Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
drama dan karma.


__ADS_3

Setelah selesai melakukan fitting baju, keduanya pun pergi meninggalkan butik milik sofia tersebut.


" mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu, laper nggak? " tanya Galang di balik kemudi nya.


" kita cari restoran cepat saji aja deh mas, laper nih" Jawab Dena.


" ke kafe aja, mau nggak? " Galang menawarkan pilihannya.


" boleh" jawab Dena singkat.


Galang melajukkan kendaraan nya menuju ke kafenya, tak berapa lama kemudian mereka sudah tiba di kafe milik Galang, seperti biasa suasana selalu ramai jika sedang jam makan siang seperti saat ini, setelah memarkirkan mobil nya, Galang menghampiri Dena yang berdiri menunggunya.


" ayok" ucap Galang meraih satu tangan Dena.


" lepasin mas, malu dilihatin orang" ucap Dena coba melepaskan pegangan tangan Galang.


" kenapa harus malu, anggap aja aku sedang mengenalkan mu pada para pengunjung setia kafe ku ini" Galang tak menggubris permintaan Dena, ia melenggang dengan satu tangannya menggandeng tangan Dena.


" siang mas, mbak" sapa Angga yang kebetulan tengah melintas.


" siang ngga" jawab Galang, sementara Dena hanya tersenyum di samping Galang.


" mau makan apa, di sini apa di atas saja? " tanya Galang sebelum memesan makanan.


" terserah mas Galang aja, aku ngikut" jawab Dena malas.


Galang kembali menghampiri Angga yang tengah menyiapkan pesanan pengunjung dalam nampannya.


" spagetti bolognese dan jasmine tea masing-masing dua porsi, tolong antar ke ruangan saya ya ngga"pinta Galang yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Angga.


" sudah di pesan, ayok" Galang pun melangkah, namun ia menoleh saat di lihatnya Dena hanya diam termangu.


" kenapa diam saja, ayo ke atas, nanti Angga yang akan mengantarkan makanannya " ajak Galang kembali, Dena pun akhirnya melangkah berjalan di belakang Galang.


" kenapa ke atas mas, mau ngapain coba " protes Dena ketika mereka menaiki tangga menuju ruangan Galang.


" tadi katanya terserah, kenapa sekarang protes? tanya Galang pelan, dia pernah membaca sebuah artikel tentang wanita yang sedang mendapatkan siklus bulanannya, biasanya akan gampang tersulut emosi, moody-an,jadi sebisa mungkin Galang menghindari hal- hal tersebut.


" aku nggak begitu mendengarkan, makanya aku Jawab terserah saja tadi" jawab Dena dengan wajah ditekuk.


" duh salah lagi nih kayaknya " bathin Galang.


" ya udah, sekarang maunya makan dimana, di lantai satu aja, its oke, mas tinggal bilang saja sama Angga atau Dimas " ucap Galang kemudian berbalik menuruni tangga.


" mas " panggil Dena, Galang pun menoleh.


" iya, " ucap Galang.


" di ruangan kamu aja" jawab Dena.

__ADS_1


Galang tersenyum, lalu kembali menaiki anak tangga, ia menggeser pintu masuknya.


" kalau lelah, rebahan saja, mas mau ngecek laporan bulanan yang dikirim Dimas tadi malam" ucap Galang seraya membuka tirai putih pada Jendelanya.


Galang duduk di kursi nya, membuka layar laptopnya, Dena yang berdiri di samping Galang tersenyum saat melihat wajahnya yang terpampamg pada layar utama laptop Galang.


Galang menoleh,


" kenapa senyum- senyum ? " tanya Galang.


" kenapa cuma aku" tunjuk Dena pada layar laptop Galang.


" ya memang cuma kamu Dena, nggak akan ada yang lain" jawab Galang dengan senyum manis di bibir nya.


" gombal" ucap Dena memukul bahu Galang dengan bantal sofa persegi empat .


