
Galang terus melajukkan kendaraan nya pulang menuju rumahnya.
sementara itu Ardi bersama para tuan besarnya tengah berteduh di sebuah pondok di pinggir jalan, pondok yang beratapkan daun rumbia dan beralaskan bambu bulat, yang sudah klimis itu, nampaknya memang sudah sering dijadikan tempat beristirahat bagi para petani yang pulang dari ladangnya.
"kok sepi banget sih Di, tidak ada tanda - tanda orang akan melintas disini, apalagi deru mesin kendaraan, sama sekali tidak terdengar" ucap wijaya bertanya kepada Ardi.
"saya juga baru kali ini pak singgah di sini, biasanya sama hanya lewat sama mas Galang, tapi mas Galang kira- kira kemana ya pak, kok saya jadi berpikiran yang.... "
Ardi tak melanjutkan ucapannya, karena dia melihat ada sebuah mobil bak terbuka berwarna putih dari kejauhan sedang menuju ke arah mereka.
" mau kemana kamu di" tanya wijaya saat melihat Ardi buru- buru beranjak dari duduknya, namun ia mengerti saat Ardi nampak melambaikan tangannya pada kendaraan yang melaju cepat di jalanan sepi itu.
mobil berwarna putih itu pun berhenti, tak ada penumpang di dalamnya, hanya sang sopir yang ada di balik kemudinya.
" sore Pak" ucap Ardi, saat orang yang mengemudikan mobil tersebut menepikan kendaraan nya.
" iya, ada apa mas, apa perlu bantuan" tanya pria yang usia nya kira- kira hampir setengah abad itu.
Ardi menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami secara detail, tak ada satupun yang terlewat, termasuk kedua tuan besar yang masih duduk di pondok bambu itu, keduanya hanya mengenakan boxer dan kaus dalam tanpa lengan di badannya, sehingga Ardi tak menyarankan mereka untuk ikut menemui pengendara mobil tersebut, Ardi tau ada rasa malu yang masih tersisah pada diri mereka,sungguh memprihatinkan keadaan tuan besar nya ini.
" tapi ini sudah hampir gelap mas, maaf saya tidak bisa langsung mengantarkan mas dan bapak nya untuk pulang ke rumah kalian, saya harus pulang ke rumah saya dulu dan juga kendaraan ini adalah kendaraan proyek, jadi saya harus meminta izin dulu pada mandor di sana, jika di izinkan baru saya akan antarkan mas nya pulang, bagaimana? "ucap sang pria dengan nada yang sangat sopan.
" bapak sudah mau berhenti dan tidak mencurigai kami saja, saya sudah sangat berterimakasih pak, apalagi sampai di ajak singgah di rumah bapak, sungguh kebaikan yang tidak dapat kami balas dengan apapun, rasanya amalan kami ini tidak sebanding dengan kebaikan yang bapak berikan kepada kami"ucap Ardi yang merasa terharu dengan sikap yang di tunjukkan oleh pria di depannya ini.
tidak berlebihan rasanya jika Ardi kagum dengan sikap pria ini, di saat penampilan mereka yang sudah sangat mirip dengan gelandangan baru jadi ini"skip Ardi ya, yang masih lengkap pakaian nya itu",lalu tiba- tiba meminta bantuan pada orang yang tidak mengenali mereka,Ardi pikir pria itu tidak akan menghiraukan lambaian tangannya, namun apa yang mereka dapatkan sekarang, bahkan pria itu bersikap sangat sopan kepadanya, berbeda sekali dengan tuan besar nya yang besar ******** sekarang, ralat rasa malunya ya bukan ***********,hehehe..
