
Galang yang menyadari kekeliruan nya kemudian memperlambat laju kendaraan nya, Dena yang sebelumnya meringkuk bak koala itupun lalu mendongakkan kepalanya, ia tersenyum menatap Galang yang melihatnya sekilas, lalu satu tangan Galang menepuk punggung tangannya pelan.
" maaf sudah membuat mu takut " ucapnya.
Dena hanya tersenyum menanggapinya.
" ikut aku ke kafe, mau? " tanya Galang lagi.
Dena menanggukkan kepalanya, meng iyakan ucapan Galang.
setelah sampai di kafe, Galang segera memarkirkan lexus hitam nya di area parkir kafe nya.
Galang membukakan pintu untuk Dena, Dena tersipu,
" malu pak dilihatin karyawannya tuh" cicit Dena merasa tak enak karena perlakuan Galang barusan, Galang tak menghiraukan ucapan Dena.
Galang melangkah memasuki kafe nya, sementara Dena mengekor di belakangnya, ia belum percaya diri jika harus berjalan berdampingan dengan Galang.
" sore mas" sapa Angga yang di jawab dengan senyuman saja oleh Galang, namun sejurus kemudian dia menoleh kepada Dena yang ada di belakang nya.
" namanya Angga " ucapnya pelan setengah berbisik di telinga Dena.
Dena tau kemana arah pembicaraan Galang itu,
oh sudahlah pak dosen, Dena lelah sekali nampaknya saat ini, sebenarnya ia ingin menolak penawaran semi- semi pemaksaan dari Galang tadi, namun timbang menimbang akhirnya Dena memutuskan terpaksa menerima tawaran itu, tapi kini lihatlah apa yang dikatakan oleh pak tua di depannya itu, Angga? pastilah yang dimaksud kan olehnya adalah dokter Angga, hmm dasar tua- tua keladi, makin tua makin ngadi, ngadi.
Dena menggeleng- nggelengkan kepalanya tak mengerti dengan sikap dan usia Galang yang tak se iras itu," usia sih udah mateng banget tapi kelakuan, seperti putik pada mahkotanya... rentan... "bathin Dena.
tiba-tiba Galang menghentikan langkah kakinya,hingga Dena yang berjalan di belakangnya menabrak punggung kekar Galang.
Dena mengusap wajahnya yang terbentur punggung Galang tadi,
" atos, koyo sing nduwe"kesal Dena.
( keras, seperti yang punya)
" ngomong apa, Roaming nih, di translate dong" ucap Galang yang berdiri di depan Dena.
" bapak cepet banget jalannya" jawab Dena berbohong.
" beneran itu artinya , saya tanya sama Angga nih" ucap Galang tak percaya atas jawaban Dena.
Dena diam lalu merapikan rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya, namun ia tak sadar bahwa beberapa helai rambutnya masih tampak menyembul di samping telinganya.
__ADS_1
" kurang rapih " ucap Galang ketika tangannya menyibak rambut Dena lalu menyelipkan nya di belakang telinga Dena, hal yang di perhatikan oleh Dimas dan Angga yang tengah menyiapkan pesanan pengunjung.
" si wanitanya malu- malu, tapi pak bos nya?apa ngga? ucap Dimas pelan.
" pak bos nya, nggak tau tempat tuh Dim,nggak kasian apa sama kaum jomblo abadi seperti kita ini" jawab Angga.
keduanya lalu berpura-pura tengah sibuk menyiapkan minuman dalam gelasnya,ketika Angga menyikut lengannya, kode kalau si pak bos tengah mengamati mereka kini.
" Dena" panggil Galang, Dena tak menyahut, ia hanya mendongak kan kepala, dengan isyarat mata nya.
" ikut ke atas, saya mau tunjukkin ruang kerja saya di kafe ini, ayo! Galang meraih satu tangan Dena untuk di bawanya ke lantai dua menuju ruang kerjanya.
" dan lagi, lihat lah apa ini? pak Galang ini sebenarnya nggak bisa membedakan apa ya, apa itu penawaran dan juga pemaksaan " cibir Dena yang kini satu tangannya di gandeng oleh Galang, dia yang mengenakan sepatu high heels itupun tampak kesusahan saat menaiki tangga sementara Galang berjalan cepat, Dena pun menghentikan langkah kakinya, Galang pun menoleh.
" kenapa, capek, mau di gendong? ucap Galang dengan senyum menggoda.
" pak Galang jalannya nggak bisa pelan apa ya, kesannya kok seperti sedang menyeret tawanan yang akan di masukkan lagi ke dalam sel tahanannya " ucap Dena yang tampak memijat kakinya yang kelelahan.
Galang duduk pada anak tangga dimana Dena sedang memijit satu kakinya.
" maaf, saya memang sudah terbiasa melakukan sesuatu dengan segera Dena" ucapnya lalu ia membantu Dena meluruskan satu kakinya lagi.
" terus kita mau ngobrol nya di sini pak, capek pak pingin rebahan gimana dong? nggak mungkin di sini kan? " tanya Dena lagi.
