Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
perubahan sikap.


__ADS_3

Dena belum diperbolehkan pulang hari ini, karena dia masih terus menerus mual dan muntah, semua makanan yang masuk kedalam mulut nya akan selalu dimuntahkan olehnya, hingga dokter harus memasang infus untuk asupan makanan bagi ibu dan juga janin dalam kandungan nya.


" emang setiap wanita yang hamil selalu kayak ini ya ma? " tanya Galang terhadap sang mama melaui panggilan suaranya.


" ya nggak dong lang, beda ibu beda lagi ngidam nya, bahkan yang satu ibu aja beda- beda rasanya " jawab sang mama dari ujung telepon nya.


" tapi Dena parah banget ma, semua makanan nggak ada yang masuk ke perut nya, Galang kasian ngelihat nya, apa sebaiknya pindah rumah sakit aja ya ma, mungkin suasana baru bisa meringankan sedikit mual nya, Galang nggak tega ma" ucap Galang.


" nggak perlu lang, nanti juga normal lagi, tunggu aja"


" berapa lama? " tanya Galang.


" biasanya sih kalau udah trimester kedua, maka semuanya akan normal kembali, itu biasanya ya, mama nggak tau kalau calon anakmu ini apakah biasa ataukah luar biasa" ucap sang mama lagi.


" maksud mama? " tanya nya.


" ya luar biasa, seperti mama saat mengandung mu dulu, sampai sembilan bulan mama masih saja mual dan muntah, bahkan selama hamil setiap bulan mama dirawat dirumah sakit, ya seperti Dena ini, mama lemas banget waktu mengandung mu dulu, tapi mudah- mudahan saja anakmu ini tidak ikut garis keturunan dari kamu ya" ucap sang mama menjelaskan.


" pasti mama menderita banget ya dulu, maafin Galang karena selalu membuat mama marah dan sedih" ucap Galang sedih..


" nggak ada kisahnya seorang ibu yang tengah mengandung itu merasa menderita lang, yang ada dia akan merasa sangat bahagia menjalani setiap prosesnya, karena tidak semua wanita diberikan nikmat mengandung seperti itu" ucap sang mama lagi.


" sebegitu nya kah ma, Galang aja yang melihat nyan rasanya nggak sanggup, tapi apa kata mama tadi, bahagia?, sungguh laknat para anak yang masih berkata kasar kepada ibunya " ucap Galang lagi.


" Alhamdulillah anak mama nggak kayak gitu kan"


" berkat didikan mama dan papa pasti nya"


"ya udah, sekarang Dena nya lagi ngapain, kenapa ditinggal? " ucap sang mama.


" ada ibu nya ma didalam" ucap Galang sebelum mengakhiri panggilannya.


Galang kembali masuk kedalam ruang perawatan Dena, yang kini tampak sedang dipijit oleh ibunya.


" biar Galang saja bu, ibu istirahat aja di depan" ucap Galang.


ibu Dena segera beranjak meninggalkan anak dan menantunya.


Galang duduk disamping Dena yang kini tengah berbaring.


" mananya yang mau dipijit? " tanya Galang.


Dena hanya menggelengkan kepalanya.


" belum pingin makan? " tanya Galang lagi, dan lagi Dena hanya menggelengkan kepalanya.


" mamanya mungkin nggak laper, tapi kasian dong baby nya nanti ikutan lemas juga, makan ya, mau makan apa? " tanya Galang lagi.


" aku bilang nggak ya nggak mas, mending mas keluar aja deh, perutku tambah mual denger kamu ngomong terus" ucap Dena kesal.


" eh,, kenapa perubahan nya signifikan sekali, apa iya harus seperti ini, aku dibentak sama calon ibu dari anak ku bro" bathin Galang yang kemudian berdiri, ia akan menuruti permintaan sang istri yang ternyata tidak sedang menginginkan kehadiran nya.

__ADS_1


ia berlalu tanpa mengucapkan apa pun.


" kayak maling aja kamu mas, pergi nggak bilang- bilang, nyelonong aja" ucap Dena yang membuat Galang menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh.


"mas keluar dulu ya, nanti kalau membutuhkan mas, panggil aja, mas duduk disofa" ucap Galang tak ingin menambah kemarahan sang istri, biarlah ia tak perlu bertanya kan,


"tadi bilangnya perutnya semakin mual kalau aku ngomong terus, lalu saat aku diam saja eh dibilang nya maling, yo karep e opo, aku kudu piye? " bathin Galang lalu melangkah gontai menuju sofa, dan ternyata disana ada Ardi yang sibuk dengan ponselnya.


" pacaran terus, kapan kawinnya, nggak bosen apa, hubungan kok cuma buat haha hihi aja" ucap Galang lalu duduk disamping Ardi, sementara sang ibu mertua tampaknya tengah menikmati udara di luar.


" jangan suudzon dulu mas, mas Galang mana tau saya lagi ngapain kan? " ucap Ardi lalu memasukkan ponsel kedalam saku celananya.


" ya taulah bujang lapuk macam kamu pasti mainannya istri tetangga yang kesepian karena ditinggal suaminya dinas luar kota iya kan? " ucap Galang lagi.


" Astaghfirullah, nyebut mas, itu perbuatan hina mas, bahkan buaya saja hanya mau berhubungan dengan satu pasangan nya, lah kalau saya seperti itu apa tidak lebih hina dari buaya namanya mas, jahat sampean "ucap Ardi.


