya marah, terus ngadu sama papa nya pak Galang"
Galang melekatkan pandangannya pada wajah Dena, Dena melengos tak ingin bersitatap dengan Galang.
"saya seneng banget kamu datang ke kafe saya Dena, tapi kenapa kamu datang nya berdua sama teman kamu itu,kenapa nggak sendirian aja? " ucap Galang.
" yang nagajakkin saya ke kafe itu Anita pak, sebenarnya saya nggak mau, pingin rebahan aja di rumah, tapi Anita maksa, tapi ternyata feeling saya benar pak, karena rupanya ada calon istri bapak disana"
"jangan pernah kamu bilang kalau dia adalah calon istri saya Dena" ucap Galang.
" lho, terus apa dong namanya kalau bukan calon istri, manggil nya aja udah mas, mas, gitu kok sama pak Galang.
Galang tersenyum mendengar ucapan Dena.
" kenapa senyum- senyum, berarti memang benar kan ucapan saya tadi, bahagia banget di panggil mas Galang sama calon istrinya"
" Dena!"wajah Galang memerah nampak giginya beradu menahan amarah di dalam dadanya, Dena tak mengindahkan ucapan nya, kenapa?
" saya sedang berjuang untuk menolak perjodohan ini tanpa harus menyakiti perasaan siapapun di sini, saya berusaha agar tak membuatnya jatuh cinta sama saya, tapi kamu malah mengatakan kalimat itu berulang-ulang, kamu menyerah dengan perjuangan saya?
"tapi bapak sudah menyakiti hati saya, bapak kira saya nggak cemburu mendengar suaranya yang menyapa bapak dengan kata- kata manja nya itu,saya aja nggak pernah memanggil dan berbicara seperti itu sama pak Galang"
"nggak sekarang, nanti aja kalau bapak sudah mau mengenalkan saya kepada orang tua bapak"Dena berkata namun pandangannya nya ia alihkan tak menatap Galang.
" sabar ya" ucap Galang sambil tangan nya mengelus lembut tangan Dena, mencoba menenangkan hati wanitanya, mengalir kan energi positif untuk pikiran negatif Dena.
"sabar? dari dulu sabar nya pak, sejak pertama kali bertemu, dan meng iya kan pernyataan bapak, sabar saya unlimited edition pak, walaupun saya bukan nabi, tapi bapak jangan melampaui batas"
" katanya unlimited, kok di batasi? "ucap Galang.
" iya lah, kalau seandainya ternyata bapak berjodoh sama tante itu, apa saya masih harus bersabar juga, menunggu duda mu gitu?
"saya nggak akan berjodoh sama dia Dena, ini hanya masalah waktu yang jawab nya ada di dirimu dan di sini" Galang menunjuk pada hatinya.
" jaminannya apa?"tanya Dena.
" saya jaminannya"ucap Galang tegas.
keduanya lalu sama- sama tersenyum lalu menikmati minuman hangat.
_____ _____
__ADS_1
_____ _____
Galang sampai di rumah nya menjelang pukul empat sore.
dia bergegas masuk ke Kamar nya, namun langkahnya terhenti karena melihat sang Papa yang berjalan ke arahnya.
" baru pulang lang, lama banget kamu di rumah Anisa, ngapain aja? " tanya sang Papa.
Galang mencium punggung tangan papa nya, lalu mengajak sang Papa duduk pada sofa yang ada di depan Kamar nya itu.
" satu- Satu ya pa jawab nya, nggak bisa langsung,karena jawabannya random"ucap Galang santai.
sang Papa mengangguk- anggukkan kepalanya dan tersenyum.
" Galang nggak lama pa di rumah Anisa, karena si Dimas kuwalahan di kafe tadi"
" makanya tambah lagi dong karyawan nya, biar kamu punya waktu yang lebih panjang sama Anisa" ucap sang Papa.
Galang mencerna ucapan sang Papa" kalau aku usul karyawan cewek kira- kira Papa setuju nggak ya? "tanya Galang dalam hati, tentu saja tujuannya adalah Adreena.
"kalau karyawannya cewek boleh nggak pa? " tanya Galang dengan suara pelan.
" kok cewek, nggak ah, Papa nggak bakal ACC permintaan kamu itu, semua pekerjaan selama ini aman- aman saja kan walaupun karyawan kamu laki- laki semua?
" iya sih pa, tapi kan kalau ada karyawan cewek minimal satu aja, karyawan Galang bakal lebih semangat pa kerjanya" ucap Galang mencoba memberi opini kepada papanya.
" karyawan kamu apa kamu? " tanya sang Papa.
" nggak pa, saya sedang dalam masa penjajakan dengan Anisa" jawab Galang menahan sesak didada saat harus berkata demikian.
" tadi Anisa telepon mama mu,tapi papa nggak tau mereka ngomongin apa"
" urusan wanita pa, jangan kepo kalau mereka tidak beekeinginan untuk berbagi pa, bahaya"ucap Galang lalu tertawa pelan.
" memang sejak kapan kamu baca buku mitology tentang wanita, sok tau kamu ini, terus kapan kamu janjian mau ketemuan lagi sama Anisa.
" Galang berdoa semoga nggak ada pertemuan lagi dengan Anisa pa" ucap Galang dalam hati, karena dia takut melukai perasaan Dena dan dia juga tidak mau karena seringnya bertemu membuat Anisa jatuh hati padanya, kalau sampai itu terjadi, itu berarti satu perjuangannya sudah gagal dan perjuangan lainnya akan semakin berat. Galang tidak menyadari bahwa Anisa memang sudah menaruh hati padanya sejak malam itu bahkan kedua orang tua Anisa pun nampak nya juga seperti itu.
Galang sudah terlihat segar setelah membersihkan tubuhnya. saat akan keluar dari Kamar nya, handphone nya berdering, sebuah panggilan video masuk.
" Anisa, ngapain video call sih" gerutu Galang yang belum berniat menerima panggilan video dari Anisa.
" kok di tolak lang"...
Galang membalikkan badannya dan dia terkejut karena rupanya sang Papa yang berucap tadi.
__ADS_1