
Dengan perasaan kesal Galang melangkah cepat masuk kedalam rumah Dena,namun tiba- tiba langkahnya terhenti.
" apa tidak gegabah ya namanya kalau aku langsung masuk ke dalam, di sana ada papa, om Broto dan juga pasti nya ayahnya Dena, apa nanti kata ayahnya Dena, arrrggghhh..."
Galang menghempas kan tubuhnya pada kursi kayu yang ada di teras depan rumah Dena.
Dena yang baru saja akan pergi terkejut mendengar suara seperti benda terjatuh di kursi kayu berbentuk persegi panjang itu, ia pun menoleh untuk memastikan nya, Dena membuka kaca helm nya, dan dia menyipitkan matanya saat dilihatnya Galang sedang menunduk sambil meremas rambut nya.
" bapak kenapa, kenapa nggak jadi masuk? " tanya Dena pelan lalu duduk di samping Galang.
Galang menoleh melihat wajah Dena, dia hembuskan nafasnya lelah.
" aku belum sanggup jika harus bertemu dengan kedua orang tua kita dalam keadaan seperti ini Dena, aku tak memiliki jawaban untuk semua pertanyaan yang pasti akan terlontar baik itu dari papaku ataupun ayahmu" jawab Galang.
" lalu sekarang apa? " tanya Dena lagi.
Galang tak menjawab nya, dia meraih ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Ardi.
" kamu mau kemana, malam- malam begini hem? " tanya Galang seraya tangan nya terulur menyibak helaian rambut Dena yang sedikit menutupi wajah ayu nya.
" mau kerumah Anita pak, pingin cerita sama dia, setelah kejadian di kampus hari itu kami belum pernah bertemu muka dan bercerita, entah apa yang di rasakan nya, dia seperti sulit sekali untuk ditemui" ucap Dena yang mulai menyandarkan kepalanya di bahu Galang.
Galang mengelus puncak kepala Dena.
" sekarang kamu pergilah, tapi jangan kerumah Anita, ini malam hari bahaya! " ucap Galang.
" terus saya harus kemana pak? " tanya Dena tak mengerti.
" kamu bersembunyi saja, sampai saya dan papa keluar dari rumahmu, oke? " Galang menggamit dagu Dena, Dena tersenyum lalu menganggukan kepalanya.
sementara di dalam rumah Dena, Ardi yang baru saja membaca pesan yang dikirimkan oleh Galang, geleng- geleng kepala.
" dasar cemen! mental kerupuk, renyah nya di awal aja, belum juga ancang- ancang buat angkat senjata, udah nyerah duluan, dasar, ototnya saja yang di pelihara, tapi keberaniannya terbengkalai, aku heran, mbak Dena itu kok sabar banget ya menjalani hubungan yang entah dimana akan bermuara nya, di pelaminan ataukah di peraduan , alah ngomong opo sih Di, Ardi, Lama-lama kok ketularan mas Galang ya, nggak jelas!!
" gimana Di, mana Galang nya" tanya Wijaya yang mulai tak sabar karena sang putra tak kunjung datang untuk menjemput dirinya.
__ADS_1
"a,, kita keluar saja pak, mas Galang nya sudah menunggu di depan lorong sana" ucap Ardi dengan perasaan yang sungguh tak nyaman sekali, saat dia berkata seperti itu, sang pemilik rumah yang tak lain adalah ayahnya Dena tampak memperhatikannya intens sekali,
" maaf om, saya bohong dan sepertinya anda tau ya" bathin Ardi yang mulai tak nyaman duduk di kursinya.
"maaf selalu merepotkan mas, trimakasih untuk semuanya,dan nanti jika ada waktu dan kesempatan saya akan berkunjung kemari bersama anak dan istri saya tentunya" ucap Wijaya berpamitan kepada ayah dan ibu Dena.
" Alhamdulillah mas, kita sama- sama mengambil hikmah dan pelajaran atas apa yang menimpa kita hari ini"jawaban ayah Dena sungguh membuat Wijaya terharu, yang ditimpa kemalangan kan mereka bertiga ya, sedangkan dia adalah superhero nya, lah kok bilang nya kita, ini orang atau malaikat sih.
Wijaya menepuk bahu ayah Dena pelan, lalu pamit undur diri.
Galang tak keluar dari dalam mobilnya, dengan menggunakan jas dan topi hitam yang sedikit menutupi wajahnya ia menunduk.
" wis persis perampok sampean mas" ucapan Ardi mengejutkan Galang yang berlahan membuka sedikit topi nya.
" papa, om Broto, maaf Galang nggak masuk, kaki Galang terkilir " ucap Galang mencoba mencari alasan yang masuk di akal tapi tetap saja dia ragu dengan alasan klise nya itu.
