
Anisa masih belum beranjak dari duduk nya, saat ibu Dena datang dengan membawa dua gelas minuman hangat dari dapur.
"silahkan diminum mbak, mumpung masih hangat" ucap ibu dan segera berlalu, tidak berniat ikut bergabung bersama Dena dan Anisa.
Anisa segera meminum teh hangat yang di sajikan oleh ibu nya Dena.
"perpaduan yang pas, antara gula dan teh nya, ini enak sekali dik" ucap Anisa setelah meletakkan gelas yang masih menyisahkan setengah bagian dari teh nya.
Dena hanya tersenyum tipis menanggapi pujian dari Anisa, namun tak ayal ucapan trimakasih sebagai basa basi pun terlontar dari bibir manisnya.
"trimakasih atas pujiannya"
" saya tau adik dan mas Galang saling mecintai, namun cinta kalian akan banyak menyakiti hati orang- orang di sekeliling kalian" ucap Anisa.
Dena menatap Anisa dengan penuh tanya.
"siapa orang- orang yang tante maksud kan?" tanya Dena.
" kamu tau dik,mas Galang itu berasal dari keluarga yang segalanya ada, bukan hanya dari segi materi,apa mas Galang tidak pernah bercerita tentang hal itu kepada mu? "tanya Anisa.
Dena menggelengkan kepalanya, Galang memang tidak pernah bercerita tentang silsilah keluarga nya kepada Dena, karena menurut Galang itu hanya akan semakin membatasi hubungan mereka berdua.
" tapi saya tau tante, walaupun pak Galang tidak pernah bercerita " ucap Dena.
"tunggu, tunggu, kalian sudah lama menjalin Hubungan? " tanya Anisa.
Dena tak menjawab, hanya raut wajah nya menunjuk kan ke tidak sukaannya atas pertanyaan Anisa barusan.
" kamu belum pernah sekali pun bertemu dengan kedua orang tua mas Galang? "Anisa semakin mengintimidasi Dena dengan pertanyaan nya.
" tapi saya lebih dulu menjalin hubungan dengan pak Galang sebelum anda"ucap Dena dengan nada bicara nya yang kini mulai tak bersahabat terhadap Anisa.
" tapi saya adalah pilihan orang tua mas Galang, sedang kan adik? sungguh saya bisa menebak apa alasan mas Galang masih menyembunyikan hubungan cinta kalian "Anisa masih dengan nada yang halus menimpali ucapan Dena yang dinilainya sudah mulai kasar.
__ADS_1
"tapi pak Galang mencintai saya bukan anda"ucap Dena lagi.
" cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu dik, jika kita terbiasa hidup bersama dengan orang yang kita cinta, dan hal itu lah yang coba kami realisasikan dalam perjodohan kami ini,dan juga restu orang tua jelas sudah kami genggam" ucap Anisa.
Dena tau apa maksud penjelasan Anisa barusan, restu? Galang memang belum sejauh itu membicarakan tentang hubungan mereka yang belum se umur jagung ini, tapi apa yang di katakan oleh Anisa tadi jelas lah sangat menohok bagi Dena, Dena tau Anisa dan Galang adalah perpaduan yang sangat cocok,mereka sama- sama berasal dari golongan menengah ke atas, pendidikan sudah tentu satu strata, tingkat sosial apa lagi, Dena mulai ciut jika memikirkan ke arah itu, sedang kan dirinya apa? strata sosial nya sungguh rendah, menengah ke bawah dan hampir jatuh, ah Dena merasa berdosa jika punya pikiran seperti itu.
" pikirkan lah kata- kata saya tadi dik, semoga kamu tau, mengerti dan paham ya, coba lah untuk mencerna, menelaah, tentang rumitnya hubungan yang kalian jalani saat ini "setelah berkata Anisa pamit pulang, Dena mengantarnya sampai di depan pintu rumah nya.
Dena segera masuk ke Kamar nya, namun langkahnya terhenti saat sang ibu menepuk pundaknya pelan.
