Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
berjuang bersama.


__ADS_3

Galang tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari wajah Dena, Dena yang salah tingkah lalu menutupi wajah nya dengan kedua telapak tangannya.


" kenapa di tutupi? " tanya Galang.


" bapak bikin saya salah tingkah" jawab Dena.


" Dena" Galang melerai telapak tangan pada wajah Dena, Dena membuka matanya.


" iya" jawab Dena.


" apa tadi Anisa menemui mu, di rumah ini? " tanya Galang.


Dena menganggukan kepalanya.


Galang membuang nafasnya lelah, lalu kembali menatap Dena.


" apa yang dia katakan pada mu, apa dia mengancam mu? " tanya Galang lagi.


" apa bapak sudah memberitahunya, bahwa kita menjalin hubungan? " tanya Dena balik.


" tidak Dena, saya tidak pernah bercerita apapun tentang kamu saat bersama nya "


" mungkin sikap bapak yang terlalu cuek, mebuatnya menduga- duga, kalau bapak sudah memiliki kekasih sebelum dia"


" tapi kenapa dia langsung tau jika orang itu adalah kamu? " tanya Galang lagi.


Dena mengedikkan bahunya, bingung dengan pertanyaan Galang yang sebenarnya juga terlintas dalam benaknya.


" sekarang apa rencana bapak, dia sudah mengetahui hubungan kita, dan rasa nya hal yang paling extreme bisa saja dia ambil, karena menurut saya dia sangat terobsesi sama bapak" ucap Dena.


" kamu betul Dena, maaf ya saya harus melibatkan kamu dalam hubungan yang rumit ini"


" kenapa minta maaf pak, kita hanya berencana namun jika memang dia adalah takdir yang di tuliskan untuk bapak, sekuat apa pun kita bertahan ataupun menolak, tetap saja dia yang akan menyandang nama bapak di ujung nama nya"


" kamu menyerah? " tanya Galang.


" nggak, hanya berpikir realistis saja pak, tidak mau terlalu tinggi berkhayal, takut nggak berani lihat kebawah, saat kenyataan benar- benar sesuai dengan apa yang kita khawatirkan"


" apa saya juga harus se extreme Anisa, Dena"

__ADS_1


" apa yang bapak maksud dengan se extreme dia? "jangan pak, ada saya yang akan terseret, nama dan juga orang tua saya yang akan di pandang hina oleh keluarga bapak, saya akan di juluki wanita murahan, nggak sadar diri,memanfaatkan pria yang sudah di jodohkan, dengan alasan hanya karena kita saling mencintai" dengan suara bergetar Dena berucap, lalu ia tutupi wajah nya.


" tapi kamu ada sebelum dia Dena"ucap Galang lantang.


"walaupun!tapi mereka tidak tau pak"jawab Dena tegas.


Galang menundukkan kepalanya, ia lelah menjadi anak yang baik,selalu menuruti keinginan orang tuanya, terlebih sang papa yang tidak dapat di bantah segala keinginan nya, namun saat ia harus memperjuangkan cinta nya, apakah ia juga harus menuruti kehendak papa nya itu, tidakkah sang papa telah merenggut kebebasannya, bebas menentukan dengan siapa kelak dia akan menghabiskan masa senja nya? terlebih sekarang Anisa sudah mengetahui hubungan nya bersama Dena.


" kamu masih mencintai saya Dena? " tiba- tiba Galang meraih tangan Dena, lalu menatap wajah nya.


" pertanyaan yang mubazir" jawab Dena.


Galang tersenyum lalu mencium tangan Dena singkat.


" percaya sama saya, hanya kamu dan anak- anak kita yang berhak menyandang nama belakang saya, bukan wanita lain apa lagi dia"


Dena menimpuk tangan Galang dengan buku yang ada di sampingnya.


" aww, lagi dong, saya suka di pukul sama kamu, berasa lagi di terapy" ucap Galang dengan senyum jahilnya.


" gendeng, omongan bapak Udahh nggak sesuai jalaur, awas nabrak, sempat- sempat nya nggombal saat seperti ini" ucap Dena kesal.


" saya ingin mengalihkan kecemasan mu Dena"


" O ya? sebatas apa, gimana kalau nanti malam papa meminta saya untuk datang melamar Anisa, apakah kamu akan baik- baik saja? " tanya Galang.


" saya akan baik- baik saja selama nama wanita itu belum berubah menjadi nyonya Wijaya" jawab Dena.


" trimaksih Dena, tetap di sampingku saat orang lain inginkan kita jauh, tetap berdoa untuk ku, saat kau rasa mulai lelah usahamu untuk berjuang bersama dengan ku, kita kuat jika bersama" Galang kembali meraih tangan Dena dan ia eratkan dekapan jari jemarinya.