" ayok! Galang membantu Dena berdiri lalu kedua nya melangkah memasuki ruang kerja Galang.
dreeetttt...
bunyi pintu bergeser, Galang mempersilahkan Dena untuk masuk terlebih dahulu, barulah setelah Dena masuk ia pun mengikutinya, pintu sengaja ia biarkan terbuka lebar, ia tak ingin menjadi bahan perghibahan lambe turah para karyawan laki- lakinya...
Dena takjub dengan suasana dalam ruangan Galang,semua pelengkapan kantornya tersusun rapih pada tempatnya,tapi mata lelah nya malah langsung tertuju pada sebuah single bed tak bercorak hanya dilapisi selembar sprei polos berwarna nude, lengkap dengan bantal dan gulingnya, jiwa kaum rebahan Dena langsung berontak saat melihat kasur dan guling yang seperti melambai- lambaikan rumbai nya kepada Dena, tanpa permisi kepada sang empunya Dena merebahkan tubuh lelahnya tak lupa sebuah Guling yang kini terkapit di kedua kakinya.
Galang tampak berdiri di jendela, ia lalu membuka tirai dan gorden minimalis nya agar udara dan sinar matahari masuk kedalam ruangannya, ya walaupun sore hari tapi sinarnya masih tersisa walaupun hampir berwarna jingga.
Galang meraih ponsel dari saku celananya lalu ia pun melakukan panggilan surara terhadap Angga.
" bawakan dua porsi nasi goreng spesial dan minuman dingin ke ruangan saya" ucapnya pada sambungan telepon nya.
" Saya sudah pesankan makanan kesukaan mu De,,,, Galang mengerjapkan matanya saat ia melihat ternyata Dena sudah terlelap di ranjang pribadi milik Galang.
" dasar tukang tidur, nggak tahan kalau lihat kasur dan guling nganggur" gumam Galang.
Galang lalu menghampiri nya, ia lepas tas selempang yang masih tergantung pada lengan Dena juga sepatu high heels nya, ia sibakkan helaian rambut Dena yang menutupi sebagian wajahnya.
__ADS_1
" maaf sudah membuat mu lelah hari ini aku sayang kamu Dena, aku cemburu saat kamu tersenyum pada pria lain" tak ada hal lain yang dilakukan Galang terhadap Adreena, Galang tampak membenahi posisi tidur Dena yang memeluk guling dan setengah kakinya yang masih menjuntai ke bawah.
saat Galang mengangkat satu kaki Dena sebuah deheman terdengar di telinganya.
" ehm, ehm, permisi mas, pesanan sudah siap " ucap Angga yang terlihat menahan tawa di bibirnya.
Galang pun menoleh, " letakkan saja di situ ngga, ucapnya belum juga beringsut dari tempatnya.
" saya permisi turun mas, jangan di biarkan terlalu lama nanti dingin nggak nikmat lagi mas" ucap Angga yang bergegas keluar, namun langkahnya terhenti saat mendengar Galang berbicara.
" maksudnya apa ngga? " kalimatmu ambigu, konotasi nya bermakna negatif, Galang lalu menghampiri Angga yang diam dengan nampan kosong di tangannya.
" nggak bermaksud apa- apa kok mas, apalagi berkonotasi negatif opo iku mas, saya ndak paham" ucap Angga masih berdiri di tempatnya semula.
" yang dingin dan nggak nikmat lagi itu apanya ha? " tanya Galang pelan, ia tak ingin Dena terbangun karena mendengar suara nya.
Angga tersenyum, lalu matanya tertuju pada hidangan yang baru saja ia sajikan di atas meja kerja Galang.
" kan mas Galang tadi pesan nasi goreng spesial, ya jangan lama- lama, buruan di santap kalau dingin kan jadinya nggak nikmat mas, lho apa ada yang salah ya sama ucapan saya? tanya Angga bingung kini.
" iya salah, seharusnya kata nikmat kamu ganti dengan enak atau sedap, kenapa harus nikmat ha! ucap Galang, Angga menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" apa iya ya, orang kalau lagi kasmaran itu gampang marah, lalu tiba-tiba baik, ramah senyum- senyum sendiri, aduh mas, yang punya pikiran negatif itu sepertinya anda deh terus kenapa jadi saya yang di kambing hitam kan, duh mbak Dena buruan bangun deh, lihatlah kekasih mu ini yang semakin nganar ora karuan omongane.
" maaf mas, saya cuma sedang menyesuaikan dengan keadaan nya saja" ucap Angga yang langsung mendapat tatapan tajam dari Galang.
Angga yang sadar jika telah salah bicara itupun segera menyiapkan kuda- kuda aji seipi angin nya...
" salah lagi, gumamnya, saat kini sudah ada di tengah- tangah tangga.
sementara itu Galang tampak duduk di sofa kebesaran nya, dengan satu kaki ia silang kan.
" apa aku makan duluan aja ya nasi goreng nya, laper banget nih, Dena sepertinya belum ada tanda - tanda akan membuka matanya " ucap Galang lalu menarik satu piring nasi goreng spesialnya.
baru saja ia akan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tiba- tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat, sontak Galang mengurungkan niatnya ia kemudian meletakkan kembali makanan pada piringnya.
"kamu sedang apa mas" ucap seorang wanita yang sangat Galang kenali suaranya.
trimakasih, sudah baca semoga selalu suka.
BarokAllah, see u..
__ADS_1