
" aku pulang ya, aku hanya butuh kesetiaan dan doa dari mu" ucap Galang sebelum beranjak dari duduk nya, jam di tangannya sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
" selalu, semoga bapak nggak pernah menyerah dan berputus asa,hingga doa dan kesetiaan saya tidaklah sia- sia" Dena memyemangati Galang.
Galang tersenyum lalu melangkah keluar dari rumah Dena.
"Ya Tuhan, apa Ardi baik- baik saja" Galang mempercepat langkahnya, hingga dapat dilihatnya lexus nya masih berada pada posisi awalnya.
tuk
tuk
tuk
Galang mengetuk kaca mobil nya berkali - kali namun tak ada jawaban, dapat ia lihat Ardi tengah tertidur pada kursi di bagian belakang kemudi.
"Di, bangun di, bangun" panggil Galang, Ardi nampak mengerjapkan matanya, lalu ia segera bangun dan membuka pintu mobil nya.
" maaf mas saya sampe ketiduran nungguin mas Galang" ucap Ardi.
" udah kamu hitung? " tanya Galang saat dirinya sudah berada di samping Ardi.
" apa nya mas? " Ardi balik bertanya.
" Alhamdulillah, kalau kamu lupa berarti saya anggap selesai oke? "
"lho nggak bisa gitu dong mas, ah, iya,iya,saya ingat sekarang dan udah saya hitung 10.000 dikali 180 menit ya jadinya,,Ardi nampak berpikir serius sebelum melanjutkan ucapannya,dua juta ya mas" Ardi berkata sambil cengar cengir.
Galang memindai wajah sopir pribadinya yang sudah bekerja hampir sepuluh tahun pada keluarga nya ini, dia masih lajang sama seperti tuan muda di sampingnya kini.
" pasti matematika kamu E ya Di" ucap Galang.
" z mas, tanggung amat E" jawab Ardi tersenyum kecut.
" iya deh, saya anggap nilai matematika mu A, nomor rekening belum ganti kan? " goda Galang.
lalu ia nampak membuka aplikasi banking di smartphone nya, tak butuh waktu lama handphone Ardi pun berbunyi dan dia terkejut melihat nominal yang dikirimkan oleh Galang.
" mas Galang nggak salah ketik angka kan, kok,,,,"kata- kata Ardi terhenti karena Galang langsung memotong ucapannya.
" jangan ge er dulu, itu semua saya bayar di muka, untuk tugas mu yang selanjut nya nanti tinggal di potong aja"Galang segera melajukkan mobil nya, sementara Ardi menggaruk kepalanya yang memang gatal itu.
" padahal doa saya itu mustajab lho mas, tapi berhubung mas Galang mempermainkan saya, jadi saya tarik deh doa nya, wahai malaikat Raqib tolong jangan catat doa saya ya, semoga Allah tidak mengabulkannya aamiin"Ardi mengusapkan kedua telapak tangan pada wajah nya.
ciiiit... Galang menghentikan mobilnya, ia perhatikan wajah Ardi yang kini tersenyum ke arahnya.
" dari mana kamu dapat menyimpulkan kalau doa mu itu selalu di ijabah sama Allah hem? " tanya Galang.
__ADS_1
" dari Al Quran dong mas dan buat apa juga mas Galang tau, toh saya sudah merasa di permainkan sama mas Galang, jadi ya percumah saja dan lagi mas ya, doa orang yang teraniaya itu cepat menembus langit, hati- hati lho, plus saya ini anak yatim mas, mas Galang lupa ya? "
" iya,anak yatim yang sudah pernah mimpi basah,kamu mah udah lewat masa nya di, di, nggak mustajab lagi doa kamu itu" sanggah Galang.
" tapi saya merasa teraniaya mas" Ardi masih ngotot tak rela jika Galang mematahkan opininya.
" kamu yang merasa teraniaya, tapi saya nggak pernah merasa kalau menganiaya kamu Di" ucap Galang lagi.
" yo wes, besok- besok saya nggak mau lagi nganterin mas Galang ketemuan sama mbak nya"
" enak aja, kembali kan uang Dp yang sudah saya transfer tadi, ayo! ucap Galang menimpali.
" yo nggak iso yo mas, uang Dp di anggap hangus jika salah satu pihak membatalkan transaksi"Ardi segera menyimpan handphone nya.
" Gendeng!! ucap Galang, lalu kembali melajukkan mobil nya membelah jalanan yang masih ramai pengendara.
" mau mampir beli makanan dulu apa langsung pulang di " tanya Galang, karena dia pikir pasti sopir pribadinya ini belum makan apa pun semenjak menungguinya di rumah Dena tadi.
" bungkus aja mas, mau makan di rumah aja"jawab Ardi.Galang pun memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah restoran cepat saji, ia segera memesan makanan untuk Ardi.