Galang menggeleng kan kepalanya lalu tersenyum.


" sayang tolong ambilkan kaca mata baca mas dong, sepertinya kemarin mas simpan di dalam lemari kaca itu deh, coba kamu lihat" pinta Galang, Dena pun berdiri untuk mengambil kaca mata baca milik Galang yang ternyata berada pada rak paling atas.


Dena sedikit berjinjit untuk meraihnya, sebenarnya bukan postur tubuhnya yang kurang tinggi, tinggi Dena adalah 165 cm, tapi karena barang yang akan di raihnya tersebut terletak pada bagian paling atas, jadilah kini Dena sedikit berjinjit untuk meraihnya, namun rupanya sia- dia saja, sudahlah tinggi ,jauh ke dalam pula, Dena menoleh, namun wajahnya membentur dada bidang Galang yang ternyata sudah berdiri di belakangnya ,entah sejak kapan.


" susah ya"ucap Galang tepat di depan wajah Dena, hingga hangat nafas Galang saja dapat Dena rasakan, Dena mengangguk,


dengan tinggi badan Galang yang hampir sama dengan atlet badminton asal Denmark, papa vega si tiang listrik itu[ dibaca Victor axelsen red]Galang dengan mudah meraih kacamata bacanya yang kini sudah bertengger di hidung bangirnya.


" kenapa? " tanya Galang.


" kamu tampan sekali hari ini mas" jawab Dena dengan senyuman di bibir nya.


" jadi selama ini mas jelek ya dan kamu baru menyadari jika calon suamimu ini tampan hem " ucap Galang mencolek dagu Dena.


Dena menundukkan kepalanya, merasa sudah salah bicara,,


saat mereka sedang saling berhadapan dengan jarak yang hanya terpisah oleh ruang dan waktu itu, cie,cie,,dan mata keduanya yang masih saling pandang, tiba- tiba pintu di ketuk, ya walaupun pintu dalam kondisi open house, tapi kan harus tetap ketuk pintu ya Dim,menghindari hal- hal yang tidak di harapkan, di sumpahin jadi bujang tua kan amit- amit jabang bayik ya nggak dim,,atau di tunda gajiannya jadi semester depan aduh kalau bisa jangan dong mas,,, ya ya ya,,inikan baru awal tahun plus awal semeter, masa iya harus nunggu enam bulan lagi buat gajian, sakno emen,,


baik Galang maupun Dena segera mengakhiri pandangan mereka masing-masing,


" a, masuk aja Dim" ucap Galang sebelum mengambil kaca mata baca di dalam rak lemari kacanya.


" silahkan mas, mbak" setelah berucap demikian, Dimas pun bergegas menuruni tangga, seraya mengelus- elus dadanya,


" selamet, selamet, nggak jadi mandi junub, mata ku belum ternodai" ucap Dimas di sela-sela langkah kakinya menuruni tangga.


sesampainya di lantai satu Angga segera menghampiri Dimas.


" gimana Dim,mereka nggak lagi ngapa- ngapain kan di atas? " tanya Angga penasaran.


Dimas yang masih ngos- ngosan itupun hanya menggeleng kan kepalanya, dan baru saja ia akan bicara tapi kenapa kepala mereka berdua terasa beradu seperti lato- lato yang berbunyi tak tok, tak tok, dan saat keduanya menoleh ternyata,,,

__ADS_1


" nggibahin saya ya? " ucap Galang yang kemudian menarik ujung rambut keduanya,,


" sepurane mas, sepurane, nyuwun sewu,,, Dimas tadi yang nggibahin mas Galang sama mbak nya, bukan saya" ucap Angga sambil mengelus- elus rambutnya yang terasa perih juga kepalanya yang masih terasa pusing,,


sedangkan Dimas? ya mata Dimas melebar sempurna mendengar fitnahan rekan seprofesi nya itu, apa katanya, hanya Dimas, bukannya tadi yang menerima pesanan dari tuan muda Galang aditama Wijaya itukan dia, terus yang di perintah kan untuk mangantar makanan nya ke atas itukan dia juga, tapi dia nya kucur, mblo,, dan akhirnya Dimas lah yang menjadi pahlawan kesorean nya, tapi sekarang apa?wah bener- bener si Arya Dwipangga ini ya,, pengen di gelud karo Dimas jaya diningrat apa, ayo kolaborasi kita.!!