" oh, salah ya"


" iya salah" jawab Ardi singkat.


" kenapa duduk di sini mas, bukannya didalam nemenin mbak Dena kan? "tanya Ardi heran.


" lagi nggak dibutuhin Di, nanti kalau butuh saya pasti dipanggil " ucap Galang lesuh.


" wih berasa jadi suami yang teraniaya dong mas, dipanggil ketika dibutuhkan saja, kenapa memangnya sama mbak Dena mas, berantem ya? " tanya Ardi.


" nggak ada yang berantem, Dena sekarang super sensitif Di, ngomong salah nggak ngomong tambah salah, intinya semua salah "


Galang menoleh ketika mendengar ucapan sopir pribadi nya ini.


" maksudnya? "tanya nya penasaran.


" ya dianya lupa, apa harus di ketok dulu ya kepalanya supaya ingatannya kembali? "emang lo pikir Galang amnesia apa Di,.


" iya, dia lupa bahwa itu adalah ciri khas nya kalau sedang kesal, dijawab salah nggak dijawab ya tambah salah, intinya semua salah"


" mas Galang kan kayak gitu kalau lagi kesal" ucap Ardi akhirnya bicara juga.


Galang mengerutkan alisnya.


" gitu ya, emangnya sering saya kayak gitu? " tanya nya merasa tak enak hati, pastilah Ardi ini korban dari kekesalan nya,makanya dia bisa ngomong kayak gitu kan?


" kalau sering sih Alhamdulillah nya nggak ya mas, tapi suka kadang-kadang " Jawab Ardi yang mendapat decakan dari Galang.


" ci,,podo wae" ucap Galang lalu berdiri untuk meraih air mineral dari dalam lemari pendingin.


" gimana rasanya mau jadi seorang ayah mas, pasti euforia nya melebihi Christiano ronaldo yang berhasil mencetak gol Heatrick di Al- Nasr ya, wih keren tuh mas" ucap Ardi dengan senyum terkembang dibibirnya.


" perumpamaan nya jauh banget Di, jangan bawa- bawa CR7 deh Di, nggak sanggup saya bayar endorse an nya" ucap Galang yang mulai menikmati obrolan ringannya bersama Ardi yang sebenarnya tau jika tuan mudanya ini tengah mengalami socking attack, karena perubahan sikap sang nona muda yang tengah mengandung sang putra mahkota.


" terus siapa dong yang dijadikan perumpamaan nya? " Ardi menimpali.

__ADS_1


" Mesut ozil aja deh" ucap Galang tertawa kecil menoleh kepada Ardi.


" podo wae mas, hahaha " keduanya lalu tertawa lumayan kencang ya, hingga kini Ardi dapat melihat jika sang nona muda tengah berdiri di ambang pintu penyekat ruangan itu.


" bisa dikecilin nggak volume suaranya, berisik, ini rumah sakit bukan lapangan hijau" ucap Dena dari tempat berdirinya.


" weh, rupanya dia connect Di, lapangan hijau katanya, kan emang kita lagi ngomongin para bintang lapangan hijau ya" ucap Galang pelan hampir tak terdengar, dan Ardi memilih untuk mengangguk saja tanpa menimbulkan suara, takut- takut nanti sang nona muda jadi pingin muntah jika mendengar suaranya kan, ya iyalah, mendengar suara sang suami aja dia jadi mual, lalu jika mendengar suara mu ya pastine langsung,


huek


huek


huek,


tuh benerkan apa yang ada dipikiran Ardi, padahal dia nggak mengeluarkan suara nya ya, tapi mungkin sibaby tau jika sang ayah nya lah yang berbisik- bisik berisik tadi kan.


he eh, iya in aja biar semuanya tenang.


setenang didalam ruangan dimana kini Dena tengah terduduk lesu diatas hospital bed nya.


" mas aku mau sandaran di bahu mu boleh nggak? " tanya nya pelan.


Galang segera saja memposisikan bahunya agar sang istri bisa bersandar disana,


tempat ternyaman seorang istri adalah bahu sang suami, dan kini Galang akan membuktikan nya.


" kamu bisu ya mas sekarang, kenapa nggak ada suaranya dari tadi, sengaja ya!! ucap Dena kesal.


Galang menggaruk tengkuknya yang memang gatal.


" emm, ya udah ayo sini, mas akan temani sampai kamu terlelap sayang " ucap Galang merentang kan kedua tangannya.


Dena mendekat, namun baru saja ia akan menyandarkan kepalanya pada bahu Galang, ia kembali menutup mulutnya.


" kenapa, mual lagi, mau dikeluarin? " tanya Galang bingung.


"kamu udah berapa hari nggak mandi sih mas, baunya bikin eneg" ucap Dena lalu melangkah kekamar mandi.


" kambing emangnya Den, udah berapa hari nggak mandi, sadis bener"


" Ya Allah berilah hamba Mu ini kesabaran yang tiada batas nya, sungguh hamba hanya manusia biasa, bukan Nabi atupun para sahabatnya" ucap Galang lalu membantu sang istri ke kamar mandi.


hmm, nasib, nasib, nasib malang bagian kenyot.


dinikmati saja proses nya ya pak suami,


tetap tersenyum, walau orang disekitar mu selalu saja menghinamu.


jazakumullah khoiron


see u,,,

__ADS_1


__ADS_2