
Galang sudah sampai dirumah sakit terdekat, ia segera membopong tubuh Dena lalu membawanya pada unit gawat darurat.
" suster, suster" panggilnya setengah berteriak, hingga berberapa wanita berseragam putih menghampiri mereka.
" baringkan disini pak, kami akan memberikan pertolongan pertama untuk pasien, silahkan ikut menemani" ucap seorang pria yang juga mengenakan seragam yang sama dengan para perawat di rumah sakit itu.
Galang berjalan disamping Dena yang kini terbaring diatas brankar dan dibawa menuju keruangan unit gawat darurat.
" tolong panggilkan dokter Angga sus, sepertinya beliau belum keluar tadi" ucap pria tersebut pada rekan sejawatnya.
"dokter Ardian airlangga nuh, apakah itu dokter Angga yang Anda maksud? " tanya Galang memastikan.
" benar pak, apa anda mengenal nya? "tanya perawat tersebut.
" ya kami adalah sahabat nya" ucap Galang.
" dokter Angga segera kemari sus, tapi beliau akan langsung pulang, karena jadwal praktik nya memang sudah selesai "
"Alhamdulillah, dokter Angga memang the best pokoknya" ucap yang lain menimpali.
" sayang, itu dokter Angga sudah datang" bisik Galang pada Dena yang masih memejamkan matanya.
" disini dok" ucap perawat disamping Galang yang segera menyingkir.
" Dena, pak Galang, ada apa ini? " tanya sang dokter yang segera meraih stetoskop nya lalu memeriksa denyut jantung dan juga denyut nadi Dena.
" kenapa bisa sampai begini, denyut nadi nya lemah" ucap sang dokter melihat kepada Galang yang kini tampak semakin khawatir.
" Dena mengeluh mual dan selalu memuntahkan makanan dari dalam perutnya, sebelumnya dia baik- baik saja dok" jawab Galang, mendengar jawaban Galang Angga pun tersenyum, namun Galang menggelengkan kepalanya.
" saya rasa belum dok, karena kita baru beberapa kali melakukan itu" ucap Galang tanpa ada yang ditutupi, sang dokter pun tersenyum.
" suhu badannya tinggi, berikan penurun panas lalu segera infus agar pasien tidak sampai dehidrasi" ucap sang dokter meng intruksikan kepada para suster jaga yang ada disitu.
dengan cekatan para perawat itu melaksanakan perintah dari dokter Angga.
dokter Angga kembali mengecek suhu tubuh Dena setelah dirasa sudah sedikit membaik, ia pun pamit pulang.
" maaf Pak Galang, saya harus pulang, istri takut di rumah sendirian, nanti akan ada dokter jaga yang mengontrol Dena, biarkan dia istirahat,em maaf apa kalian baru saja melakukan perjalanan jauh? " ucap sang dokter sebelum beranjak dari tempatnya.
" iya dok, kami baru saja pulang dari luar kota" jawab Galang.
" pasti Dena kelelahan, apa kalian tengah berbulan madu disana, lalu tiba-tiba Dena drop? " tanya sang dokter lagi.
Galang tersenyum, sang dokter pun menepuk pundak Galang pelan.
" jangan panik, Dena hanya kelelahan dan seperti nya ia memiliki riwayat asam lambung, dan mual yang dirasakan nya adalah akibat dari Asam lambung nya yang naik" ucap sang dokter sebelum beranjak pergi.
" trimakasih dokter, Dena pasti akan sangat bahagia sekali jika tau dokter Angga di sini " ucap Galang sebelum sang dokter meninggalkan ruangan itu.
" katakan pada Dena, perbanyak minum air putih, itu akan sangat membantu mengembalikan energinya yang hilang" ucap sang dokter kemudian pamit pulang terlebih dulu.
setelah keadaan Dena terlihat membaik, para perawat pun memindahkan Dena diruang perawatan.
" udah merasa lebih baik" tanya Galang saat ia melihat Dena membuka mata lalu melihat sekeliling nya.
" aku dirumah sakit mas, kenapa harus di infus, memang nya aku kenapa? " tanya Dena bingung.
