
Setelah mengucapkan kalimat keramat nya, Dena langsung memutus sambungan video nya itu.
sementara sang pria panas dingin di buatnya kini, apa yang di ucapkan Dena barusan sungguh ampuh membuat matanya tak dapat terpejam kini, berkali- kali Galang mencoba mendial nomor Dena namun ternyata gadis itu me nonaktifkan handphone nya.
" Dena, awas ya kalau ketemu di kampus" ucap Galang lalu dia memeluk guling di sebelahnya dan mencoba untuk terlelap.
" udah siap lang, pagi bener berangkat nya" ucap sang papa ketika Galang ikut bergabung di meja makan untuk sarapan pagi.
"ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus pa,bener nggak ma" Galang tersenyum ke arah mamanya.
" bener banget lang, mama setuju sama ucapan kamu ini, kalau memang kalian merasa cocok satu sama lainnya ya di segerakan, tapi kalau nggak ya disegerakan juga" sang mama kini melihat pada Galang yang langsung menghentikan aktivitas makan nya.
" kalimat mama ambigu banget, Galang bingung ma" Galang ingin tau kemana arah pembicaraan mamanya itu.
"dosen kok bingung, piye to lang" rupanya sang mama ngajak main tebak- tebakkan di pagi ini.
Galang melihat ke arah mamanya dengan tatapan serius kini, menanti jawaban ma.
" ya kalau memang nggak cocok ya di segerakan cari kandidat yang cocok sama kamu.
Galang membuang nafas nya lega.
" huh, mama ini pagi- pagi udah bikin spot jantung aja ih"
" apa perlu papa carikan lagi kandidat yang baru lang, kalau ternyata Anisa dan kamu tidak menemukan kecocokan"
" nggak perlu pa, Galang udah ada calon nya kok" eits!! Galang buru- buru merevisi kata- katanya barusan.
"bukan, bukan, pa, tapi Galang bisa cari sendiri" ucap nya tergesa-gesa.
" oke, tapi harus sesuai sama kriteria papa sama mama ya"jawab sang papa.
" lho kok mama juga sih pa, kalau mama nggak ada kriteria khusus lah untuk calon mantu mama, Galang pasti paham siapa yang pantas menjadi pendamping hidup nya kelak, iya kan lang"
Galang bahagia sekali jika mendengar kalimat- kalimat bijak dari mamanya ini, pagi-pagi dapet mood booster wah Alhamdulillah nya berasa zikiran bagi Galang,harus tiga puluh tiga kali ya pak dosen.
"Galang pergi dulu ma, pa" ucapnya seraya mencium tangan kedua orang tua nya itu bergantian.
" lang" sang mama memanggilnya. Galang pun menoleh.
" semoga sukses ya" Galang mengacungkan kedua ibu jari nya sambil tersenyum kemudian dia segera berlalu.
Galang mengemudikan mobil nya sendiri. tak lupa ia putar tembang-tembang lawas yang ada di smartphone nya, saat mendengarkan lagu ia teringat pada Dena.
__ADS_1
"ah Dena, apakah dia sudah bangun, apakah handphone nya sudah aktif sekarang" Galang segera meraih handphone di depan nya.
panggilan terhubung namun tak ada jawaban di sana. setelah beberapa kali namun tak jua ada jawaban, Galang mengakhiri panggilannya.
Galang berhenti di depan sebuah rumah berlantai dua yang di yakini nya sebagai rumah Anisa itu.
" kayak nya ini deh,apa aku telepon dulu Anisa nya yah untuk memastikan nya, ah aku kan nggak punya no cewek itu" Galang nampak bingung kini.
namun tiba- tiba ada yang memgetuk kaca mobilnya.
tuk
tuk
tuk
Galang tak langsung membukanya.
seorang pria dengan seragam security. "mungkin satpam di rumah ini" lirih nya. ia pun membuka kaca mobilnya.
" mas Galang ya, temennya mbak Anisa, langsung masuk aja mas, mbak Anisa nya sudah menunggu di teras depan" ucap pria itu ramah.
" iya mas, saya Galang"
Galang tersenyum lalu melajukan mobil nya memasuki gerbang yang sudah di buka lebar oleh pria yang merupakan petugas keamanan di rumah Anisa.
Anisa langsung berdiri ketika melihat sebuah mobil lexus ls 500 berwarna hitam berhenti di halaman rumahnya, wajahnya bersemu merah ketika Galang tampak keluar dari dalam mobil nya itu.
