
Dinda tersenyum lalu pergi meninggalkan Galang dan juga Dena.
Galang duduk di sisi Dena.
" kenapa bapak masih disini, saya tidak perlu di temani, sebentar lagi juga baikkan kok" ucap Dena dengan posisi masih berbaring.
" sampai teman kamu itu kembali kesini, baru saya akan beranjak dari sini" jawab Galang tanpa menoleh ke arah Dena.
" nanti kalau ada orang lain yang masuk gimana dong, malu pak" rajuk Dena.
" kita nggak lagi ngapa- ngapain Dena, kenapa harus malu, yang saya lakukan ini bukan tindak asusila yang melanggar norma- norma, atau kamu mau kalau pria tadi saja yang menemani mu disini, iya? " tanya Galang menoleh menatap penuh selidik kepada Dena.
" eh, pria yang mana pak, kok bulu kuduk saya jadi berdiri ya, horror ih" Dena menarik selimut berwarna nude itu menutupi hingga wajahnya.
" horror? Galang menyingkap selimut yang ditarik Dena, hingga wajah Dena kembali terlihat olehnya.
" dingin pak" ucap Dena kembali menarik selimutnya.
Galang menyentuh dahi Dena dengan punggung tangannya.
" kamu demam Dena, sebaiknya saya antar pulang, jangan menolak!!
"jangan sekarang,tunggu sampai jam kuliah selesai aja pak, saya nggak mau jadi bahan gunjingan mahasiswi disini" pinta Dena yang di angguki oleh Galang.
Galang kembali masuk ke kelas setelah memberikan obat penurun panas dan vitamin pada Dena di ruangan kesehatan tadi.
sebelum masuk, Galang memperlambat langkahnya lalu menajamkan pendengarannya, rupanya di dalam kelas, beberapa mahasiswi sedang membicarakan dirinya.
" eh, kok gue ngerasa pak Galang sama Dena itu ada something wrong deh,lebih care gitu, padahal kan kita semua tau, pak dosen tanvan kita itu dingin nya melebihi kutub utara lho kalau sama cewe, bahkan si Dinda aja pernah curiga kalau beliau itu apa kaum- kaum "
belum selesai Dea berbicara, tangannya sudah di timpuk menggunakan buku oleh Dinda yang baru masuk.
" ngomong tanpa bukti namanya fitnah, dosa lho, dan lagi ni ya, kalau pak Galang denger bisa di DO kita dari kampus ini, mau emangnya?, mending diam aja deh, anggap aja itu rezekinya Dena, bisa dapat perhatian dari pak Galang" ucap Dinda bukan tanpa alasan ya, karena sebelum dia masuk tadi dia sekilas melihat jika Galang tengah berjalan ke kelas, hingga Dinda buru-buru harus menyelamatkan bibir turah nya si Dea, sebelum bener- bener tumpah kan, hehehe.
dan benar saja, terdengar suara langkah kaki mendekat dan samar suara deheman,agak- agak terbatuk gitu....
" ehm,, "seluruh yang ada dalam ruangan langsung fokus pada tugas nya masing-masing masing.
" Dena sama siapa din, dia baik- baik aja kan? " tanya Dion pelan pada Dinda yang duduk pada kursi di depannya.
"hem, tapi kayaknya kurang baik deh Di, kalau nggak salah denger sih pak Galang bakal anterin Dena pulang, doi panas tinggi tadi di ruangan" ucap Dinda pelan, agar tak terdengar oleh Galang yang tengah fokus menatap layar laptopnya.
__ADS_1
"panas tinggi, kok di tinggal sendirian sih din, kalau tiba- tiba dia kejang gimana bahaya banget tu, kenapa nggak langsung di antar pulang aja tadi" ucap Dion masih ingin mengorek informasi tentang Dena dari Dinda.
Dinda yang tau jika Galang sedang memperhatikan dirinya itu pun tak menjawab, dia hanya memberi isyarat lewat jari telunjuk dari arah punggungnya kepada Dion, berharap agar Dion segera menyudahi ke kepoan nya itu.
" jika ada pertanyaan, silahkan langsung bertanya kepada saya" ucapan Galang mengagetkan Dion, yang segera meraih lembaran tugasnya.
" ini pak dosen, kapan sih married nya, kali aja kalau udah punya istri kadar ke galakkannya sedikit berkurang gitu" bathin Dion.
akhirnya,Galang di temani Dinda mengantarkan Dena pulang kerumah nya.
sepanjang jalan tak sekalipun Dena menyapa Galang, dia hanya sesekali berbicara kepada Dinda, dan yang di bahas Dinda adalah tentang Dion.
eits,,, Dena bagaikan memantik api dalam bahan bakar ni,, hawanya panas aja sedari tadi, rahang Galang mengeras menahan kesal, ia eratkan cengkraman tangan pada kemudi nya dan mobil melaju sangat cepat.
