
Galang masih menunggu para sahabat sang papa yang dijanjikan akan segera meluncur ke lokasinya, dan benar saja tak berapa lama menunggu sebuah SUV jenis Maybach GLS 600 berwarna hitam tampak berhenti dibelakangnya, Galang membuka pintu mobilnya, ia akan turun, namun sebuah tangan melambai pertanda agar mereka segera bergerak saja menuju lokasi dimana terakhir kali Dena berada.
Galang mengerti, ia pun meminta agar Ardi segera melajukkan Porsche nya itu.
" jalan dengan kecepatan penuh Di, kita berpacu dengan waktu, meleset sedikit saja, nyawa Dena jadi taruhannya "ucap Galang seraya terus memperhatikan layar ponselnya, berharap ada panggilan masuk lagi dari Dena.
Ardi melajukkan Porsche milik Galang dengan kecepatan penuh, sesuai titah sang tuan muda.
" sepertinya ini lokasi terakhir dimana mbak Dena menghubungi tadi deh mas"
" kita berhenti disini " ucap Galang, dari tempatnya ia melihat sebuah gedung tua, namun dibelakang bangunan yang tampak terbengkalai itu ada sebuah rumah kecil, sepertinya masih berpenghuni terlihat dari adanya lampu yang menyala di teras depannya.
" rumah itu sepertinya ada penghuni nya Di, walaupun tertutup dan tampak lengang" ucap Galang.
setelah berkoordinasi dengan ke empat pria sahabat sang papa, yang mengenakan pakaian serba hitam dengan pistol Glock di tangan mereka masing-masing, mereka pun benpencar sesuai arahan dari satu pria yang sepertinya pimpinan pada kelompok tersebut.
" lakukan seperti yang saya perintahkan, karena jika kamu melanggar maka rencana yang sudah kami susun akan berantakan " ucap pria tersebut kepada Galang yang kini tampak mengendap-endap didampingi oleh Ardi.
sementara ke empat pria tadi berjalan menuju bangunan yang terdapat dibagian belakang gedung tua tersebut.
Galang masih berdiri ditempat nya, karena disini dia hanya sebagai penunjuk arahnya saja, setelah sampai pada lokasi yang disinyalir menjadi tempat penyekapan sang istri,maka Galang tidak diperbolehkan ikut bergerak, hanya sekedar mengawasi dari jauh.
" bagaimana ini Di, kenapa belum ada tanda- tanda kehidupan disini, apa mereka sudah membawa Dena pergi dari sini? " tanya Galang panik kini, sungguh Ardi tak pernah melihat sang tuan muda panik dan bingung seperti ini,dia bisa bersikap tenang setenang- tenangnya saat menghadapi masalah dalam pekerjaan nya, tapi itu tidak berlaku untuk kasus kali ini, nyawa sang istri yang menjadi taruhannya, bukan lagi harta yang masih bisa dicari ganti nya, tapi nyawa ,kucing pun yang sekali mengandung bisa melahirkan 4 ekor anak nyawanya ya cuma 1 kok, lah apalagi kita si anak cucunya nabi Adam AS, kembar dua aja operasi caesar ndukk,,,
" tenang mas, banyakin istighfar lalu mohon kepada Allah, bukan kah doa adalah kekuatan seorang muslim mas,maka gunakanlah kekuatan itu, Mudah-mudahan Allah mengampuni dan mengabulkan doa kita" ucap Ardi coba menenangkan Galang, ya walau dirinya sendiri tak kalah paniknya, manakala kini suara tembakan sudah terdengar memecah kesunyian ditempat itu.
dor
dor
seketika pintu terbuka, namun tak terlihat apapun disana, hingga Galang melihat dari arah belakang mereka empat orang pria yang mengenakan topeng diwajahnya, tampak mengayunkan besi berukuran besar kepada masing-masing pria berseragam hitam tersebut.
Galang hampir saja berteriak jika Ardi tak segera menutup mulutnya.
" kayak cewek aja mas" gumamnya.
dor
dor
kembali terdengar tembakan, rupanya sebelum bogem besi itu mendarat di tubuh mereka, mereka sudah terlebih dahulu mengetahui nya, bahkan sejak awal datang ke lokasi ini mereka sudah tau jika, para komplotan itu tengah menanti kedatangan mereka lalu bersembunyi dibalik semak- semak belukar.
__ADS_1
" segera ikat tangan mereka" ucap seorang pria yang melemparkan 4 buah borgol plastik untuk mengikat tawanan nya.
"dimana kalian menyembunyikan wanita muda ini, katakan!! ucap pria tersebut seraya menunjukkan photo Dena dari handphone milik Galang.
" dia sudah kabur"
" bohong!!
bugh, bugh, bugh!! berkali-kali bogem mentah melayang pada wajah pria pria tersebut.
"katakan atau tanganmu akan terpisah dari tubuhmu, ucap sahabat papa Galang lalu mencekal tangan pria bertopeng yang kini sudah di ikat.
"sungguh, wanita itu berhasil kabur setelah sebelumnya ia berhasil mengambil ponsel kami"
krekkk,,, terdengar tulang tangannya yang dipelintir.
