Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
rasa yang sama


__ADS_3

Setelah cukup lama saling diam, Dena menoleh untuk memastikan apakah si bujang jelihim di sampingnya ini tertidur atau terkulai mungkin. oh udah ganti den julukannya bukan bujang tua lagi..


hehehehe, bujang jelihim kan ganteng den. itu lho cerita rakyat dari pulau Sumatera, tepatnya Sumatera Selatan.


tetapi rupanya Galang tidak tidur ataupun terkulai guys.. kayak bunga aja den terkulai.


"Kenapa diam aja sih, apa ucapan ku menusuk ke jantung hatinya ya?".tanya Dena dalam hati sambil tersenyum tipis. rupanya pak dosen ini punya keahlian melirik tanpa di ketahui orang yang sedang dilirik nya, mode kacamata hitam gitu ,dia pun tersenyum saat melihat senyum di wajah Dena, walaupun tipis tapi cukup manis, cukuplah sebagai asupan kalori bagi jiwa Galang yang lunglai ini, duh perumpamaan nya dalem banget thor,,,


" Sepertinya udah nggak marah lagi".bathin Galang. ia pun segera melajukan mobilnya. tak lupa sebuah lagu ia putar.


~mau marah silahkan, mau diam silahkan, asal jangan kau putuskan cintaku... oo yee... ~


Dena tak bisa menahan tawa nya saat mendengar lagu itu.. ia pun membuang muka melihat keluar, agar Galang tak semakin menertawakan dirinya.


" nggak usah buang muka den, tertawa aja kalau memang itu bisa menghilangkan rasa kesal kamu terhadap saya, karena seperti nya wajah bersalah saya tak mampu lagi membuat mu bahagia".


Dena tak menjawab, tapi malah semakin ngebut ketawanya... tak tahan ia pegangin perutnya karena sakit menahan tawa.


" perutnya sakit?".tanya Galang tanpa menoleh. ia fokus mengemudikan mobilnya pandangannya lurus ke depan.


namun dia merasa sebuah benda menimpa bahunya, ia pun menoleh sekilas, rupanya itu berasal dari buku yang di pegang Dena.


"kenapa cuma sekali, ulangi dong sampai hilang kesalnya". ucap Galang tersenyum lalu ia menepikan mobilnya, merasa harus bicara saat ini juga karena dia melihat mood Dena sudah membaik...


"memang nya meriang apa lang, kok sudah membaik sih"


" kenapa berhenti pak, ini masih jauh dari rumah saya, bapak mau menurunkan saya disini?".Dena berkata dengan sedikit emosinya.


"oke, bukain kuncinya saya nggak masalah kalau harus turun disini, saya bisa pesan gojek". Dena segera mengambil handphone dari dalam tas nya, namun belum sempat ia membuka layarnya benda pintar itu sudah berpindah tangan.


Galang meletakkan handphone Dena di samping nya, lalu keduanya saling pandang,namun Dena segera membuang wajahnya kesamping, jujur saja ia tak tahan jika harus beradu pandang,apalagi beradu pandang dengan lawan jenis seperti saat ini, namun ia merasa tangan nya ada yang menyentuh.


"hmm pak dosen udah mulai berani ni... touching,, touching Dena.


ia pun melihat tangan nya yang kini sedang di pegang lembut oleh Galang.

__ADS_1


" Bapak jangan bikin saya jadi salah tingkah gini dong, mau ngomong apa? ngomong aja ih, nggak usah sok mesra".Dena mencoba menutupi rasa gugupnya, namun Galang semakin menatap nya dalam, lalu ia tersenyum .


" Apa yang kamu rasakan saat saya menggemgam tangan mu seperti ini Dena?".Galang merasakan telapak tangan Dena yang berkeringat dan dingin, dia tau gadis di depannya ini gugup, sangat gugup bahkan.


"biasa aja tuh".Dena tak punya nyali untuk menatap mata Galang saat berkata, ia takut Galang dapat menebak isi hatinya.


" nggak natap juga Galang udah tau Dena, emang nya nggak terasa apa kalau telapak tangan mu itu sejuk sekali... dingin den brrrrggg".


" lalu kenapa memalingkan wajah saat menjawab pertanyaan saya?".Galang sentuh dagu Dena dengan satu tangan nya lagi agar Dena melihat padanya.


" saya nggak bisa kalau beradu pandang dengan lawan jenis pak, takut ada yang menyusul".ucap Dena yang walaupun kini posisi wajahnya sudah berhadapan dengan Galang namun dia masih enggan untuk menatap mata sang dosen.


