
Ke esokkan harinya, suasana ramai sudah tampak dikediaman orang tua Dena, ya hari ini adalah hari akan berlangsung nya ijab dan qobul antara dirinya dan Galang, Galang menurut saja saat Dena meminta jika akad nikah mereka akan di adakan di kediaman orang tua Dena, bukan Galang tak mampu menyewa gedung nan megah, namun demi memenuhi keinginan sang permaisuri semua akan di iya kan saja oleh Galang, namun untuk resepsi Dena dan kedua orang tuanya setuju jika resepsi akan di adakan di gedung mewah, mengingat banyaknya keluarga dan kolega dari keluarga Galang yang akan hadir pada resepsi mereka nanti.
akad nikah digelar secara privat, hanya dihadiri oleh keluarga inti dari kedua belah pihak.
Dena sudah bersiap- siap dikamar nya, ditemani Dinda disamping nya dan seorang wanita yang tengah memoleskan make up di wajahnya.
" cantik banget sih Den, nih kalau kevin atau Dion yang ngelihat lo dalam mode gini ,uhhh bisa nangis tujuh hari tujuh malam tuh cowok Den" ucap Dinda saat Dena sudah selesai dirias.
" makasih untuk cantik nya, tapi untuk nangis tujuh hari tujuh malamnya, aku nggak mau deh, jadi berasa jahat banget aku nya" ucap Dena seraya memandangi pantulan wajahnya di depan cermin.
" lo beruntung banget sih Den, bisa bersuamikan pria sesempurna pak Galang, lo pernah mimpi nggak sih Den sebelum ini? " tanya Dinda.
" beruntung atau tidak itu tergantung bagaimana kita menerimanya Din, meskipun nanti jodohmu tidak sesempurna mas Galang, tapi percayalah ia akan sempurna dimata wanita yang memang menerima segala lebih dan mungkin juga akan lebih banyak kurangnya, begitu pun sebaliknya, tapi tidak ada manusia yang sempurna Din, hanya saja jika pasangan nya mampu menutupi kekurangan nya bukan malah menuntutnya untuk terlihat sempurna, maka saling melengkapi adalah sebuah kebahagiaan, dan bahagia adalah tujuan hidup kita" ucap Dena yang ditanggapi dengan senyuman manis oleh Dinda.
" wuih, memang ya aura calon pengantin itu tak terbantahkan, dan ucapan lo ini adalah salah satunya, adem gua mendengar nya Den, aamiin deh" ucap Dinda seraya membetulkan ujung gaun Dena yang sedikit terlipat.
" gaun nya sederhana tapi terkesan mewah Den, siapa yang rekomendasi in? " tanya Dinda saat membentang kembali ujung gaun Dena agar menjuntai sempurna.
" aku nggak punya pengalaman dalam hal gaun menggaun Din, ini semua atas saran mas Galang lalu disesuaikan sama permintaan ku, sebenarnya aku nggak mau gaun mewah seperti ini, tapi ini udah mentok dalam bentuk yang paling sederhana kata pemilik boutique nya, padahal ini masih terlihat mewah sih kalau menurut ku, iya kan, kamu aja bilang gitu tadi" jawab Dena.
" ya secara kamu kan akan menjadi istri seorang crazy rich Den, masa iya gaun pengantin nya biasa aja, apa kata orang tua dan keluarga pak Galang nanti nya Dena"ucap Dinda.
saat Dena tengah sibuk merapikan gaunnya, dia mendengar samar- samar suara derap langkah kaki yang menuju rumahnya.
Dinda berdiri, untuk melihatnya, ia sedikit membuka gorden jendela kamar Dena.
" duh ganteng nya den, calon suami kamu tuh udah datang" ucap Dinda yang langsung membuat Dena tersenyum bahagia, lalu ia pun berdiri untuk ikut melihat pujaan hatinya, namun sayang saat ia akan melihat ternyata Galang sudah terlebih dulu masuk kedalam rumahnya.
"ganteng banget kan? " tanya Dinda, Dena menggeleng kan kepalanya.
" lho kok geleng-geleng sih" protes Dinda.
" udah masuk Din" ucap Dena kembali duduk.