" kamu lemas sayang badan kamu juga panas, mas panik dan langsung membawa kamu ke rumah sakit, sekarang apa yang kamu rasain hem? " tanya Galang seraya mengelus surai panjang istri cantik nya itu.
" masih mual sih mas, tapi udah nggak separah tadi" ucap Dena dengan suara nya yang masih lemah.
" mama sama papa tau mas? " tanya Dena lagi.
" mas udah kirim pesan ke mama sebelum berangkat tadi, dan mama bilang sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit" jawab Galang.
" bapak sama ibu jangan di kasih tau dulu deh mas, aku takut mereka panik, dan lagi ini kan masih malam hari, naik apa mereka kesini? " ucap Dena.
" mau ketemu ibu hmm, biar mas minta Ardi buat jemput ibu sama bapak ya? " ucap Galang yang segera membuka layar handphone nya untuk menghubungi Ardi, namun Dena mencegahnya.
" besok aja mas, kasian mengganggu istirahat mereka, lagipula aku sudah merasa lebih baik sekarang dan sudah ada yang jagain aku, yaitu kamu" ucap Dena lalu memeluk tangan sang suami erat, namun dia mencium aroma yang tidak mengenakan saat menyentuh pakaian sang suami yang ternyata basah dibagian ujung lengan nya.
" mas ini kena apa baju kamu, kok aromanya kayak gini? " tanya Dena menunjukkan pada kaos Galang yang basah pada bagian ujungnya.
__ADS_1
" mas nggak sempat ganti baju tadi, panik karena kamu udah lemas dan panas juga, jadi langsung pergi aja, a,, ini terkena sedikit muntahan kamu tadi waktu dirumah " ucap Galang pelan.
" maafin aku mas, pasti kamu jijik ya melihat ku seperti itu, tapi aku udah nggak tahan lagi" ucap Dena yang melerai pelukan pada tangan Galang.
" kenapa harus minta maaf, aku suami kamu Dena, semua yang terjadi pada dirimu adalah tanggung jawab ku dan apa kamu bilang tadi,jijik?bahkan aku nggak pernah terpikir kearah itu, karena menyayangimu bukan terletak pada keindahan nya saja tapi semuanya adalah berharga untuk ku, jadi jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, mas nggak suka" ucap Galang seraya merapikan helaian rambut Dena yang sedikit kedepan.
Dena sungguh terharu, "tapi apakah setiap pasangan pengantin baru akan seperti ini, lalu berubah setelah beberapa tahun usia pernikahan mereka? " tanya nya dalam hati.
" jangan mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi, lakukan apa yang bisa kita lakukan semampu dan sebisa kita, selagi itu masih dalam batas kewajaran" ucap Galang seolah bisa membaca isi hati Dena.
" kamu kayak peramal aja mas" ucap Dena.
" lho jadi benar apa yang mas ucapkan tadi, padahal cuma tebak- tebak buah manggis itu, ternyata tebakan nya dibenarkan " ucap Galang.
" sekarang pingin makan apa, dokter Angga bilang kamu harus banyak minum air putih supaya energi mu kembali normal "
" dokter Angga, jadi dokter Angga dinas disini, mana dia mas? " tanya Dena.
" iya, bahkan beliau tadi yang menangani kamu, sekarang udah pulang, istrinya sendirian dirumah katanya, dia juga titip salam sama kamu, kurangi makan makanan pedas katanya tadi, asam lambung kamu naik makanya mual terus"ucap Galang lalu menutupi tubuh Dena dengan selimut sebatas perutnya.
" mas, pingin makan sesuatu deh" ucap Dena.
" pingin makan apa, katakan " ucap Galang.
" buah, tapi yang ada masam- masam nya " ucap Dena lagi.
" untuk saat ini tahan dulu keinginan untuk menikmati buahan yang seperti itu, kesehatan kamu yang terpenting, ganti buah yang lain saja, pasti mas belikan, mau apa? " tanya Galang
" ya udah, nggak jadi aja, aku mau istirahat dulu " ucap Dena membalikkan tubuhnya memunggungi Galang yang kini malah memeluknya dari samping.
