
setelah Anisa dan kedua orang tuanya meninggalkan kediaman Wijaya, Galang meraih kunci mobilnya.
" Di, saya mau ke kafe, nanti kalau bapak atau ibu nanya tolong bilangin ya,,, " seru Galang dari ruangan tengahnya kepada Ardi yang tengah menikmati makan siangnya seorang diri,
Ardi menganggat satu ibu jarinya, tandanya ia mengerti akan pesan dari Galang tadi.
Galang melajukkan lexus hitamnya membelah jalanan yang cukup lengang, Galang meraih ponsel di atas dashboard mobilnya.
" centang biru, tapi kok nggak ada balasan dari Dena ya" gumam Galang, namun sejurus kemudian dia memukul kemudi nya,
" arrghh, Galang, kamu gimana sih, dia kan nggak tau kalau itu pesan dari kamu, kenapa nggak kamu selipkan nama di ujung pesanmu itu!! Galang merutuki kebodohan nya sendiri, nomornya ia ganti, tanpa memberitahu Dena, lalu kemarin dia mengirimkan pesan dan menanyakan perihal bunga lili yang ia jatuhkan di tanah dan ternyata di pungut oleh Dena itu,pesan tanpa nama dari nomor yang tidak di kenal, fix!! salah sambung,pasti Dena langsung membuang bunga dan juga handphone nya saat itu juga.
tak berapa lama Galang tiba di kafe nya, ia keluar dari dalam mobilnya, berjalan memasuki kafe yang cukup ramai siang ini,tak ada karyawan yang menyadari kedatangannya, semua sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing masing,Galang melenggang menaiki tangga menuju ke ruangan nya.
dreeettt....
pintu di geser, Galang menyibak tirai putih, lalu membuka sedikit jendela kaca nya, Galang mengamati suasana jalan di bawah sana, lalu lalang kendaraan terlibat masih memenuhi segenap penjuru jalan, Galang meneguk satu gelas air minum yang ada di samping nya.
Galang akan segera duduk di kursi kerjanya, namun sekilas ia melihat di jalanan sana, ada seorang wanita yang sangat di rindukannya, sedang berjalan santai mengenakan blezer rajut panjang selutut, juga midi skirt hitam polos, dengan rambut hitam sebahu yang ia biarkan tergerai,semakin anggun saja Dena jika di lihat dari tempat Galang berdiri sekarang,
" Dena" lirih Galang, ia akan bergegas turun, namun matanya sekilas menangkap bayangan pria di samping Dena, dan benar saja ternyata bukan hanya sekedar bayangan tetapi memang nyata adanya, pria itu berjalan beriringan dengan Dena, walaupun mereka hanya berjalan, tapi lihatlah wajah pak dosen yang memerah menahan cemburu dan kesal kini, tangannya terkepal, dengan langkah besar ia mulai menuruni tangga, namun tiba- tiba ia berhenti,
" sekarang apa posisi ku bagi Dena, setelah semua kekecewaan dan sakit hati yang ku berikan untuk nya, lalu aku masih memiliki cemburu dan sakit hati saat melihatnya berdua seperti itu, aku memang masih sangat mencintai mu Dena, tapi apakah cinta yang sama masih tersisa untuk ku Dena, sekarang aku sendiri, rencana pernikahan ku batal Dena,, " kalimat terakhir itu menghadirkan senyum di bibir Galang,
" selama Dena belum terikat status apapun dengan pria itu, bagiku masih halal untuk memperjuangkan nya, bismillah " Galang mengusap kedua tangan di wajahnya, berjalan pasti untuk menemui Dena, yang memang tengah memesan makanan di kafe Galang ini, tampak Angga sedang melayaninya.
" mas Angga"sapa Dena ramah kepada salah satu karyawan Galang itu.
__ADS_1
" iya mbak Dena, silahkan di list menu makan siangnya" ucap Angga tak kalah ramahnya.
Dena tersenyum, lalu menoleh kepada sang dokter di sebelah nya.
" namanya sama dok, Angga" bisik Dena, yang di tanggapi dengan senyuman manis oleh sang dokter.
setelah memilih menu makan siangnya dan Angga sudah berlalu, Dena memindahi pandangannya pada setiap sudut ruangan di kafe ini, flashback yang terlihat nyata baginya saat mengenang setiap moment yang pernah di lewati nya bersama Galang di sini,
" kenapa dokter Angga ngajakin makan siang di sini sih, gimana nanti kalau ketemu pak Galang dan sang nyonya Wijaya nya itu, aku belum siap ketemu dia Allah, rasanya masih sakit,,, eh sakit beneran, ketika tiba- tiba saja Dena memegangi perutnya,, aww" lirihnya.
