Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
apa mungkin?


__ADS_3

Dua kendaraan dengan Porsche Galang berada di depan, sementara dibelakang para pria dengan para tawanannya.


Ardi melajukkan kendaraan dengan kecepatan diatas rata- tata, hingga beberapa puluh menit kemudian mereka sudah sampai dirumah sakit terdekat dari lokasi mereka sebelum nya.


" pak, mas Galang sama mbak Dena tak sadarkan diri, sekarang sedang ditangani oleh dokter di UGD " Ucap Ardi memberi kabar kepada tuan besarnya.


" bagaimana pa, apa Dena sudah ditemukan? " tanya Ryanti panik.


" sudah ma, tapi kita harus segera ke rumah sakit" ucap Wijaya menambahkan.


" kenapa ke rumah sakit pa, apa yang terjadi? " tanya nya semakin panik kini.


" berdoa ma, semoga mereka baik- baik saja, Galang sangat percaya doa mama mampu menembus langit" ucap Wijaya lalu meraih kunci mobilnya.


keduanya lalu segera meluncur ke rumah sakit yang diberitahu oleh Ardi lewat panggilan suara nya tadi.


" Dimas, segera jemput orang tua Dena, bawa mereka kerumah sakit sekarang " ucap Wijaya kepada Dimas yang kini tengah mengendarai lexus hitam milik Galang yang ditinggalkan didepan kampus Dena tadi.


" baik Pak" ucapnya, ia segera meluncur tanpa bertanya apa dan kenapa.


" assalamu'alaikum Pak, bu" ucap Dimas didepan pintu rumah orang tua Dena.


suasana hening, karena waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB.


tak ada tanda- tanda jika ayah dan ibu Dena masih terjaga, Dimas pun kembali mengetuk pintu sebanyak tiga kali,tak lama menunggu pintu pun terbuka, tampaklah ayah Dena dan sang ibu yang berdiri disamping nya.


" mas Dimas, ada apa tengah malam begini mas? " tanya ayah Dena dengan wajah panik nya, sementara sang istri tampak memeluk erat pergelangan tangan sang suami.


" maaf Pak, bu, saya diperintahkan oleh tuan Wijaya untuk menjemput bapak dan ibu, mbak Dena sekarang ada dirumah sakit, bapak dan ibu diminta untuk kesana sekarang " ucap Dimas.


" rumah sakit? Dena kenapa pak? tanya sang istri dengan wajah paniknya.


" lebih baik sekarang kita ikut mas Dimas kerumah sakit bu, ayo" ucap ayah Dena segera meraih baju tebalnya.


" kenapa nggak ada yang memberitahu kami mas, kalau Dena diculik? " tanya ibu Dena.


" saya juga nggak tau bu, mas Galang nggak bilang apapun, hanya saya diminta untuk mengambil mobilnya yang ditinggalkan di depan kampus mbak Dena, itu saja" jawab Dimas.


" sudah lah bu, jangan panik, tenang, Dena pasti baik- baik saja, percaya sama bapak " ucap sang suami.


Dimas memarkirkan Lexus hitam Galang di parkiran rumah sakit tersebut.


ayah dan ibu Dena berjalan dibelakang Dimas.


" itu tuan besar pak, bu, mari kita kesana " ucap Dimas menunjuk kepada Wijaya yang duduk. dikursi panjang didampingi sang istri.

__ADS_1


"mas Wijaya, bagaimana keadaan kedua anak kita? " tanya ayah Dena.


" mereka belum sadar mas, kita tunggu saja di sini, dokter akan memberi kabar jika mereka sudah sadar" ucap wijaya,


dan benar saja, tak lama setelah itu tampak pintu ruangan tersebut terbuka, lalu nampak. seorang pria berpakaian serba putih dengan stetoskop di lehernya berjalan menghampiri ayah Dena yang langsung berdiri mana kala pintu ruangan tersebut dibuka.


" bagaimana keadaan anak kami dokter, apa mereka baik- baik saja " tanya ibu Dena.


" anak ibu yang laki-laki sudah siuman, tapi untuk yang perempuan masih belum sadar, tapi kalian tidak perlu khawatir, semua normal, hanya menunggu dia sadar saja, silahkan untuk menemui keduanya, sebelum dipindah keruang perawatan nanti nya" ucap sang dokter kemudian berlalu.


orang tua Galang berikut orang tua Dena segera saja masuk kedalam ruangan yang hanya disekat oleh kain gorden berwarna abu muda itu.


" Galang" ucap Ryanti seraya memeluk putra satu-satunya yang wajahnya masih terlihat pucat itu.


"ma, pa, mana Dena ma? " Tanya nya , masih belum memperhatikan sekelilingnya.