" sembarangan kamu kalau ngomong ya ngga, Arya Dwipangga!!saya lho mas yang dimintai tolong sama Angga buat ngantar makanannya ke atas, alasannya dia nggak berani ke atas, takut lihat penampakan katanya" ucap Dimas tersenyum puas kini.


"kapok mu kapan kue ngga, lempar batu sembunyi tangan, rasakno!! geram Dimas.


" penampakan? penampakan apa hem?ucap Galang yang kembali menarik ujung rambut Angga.


" aww, sakit mas, sakit banget nih" ucap Angga coba melepaskan tangan Galang dari rambutnya, namun tak berhasil, saat Angga sedang meringis menahan perih karena perlakuan tuan muda nya itu tiba- tiba saja terdengar suara wanita memanggil nama Galang,


" mas, ngapain sih, katanya mau makan, laper nih" ternyata sang Dewi Sri lah penyelamat Angga kini,, hehehe Dewi Sri sang Dewi padi ya ngga, iya, makin berisi makin merunduk,, cocok sekali dengan calon nyonya mudanya yang rendah hati itu kan ya,, he eh,,


mendengar suara Dena yang memanggil namanya dari atas tangga sana, Galang pun melerai tangannya dari rambut Angga,


" a, iya sayang, mas ada kerjaan sebentar di bawah, sebentar lagi mas naik" ucap Galang, menunjukkan kedua jarinya kepada Dena, Dena pun kembali masuk ke ruangannya, sedangkan Galang kembali kepada job sampingannya kini,,


" kamu jangan seneng dulu ngga, saya tunggu penjelasan kamu, apa perlu di ruqiyah, kamunya apa kafenya, kita lihat saja nanti, untuk sementara ini kamu aman, karena saya lagi bahagia sekarang" ucap Galang kemudian berlalu naik ke lantai dua, dimana Dena sedang menungguinya.


" semoga bahagia selalu mas, biar saya nggak jadi di seneni, selasai, apa rebo i"


" Aamiin "


Angga dan Dimas melongo kini, karena apa? karena yang meng aamiinkan doanya tadi adalah si empunya kafe ini, yang kini melenggang santai di tangga.


" krungu rupane Dim"[ dengar rupanya Dim].ucap Angga yang kini berjalan kedepan menemui pengunjung yang baru datang.


" ho oh" ucap Dimas menimpali, iapun mulai sibuk dengan layar laptop nya kembali.


sementara Galang sudah masuk ke ruangannya, dan disana sudah ada Dena dengan wajah di tekuk,,


" maaf ya, menunggu lama, urusannya agak sedikit ruwet" ucap Galang lalu duduk di sebelah Dena, Galang segera menyantap makanannya, namun ia menghentikan gerakan tangannya, kala dirasa Dena hanya memandangi nya saja dan tak kunjung menyantap makanannya.


" sayang, kok nggak dimakan makanannya, nggak enak ya, udah dingin, mas pesenin lagi sama Angga ya? ucap Galang lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Angga, namun ucapan Dena menghentikan gerakan tangannya.


" udah nggak laper, mau pulang aja!! ucap Dena kemudian berdiri, namun Galang buru- buru menahannya.


"hmm, tadi abis marahin karyawan di bawah, sekarang dimarahin,, karma sedang dalam perjalanan menuju ke lokasi anda tuan Galang,,


trimakasih, semoga selalu suka.


jazakumullah khoiron


see u,,,


__ADS_1


__ADS_2