Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
panggil saya pak Galang!


__ADS_3

Dena duduk meluruh di kursi panjang yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, kemana kiranya calon suaminya tadi, marahkah dia, salah paham kah dia terhadap Dena, itu lah yang ada dalam benak Dena, namun dalam kekalutan pikirannya, Tiba-tiba saja ia merasakan jika seseorang yang duduk di samping nya.


Dena menoleh lalu memandang datar pada pria tersebut, rupanya pria dengan balitanya tadi.


"maaf nona, saya hanya ingin memberi tau anda bahwa calon suami anda saat ini ada di basement, tadi saya melihatnya ia nampak jalan tergesa-gesa" ucap pria tersebut.


Dena segera berdiri, ia bermaksud menyusul Galang namun ia hentikan langkah kakinya lalu kembali menoleh pada pria dengan balitanya itu.


" trimakasih informasi mas " ucap Dena sebelum melanjutkan langkah kakinya.


pria itu tersenyum kemudian berjalan menuju area play zone.


Dena mempercepat langkah kakinya hingga terlihat seperti orang berlari, ia harus segera bertemu dengan Galang, namun langkah kakinya melemah kala ia melihat lexus hitam milik Galang berjalan melewati nya, Dena tak bisa dengan jelas melihat siapa orang didalamnya, apa hanya Galang ataukah ia sedang bersama temannya, karena kaca pada mobil Galang tak tembus pandang.


Dena menjatuhkan tubuhnya di lantai basement tersebut, ia bahkan tak sanggup walau hanya untuk memanggil nama Galang saja, tubuhnya bergetar hebat, hingga airmata mengalir di pelupuk matanya.


" ibu, bapak, apa Dena tidak berhak untuk merasakan bahagia? " ucapnya lirih, ia duduk dengan memeluk kedua lututnya, saat itulah ia merasakan seseorang berjalan mendekati nya, lalu ikut duduk di samping nya, Dena tak berani melihat nya, hingga orang tersebut menyapanya.


" kamu kenapa? " tanya pria itu dengan suara beratnya.


merasa sangat mengenali suara itu, Dena pun segera mendongakkan kepalanya, tangisnya pecah ia terisak kini, pria tersebut pun mendekap bahunya lalu menghapus air mata yang membasahi kemeja Dena.


" kenapa nangis, tadi mas tungguin di tokonya papa, tapi kamu nggak muncul- muncul, dan kata pria yang gendong balita tadi kamu udah turun ke basement buat menyusul mas, iya?


" oh, rupanya dia adalah tuan muda Galang aditama wijaya gess, owalah pantesan Dena langsung menangis tadi, nangis bahagia ya den, he eh,,,


" mas ketemu lagi sama pria itu? "tanya Dena yang masih menyenderkan kepalanya pada bahu Galang, Galang menganggukan kepalanya.


" iya, dia juga minta maaf sama mas atas kejadian tadi, dia pikir mas marah sama kamu, padahal kan mas cepat- cepat karena handphone mas, tertinggal di tokonya papa tadi dan dia minta maaf juga karena sudah memberikan informasi yang salah sama kamu, maaf sudah membuatmu khawatir lagi" ucap Galang mengecup puncak kepala Dena.


" mas nggak marah sama aku? " tanya Dena.


" kok marah sih sayang, ya nggak lah, memang nya mas ini siapa, malu sama umur Dena, pacaran kok isinya cuma berantem terus baikkan lagi begitu terus, berulang- ulang, capek tau, udah ah, ngapain juga kita duduk disini kayak orang nggak guna aja, pulang yuk" Galang meraih satu tangan Dena mengajaknya berdiri dan mereka pun berjalan menuju mobil Galang, Dena menghentikan langakhnya.


" kenapa lagi hem? " tanya Galang pelan.


" bukannya tadi mobil mas Galang udah pergi ya, kok bisa balik lagi kesini? " tanya Dena.


" itu bukan mobil mas sayang, mobil kayak gitu kan banyak" ucap Galang lalu membuka pintu mobilnya.


" banyak opo lang,hanya orang-orang berkantong tebal yang bisa memiliki kendaraan seperti itu"


mereka kini sudah ada di dalam mobil Galang.