" Dena belum sadar lang,tapi kata dokter semuanya normal, sebentar lagi dia pasti siuman" ucap Ryanti menenangkan sang putra yang kini turun dari hospital bed nya.


" eh, eh, mau kemana, kamu belum boleh banyak bergerak lang, masih lemas banget itu" ucap sang papa mencekal tangan Galang.


" Galang mau menemui Dena pa, pasti dia mengalami trauma berat atas kejadian yang dialami tadi" Galang melerai cekalan tangan sang papa.


" mari mas, pegangan saya saja " ucap Ardi seraya menopang bahu Galang dari belakangnya,


" saya ucapkan ribuan terimakasih "


" itu mbak Dena nya mas" ucap Ardi menuntun Galang kepada Dena yang masih belum sadarkan diri.


selang oksigen terpasang di hidungnya, wajahnya masih pucat, namun bibir nya sudah kemerahan.


dibantu Ardi Galang duduk di samping hospital bed sang istri, ia genggam tangan nya yang terkulai lemah.


" sayang, bangun lah" ucapnya lalu mencium punggung tangan sang istri berulang- ulang, namun Dena tak jua membuka matanya, hingga akhirnya Galang mendekat kan wajahnya mencium kening Dena cukup lama.


" hmm" tetdengar erangan dari bibir Dena, dengan tangannya yang bergerak seolah ingin meraih sesuatu.


Galang segera meraih tangan sang istri, lalu dibawa ke dadanya.


" iya, mas di sini sayang"


" kepalaku pusing mas, perutku mual, aku mau,,,


huek,,,


Ardi segera mencari wadah untuk sang nona muda memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


Dena menyandar pada tubuh Galang, setelah beberapa kali memuntahkan cairan kuning dari dalam mulut nya.


" sakit ya, pahit juga? " Tanya Galang lalu merebahkan kembali tubuh Dena ke ranjangnya.


" mas aku takut, apa orang-orang itu berhasil melarikan diri atau kamu terluka oleh mereka, mereka sangat kasar mas, mereka hampir saja menodai ku, jika saja aku tak berhasil lari dari mereka "ucap Dena terisak, Galang membawa tubuh Dena yang bergetar kala mengingat kejadian yang dialami nya itu kedalam pelukan nya, tangannya terkepal manakala mendengar jika sang istri hampir saja di nodai oleh komplotan pria itu, sementara Ardi menahan sesak didada mendengar penuturan nona mudanya itu, dia tau Galang tengah menahan amarahnya, bayangkan saja, istri yang baru dinikahi beberapa minggu itu hampir terjamah oleh tangan- tangan kotor, Ardi saja yang hanya sekedar pak sopirnya, berasa gedeg sekali gess, lalu apa kabar dengan tuan mudanya.


Ardi dapat melihat urat-urat di leher Galang yang nenyembul, juga tangannya yang terkepal, menandakan betapa geramnya dia.


" mau minum atau makan sesuatu, hmm? " Tanya Galang seraya merapikan rambut sang istri yang masih acak- acakan.


" air putih aja mas"


" itu aja, nggak laper ? " Tanya Galang lagi, Dena menggeleng kan kepalanya.


Galang meraih air mineral disamping nya, lalu menuangnya kedalam gelas.


" kenapa? " Tanya Galang saat Dena kembali menutup mulut dengan kedua tangannya.


" mual lagi mas, huek,,,


Galang memijit tengkuk Dena perlahan dari atas hingga ke punggungnya.


" udah? " Tanya Galang saat Dena mendongakkan kepalanya.


Dena menggeleng, sungguh ia tak pernah seperti ini sebelumnya, kalaupun asam lambung nya yang naik tapi tak separah ini ,ataukah memang sudah separah itu? " tanya nya dalam hati.


dan akhirnya ia kembali memuntahkan isi perutnya yang hanyalah cairan berwarna kuning saja, karena ia belum makan apapun sedari tadi.


melihat Dena yang semakin lemah, ibu Dena segera memberitahu Galang untuk segera menemui dokter.


" sebaiknya hubungi dokternya saja nak Galang saya khawatir kali ini bukan asam lambung nya yang kambuh" ucap sang ibu.


" maksud ibu? " ucap Galang dan Dena hampir bersamaan.


sang ibu tersenyum, dan lihatlah bukan hanya sang ibu, tapi ayah, papa dan mama nya juga kini tengah menebar senyum super bahagia,,


Galang dan Dena saling berpandangan, kedua nya pun sama- sama mengedikkan bahunya, pertanda mereka sama - sama bingung.


jazakumullah khoiron


semoga selalu suka


Terima kasih


see u,,

__ADS_1


__ADS_2