Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
hujan lagi.


__ADS_3

Sejak awal bertemu Dena ,memang Galang mulai merasa curiga dengan indra penglihatan dan juga indra perasa nya tapi bukan lidah ya guys, indra perasa Galang beda konotasi nya, hmmm emang hati termasuk panca indra ya pak dosen, bukan lah! oh berarti pak dosen punya indra ke enam ya.. seperti yang pernah Dena katakan.


" wajah bapak horror... hihihi.. takut.


Dimatanya Dena adalah pribadi yang menarik, jutek tapi menyenangkan, asyik jika di ajak ngobrol, enak kalau di ajak jalan,orang nya easy going banget.


hmmm ya iya lah orang kalau lagi jatuh cinta ya gitu, makan sambel terasi aja rasa saus kacang, gula Jawa rasa coklat, lah ini gadis Jawa lang, rasa apa dong, rasa nyaman pastinya. hmm, ya sudah lah kita maklumi saja semua yang dikatakan sama pak dosen ini.


sementara Dena pun sepertinya merasakan hal sama bahkan lebih dari sekedar rasa nyaman, dia nggak rela guys saat Anita selalu memuja- muja Galang, dia rindu jika sehari saja tak melihat wajah tampannya, dia meriang jika tak mendengar suaranya,seperti ada yang nyangkut gitu di tenggorokan,lebay deh Dena! haduh... ini sih lebih membahayakan dari hanya sekedar rasa nyaman nya Galang rek... tapi itu lah yang membuat nya semakin tersiksa, cinta tapi tak sanggup untuk mengungkapkan nya, bahkan saat cinta nya ternyata tak bertepuk sebelah tangan pun Dena tak punya nyali walau hanya untuk sekedar berkata


" iya, saya juga"


Dena oh Dena, memang kalau ngomong aja sih gampang, tapi pada kenyataannya nggak bisa di realisasikan to... bener memang kata Anita den, sekarang kamu pun merasakan nya, tapi naas sekali karena kalian jatuh cinta pada orang yang sama, Dena bingung sekali, bahkan ini lebih membingungkan dari buah simalakama.


Mengakui bahwa ia pun merasakan hal sama pada Galang pasti membuat sang bujang jelihim nya ini.. tak nyenyak makan dan tak nafsu tidur.. hihihi terbalik ya? , cinta kan memang begitu den, tak punya mata hingga dibilang orang cinta buta.


lama Dena dalam diam nya, hingga tepukan pelan pada bahunya, membuatnya menoleh.


" Iya, kenapa pak".


" kamu disini tapi pikiran mu entah dimana".Ucap Galang.


" semuanya disini pak, nggak akan terpisah".tunjuk dena pada hatinya.


" seperti aku dan kamu".ucap Galang dengan senyum dan nada menggodanya...


" duh, ini pak dosen kata- katanya gak sinkron sama usia dan profesinya deh, usia kepala tiga pun udah mau selesai kaya nya ya? dan juga sebagai seorang dosen kok" ora eneng kharisma e babar blass.. jiaann.. piye to. ( tidak berkharisma sama sekali, bagaimana ini)". Dena menggelengkan kepalanya.


"Saya nggak tau pak sama perasaan saya, disamping memang saya merasa nyaman- nyaman saja kalau pergi sama pak Galang,selain itu saya belum mampu untuk menyimpulkan tentang apa yang saya rasakan ini", ucap Dena.

__ADS_1


" Memang selain rasa nyaman apalagi yang kamu rasakan saat bersama saya seperti saat ini".Galang kembali menyentuh tangan Dena.


"mana mungkin saya mengakui nya pak, malu ".ucap Dena dalam hati.


" Ya sudah, rasa nyaman mu sudah cukup bagi saya untuk menyimpulkan perasaan mu terhadap saya".ucap Galang.


" hanya nyaman pak, belum lebih, eh".Dena menutup mulutnya dengan tangan. merasa salah bicara barusan,


"bisa di revisi ulang nggak pak?,aduh ini mulut kok nggak kompak banget sih".gerutu Dena.


" kamu yang nggak kompak den, hati sama bibir mu sih seperti nya udah cocok banget".