" hem, sudahlah, kamu bohong pun papa percaya kok lang,entah apa alasannya papa nggak mau tau, ayo kita segera pergi dari sini, papa udah nggak betah ah, rasanya badan papa lengket semua, iya nggak mas Broto"
Wijaya menoleh kepada Broto yang duduk disamping nya, dan dibalas dengan anggukan kepala oleh calon besannya itu.
nyonya Broto nampak mengerutkan keningnya saat melihat penampilan sang suami yang sudah tak sama seperti saat mereka keluar dari rumah ini siang tadi.
" baju siapa yang papa pakai" tanya sang istri seraya memutar- mutar kan tubuh sang suami.
"mana jam tangannya, mana sepatu nya, kok papa pakai sandal jepit gini, ada apa sebenarnya ini pa" tanya sang istri dengan mata berkaca- kaca.
Anita pun tak luput dari memperhatikan sang papa, calon mertuanya, Ardi dan juga Galang.
"kenapa diantara mereka berempat ini cuma papa yang terlihat paling mengenaskan " bathin Anisa.
" sebaiknya kita pulang dulu ma, akan papa ceritakan nanti di rumah ya, a,mas Wijaya, kami pamit pulang dulu ya" ucap Broto sebelum Wijaya masuk ke dalam rumahnya.
Wijaya pun menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
" kenapa buru- buru sekali mas Broto, apa tidak lelah seharian ini? " tanya Wijaya yang melangkah menghampiri calon besannya itu.
__ADS_1
" bohong sekali mas jika saya katakan tidak lelah, sungguh saya sangat lelah dan ingin segera beristirahat saja di rumah" jawab Broto.
" kita akan atur jadwal untuk membahas pertemuan yang selanjutnya mas wijaya" sambung Broto lagi.
Wijaya tersenyum, Broto pun berlalu seraya menggandeng istrinya yang nampak syok itu, sementara Anisa sedang terlibat pembicaraan dengan Galang yang menyender pada lexus hitamnya.
" ini semua gara- gara kamu mas, papaku jadi kena imbasnya, bersyukur ada orang yang menolong mereka, sementara kamu, nggak tau lagi ngapain dan entah dimana dan lagi sama siapa"ucap Anisa dengan dada yang menggebu- nggeh penuh dengan emosi, Galang hanya diam membiarkan wanita di depannya ini menghakimi dirinya semau nya saja.
" bahkan kamu tidak mengkhawatirkan diriku Nisa, apakah aku baik- baik saja,tidak ada ekspresi bahagia di matamu saat kedatangan ku tadi, kenapa?sekarang apa aku harus menduga- duga apa motif yang melatarbelakangi keinginanmu ingin segera meresmikan hubungan kita ini"ucap Galang datar, setelah Anisa selesai menghakimi dirinya.
" apa yang harus aku syukuri mas? apa?
kebahagiaan mu kah, kamu sedang asyik berdua dengan mahasiswi mu itukan tadi saat kami sibuk mencari mu, menghubungi mu namun tak ada jawaban darimu, itukah yang harus aku rayakan, iya mas!! Anisa berkata seraya tangannya memukuli bahu Galang berulang- ulang.
Galang menghentikan gerakan tangan Anisa yang masih memukuli bahunya, ia lepaskan tangan Anisa pelan.
" kamu sadar Anisa, sedari tadi ucapan mu itu adalah sebuah kebohongan yang kau ciptakan dari kekhawatiran mu sendiri, ketakutan mu, tanpa kau tanya terlebih dahulu kebenaran nya kepada diriku, semaumu kau menghakimi diriku, dan harus kau tau Anisa bahwa semua tuduhan mu terhadap ku itubadalah Fitnah"
ucap Galang lalu pergi meninggalkan Anisa yang kini nampak menyeka airmata yang mulai membasahi pipinya.
" aku terlalu terobsesi kepada dirimu mas, hingga bayang- bayang kehilangan mu saja tak ingin ku mengkhayalkannya"lirih Anisa.
Galang melangkah menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya, namun langkahnya terhenti karena sang papa sudah menunggu nya di sofa di depan kamarnya sambil menenteng Brioni vanquish hitamnya.
" papa" ucap Galang pelan.
sang papa tersenyum lalu menunjukkan jas mewah yang di pinjamkan oleh ayah Dena tadi.
"ah, papa, tolong jangan sekarang dong marah dan ceramahnya" lirih Galang, yang masih diam mematung menunggu intruksi dari sang papa, apakah diperbolehkan masuk atau bertahan disini.
hemmm, hubungan yang rumit.
maaf baru update, see u, thank for reading, semoga selalu suka, jazakumullah katsiron.
__ADS_1