" emngnya kamu nggak curiga apa sih Den, kalau Dion itu ada hati sama kamu,tadi aja waktu aku bilang kalau lo panas tinggi dia langsung mencecar gue dengan banyak pertanyaan, wuih dia khawatir banget lho den sama kamu"
Dena merasakan aura semakin mencekam di wajah Galang kini, dia tahu sesekali Galang melihat sepintas kepada nya, namun Dena buru-buru mengalihkan pandangannya kepada Dinda, nggak kuat boss, tatapannya tajam menghunus, cengkeraman tangannya menyatakan kepemilikannya tak boleh di sentuh oleh orang lain, tentu saja dalam hal ini adalah Dena.
" a, itu cuma analisa mu aja Din, bisa saja meleset kan" ucap Dena tak tenang, ia harap Dinda tak lagi membahas tentang Dion di depan Galang saat ini.
ya bukan salah Dinda juga kali den, dia kan nggak tau kalau kalian menjalin hubungan, hmmm,Siap-siap buat perang Baratayuda nih Den.
_____ _____
_____ _____
tak ada perbincangan di antara mereka bertiga yang sedang menunggu ibu Dena yang masih dalam perjalanan pulang setelah Dena menghubungi nya tadi.
" krukuk,krukuk, krukuk,...
Galang dan Dinda sama- sama menoleh untuk mencari sumber suara yang tiba-tiba memecah kesunyian di antara mereka.
Sementara Dena tersenyum dan menutupi perut nya dengan tangannya.
" kamu laper? " tanya Galang .
Dena menganggukan kepalanya.
"ya pastilah laper banget pak, aku kan nggak sarapan tadi pagi, bahkan tadi kan bapak cuma menyuapi saya selembar roti sebagai penghantar tablet penurun panasnya" bathin Dena, wajahnya merona bila mengingat apa yang di lakukan Galang di ruangan kesehatan tadi,
eits jangan berpikiran yang aneh- aneh ya guys,
__ADS_1
" biar saya saja yang cari makanan nya pak, saya hafal daerah ini, kalau pak Galang yang keluar nanti bisa nggak balik lagi, nyasar pak, Tulang lunak di sini sadis- sadis pak, bahaya kalau mereka sampai melihat pak Galang, bisa- bisa pak Galang langsung menjadi tawanan mereka" ucap Dinda, ah Dinda ini tau banget kalau Galang memang sedang ingin berdua saja dengan Dena.
Galang tersenyum menatap Dena, sumpah Dena melihat senyum kemenangan di wajah Galang,
setelah memberikan beberapa lembar uang kepada Dinda, Galang kembali duduk di samping Dena, sementara Dinda sudah berlalu tak terlihat lagi tubuhnya.
" jangan di ulangi lagi, merepotkan saja!!
Galang semakin intens memandangi Dena.
" bapak marah sama saya, kenapa? saya tidur larut malam karena siapa coba, siapa yang ngajakin begadang, siapa! pak Galang kan, kok sekarang marah- marah, jangan mengkambinghitamkan saya dalam cemburu buta nya pak Galang itu!
" kenapa diam saja waktu pipimu di belai- belai sama laki- laki tadi" ucap Galang kesal.
" Laki-laki? siapa pak, aku kok nggak merasa sih, bapak jangan mengada- ngada deh, ngomong sesuai fakta aja! jawab Dena ketus
" Dion, dia menepuk- nepuk pipi mu waktu kamu pingsan di kelas tadi, dia sengaja itu biar bisa belai- belai kamu, dan kamu hanya diam "
Dena menghela nafas nya panjang, sungguh andai orang yang di samping nya ini bukanlah pak dosen ku kekasihku, pasti sudah Dena tabok tu bibir merah nan tipis nya biar berdarah sekalian,
ngomong kok nggak di filter dulu, cemburu sih boleh tapi jangan buta- buta amat dong lang, apa perlu Dena buatkan tongkat ya buat cemburu buta nya itu.
" aku kan pingsan pak, nggak sadar, mana tau kalau Dion pegang- pegang pipi aku, dan lagi ya, pasti si Dion reflek itu, nggak mungkin sengaja ih" ucap Dena
" reflek kok berkali- kali, itu namanya sengaja!! bela Galang yang tak terima jika Dena mengatakan bahwa dirinya cemburu buta terhadap mahasiswa nya itu.
"dasar bujang tua, kalau marah lupa usia" ucap Dena pelan sekali, namun kata- kata nya itu masih dapat di dengar oleh Galang.
" kamu ngomongin saya den, apa bujang tua lagi, expired, kadaluwarsa, basi, mambu, iya!!
Dena menyandarkan tubuhnya lelah pada Sandaran kursi.
Galang melihat wajah Dena masih sedikit pucat, perlahan ia ulurkan tangannya, meraih satu tangan Dena.
" aku sayang kamu, jangan membuatku cemburu"
Galang lepaskan pegangan tangannya pada tangan Dena.
Dena tersenyum, lalu memejamkan matanya yang terasa berat sekali.
trimakasih sudah baca dan like nya, semoga selalu suka sampai tamat ya.
__ADS_1
jazakumullah katsiron.