Ardi ingat betul, jika sedang bepergian dengan tuan besarnya itu, jika mereka bertemu dengan para tunawisma di jalanan, sungguh menoleh pun tak sudi bagi wijaya, apalagi untuk menyisihkan sedikit rupiah nya, no no no,
" kaum pinggiran, kaum madesu( masa depan suram), pemalas dan segala macam penghinaan nya, tidak perlu dikasihani Di, jangan tunjukkan wajah kasihan mu itu"
kalimat itu kembali terngiang di telinga Ardi, dan sekarang bukankah karma itu benar-benar ada dan terjadi untuk tuan besarnya, ah semoga saja sikap nya bisa berubah setelah kejadian ini" harap Ardi dalam diamnya.
setelah berbincang dengan pria tadi, Ardi kemudian menghampiri wijaya dan calon besan dari tuannya itu.
" mari pak, bapak itu bersedia mengantarkan kita untuk keluar dari sini" ucap Ardi.
" kok hanya mengantarkan kita untuk keluar dari sini mas, kenapa tidak langsung di antar ke rumahnya mas wijaya saja" ucap Broto protes.
" Ya Tuhan, apa tidak ada sedikitpun rasa syukur dalam dirinya itu ya, sebegitu angkuh nya, rupanya mereka ini calon besan yang serupa dan sama ya, ya sama- sama sombong" bathin Ardi yang tak menanggapi protesan dari Broto.
" yang penting kita bisa keluar dari tempat ini dulu mas, selanjutnya kita usahakan nanti " ucap wijaya, lalu beranjak mengikuti Ardi yang sudah terlebih dulu melangkah.
__ADS_1
" silahkan mas, maaf jika duduknya agak berdesak-desakan" ucap pria paruh baya itu dengan senyumnya.
" nggak masalah mas, ini sudah lebih dari cukup,trimakasih " ucap Wijaya membalas permintaan maaf dari pria itu yang sungguh bagaikan tamparan untuk dirinya , sungguh dia seperti berkaca pada cermin yang retak lebih dari seribu, sungguh tak ada apa- apanya, sehelai bulu matanya pun tak akan terlihat sempurna pada cermin yang retak lebih dari seribu itu, apalagi sikap angkuh nya itu, Astaghfirullah.
sementara Ardi yang duduk di belakang tak mendengar apa yang mereka perbincangkan di dalam sana.
mobil melaju cepat dan hari sudah mulai petang saat mereka tiba pada sebuah gang kecil dan mobil pun berhenti.
Ardi merasa seperti pernah ke tempat ini," tapi kapan ya? tanya nya, ah iya, waktu malam itu saat mengantar dan menunggui mas Galang yang ngapelin pacarnya itu"eh,, tunggu, tunggu.. kok bapak ini berhenti disini, belum selesai tanya dalam diri Ardi,
sang pria ternyata mengajak mereka untuk berjalan kaki sebentar menuju rumahnya.
" masih jauh mas" tanya Broto entah kepada siapa,namun dijawab oleh pria yang berjalan di depan mereka itu.
" sudah sampai mas, itu rumah saya yang pintu depannya terbuka sedikit"
tampak seorang wanita keluar dari dalam rumahnya dan menyambut kedatangan pria itu, "sepertinya itu istrinya pak"ucap Ardi yang di balas anggukan kepala oleh Wijaya.
"mari silahkan masuk mas"
Wijaya, Broto dan juga Ardi segera masuk dan duduk pada sofa panjang yang ada di ruangan itu.
tak berapa lama, seorang gadis keluar dengan membawa minuman hangat dan beberapa makanan ringan dalam nampan.
yang di panggil kan Dena,tapi kenapa yang dag dig dug kok Ardi ya?
semuanya,mana mungkin sebuah kebetulan saja bukan? jalan yang sama, nama yang sama, minus wajahnya saja, yang tidak di ketahui oleh Ardi, karena Galang hanya memberitau namanya saja tidak dengan wajahnya.
Gadis yang dipanggil namanya itupun menoleh.
" iya Pak ada apa? " tanya nya lemah lembut pada sang ayah.
" boleh mas ini pinjem handphone mu, dia mau menghubungi keluarganya"
tanpa bertanya, kenapa dan bagaimana, Dena segera memberikan handphone nya kepada Ardi, mas yang dimaksud oleh ayahnya tadi.
