Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
mulai merasa aneh.


__ADS_3

Dena duduk di kursi dengan wajah kesal nya.


" awas aja ya.. dasar bujang tua kelakuannya pun mendekati kadaluarsa".


expired lang, expired.


sebenarnya Dena ingin sekali angkat kaki dari tempat ini, namun apalah daya ia tak tahu ini dimana. ya wajar saja karena memang tempat ini jauh dari rumah maupun kampus Dena. jadilah dia menunggu sang bujang tua sambil membuka smartphone nya.


sementara itu Galang tengah sibuk mencari - cari apa yang aku cari.. dangdutan lang, hehehe.


saat sedang sibuk memilih size yang pas dengan dirinya, Tiba-tiba terdengar orang menyapa.


" mas Galang".Galang pun menoleh.


" iya, eh rupanya kamu Dim,kok kamu disini, belanja perlengkapan perang juga? ".


Dimas tersenyum bingung,,


" payah kalau punya boss otaknya gesrek,, apapun connect nya pasti kearah itu"bathin Dimas, sebelum menjawab pertanyaan si boss mesumnya.


" iya mas, ada yang mau di beli". tanpa bicara panjang lebar,dimas karyawan di kafe Galang itu pamit untuk segera kembali ke kafe, karena sebenarnya dia di beri tugas oleh sang nyonya besar untuk membuntuti boss muda nya ini...mamun apa mau dikata dirinya yang amatiran ini..hihihihi hampir ketahuan ya mas Dimas.


karena dari pada Galang yang memergoki nya, dia takut sekali rek kalau boss mudanya yang sangat dingin dan kalem itu marah.akhirnya dia yang menyapa terlebih dahulu agar berkurang kadar kecurigaan boss mudanya ini.


" waduh untung mas Galang nya nggak curiga".ucapnya sambil menyeka keringat yang mengalir di pelipis nya, ia menoleh kebelakang, memastikan jika tuan muda nya tak melihatnya, tapi apes memang yang di alami Dimas yang kini malah menabrak kursi.. kursi guys dan di kursi itu ada gadis sadis berwajah sinis tak ada senyum manis yang terlukis.


" ini sih keluar dari mulut ayam masuk ke mulut angsa... soang... soang".


tak ada kata- kata yang meluncur dari bibir tipis nan mungil nya, hanya tatapan matanya saja yang Dimas tau itu adalah ekspresi marah level berapa yah, seperti ular yang akan melahap mangsa yang sudah dalam genggamannya, tinggal ngappp..ngopp langsung.


"maaf mbak, saya nggak lihat".ucap Dimas salah tingkah karena Dena terus saja mematapnya.


" ya nggak lihat lah, mas nya kan lihat nya kebelakang, sementara tujuan nya ke depan, untung aja nabrak saya, gimana kalau mas nya langsung terjun kesitu".Dena menunjuk pada tangga berjalan yang ada di depan nya.


Dimas menatap ngeri...


"waduh ngeri banget sih mbak".


" iya ngeri,makanya hati- hati, lagian mas nya jalan seperti maling yang kepergok mencuri aja". Dena menelisik wajah pria di depannya.

__ADS_1


" waduh, kok bisa bener ya analisis nya".gumam Dimas.


" lho, mas kan karyawan di kafe pak Galang ya, kok ada disini".


" hmmm, pertanyaan yang sama".bathin Dimas, "terus apa jawabannya juga harus sama ya,".tanyanya dalam hati.namun sebelum dia menjawab terdengar suara seseorang memanggilnya.


"Dimas".


tanpa menyahut dan menoleh Dimas segera pergi meninggalkan Dena dan Galang, seolah dia tak mendengar dan melihat jika bos mudanya itu memanggilnya.


Galang tak memperdulikan kepergian Dimas, mungkin memang karyawan nya itu sedang tergesa-gesa, itu lah sebabnya ia langsung berlalu, tak menggubris panggilan nya atau mungkin tak mendengar nya. namun ia lebih fokus pada gadis di depannya yang kini juga sedang mengamati gerak- geriknya.


" seperti pencuri saja lang,di amati gerak gerik nya"


Galang tersenyum lalu duduk di samping Dena. Dena menggeser duduknya menjauhi Galang.


" nanti jatuh lho"ucap Galang dengan nada menggoda.