" besok aku udah masuk kuliah lagi mas" ucap Dena seraya membenahi kuncirnya yang sedikit berantakan.


" Hati-hati di kampus, handphone jangan sampai tertinggal, jangan mode senyap ataupun hanya getar,, mas khawatir Dena" ucap Galang sesekali menoleh kepada gadisnya itu.


" iya Pak, ada lagi yang ingin di sampaikan? " tanya Dena menggoda.


Galang menoleh,


" jangan kecentilan" ucap Galang mengusap puncak kepala Dena.


" saya nggak pernah kecentilan pak!! Dena menimpali.


" iya, bapak percaya kok bu" hahaha,,keduanya tertawa lepas.


.


.


.


" mas langsung pulang ya, udah malam, kamu langsung istirahat aja, besok harus fit" ucap Galang setelah Dena sampai di depan rumahnya.


Dena tersenyum sebelum masuk ke dalam rumahnya.


Galang pun melangkah pergi menuju kendaraan nya.


.


.


.


Galang tiba di rumahnya malam hari dan rumah sudah sepi, sepertinya papa dan mamanya sudah tidur, walaupun pintu utamanya masih terbuka disana hanya tampak Ardi yang tengah sibuk dengan majalah di tangannya.


" belum tidur Di" ucap Galang seraya membuka lemari pendingin.


" iya mas, kata ibu pastikan dulu kalau mas Galang sudah pulang, baru saya boleh tidur" jawab Ardi di sela-sela bacaan nya.

__ADS_1


" mama lebay deh, emang saya ini anak kecil apa Di, lain kali kalau kamu udah lelah, istirahat aja, nggak usah nungguin saya pulang" ucap Galang berjalan kearah Ardi lalu duduk di sebelahnya.


Ardi menoleh, ia lalu menuangkan vitamin water yang di ambil Galang dari lemari pendingin tadi ke gelas kristal di sebelah nya.


" bukan lebay mas, tapi mas Galang kan sebentar lagi mau jadi manten, jadi ya wajar kalau bapak sama ibu itu over perhatiannya sama mas Galang, ini mas silahkan diminum, pasti mas Galang capek ya? " ucap Ardi menyodorkan gelas yang berisi minuman dingin untuk Galang,


"seharian kemana aja mas"tanya nya lagi.


" keliling Di, mencari semua kelengkapan untuk akad nanti " jawab Galang setelah meneguk habis minuman di gelasnya.


" udah lengkap semua mas? " tanya Ardi seraya membuka lembaran- lembaran majalahnya.


" Alhamdulillah sudah di pesan semua tinggal menunggu konfirmasi aja kapan selesai nya"jawab Galang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi nya.


" Alhamdulillah semoga lancar ya,, " Ardi menoleh karena sang tuan muda nya tak merespon ucapannya,


" lho tidur rupanya, gimana ini? masa iya harus di gendong" bathin Ardi, namun ia kemudian bergegas masuk kekamar nya dan keluar membawa selimut bermotif salur.


" maaf ya mas, saya nggak tega ngebangunin mas Galang" ucap Ardi lalu menyelimuti tubuh Galang hingga bagian dadanya.


setelah selesai menyelimuti Galang, Ardi pun kembali ke kamar nya untuk istirahat karena hari malam semakin larut.


.


.


.


keesokkan paginya, di kamarnya Dena sudah siap dengan outfit kampusnya, ia berjalan untuk mengambil roda duanya.


setelah semua siap, Dena segera tancap gas, namun ponsel di saku celananya berdering, Dena pun mengambil benda pipih tersebut.


" iya mas ada apa? " tanya Dena,rupanya Galang yang menghubungi dirinya.


" kamu dimana, udah di kampus atau masih dirumah? " tanya Galang bertubi-tubi.


"ini baru aja mau berangkat mas, mas Galang baru bangun ya? " tanya Dena.


Galang memindahi penampilannya ia pun berdiri lalu melihat pantulan wajahnya pada cermin.


" kok Dena tau sih kalau aku baru bangun, darimana dia bisa tau? " tanya Galang dalam hatinya.


" hmm, maaf mas kesiangan hari ini" ucap Galang malu- malu ngeong di ujung teleponnya.


"kok bisa kesiangan mas, begadang ya? " tanya Dena.