" ampun, ampun,tolong percayalah, walau kau menghajar kami sampai mati sekalipun, wanita itu memang sudah berhasil kabur dari tempat ini, kalian hanya membuang- buang waktu saja di sini " ucapnya tulus, sungguh berbohong pun tak akan lebih baik, karena memang pada kenyataannya Dena sudah tidak ada lagi ditempat itu, dia berhasil lolos.
dan disinilah Dena kini berada.
saat ia mendengar suara letusan senjata api, maka yang ada dipikiran nya adalah para penjahat itu berhasil menemukannya, maka tanpa berpikir jika suara itu berasal dari orang-orang yang akan menyelamatkan dirinya, Dena kembali berlari semampu nya, hingga kini ia terduduk lemas dengan nafas ngos- ngosan.
"huh, akhirnya aku bisa bebas juga dari para penculik itu, tapi dimana ini, kenapa aku merasa semakin jauh" ucapnya lirih lalu kembali tak sadarkan diri,
" bawa mereka kedalam mobil" ucap pria dengan pistol glock ditangannya.
para penculik itupun kemudian digiring masuk kedalam mobil.
" maaf Pak Galang, istri anda berhasil lolos, tapi saya rasa ia masih belum terlalu jauh, sebaiknya kita bergerak cepat, sebelum hal buruk lain menimpanya"ucap pria tersebut.
" lalu apa yang harus saya lakukan? " tanya Galang bingung.
" para komplotan itu sudah berhasil kami ringkus, sekarang kita fokus pencarian pada istri anda, mari ikut bersama kami"
Galang beserta Ardi pun melangkah mengikuti arahan dari pria berpakaian serba hitam tersebut.
" sabar mas, tenang, jangan putus berdoa, Allah bersama orang-orang yang sabar" ucap Ardi memberi semangat kepada Galang yang di lihat nya kian panik kini.
" ini hutan Di,Dena mana pernah ke tempat seperti ini, saat dia pergi ke taman tanpa sepengetahuan ku saja, aku sudah panik, lalu sekarang apakah Allah tengah menegurku Di, apakah aku berlebihan Di? " tanya nya bingung.
" nggak mas, itu adalah hal yang wajar, hanya saja kemarahan mas Galang terkadang menutupi arti rasa khawatir itu sendiri dan saya rasa mbak Dena belum memahami akan hal itu, ya wajarlah mas, kalau kata orang itukan, menikah itu ibadah seumur hidup, ujiannya setiap hari, sabarnya nggak ada limit, Mudah-mudahan ganjarannya adalah syurga"
__ADS_1
" udah hijrah kamu Di, adem saya dengernya, makasih ya" ucap Galang menepuk pundak sopir kepercayaan nya itu.
" itu sudah kewajiban saya mas, nggak harus hijrah juga sih kalau sekedar ngomong kayak itu, mas Galang juga bisa kok"
mereka terus berjalan, namun tak jua ada tanda- tanda bahwa Dena ada disitu.
" Dena kamu dimana sayang? " lirih Galang.
" Dena,, aaaaaa" teriaknya kencang berharap agar Dena mendengarnya.
Galang berlari kesana kemari menyusuri hutan dipinggiran kota tersebut.
ia pun sama lemas nya, hampir setengah harinya ia berkutat dengan pencarian sang istri bahkan ia tak sempat makan sebelum ini,,
" mas, mas, bangun mas" ucap Ardi saat ia mendapati Galang terduduk lesu diatas rerumputan.
" pak Galang kenapa, jika anda merasa tidak fit sebaiknya kembali saja ke depan, biarkan kami yang mencari keberadaan istri anda" ucap salah satu pria didepan mereka.
" saya masih kuat, saya harus memastikan keberadaan istri saya, ayo Di" ucapnya lalu berdiri.
selang beberapa menit, seorang pria berteriak dari arah ujung hutan itu.
" boss, ada perempuan tergeletak di sini, seperti nya pingsan"
Galang segera mempercepat langkah kakinya, besar harapannya itu adalah Dena.
" Dena, aaaa" ucapnya lalu menjatuhkan dirinya disamping tubuh sang istri yang terkulai lemah dengan mata terpejam.
" Dena, bangun sayang, ini aku datang, bangunnnn" ucapnya seraya menepuk pipi sang istri pelan, namun yang di panggil tak kunjung memberi jawaban.
Galang segera membopong tubuh lemah Dena, tubuhnya yang juga lemah membuatnya berkali-kali hampir tersungkur jika saja Ardi dan juga beberapa pria utusan sang papa tak menopang tubuhnya dari belakang dan juga samping nya.
" maaf mas, biar mbak Dena saya saja yang menandunya, mas Galang sudah sangat lemah, saya khawatir mas Galang malah ikutan pingsan nanti " dan benar saja setelah berucap demikian, Tiba-tiba tubuh Galang oleng lalu ambruk, Ardi yang memang sudah siap disamping nya segera meraih tubuh Dena yang hampir meluruh dari gendongan sang suami sedangkan tubuh Galang kini sudah dibawa kedalam mobilnya.
" sepertinya nona muda ini mengalami dehidrasi, kita harus cepat membawa nya kerumah sakit" ucap salah satu pria terhadap Ardi yang kini tengah memangku Dena di dalam mobilnya.
" mesakno mbak, mbak, semoga kuat ya" ucap Ardi melihat kepada istri tuan mudanya yang kini masih tak sadarkan diri itu.
jazakumullah khoiron
happy reading
__ADS_1
see u,,,