"trimakasih sebelumnya mbak" ucap Ardi saat menerima handphone dari Dena, Dena tersenyum menanggapinya.
Ardi kemudian menekan nomor Galang yang memang sudah disimpan dalam ingatannya itu, namun alangkah terkejutnya dia saat menekan tombol memanggil kenapa yang keluar kok namanya mas Galang ya? Ardi melihat pada gadis pemilik handphone ini, tapi hanya punggungnya saja yang terlihat karena dia sudah berlalu masuk ke kamar sepertinya.
" kenapa Di, nomornya masih belum aktif, telepon nomor ibu aja atau telepon ke rumah, kamu inget kan nomornya" tanya Wijaya yang melihat perubahan pada raut wajah sopirnya itu.
__ADS_1
"aktif pak, mungkin mas Galang nya masih dijalan, kita tunggu saja pak" jawab Ardi.
"bahkan di sini tertera namanya mas Galang pak, lah kepiye iki mas, Dunia memang tak selebar daun kelor katanya ya, tapi kalau begini apa iya, rasanya dunia memang sempit sekali, daun putri malu saja mungkin sekarang perumpamaan nya ya, podo wae Di, Ardi" bathin nya.
sementara di tempat lain Galang yang masih mengendarai mobilnya, buru- buru meraih handphone nya yang bergetar, sebelumnya dia sudah menghubungi mamanya, dan sang mama pun menceritakan tentang papanya yang sedang dalam perjalanan untuk menyusul dirinya yang tak kunjung pulang.
"diralat bu,bukan tak kunjung pulang, tapi tak kunjung terjaga" hehehehe.
"Dena, ah aku lupa untuk menghubungi nya, pasti dia juga sangat mengkhawatirkan diriku"
Galang segera menerima panggilan dari Dena itu.
" iya sayang, maaf ya, udah bikin kamu khawatir hari ini" ucap Galang mendahului sang penelepon yang tak lain adalah Ardi.
Ardi yang merasa tak aman itupun pamit keluar untuk berbicara pada Galang pada sambungan telepon nya.
" ini saya mas, Ardi, bukan sayang nya mas Galang" balas Ardi sambil tertawa kecil.
" lho Di, ngapain kamu pakai handphone nya Dena, kamu dimana, ada apa dengan Dena, dia baik- baik saja kan? Galang mencecar Ardi dengan berbagai pertanyaan nya.
Ardi sampai harus menjauhkan handphone itu dari telinganya.
" pertanyaan mu mbrebeki kuping ku mas, Satu-satu dong jangan borongan kayak gitu nanya nya" ucap Ardi setelah Galang berhenti bertanya.
"sebaiknya mas Galang segera meluncur kerumah mbak Dena sekarang, jangan lupa beli pakaian ganti untuk bapak dua pasang ya, ditunggu secepatnya" ucap Ardi.
Galang masih ingin bertanya namun Ardi langsung memutus sambungan teleponnya.
" apa- apaan Ardi ini, bahkan pertanyaan ku satupun tak ada yang di jawabnya" ucap Galang kesal. dia pun segera melajukkan mobilnya menuju pusat perbelanjaan untuk membeli apa yang di pesan kan oleh Ardi, sungguhpun dalam hatinya bermunculan bermacam- macam tanya, namun untuk saat ini baginya segera menemui Ardi adalah jawaban yang tepat.
" awas kalau sampai kamu berani macem- macem sama saya Di, saya kutuk kamu jadi bujang tua seumur hidup "
Duarrrr...
Galang segera menutup pintu mobilnya ketika tiba- tiba saja kilat menyambar- nyambar tanpa di dahului mendung apalagi gerimis yang tak di undang...
" Ya Tuhan, jangan dengar doa dan kutukan ku tadi ya, dia bukan malin kundang yang durhaka pada emaknya,aku hanya kesal dengan sopir kepercayaan ku itu"
Galang mengusap wajahnya lelah.
~trimakasih, sudah baca dan like nya, semoga selalu suka, jazakumullah katsiron~
__ADS_1