Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
ingin bertemu.


__ADS_3

Galang kembali duduk.


" kamu nggak ke resto hari ini nisa? " Galang memulai obrolan nya dengan Anisa.


" nggak mas, kalau weekend resto aku pantau dari rumah aja, lewat handphone" jawab Anisa masih dengan suara lemah lembut nya.


" apa mas Galang free hari ini, bukannya kaffe lebih ramai ya kalau weekend seperti ini" Anisa balik bertanya.


" biasanya sih siang atau sore hari aku baru ke kafe, ya sekedar memantau suasana di sana dan juga para karyawanku"


" o ya, mas Galang udah lama jadi dosen atau sejak lulus kuliah" tanya Anisa lagi.


" iya, sejak lulus kuliah, sebenarnya papa kurang setuju aku jadi dosen,beliau inginnya aku bekerja di perusahaan nya saja ya itung- itung latihan sebelum terjun langsung ke lapangan kata papa, tapi aku belum tertarik ke arah sana, menurut ku nggak ada tantangannya, nggak ada sisi perjuangan nya" panjang lebar kali jawaban pak dosen ini. Anisa selalu tersenyum saat Galang berbicara.


Anisa bahagia sekali jika Galang merespon pembicaraan, ia terus menikmati wajah tampan dan senyum manis Galang yang nampak nya sudah membuat nya jatuh cinta kali ini.


Galang tau jika dirinya sedang di perhatikan oleh Anisa, dia membuang wajah ke samping.


" halaman rumahnya sangat luas kenapa nggak ditambah lagi bangunannya " tanya Galang mencoba mengalihkan pandangan Anisa dari melihat dirinya.dia laki- laki normal kawan, di pandang terus menerus sama lawan jenis mana tahan rek, bisa- bisa goyah pendirian, duh jangan sampai deh pak, kasian Adreena yang setia dengan doa- doa nya di sana.


" ini aja udah luas kok mas rumahnya, malah banyak yang nggak ke pakai kosong mlompong aja.


" kenapa dia nggak bertanya tentang nama Adreena yang ada di baju ku ini ya, apa dia nggak membacanya tadi" Galang nampak cemas kini. karena dari gerak- gerik dan cara bicaranya Galang dapat menyimpulkan bahwa Anisa ini ada hati sama dia, buih... dahsyat bener pesona pak dosen tampan satu ini.


pembicaraan cukup lama dan sangat membosankan bagi Galang karena baginya obrolan nya dengan Anisa tak memiliki titik temu.


" iya Galang pengen ketemu nya pada nama Adreena, namun Anisa malah tak membahasnya sama sekali.


"aku tau mas kamu mau memancing perhatian ku dengan nama itu, ah biar aku cari tau sendiri siapa sebenarnya pemilik nama Adreena itu, kekasih mu kah atau lebih dari sekedar kekasih, calon istri mungkin" Anisa tersenyum memikirkan akan hal itu.


Galang meninggalkan rumah Anisa dengan perasaan resah dan gelisah.


" piye to mas, abis ngedate kok wajahnya kayak layangan putus gini, kusut di semua sisi nya malah hampir robek tu kayak nya mas"


Ucap Dimas ketika Galang memintanya untuk membuatkan minuman.


" citrus squash ya dim antar ke lantai dua, nggak pake lama" begitu permintaan Galang kepada dimastadi.


" sok tau kamu dim" ucap Galang sambil menikmati segelas minuman dingin sesuai permintaannya tadi.


"lho saya tau mas"


" apa yang kamu tau?. tanya Galang.


" mas Galang abis ketemuan sama ustadzah yang tadi malam kesini sama orang tuanya itu kan? makanya wajah nya kusut begitu, iya to? terus apa kabar cewek yang satunya lagi itu mas?

__ADS_1


" maksud kamu Dena"jawab Galang.


" o namanya Dena to mas, cocok sama orang nya"


Galang memindai wajah karyawan kepercayaan nya kini penuh selidik.


" ayu maksudnya mas, tatapan mas Galang tajem banget sih,berasa tertelan duri tenggorokan saya mas, susah mingkem"


"dia pacar saya dim" jawaban Galang berhasil membuat Dimas benar- benar susah mingkem kini"Melongo ya dim".


" wah mas Galang main hati ya di belakang mbak Dena, jangan dong mas kasian ih, cewek cantik dan baik hati gitu kok di permainkan perasaan nya, kalau memang udah nggak cinta lagi lepasin aja mas, saya ikhlas deh mas buat saya aja ya"


" ngawur kamu dim! siapa juga yang mau ngelepasin Dena, dia yang akan saya perjuangkan dim"


" maksud e piye to mas"


" kamu tau kriteria calon menantunya bapak dim, harus yang begini,sudah punya ini,punya itu, harus jelas bobot, bibit dan bebet nya, sedangkan Dena tidak termasuk dalam kriteria itu, jadi pasti bapak tidak akan menyetujui hubungan saya dengan Dena"


" wah repot juga ya mas jadi anak tunggal plus orang berada seperti mas Galang ini, disaat pria lain seperti saya ini salah satunya ,sulit mendapatkan calon pendamping yang sempurna kayak mbak Dena, eh mas Galang yang sudah sama- sama saling mencintai malah terhalang restu orang tua, alasannya klasik sekali mas, apa ibu juga seperti bapak mas? tanya Dimas.