" aku sayang kamu" ucap Galang.


Dena tersenyum, " kok sekarang manggil nya aku ke kamu pak, nggak saya lagi, emang sama tante Anisa gitu ya ngomongnya? " tanya Dena.


" jangan panggil pak lagi" ucap Galang.


" lho pertanyaan saya yang tadi aja belum di jawab, udah ganti lagi permintaan nya, terus saya harus manggil apa dong? oom, paman? " ucap Dena.


" Dena, saya serius, panggil saya mas" pinta Galang.

__ADS_1


Dena tertawa mendengar permintaan Galang yang ingin di panggil mas oleh nya.


" kenapa tertawa, lucu ya? " ucap Galang kesal.


" he eh, lucu banget, mas? mas tukang sol sepatu"


Dena kembali tertawa, namun matanya berkaca- kaca, Galang tau itu, ia pun membawa Dena dalam pelukannya.


" kamu sedih Dena, aku tau, tawa mu itu palsu" ucap Galang mengelus rambut lurus nya.


Dena semakin terisak dalam pelukan Galang, ia tumpahkan seluruh airmata yang coba ia tahan sejak kehadiran Anisa di rumah nya siang tadi, hingga puncaknya saat ia melihat photo- photo yang di kirimkan Anisa yang menunjuk kan kemesraan antara Galang dan wanita itu, walaupun Galang tidak menyadari jika Anisa curi- curi kesempatam agar sedikit terlihat mesra saat di taman tadi, walaupun tak ada sentuhan fisik,namun Anisa puas dengan hasil jepretan asisten rumah tangga Galang itu.


" saya sangat mencintai bapak, saya nggak mau patah hati, dari dulu saya nggak mau jatuh cinta, karena apa, saya nggak mau patah hati pak, saya sudah bertekad hanya sekali mencintai seorang pria dalam hidup saya, tentu nya setelah bapak saya, dan orang itu adalah pak Galang, saya nggak mau coba- coba dalam menjalin hubungan, butuh waktu yang panjang hingga saya ada pada posisi sekarang ini, menjadi orang yang ada di sini, tunjuk Dena pada dada Galang,tangisnya belum reda, airmata nya semakin memgalir deras membasahi kemeja Galang, Galang menyeka airmata Dena dengan tangannya, ia angkat dagu Dena dengan kedua jarinya.


"dengan kamu masih bersedia menemani perjuangan ini, itu sudah cukup bagi ku Dena dan juga ada doa mama yang yang selalu beliau panjatkan untuk hubungan kita ini" ucap Galang.


Dena terperanjat, ia hapus sisa- sisa airmata di pipinya, lalu ia pasatkan pandangan nya pada mata Galang.


" ma,, ma? " ucap Dena terbata.


Galang menganggukan kepalanya .


" iya, mama sudah tau tentang hubungan kita, walaupun kalian belum pernah bertemu muka, namun hanya dari mendengar cerita ku tentang kamu saja mama langsung memberikan dukungan sepenuhnya untukku" Galang menuturkan.


" mengapa begitu pak"? tanya Dena.


" mama tidak seperti papa Dena, beliau selalu mendukung apapun keputusan yang akan aku ambi, selagi itu masih dalam tahap yang wajar" ujar Galang.


" itu juga yang membuat bapak bersikukuh memepertahankan saya dan hubungan ini" tanya Dena.


" iya,dan aku percaya kekuatan doa mama mampu menggebrak kekerasan hati papa, walaupun papa belum mengetahui nya"


" belum mengetahui, tapi bapak dapat menyimpulkan bahwa beliau tidak akan menyetujui hubungan kita ini, bahkan sebelum tante Anisa itu hadir dalam kehidupan pak Galang? " Dena bingung kini namun sejurus kemudian dia tersenyum dan melihat Galang.


" kita berbeda kasta pak, saya melupakan itu, maaf,terlalu mencintai bapak membuat saya terlalu lama memandang bintang di langit hingga saya lupa bumi tempat kita pijak ternyata berbeda pak"


Dena kembali merasa rendah jika harus berdampingan dengan Galang, Galang yang dapat membaca mimik wajah Dena yang berubah sendu setelah berucap tadi, kembali mengeratkan dekapan Jemarinya.


" kamu satu- satu nya disisni "

__ADS_1


Galang membawa genggaman tangan Dena ke dadanya, berkali- kali ia eratkan genggaman tangan mereka, memberikan energies positif untuk Dena.



__ADS_2