" sabar, setelah ini kan bakal setiap hari kalian bersama, bahkan tidur nya pun berdua " bisik Dinda pada kalimat terakhirnya.
Dena tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu.
sementara itu di ruangan tamu yang sudah disulap sebagai tempat akad nikah hari ini, dekor akad mewah berwarna putih menjadi pilihan keduanya,, Galang sudah siap dengan petugas pencatat pernikahan di depannya dan juga tentunya ayah Dena sebagai wali nikah nya.
" Galang Aditama Wijaya,aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung ku, Adreena putri utami binti Muhammad Nur dengan mas kawin cincin berlian seberat 10 karat dibayar tunai, engkau terima"
"saya Terima nikah dan kawinnya Adreena putri utami binti Muhammad Nur dengan mas kawin yang tersebut" jawab Galang dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas menjabat tangan ayah Dena yang sekarang sudah menjadi orangtuanya juga.
" bagaimana saksi sah?
" saahhhh"
" Alhamdulillah, barokAllah Hu fikum"
lantunan doa di langitkan, Galang tak kuasa menahan haru dan juga air mata nya, katakanlah kini ia cengeng sungguh, semua keinginannya seolah terjawab hari ini, semua perjuangannya dan inilah hasilnya, semua ruku dan sujud tuma' mina nya berakhir dengan salam dan Al-Fatihah,, awal yang indah untuk perjuangan yang kadang menangis tak jarang juga mereka tertawa,
__ADS_1
" Dena, akhirnya kamu sah menjadi milikku sayang, nyonya Wijaya ku" bathin Galang seraya menatap Dena yang melangkah anggun dengan gaun pengantin nya.
keduanya kini duduk berdampingan,untuk pertama kali Dena mencium punggung tangan Galang yang kini sudah sah menjadi suaminya,,Galang pun mendaratkan sebuah kecupan mesra pada kening Dena.
orang tua dan kerabat terdekat Galang sudah pamit pulang, dan suasana di kediaman Dena juga sudah tidak seramai tadi.
kedua pengantin baru kini sedang berada di dalam kamar pengantin yang bernuansa putih.
Galang sudah melepas semua atribut yang dikenakannya saat akad nikah tadi, tentu saja hal mudah baginya, tinggal lepas jas lalu hem putihnya, dan kini ia hanya mengenakan celana cargo panjang selutut dengan atasan kaos oblong hitam nya.
Galang keluar dari kamar mandi yang ada di dalam kamar Dena, ia harus sedikit menundukkan kepalanya saat melewati pintu kamar mandi Dena, ya maklum deh pak presdir, bukan salah pintu nya juga sih, tapi salah postur tubuhnya tuh yang menjulang bagai galah, hehehe,,,
Galang mengusap rambutnya yang masih basah setelah keramas tadi, rupanya si pengantin baru langsung keramas bray,, wuih main bersih nih,, good pak presdir, kebersihan adalah sebagian dari iman,,
saat akan menyampirkan handuk pada kapstok kayu yang ada dikamar Dena, Galang melihat Dena masih mengenakan gaun pengantin nya tadi, ia tampak duduk di depan cermin.
perlahan Galang menghampiri, harum rambut Galang membuat Dena menoleh kearah nya.
" kamu keramas mas, pasti kamu kepanasan kan dirumah ku, maaf ya disini nggak AC nya, adanya cuma itu" tunjuk Dena pada kipas angin yang memang masih menyala.
" nggak kok, mas hanya merasa kotor aja, makanya mas keramas, kamu nggak gerah emangnya kok gaunnya belum dilepas? " tanya Galang seraya mulai menyisir rambut nya yang masih terlihat basah.
Dena menggeleng kan kepalanya,,
" apanya yang nggak, kok geleng- geleng kepala? " tanya Galang lagi.
" mas" ucap Dena pelan.
" boleh minta tolong nggak? " ucap Dena sedikit ragu.
" seharusnya kamu nggak perlu berkata seperti itu, sekarang aku suami mu, bukan dosen ataupun sekedar pacar mu, katakan saja" ucap Galang yang kini duduk di tepi ranjang.