" nggak dim, ibu malah mendukung hubungan saya sama Dena, itu adalah salah satu sumber semangat saya dim"


" kok salah satu mas,sumber semangatnya ada beberapa dong kalau kayak gitu"


" mbak Dena nya udah tau kalau mas Galang di jodohin sama ustadzah itu?


" namanya Anisa dim, jangan panggil dia ustadzah, nggak cocok!


" ho oh, di ralat mas, mbak Anisa, gitu iya? Dimas nampak ingin membuat suasana hati Galang menjadi rilex dengan kata-kata konyol nya itu.


" saya memutuskan untuk tidak menutup- nutupi tentang perjodohan ini di hadapan Dena, kamu tau dim, memang Dena itu berhati mulia, dia mau menunggu saya yang sedang memperjuangkan nya dan berjuang juga untuk menolak perjodohan ini tanpa harus menyakiti perasaan bapak.


" wah, berlian ini mas jangan di sia- sia kan, saya mendukung sekali hubungan mas Galang sama mbak Dena" dimas berucap penuh semangat.


" kamu ini, memang kapan saya minta dukungan dari kamu"


" o.. yo wes tak cabut lagi lah dukungannya nggak jadi, dibatalkan saja" ucap dimas dengan nada kecewa.


" ojo nesu to,


tapi saya butuh doa kamu dim, kalau abis sholat jangan lupa doakan saya ya, biar berjodoh sama mbak Adreena oce?


" he eh, pasti mas" wajah dimas langsung berubah ceria kini.


Dimas keluar dari ruangan Galang, namun tak berapa lama dia kembali lagi.

__ADS_1


" mas, ada yang yang spesial di bawah, coba di cek lewat kamera CCTV" setelah berucap Dimas bergegas turun ke lantai satu karena suasana kafe sedang ramai.


Galang langsung mengecek kamera CCTV di ruang kerjanya, mata nya berpendar mencari apa yang spesial kata Dimas tadi.


eits,, Galang nampak mengucek kedua matanya, bahkan ia langsung meraih kacamata bacanya untuk memastikan kalau penglihatannya tak salah.


" Dena, ini sih bukan spesial lagi dim, tapi istimewa ucapnya" namun senyuman Galang sedikit memudar karena rupanya Dena tak sendiri datang ke kafe nya, tampak oleh Galang seorang gadis yang di kenalnya sebagai Anita duduk di depan Dena.


"kenapa kamu datang nya sama teman kamu Dena, kamu sengaja ya mau menyiksa perasaan saya, karena kamu tau saya tidak akan menghampiri kami kalau kamu sedang berdua sama teman mu itu" wajah Galang nampak murung kini, namun tak lama karena dia langsung meraih smartphone di depannya, lalu jemari nya lincah mengirim pesan untuk Dena.


~kamu sengaja kan datang ke sini berdua dengan sahabat kamu itu, buat apa? mau menyiksa saya? iya.


pesan terkirim.


"Den, pak Galang nya kok nggak kelihatan sih, padahal tujuan kita kesini kan mau lihat wajah nya yang aduhai itu" keluh Anita yang ditanggapi dengan senyuman saja oleh Dena.


" itu tujuan kamu nit, bukan kita ya, kalau aku sih emang laper pingin makan nasi goreng yang spesial di sini. jawab Dena" maaf ya nit, sejujurnya aku juga punya tujuan yang sama kayak kamu, tapi malu ah, nanti pak Galang nya jadi besar kepala" bathin Dena.


namun sebuah notifikasi membuyarkan pikiran nya.


~pak Galang, Dena tersenyum saat membaca nama yang tertera pada layar handphone nya.


pandangan mata nya lalu mencari dimana kiranya sosok yang di rindukannya itu berada.


" kok nggak ada sih, dia dimana" tanya nya dalam hati.


" lo nyariin siapa Den, jangan bilang sekarang tujuan lo sama kayak gue ya, tadi mentah- mentahan menolak ucapan gue lo!


Dena nyengir, malu kawan karena hampir ketauan.


sementara di sana Galang nampak tersenyum melihat wajah Dena yang seperti orang bingung.


~saya di sini Dena, di hati kamu, coba kamu lihat ke atas~


Galang kembali mengirimkan chat ke Dena yang langsung dibaca oleh Dena.


Dena tersenyum lalu mendongak ke atas, senyumnya semakin merekah- rekah saja kini karena dia menemukan apa yang di carinya.


Galang nampak berdiri di depan tangga menuju ruangannya dengan senyum manisnya.


"" duh yang lagi kasmaran memang kadang nggak lihat- lihat tempat kalau lagi begini, kan bahaya pak kalau dilihat sama pengunjung kafe lainnya,Anita misalnya,apalagi kalau dilihat sama para karyawannya yang usil- usil itu.


selamat berbunga- bunga Dena dan pak dosen tampan nya.


__ADS_1


__ADS_2