" sabar ya, nanti kalau udah sembuh, kita beli semua yang kamu inginkan, oke, jangan marah dong" ucap Galang mengeratkan pelukannya, namun tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka, Galang segera melerai pelukan di tubuh Dena.
" weh pengantin baru nya lagi mesra- mesra an rupanya pa, apa kita pulang aja nih, mama takut ganggu soalnya " ucap sang mama menghentikan langkah lakinya.
" mama apaan sih, Galang lagi mijitin punggung Dena aja lho ini mana ada mesra- mesra an, lagian ini rumah sakit dan Dena nya juga lagi sakit, predator kali ma" ucap Galang.
" hem, dianya sensi pa, ya sudah lah kita maklumin saja, gimana Dena nya udah baik kan sekarang? " tanya Ryanti lalu mendekat kepada Dena yang kini sudah membalikkan tubuhnya.
wajahnya masih terlihat pucat namun kondisi nya sudah jauh lebih baik dibanding kan tadi saat baru datang ke rumah sakit.
" kenapa, apa Dena punya riwayat magh ya? " tanya Ryanti sebelum duduk di kursinya.
" kata dokter Angga tadi sih gitu ma, makanya Galang melarang Dena makan makanan yang terlalu pedas dan juga masam, itu nggak baik untuk lambung nya" ucap Galang .
" ada dokter Angga? " tanya sang papa.
" iya pa, sekarang beliau sudah pulang " ucap Galang.
setelah beberapa jam kemudian, Galang meminta papa dan mamanya untuk pulang saja.
"mama sama papa pulang aja, suasana dirumah sakit nggak bagus untuk mama sama papa, ada Ardi yang nemenin Galang jika sewaktu-waktu Galang butuh bantuan" ucap Galang.
" ya udah, mama sama papa paham lah, ya nggak pa, yang pingin berduaan mah alasannya ya gitu, nanti mama sama papa malah nggak bisa tidur kalau disini, nanti malah ikutan sakit, dan bla, bla, bla,,, " ucap Ryanti lalu menggandeng tangan sang suami.
" Dena, mama sama papa pulang dulu ya, mas Galang mu keberatan kalau kita ikutan jagain kamu" bisik Ryanti disamping wajah Dena.
Dena tersenyum, namun tidak dengan Galang.
" mama selalu deh, katanya paham dan ngerti" ucap Galang membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.
" kamu juga istirahat lang, jangan begadang" ucap sang mama sebelum berlalu.
" iya ma, Hati-hati, nyetir nya pelan- pelan aja pa" ucap Galang.
setelah mama dan papanya benar-benar sudah tak terlihat, Galang pun menutup pintu nya.
" Di, kamu dimana? " tanya Galang pada sambungan telepon nya.
" saya di basement mas, ada apa? apa mas Galang perlu sesuatu? " tanya Ardi.
" tolong kamu kawal bapak sama ibu sampai rumah ya, tapi jangan sampai mereka melihat mu, setelah itu kembali lagi kesini"
" baik mas" ucap Ardi dan panggilan pun berakhir.
__ADS_1
Galang sengaja tak memberi tau mama dan papanya jika ia meminta Ardi untuk mengawal mereka, karena jika mereka tau pastilah sang papa akan menolak nya, dengan alasan "nanti nggak ada yang nemenin kamu disini, udah papa sama mama nggak usah di kawal segala"
Galang menghampiri sang istri yang kini kembali memiringkan tubuhnya menghadap dinding putih polos.
" aku cemburu sama dinding itu, kenapa istriku lebih memilih menatap dia dibandingkan aku suaminya yang tampan nya nggak kira- kira"
"kata siapa? " ucap Dena yang masih belum merubah posisi tidurnya.
" kata aku lah, kan yang barusan bicara aku bukan kamu" ucap Galang yang kini ikut naik ke hospital bad Dena.
" mas kenapa tidur disini? " tanya Dena sedikit menggeser posisi tidur nya.
" pingin deketan sama istriku lah" ucap Galang mencium puncak kepala Dena mesra.
" kamu nggak akan bisa tidur kalau disini mas, udah rebahan dibawa aja" ucap Dena.