Angga memperhatikan gerak- gerik Dena,
" kenapa, perutnya sakit, mau ke kamar kecil? tanya sang dokter tampak khawatir.
Dena tersenyum lalu mengangguk pelan, dia bergegas permisi untuk ke kamar kecil.
Dena kembali menganggukan kepalanya, lalu berjalan menuju toilet wanita, setelah selasai,Dena pun keluar, ia membersihkan tangan dan wajahnya di atas wastafel, namun saat ia mematikan kran wastafel nya, sebuah tangan mencekal nya, Dena terkejut, ia menoleh untuk memastikan siapa pemilik tangan yang kini tengah menggemgam satu tangannya itu, dan jantung Dena terasa berhenti berdetak, saat ia menyadari ternyata Galang lah yang kini ada di sampingnya, melepaskan genggaman tangannya lalu Galang meraih tissu kemudian dia membersihkan sedikit noda di pipi Dena,
" maaf, kamu menyisahkan noda di pipimu" ucap Galang,hmm,boleh di revisi nggak lang ucapannya tadi, mungkin begini bunyinya
"maaf,saya menyisahkan luka di hatimu"hehehe,
Dena merona menahan senyumnya, namun ia langsung sadar, buru- buru ia menepis tangan Galang kemudian menjauhkan tubuhnya dari sang dosen.
" kenapa? " tanya Galang penuh tanda tanya.
Dena mengerutkan dahinya merasa aneh dengan pertanyaan Galang barusan.
__ADS_1
" kenapa katanya, lalu aku harus balik bertanya,
" kamu nanya, bertanya- tanya!! bathin Dena dengan wajah kesalnya, ia membalikkan badannya untuk meninggalkan dosen uedddan di sampingnya itu, namun lagi- lagi Galang mencekal tangannya.
" lepasin pak, bapak sudah Terlarang untuk menyentuh walau hanya seujung kuku saya saja " ucap Dena dengan nafas naik turun khas orang yang sedang marah.
Galang menggeleng kan kepalanya, tak mengerti atau hanya sekedar pura- pura tak mengerti lang, Galang.
" kenapa, apa pria itu sudah sah menjadi suami mu Dena? " tanya Galang bagaikan orang tak bersalah, Hiiih, pengen tak kruwes cangkemmu iku lang, Galang [ rasanya ingin ku remukkan mulutmu itu lang, Galang]
" seharusnya pertanyaan itu sayalah yang menyakannya terhadap pak Galang, lalu kenapa sekarang? berpura-pura bodoh rupanya ya, agar saya tergoda dengan sikap pholos khas crocodile cap nyamuk nya bapak, iya!! Ucap Dena ketus sekali, entah mengapa ia saat ini ingin sekali meluapkan semua kekecewaan nya terhadap Galang, setelah sekian lama mereka tak bertemu, tanpa kabar dari Galang tentunya, lalu sekarang dengan tiba- tiba dia hadir lagi, bersikap seolah- olah Dena lah yang sudah mengkhianati nya, oh ayolah pak dosen, pagi tadi matahari masih terbit dari arah timur kan, itu artinya kiamat masih lama, kan? Aamiin,wallahualam bish shawab,,
tapi kenapa ilmu dan kecerdasan dari seorang profesor Galang aditama Wijaya sudah di angkat dari otaknya? hmm, mungkin saja beliau sedang mengalami apa itu yang namanya kiamat sugra Den, kiamat kecil, lang Galang, makanya nggak usah pura- pura kayak orang bingung, sekarang di bilang bodoh kan sama Dena, hehehe, bingung dan bodoh kan mirip- mirip ya lang,apalagi kalau orang bodoh lalu kebingungan, wes angel- angel, nasib, nasib, nasib malang bagian kenyot,,,
mendengar ucapan Dena yang penuh amarah itu nyatanya tak membuat Galang murung apalagi bersedih, tapi ia malah tersenyum kini, hal yang membuat Dena semakin geram.
" trimakasih, kamu masih mengingat saya sebagai crocodile cap nyamuk, saya terharu Dena" ucap Galang masih dengan senyum terukir di bibirnya.
Dena memicingkan satu matanya, ia tak sadar sudah mengucapkan kalimat itu untuk Galang, hingga membuat sang dosen itu gede rasa sekarang,
" dasar wong edan, yen di ladeni yo milu ueddan"
hehehe, trimakasih
jazakumullah khairon
see u...
__ADS_1