"kok cuma satu, mas Galang nggak laper apa? " tanya Ardi.
"saya udah makan tadi sama Dena di rumah nya" jawab Galang.
"ooo, pantesan lupa sama saya"
mereka tiba di rumah menjelang pukul sepuluh malam, namun kedua orang tua Galang nampak masih berbincang- bincang di ruangan tengah.
" belum tidur ma, pa" sapa Galang seraya mencium tangan kedua orang tua nya.
"malam banget pulang nya lang, kemana aja sama Anisa" tanya sang papa.
" nggak kemana- mana kok pa, kaki Anisa kan terkilir jadi nggak mungkin dong kita keluar" jawab Galang.
" udah baikkan lang kaki Anisa" tanya sang mama.
" udah ma"Galang berlalu, namun dia melihat ke arah sang mama yang juga tengah memperhatikannya, Galang tau bahasa mata sang mama, ia pun memgerlingkan sebelah matanya sambil tersenyum lalu melangkah ke lantai dua menuju Kamar nya dengan hati yang berbunga- bunga.
setelah membersihkan tubuhnya Galang merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya, ia coba pejamkan mata namun tak bisa, akhirnya ia membuka layar ponsel nya, ada sebuah pesan dan satu kali panggilan masuk dari Anisa Lima puluh menit yang lalu, Galang langsung membaca nya.
~kamu dimana mas? kok aku telepon nggak di angkat dan juga aku telepon ke rumah mu katanya kamu belum pulang, padahal kan udah dari tadi kamu pulangnya~
Galang tak berniat membalas pesan dari Anisa tersebut.
" kamu pasti tau kan aku kemana setelah pulang dari rumahmu tadi Nisa, kamu sungguh pandai mengelabuhi kami Nisa" lirih Galang.
Galang melihat pada kontak Dena dan ternyata doi masih online.
__ADS_1
" belum tidur rupanya, ngobrol sama siapa sih dia, ck, bukannya nanyain udah sampe rumah apa belum, malah asyik sama yang lain"Galang yang kesal lalu melakukan panggilan video ke Dena, Dan panggilan pun diterima oleh Dena.
" Ada apa pak"sapa Dena dengan wajahnya yang diletakkannya di atas bantal.
" aku rindu kamu Dena, pingin peluk kamu boleh nggak, insomnia nih" jawab Galang dengan suara berat nya.
Dena berdecih" ck, gombalan nya mulai deh persis ababil yang lagi kasmaran,malu sama jakun tuh pak" jawab Dena kesal.
" kamu ini,kan tadi sudah saya bilang jangan panggil pak lagi" ucap Galang kesal.
" hehehe, belum terbiasa pak, eh mas, ah, pak Galang, saya kan jadi baper" Dena menyembunyikkan wajahnya dibalik bantal nya.
" sayang" panggil Galang, Dan Dena semakin menelusupkan wajahnya mendengar Galang memanggilnya dengan sebutan sayang.
" saya mau lihat wajah kamu Dena, ayo jangan bersembunyi di balik bantal gitu dong" ucap Galang lagi.
Dena menggelengkan kepalanya, namun akhirnya dia tampakkan wajah merona nya.
" aku sayang kamu, kamu tau Dena kenapa aku katakan jika aku menyayangimu? " tanya Galang Dan Dena menggelengkan kepalanya.
" karena bagiku rasa sayang adalah puncak dari segala rasa ,semua ada dalam rasa sayang itu terdapat cinta, rindu, perhatian, perlindungan" ucap Galang lagi.
" trimakasih pak, saya merasa menjadi wanita yang sangat beruntung karena di cintai oleh bapak" ucap Dena dan matanya mulai berkaca- kaca.
" kamu nangis, kenapa, kamu sedih, ingat sesuatu" Galang mengusap wajah Dena pada layar ponselnya.
" iya, saya menangis terharu pak, apa ini jalan takdir saya, rasa nya seperti mimpi, walaupun jalan nya terjal dan berliku namun bagi saya inilah yang akan menguatkan rasa cinta saya terhadap bapak dan begitupun saya harapkan sebaliknya"
" jangan pernah berubah Dena, untuk rasa yang akan selalu sama selamanya, aku sayang kamu Adreena wijaya ku"
Galang menemani Dena lewat panggilan video nya hingga Dena tertidur.
namun baru saja Galang meletakkan hand phone nya, sebuah pesan kembali masuk.
~kok di baca aja mas, aku coba hubungin ternyata nomor mu sibuk,
~ maaf jika kamu merasa tidak nyaman,aku nggak mau kehilangan kamu mas dan besok papa dan mama ku akan bertandang ke rumah mas Galang.
"maafkan saya Nisa"
hanya kalimat itu yang terpikirkan oleh Galang untuk menanggapi pesan dari Anisa.
'
'
'
__ADS_1