" hmmm, Galang tersenyum, apa yang menyusul Dena?".tanya nya.


" saya takut pak, saya nggak mau, saya malu".ucap Dena,suaranya terdengar berat sambil menunduk.


" takut sama apa, nggak mau sama siapa, kenapa malu?".Galang menunduk untuk melihat wajah Dena dibawah sana.


"takut sama perasaan saya, malu sama diri sendiri pak".


sungguh Dena tak pernah menyangka akan muncul perasaan seperti ini terhadap lelaki di sampingnya ini.


"dia dosen gue, temen gue naksir sama dia, masa iya gue bisa naksir pada orang yang sama, atau ini hanyalah sebuah rasa karena sering nya bersama, aduh Dena mikir den mikir, ngaca, ngaca".


Dena bingung sekali rek, dia tak mungkin mengkhianati sahabatnya sendiri, bagaimana reaksi Anita jika tahu dia bersama Galang seperti ini, ya ya ya sampai saat ini sih memang Anita belum ada rasa curiga sama Dena, tapi lama- lama ketahuan juga den, pagar makan tanaman lo den, api dalam sekam, duri dalam daging...


semua ungkapan rasa nya layak untuk dirinya.


lama Dena hanya terdiam, tak menjawab apa yang di tanyakan oleh Galang yang masih setia memandang nya, lalu ia berpikir.


"kenapa nggak ditanya balik aja ya, coba gue mau tau apa jawaban pak Galang".


" hmm, pak Galang".


" ya".Galang menoleh.

__ADS_1


" kalau pertanyaannya saya balikin ke bapak, apa dong jawabannya". tanpa berpikir panjang apalagi termangu seperti dirinya Galang langsung menjawabnya.


" saya merasa nyaman kalau di dekat kamu Dena, saya bisa luahkan apa yang selama ini saya sembunyikan, bebas ngomong apa aja, tanpa harus ada yang di tutup- tutupi, intinya saya nyaman sama kamu".


Dena nampak diam termangu.


"itukan tipe-tipe calon pendamping hidup nya, kok gue ngerasa horror ya, " bulu kuduk merinding nggak Den, kalau iya, bacain ayat kursi deh. hmm, dena, dena. berasa kaya orang mau di lamar aja".


dena nampak tersenyum dalam diamnya.


" kenapa senyum- senyum".tanya Galang.


"nggak kok, lagi inget Anita aja pak, bapak inget kan sama Anita".


" saya tau".jawab Galang singkat tanpa ekspresi.


" dia jatuh cinta sama bapak, buruan deh pak, di dorr Anita nya, jatuh cintanya udah parah banget pak, setiap kali ngobrol pasti yang di omongin pak Galang lagi.. aduh".Dena menghentikan ucapannya karena kini Galang kembali memegang tangannya.


" jangan mengalihkan pembicaraan, saya sedang membahas tentang kita, kenapa kamu malah cerita tentang yang lain".ucap Galang. tak ada senyum di wajahnya saat mengucapkan kalimat tadi, Dena takut guys, dosennya ini apa punya kepribadian ganda kah?


" kita hanya terbiasa selalu bersama pak, ada pepatah jawa" witing trisno jalaran seko kulino"


Galang melihat lalu menaikkan satu alisnya, tak mengerti dengan apa yang dena ucapkan.


" saya rasa saya memang trisno sama kamu den, ucap Galang tanpa tebeng aling- aling, tanpa pembukaan, tak ada paragraf utama, langsung ke gagasan pokok aja nih pak dosen, wuih pribadi yang simpel, nggak banyak basa- basi nanti basi beneran den. langsung Dorr aja, kan dena bisa kena serangan jantung pak kalau kayak gini. kalem den, kalem, semua belum seperti apa yang kamu pikirkan.


Dena memalingkan wajahnya, ia tak punya nyali untuk menampakkan pipinya yang memerah, hidungnya yang kembang kempis, hihihi.. di pencet den hidungnya biar bisa di kondisi kan sama keadaan yang sangat menguntungkan ini, bagi Galang tentunya, kalau bagi Dena? dia merasa lemas rek, jantungnya berdegup sangat cepat seperti menunggu pengumuman keleulusan aja kau Den.


sungguh dia bahagia namun dia seperti merenggut kebahagiaan sahabatnya sendiri.


" kenapa nggak Anita saja sih pak yang bapak cintai?".tanya nya dalam hati.


" he eh, terus kenapa nggak orang lain aja juga yang kamu cintai dena adreena.


see u.

__ADS_1


__ADS_2