" siapa wanita tadi, ibu sengaja tidak mendengar kan pembicaraan kalian" tanya sang ibu.
" senior di kampus bu"jawab Dena singkat.
" ya sudah Istirahat lah, kelihatannya kamu lelah sekali nduk"
" iya, Dena masuk kamar dulu bu" ucap Dena seraya berlalu.
Dena menatap langit- langit Kamar nya, satu nama terlintas di benaknya.
" pak Galang? ah, harus apa aku, mataku sembab, pasti akan menimbulkan banyak tanya jika pak Galang melihatnya" panggilan video dari Galang,namun Dena masih belum menerima nya.
rupanya Galang tak putus asa sudah beberapa kali namun tak mendapatkan jawaban, akhirnya Dena yang menyerah.
" Dena, kenapa lama banget, kamu dimana tadi? suara dan wajah Galang membuat jantung Dena berdetak lebih kencang, sungguh dia ingin sekali menceritakan semua kegundahan di hati nya, namun kekanak- kanakan sekali, akhirnya Dena hanya diam.
" Galang memandangi wajah Dena yang memenuhi layar ponsel nya.
" kamu habis menangis, kenapa, ada masalah apa, cerita sama saya! tanya Galang penuh perhatian terhadap Dena.
Dena tak sanggup lagi menahan air matanya, tanggul yang sudah ia persiapkan sebelum menerima panggilan dari Galang tadi akhirnya runtuh juga.
air matanya mengalir deras, tanpa sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya.
__ADS_1
" saya masih di kampus Dena, pulang nanti saya singgah di rumah mu, hapus airmata mu, ceritakanlah semua nya nanti ya" Dena hanya mengangguk kan kepalanya, sebelum Galang mengakhiri panggilan video nya.
Galang bergegas keluar dari ruangan nya, namun saat akan melajukan Mobil nya sebuah panggilan masuk di handphone nya.
"Papa"
" iya pa, ada apa, Galang masih di kampus nih"
" langsung pulang ya lang, Anisa sudah menunggu mu di rumah" ucap sang papa dan tanpa menunggu jawaban dari Galang sang papa langsung mengakhiri panggilan nya.
" Anisa? ngapain dia ke rumah, duh makin nekat aja nih cewek, lalu bagaimana janjiku dengan Dena? ah, berasa punya istri dua kalau seperti ini lang" namun seperti memiliki ikatan bathin tiba- tiba saja sebuah pesan dari Dena diterima oleh Galang.
~pak Galang nggak usah ke rumah, langsung pulang aja, saya nggak apa- apa kok, hati- hati dan pelan- pelan aja nyetir nya ya~
Galang menghembuskan nafasnya lelah setelah membaca isi pesan dari Dena tersebut.
" huh, maafin aku Dena" ucap nya.
Dengan kecepatan sedang Galang melajukan mobil nya, saat akan memasuki gerbang rumah nya Galang melihat mobil Anisa sudah terparkir di sana.
Galang keluar dari Mobil nya dengan wajah lelah,ia menghampiri sang mama yang sedang asyik berbincang dengan Anisa.
" kamu kelihatan lelah sekali nak,banyak pekerjaan di kampus? tanya sang mama.
" iya ma, ini aja masih banyak yang belum di selesaikan, Galang lanjutkan di rumah aja" jawab Galang.
" mama tinggal ya, Anisa sudah dari tadi lho nunggi in kamu pulang, iya kan nis? "Anisa tersenyum mendengar ucapan sang calon mertuanya barusan.
" maaf membuatmu lama menunggu" ucap Galang, namun indra penciumannya mencium aroma yang tak asing di hidung nya.
" kenapa aku mencium aroma body Cologne nya Dena ya saat berdekatan dengan Anisa, apa parfum mereka sama, atau aku yang sedang berhalusinasi tentang Dena? " bathin Galang.
'
__ADS_1
'
'~~~`