" ora mempan mas wes kadung ndongkol"( nggak ngaruh mas terlanjur kesel)"


" kalau udah selesai pilih pilih nya, anterin saya pulang pak". ucap Dena tanpa basa- basi.


" bahkan bapak sudah membulat kan niatnya sejak sebelum berangkat tadi kan, kok bilang nggak berniat, dasar bujang tua", ucap Dena kesal.


" jahat banget kamu den bilang saya bujang tua, kamu nggak lihat tuh barisan cewe- cewe terpesona melihat saya".Galang tak marah di bilang bujang tua oleh Dena, karena baginya ucapan orang yang sedang marah itu hanya pelampiasan amarah nya saja, nanti jika marah nya sudah hilang pasti akan berubah tuh julukannya.


"berubah jadi apa lang, crocodile cap nyamuk gitu ya".


" o ya, emang bapak tau apa alasan mereka ngelihatin bapak terus".


" ya karena saya ganteng dong Dena"


" idih, over confident".Dena berkata seraya berlalu meninggalkan Galang.


" belum selesai nih seperti nya".Galang pun berjalan mengekori Dena, namun dia mempercepat langkahnya hingga kini mereka jalan beriringan.


Dena menoleh merasa ada yang menyamai langkahnya.


"Belum halal pak, bukan muhrim jangan deket- deket, malu yang tadi aja masih ada, mau di tambahin lagi.. jadi nggak punya malu nanti saya nya".Dena mempercepat langkah nya setengah berlari. Galang tak mengejarnya, biarlah nanti di mobil saja ia akan membahasnya.

__ADS_1


Galang membuka pintu mobil kemudian menutup nya setelah Dena duduk.


" jangan marah lagi ya, saya nggak tenang kalau ada cewe yang kesel gara- gara saya".


Dena masih diam saja, namun sejurus kemudian dia menimpuk bahu Galang dengan tas selempang nya.


"brughh, brughh, rasain pak, itu belum sebanding sama rasa malu saya karena tingkah bapak di toko tadi", Dena dengan penuh amarah yang di pendam nya sejak di dalam tadi kini ia luapkan Seluruhnya.


namun yang di pukul diam pasrah saja,dia hanya melindungi semampunya, "demi apa lang? demi maaf untuk dirinya, ia rela jika harus pingsan disini.


ya iya lah rela karena pasti Dena akan sangat merasa bersalah jika sampai itu terjadi, dan kata maaf pun akan berubah menjadi permintaan maaf untuknya, hihihihi smart brain pak dosen.


Dena berhenti memukuli Galang.


" bapak sengaja ya diam aja, biar bapak terluka terus saya merasa bersalah gitu, iya?


" lho kok tau sih, punya mata bathin ya den", ucap Galang dalam hati, ia menurunkan tangan dari kepalanya, padahal kan yang di timpuk bahunya tapi kenapa kepala yang dilindungi lang?


" iya biar nggak amnesia kalau kena otak bagian belakang, Galang nggak sanggup guys menghilangkan ingatannya tentang Dena. wah, wah, wah, sudah, jatuh cinta rupanya pak dosen tampan nya Dena ini".


" terserah kamu mau bilang apa, intinya saya merasa bersalah dan apapun yang kamu mau lakukan ke saya, saya Terima, demi mendapatkan maaf dari mu. saya tau sudah membuat mu malu tadi".


" maaf nya diterima, tapi rasa malu nya pak nggak mudah buat dilupakan".ucap Dena sambil menunduk,


"mungkin apa yang saya luapkan ini berlebihan menurut bapak, tapi saya nggak mau memendam kekesalan saya".


lama keduanya saling diam, Galang pun belum nerniat untuk melajukan mobilnya, ia ingin menyelesaikan kan masalah ini saat ini juga, tidak ingin ada episode selanjutnya.


" mengapa rasanya seperti ini sih", bathin Galang yang merasa aneh dengan dirinya sendiri,


"aku dan dia adalah dosen pada mahasiswi nya, tapi itu kan di kampus, tapi kalau di luar kenapa jadi seperti sepasang kekasih sih, apa ini hanya perasaan ku saja, apa Dena merasakan hal sama ya? ".banyak tanya dalam diri Galang untuk hari- hari yang di lalui nya bersama Dena.


" mulai merasa aneh ya pak dosen, hayu tanyakan juga sama Dena nya pak, mungkin saja doi merasakan hal yang sama"


see u.


jazakumullah khoiron.


__ADS_1


__ADS_2