" nggak kok, bahkan mas nggak sempat masuk kamar, mas tidur di sofa ruang tengah Dena, mas ketiduran di situ " jelas Galang sambil mengusap wajah bantalnya.


" pasti mas lelah ya, keliling seharian kemarin sama aku" ucap Dena pelan.


"nggak sayang, ya udah kamu buruan berangkat, Hati-hati di sana ya, nggak usah ngebut- ngebut, jangan mudah percaya sama orang yang baru kamu kenal,oke? " ucap Galang mewanti- wanti Dena.


" nggeh pak, ngertos[ iya Pak, mengerti]" jawab Dena.


" artinya apa? " tanya Galang bingung.


" mas Galang ganteng" ucap Dena lalu segera mengakhiri panggilan suaranya.


sementara Galang senyam- senyum sambil memeluk gulingnya,


" coba kamu ada disini Dena, pasti mas nggak bakalan melukin guling kayak gini,, mmmuaacch,, Galang menciumi layar ponselnya yang menampilkan wajah Dena.


" Astaghfirullah,, Galang kamu ngapain" Galang terperanjat hingga segera menyibak selimut dan gulingnya yang kini berserakan dilantai kamarnya, ya,, Galang terjaga tengah malam saat ia menyadari ia tak tidur di kamarnya, tapi di sofa, dan dia yakin pasti si Ardi lah yang menyelimuti dirinya semalam, hingga dia pun naik ke lantai atas menuju kamarnya dan akhirnya kesiangan.


" bangun tidur ma, hehehe"ucapnya nyengir kuda.


" baru bangun? pukul berapa ini pak presdir, karyawan dikantor udah pada nelponin dari tadi,nanyain kamu kok belum ke kantor juga, oh rupanya lagi training jadi pengantin baru ya hem? " ucap sang mama seraya mendekat lalu menarik tangan Galang dan membawanya ke kamar mandi.


" kok training jadi pengantin baru sih ma, pertanyaan macam apa itu, mama mesum ih, Galang nggak perlu training ya ma, langsung praktik aja"ucap Galang seraya menahan tangannya yang di tarik sang mama.


" pluk" tangan sang mama mendarat sempurna di bibir mesum Galang.


" yang mesum itu kan kamu" ucap sang mama sebelum menutup pintu kamar mandi Galang.


" mesum juga nggak apa- apa ma, kalau udah sah jadi istri Galang itu namanya ibadah " ucap Galang kembali membuka pintu kamar mandinya.


" he eh, iya in aja, orang kalau lagi bucin kan bebas mau ngomong apa aja, semua benar pokoknya " ucap sang mama kemudian bergegas menuruni anak tangga menuju lantai dasar.


" kamu antar Galang sampai ke kantor ya Di, pokoknya mulai hari ini sampai hari akad kamu harus mendampingi dia kemanapun, ibu nggak mau terjadi hal- hal yang buruk menimpa Galang.


" baik bu" ucap Ardi.

__ADS_1


Galang sudah bersiap dengan setelan kantor nya, hem putih dibalut jas hitam dipadukan dengan celana bahan berwarna senada dengan jasnya, ia tampak menuruni tangga kini.


" lho Di kamu mau kemana, pagi-pagi kok udah rapih, bapak sama ibu mau pergi ya? " tanya Galang heran dengan penampilan sopir kepercayaan keluarga nya ini.


" mulai hari ini sampai akad saya ditugaskan sama ibu untuk mendampingi mas Galang kemanapun" jawaban Ardi membuat Galang memicingkan matanya lalu menarik satu kursi nya untuk sarapan.


" kok gitu Di, memangnya kenapa, kok mama sepertinya khawatir banget ya" tanya Galang seraya menyendok makanan ke dalam piring nya.


" nggak tau mas, saya hanya menjalankan perintah ibu saja" jawab Ardi.


" ya udah, saya sarapan dulu ya, kamu tunggu saja di mobil" ucap Galang lalu mulai menyantap makanannya.


.


.


.


Galang tiba di kantor milik papanya, suasana sudah ramai karena Galang hari ini datang terhambat.


" pagi mas Galang" sapa Olivia sekretaris Galang.