" tadi saat mengenakan semua ini, aku dibantu sama Dinda, tapi waktu aku mau panggil, eh Dinda nya udah pulang " ucap Dena seraya menunjuk pada gaun pengantin dan macam- macam accessories yang menempel pada tubuhnya.
" jadi? " tanya Galang pura- pura belum paham.
" kok nanya lagi sih, ya tolongin aku lah buat bukain semuanya ini" kesal Dena.
Galang lalu berdiri di belakang Dena yang masih duduk di kursi nya.
" galak banget sih sama suami, sini mas bukain ,mau mulai dari mana, atas, bawah, atau tengah? " tanya Galang seraya mulai menyentuh gaun pengantin Dena.
"dari atas mas, bukain dulu tiara terus sanggul nya" ucap Dena.
Dengan sangat berhati-hati Galang mulai melepaskan accessories di rambut Dena, takut- takut jika nanti ia menarik ranbut Panjang Dena, kan bisa marah dua kali nona muda nya ini,,
" udah selesai, sekarang apa? " tanya Galang lagi seraya meletakkan benda- benda itu di atas nakas.
" ini mas, tolong bukain zipper nya, tangan ku nggak bisa menjangkaunya "ucap Dena lagi.
" oke, permaisuri ku" ucap Galang lalu menarik ujung zipper gaun Dena hingga batas ujungnya.
__ADS_1
" mas jangan mesum ya, aku mau mandi dulu, kalau mas ngantuk tidur aja" ucap Dena yang menyadari jika kini sang suami tengah intens memperhatikan dirinya.
" nggak ada salam trimakasih buat aku? " ucap Galang sebelum merebahkan tubuhnya.
Dena masih mengenakan inner panjang disebalik gaunnya saat berjalan kearah Galang.
cup
" trimakasih suami tampan ku" ucap Dena setelah mendaratkan kecupan manis di pipi Galang.
" kok cuma pipi, nggak mau kasih salam perkenalan sama yang lainnya juga? goda Galang lagi yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Dena.
"iya ,iya, buruan mandi, mas udah laper, nanti kita keluar ya" ucap Galang sebelum Dena masuk kedalam kamar mandi nya.
tak lama berselang, Dena sudah keluar dengan handuk yang dililitkan di dadanya dengan panjang diatas paha, juga air yang masih menetes dari ujung rambutnya.
Galang yang memang belum memejamkan matanya itu sangat terpesona dengan keindahan tubuh Dena yang masih berbalut handuk.
" mas lihat dinding deh, aku mau ganti" pinta Dena seraya membuka lemari pakaian nya.
" ngapain mas harus memandangi dinding, mubazir banget kan" tolak Galang.
" mas ,malu" ucap Dena lagi.
"malu kenapa, bahkan saat ini memperlihatkan tubuhmu dihadapan ku sudah bernilai ibadah sayang, kamu istriku sekarang" ucap Galang kemudian berdiri menghampiri Dena.
" mas jangan sekarang deh, aku belum siap? " rintih Dena, seraya tangannya mengeratkan lilitan handuk pada dadanya, takut- takut jika Galang tiba- tiba lepas kendali.
" belum siap?alasan macam apa itu, mas nggak mau denger" tolak Galang yang kini sudah melingkar kan tangannya di perut Dena.
"mas" ucap Dena pelan.
"hmm" ucap Galang yang malah meletakkan dagu nya diatas pundak Dena yang terbuka.
" harum banget sih" ucap Galang mengendusi leher putih jenjang Dena, hal yang membuat bulu kuduk Dena berdiri tentunya.
"aku menginginkan mu sayang" ucap Galang pelan di telinga Dena, namun belum lagi ia meneruskan aksinya, sebuah ketukan terdengar dari arah luar.
" Dena, ada temennya nak Galang ingin bertemu" ucap Ibu Dena.
Dena pun tersenyum puas, sementara Galang mencebik kesal.
" siapa sih, ganggu orang istirahat saja" gerutu Galang.
hmmm,, pengantin baru mah keramas lima kali sehari juga ora popo yo lang, kan sudah bersertifikat halal,
jazakumullah khoiron
trimakasih yang sudah baca dan menyukai tulisan ku ini
see u,,,
__ADS_1