" boleh, mau di ulang yang bagian mana saya oke, oke aja, yang belum, berarti ada kemungkinan ada rasa yang akan menyusul setelah rasa nyaman". jawab Galang.


ia tahu gadis di samping nya ini terlalu malu untuk mengakui perasaan nya.


"kita pulang aja deh pak, hari makin sore, nanti ibu saya khawatir karena saya nggak pernah pulang terlambat seperti hari ini".


" kenapa nggak di telpon dulu ibu nya, saya masih ingin ngobrol- ngobrol sama kamu, kita cari tempat yuk", ajak Galang.


" kan bisa ngobrol di HP pak, yuk ah pulang aja".


" nggak seru den, saya lebih suka begini".


" lain kali aja pak, saya lelah banget hari ini".Tolak Dena.


Galang tau itu, semenjak dari pusat perbelanjaan tadi memang emosi dan tenaga keduanya terkuras habis, marah- marah, lari- lari,merajuk, nembujuk, yang ini menangis yang itu tersenyum manis,duh lengkap banget sepertinya ya.


" Belum lengkap dong karena Dena belum mau mengungkapkan perasaan nya kepada Galang".

__ADS_1


hayu den disegerakan nanti keburu di ambil orang lho.. yang bening- bening mah nggak usah di pikir sampai pusing, lets going gitu.


Galang mengalah ia pun segera melajukan kendaraannya,di perjalanan ia curi- curi pandang ke arah Dena.


"Ayo pak dosen nanti nggak fokus lho mengemudi nya".Dena memang nampak lelah sekali hingga tak sadar matanya pun terpejam, eh, eh belum sampai den, bahkan mobil masih melaju membelah jalanan yang cukup ramai.


Hampir saja dena tersungkur ke depan namun Galang dengan gerakan cepat langsung meraih bahu dena dan membawa nya agar bersandar di bahu kokoh nya. rupanya dena belum terjaga dia nyaman sekali ya tidur di samping pak dosennya ini.


Memang cuaca tak bisa di prediksi kan, padahal siang tadi cuacanya panas terik, lalu kenapa tiba- tiba saja terdengar suara guru bersahut-sahutan di langit yang hitam, sepertinya hujan akan turun dengan derasnya siang menjelang sore hari ini. memasuki bulan Oktober Galang selalu ingat perkataan guru geografi nya, "siapkan ember dari September sampai desember agar airnya tak tercecer, hihihi emang bener apa kata pak Zaher.


Galang tersenyum mengenang masa- masa mengenakan seragam putih Abu-abu nya dulu.


Dena masih tenang aja tuh lang, suara guru yang bersahut-sahutan tak lantas membuatnya terjaga, hingga terdengar suara petir menggelegar barulah Dena terkejut, reflek dia menelusup kan wajahnya di belakang Galang.


Galang segera menepikan kendaraan nya dan merubah posisinya, ia ingin menenangkan Dena yang nampak ketakutan sekali. Dena nampak menutup matanya rapat, sedangkan kedua tangan nya ia gunakan untuk menutup telinga nya.


" hey", Galang menepuk- nepuk pipi Dena pelan, Dena seperti orang dengan trauma berat jika Galang lihat dari ketakutan nya kini. bahkan ia tak jua membuka matanya saat Galang menyapa nya.


" Dena, kamu baik- baik saja?".Dena menggelengkan kepalanya. sungguh dia sangat takut kini ingin sekali dia memeluk lelaki di sampingnya ini, namun dia masih punya rasa malu, jika saja ia sedang berada di rumahnya ia pasti akan dengan mudah menjadikan ayah atau ibunya sebagai tempat untuk menyembunyikan wajahnya kini, tapi kini, di sampingnya adalah Galang, si dosen tampan yang dengan terang-terangan sudah menyatakan cinta pada dirinya. ia tak mau melakukannya, sungguh tidak.


" kamu takut? tanya Galang setelah Dena membuka mata nya, karena kini suara guru dan petir telah berganti hujan.


Dena mengangguk, nampak kristal bening mengalir dari matanya.


hmmm, trauma banget ya den sama petir dan guru.


jazakumullah khoiron.


__ADS_1


__ADS_2