" pagi juga liv, hari ini saya ada jadwal ketemu klien nggak? " tanya Galang lalu duduk di kursi kebesaran nya.


" nggak ada mas, hari ini hanya ada meeting bulanan saja, satu jam sebelum makan siang nanti semua karyawan sudah berkumpul di ruang meeting mas" jawab Olivia dengan senyum yang tak lepas dari bibir tipisnya.


" a,, Olivia maaf, boleh saya minta sesuatu dari kamu? " pertanyaan Galang ambigu banget sih, kan si olive oil jadi salah tingkah kini, blingsatan, tan Saytonnirrojim,,,,


" minta sesuatu dari kamu katanya, apa? " bathin Olivia yang kini tersipu malu itu.


" a, maaf sudah membuat mu salah faham maksud saya, tolong jangan panggil saya mas lagi ya, panggil saja pak Galang seperti karyawan lainnya, oke? " pinta Galang.


raut wajah Olivia langsung berubah kini, hampir saja ia terbang ke langit ke tujuh eh,rupanya salah sangka saja toh, hmm, wes angel, angel.


" baik mas, eh pak" jawab Olivia lalu segera sibuk dengan layar laptopnya.


" apa dia nggak tau ya, kalau aku sudah bertunangan bahkan sebentar lagi akan menikah, kenapa aku merasa dia itu menyimpan rasa terhadap ku,, ah, lupakan sajalah aku nggak akan tergoda " bathin Galang.


" tuh kan siapa yang dinasihati tapi siapa juga yang kecentilan" ucap Dena pada sambungan suaranya dengan Galang yang kini sedang bersiap- siap untuk meeting bersama para karyawan nya.


rupanya Galang sedang menceritakan kecurigaan nya terhadap sang sekretaris yang di yakini menaruh harapan padanya itu.


" mas nggak kecentilan ya" Galang menolak tuduhan Dena.


" terus apa, wanita nggak mungkin tiba-tiba saja memiliki rasa jika si pria nya tidak memberikan ruang untuk nya"ucap Dena kesal, dia saja mati- matian menjaga mata dan hatinya agar tak ada pria yang mendekati nya, tapi si bujang jelihim nya itu malah sebaliknya.


" mas kan bukan Tuhan sayang, yang bisa dengan mudah membolak-balikan hati umatnya, mas juga nggak bisa melarang orang untuk tidak jatuh cinta sana mas" ucap Galang lagi.


" Oh jadi mas bangga ya, di cintai oleh banyak wanita, dasar crocodile cap nyamuk, nggak dimana, nggak dimana ya sama aja, tebar pesona mulu kerjaanya.


" nggak sayang, mas nggak pernah tebar pesona, percaya sama mas ya, sekarang mas mau meeting dulu, nanti mas jemput kita healing sebentar ke pantai gimana, mau nggak? " tanya Galang merayu sang pujaan hatinya.


" ngrayu nih ceritanya, biar apa coba? " ucap Dena menimpali.


" biar kamu nya nggak nesu- nesu lagi"[ nggak marah- marah lagi].


" aku baru tau kalau pak dosen ku bicara pakai bahasa Jawa,kesannya lembut banget,so soft mas, aku suka" ucap Dena.


sebelum mengakhiri panggilannya.


setelah mengakhiri panggilannya dengan Dena


Galang meraih jas dan juga kacamata bacanya, lalu bergegas pergi untuk meeting bersama para karyawan nya.


" handphone mas Galang tertinggal" ucap Olivia, Galang mengerutkan keningnya menatap sekretaris itu.


" a, maaf, maksud saya handphone bapak tertinggal " ucap Olivia meralat kata- katanya.


Galang berbalik untuk mengambil ponsel di atas meja kerjanya, kemudian berjalan melewati Olivia di sampingnya.


" nggak mau ngucapin terimakasih gitu, sombong banget sih, lihat saja, sekuat apa iman mu jika terus- menerus satu ruangan bersama ku" ucap Olivia dengan senyum smirk di bibirnya,,


hmm, roman- romanya bau- bau hati terpanggang nih, ada pelakor, cus lapor nyonya muda, ,


trimakasih, semoga selalu suka


sampai happy ending ya,,


see u,,


__ADS_1


__ADS_2