Mengenakan celana denim berwarna hitam yang di padukan dengan kemeja putih dengan pergelangan tangan di lipat. casual sekali pak dosen nya Dena ini, makin terlihat ketampanannya kini di mata Anisa.
"Assalamu'alaikum" ucap Galang.
"Wa'alaikumussalam" jawab Anisa.
" baru kali ini denger suaranya, merdu juga ya"eits... Galang segera mengembalikan kesadaran nya yang hampir saja hilang hanya karena mendengar suara Anisa barusan.
" inget lang kamu hanya menjalani saja tak perlu masuk terlalu jauh dalam rencana papamu,jangan sampai kamu malah membuatnya jatuh cinta sama kamu ataupun sebalik nya"Galang teringat pesan dari sang mama yang dikirim melalui chat di handphone nya sebelum dia sampai di rumah Anisa tadi.
" duduk mas, mau minum apa biar nanti di buatkan sama mbak yang kerja di dapur.
" apa saja yang tidak merepotkan" ucap Galang datar namun tak ayal senyum manis terukir di bibir tipis nya.
" nggak usah tebar pesona pak, inget nama saya yang bapak sematkan dalam setiap doa di sujud lima waktunya"
__ADS_1
jika tadi nasihat mama yang menyadarkan nya kini giliran kata- kata Dena yang terasa nyata di telinga nya, seketika senyumnya pun hilang tanpa meninggalkan jejak di wajah tampannya.
" a, boleh saya membasuh wajah saya, dimana ada air mengalir disini" tanya Galang. ia berusaha untuk tak menghadirkan senyum dalam tegur sapa dan sesi tanya jawab kali ini.
"di depan ada taman mas, disitu ada waterfall mini nya, mas Galang bisa membasuh wajah di situ" Anisa berkata sangat lembut. berbeda dengan Galang yang di beri peringatan oleh sang mama agar bersikap sewajarnya.
"sebisa mungkin hindari saling tatap atau saling senyum,
BAHAYA" begitu kalimat yang di tekan kan oleh mamanya.
maka kedua orang tua Anisa yang nampaknya langsung jatuh hati sama Galang itu malah memberikan wejangan yang sebaliknya kepada sang putri.
"Sebisa mungkin jadikan pertemuan kalian yang kedua ini ada kemajuan ya nduk, minimal kamu sudah bisa membuat nya tertarik sama kamu.
" aku kan muslimah berhijab pa, nggak pantes kalau bersikap seperti itu"
"kamu kan faham batasan-batasan nya nduk, ya sudah sana tunggu di teras depan sebentar lagi dia sampai.
maka sesuai amanah orang tua nya maka jadilah kini Anisa bersikap sangat manis dan lemah lembut di depan Galang kini, kalau kata orang tua nya sih sikap nya itu masih di batas kewajaran, belum keluar dari koridor yang dipahami oleh Anisa.
"he eh, nurut aja nis"
Galang berjalan menuju taman yang di maksud Anisa tadi, sesampainya di taman,Galang melepas kemeja nya dia sengaja melakukan hal itu untuk mengundang perhatian Anisa agar dia melihat dan membaca nama Adreena di punggung baju yang dikenakannya.
dan sepertinya rencana Galang berhasil kawan!
Anisa yang selalu memperhatikan semua aktivitas Galang tersebut nampak terkejut dan menutup mulut dengan telapak tangan nya.
"Adreena, nama siapa itu? bukan kah dia adalah anak tunggal di keluarganya,apa itu nama tokoh idolanya atau nama mamanya mungkin, aku kan belum tau siapa nama mamanya, papa hanya menyebutnya sebagai mbak Wijaya saja tadi malam"berbagai pertanyaan hadir di benak Anisa kini.
Galang tersenyum disana.
" sepertinya rencana ku berjalan dengan baik kali ini,Dena, aku berhasil Dena"ucapnya pelan. ia lalu membasuh wajahnya sesuai dengan niatnya tadi.
setelah nya ia kembali ke teras, namun sebelum duduk Anisa mengingatkan akan kemeja nya yang sengaja ia tinggal di taman tadi.
" itu kemeja nya tertinggal mas"
" ah iya, saya lupa, air nya seger banget sih, trimakasih sudah mengingat kan"
" sengaja ya lang, wah bener- bener pro banget pak dosen ini ya"
__ADS_1