" yang bilang mas mau tidur itu siapa, mas itu jagain kamu bukan mau tidur sama kamu, udah sekarang pejamkan mata lalu tidur " ucap Galang mengusap wajah Dena, namun Dena malah meraih tangannya tersebut.
" kenapa?mau cium tangan mas,kangen ya? " ucap Galang tapi Dena malah menggeleng kan kepalanya.
" apa semua pengantin baru akan manis seperti ini mas, dan apakah setelah beberapa tahun usia pernikahan, mereka akan berubah karena sudah bosan lalu menemukan atau bahkan mencari orang yang baru? " tanya nya, rupanya apa yang ada dalam pikiran nya tadi kini benar- benar ia ungkapkan.
"pertanyaan macam apa itu, research dimana kok bisa berpikir sejauh itu hmm? " ucap Galang membelai pipi Dena kemudian turun kehidung lalu berhenti dibibir merahnya.
" nggak tau, tiba-tiba muncul aja, emang bener kayak gitu mas? " tanya Dena penasaran.
" mas nggak menampik, mungkin ada beberapa pasangan yang seperti itu, tapi tidak dengan kita sayang ,tujuan kita menikah adalah ibadah mengikuti sunnah Nabi, lalu kenapa kita harus mempermainkan nya sedangkan yang kita contoh adalah manusia pilihan,apakah itu tidak sama artinya kita juga mempermainkan ajaran- ajarannya, kalau mas berpikir nya sesimpel itu Dena, walaupun seandainya diperjalanan nanti kita menemui banyak masalah entah itu dalam hal apa, jadikan itu sebagai sarana untuk semakin mempererat hubungan kita bukan malah memisahkan, naudzubillah " ucap Galang.
" jadi apa yang aku khawatir kan itu salah? " tanya Dena lagi.
" hmm, dan jangan diulangi lagi, mas nggak suka, sekarang tidur supaya besok saat bapak sama ibu menjenguk keadaan mu sudah jauh lebih baik lagi" ucap Galang lalu turun dari hospital bed Dena.
" kenapa turun, aku mau dipeluk tidur nya" ucap Dena yang membuat Galang mengurungkan niatnya.
" tadi nolak sekarang ngajak " ucap Galang namun tetap saja ia turun.
" mas" ucap Dena lagi.
" tunggu sebentar, diluar ada Ardi, mas mau bukain pintu buat dia"
" masuk aja Di, diluar dingin" ucap Galang.
" disini aja mas, nanti mbak Dena nya terganggu mendengar suara dengkuran saya " tolak Ardi.
" mbak Dena mu ngga bakalan denger dengkuran mu itu, telinga nya udah disumpal earphone jadi aman, udah ayo masuk, udah mau subuh lho ini mau jam berapa lagi tidur nya? " ucap Galang.
Ardi pun masuk mengikuti tuan mudanya, ia tidur diruangan yang sama namun terdapat penyekat didalamnya sehingga ia tak merasa jika kehadiran nya mengganggu tuan dan nyonya muda si pengantin balu,,,,
" Dena, udah tidur ya? " tanya Galang saat ia melihat sang istri menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
tak ada pergerakan, Galang pun akhirnya membuka sedikit selimut yang menutupi seluruh tubuh Dena, tampak Dena memeluk tubuhnya sendiri.
" kedinginan rupanya " ucap Galang lalu ia mengurangi temperatur suhu pada air conditioner di ruangan itu,setelahnya ia pun ikut berbaring disamping sang istri, Galang lupa jika sang istri ingin tidur sambil dipeluk olehnya,hingga saat ia melihat sang istri yang tampak Kedinginan,maka yang terlintas dipikiran nya mungkin saja air conditioner nya yang terlalu dingin,tumben nggak langsung connect lang,,,lagi mode serius ukhti,,hihihi,,,
namun mungkin karena Galang mengatur suhunya yang terlalu rendah justru membuat Dena merasa gerah, lalu tanpa sadar ia melepas pakaian pasien yang ia kenakan, hingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalamnya saja.
" mas, AC nya kamu matiin yah" ucap Dena menoleh kepada sang suami yang baru saja memejamkan matanya.
"nggak, cuma di low aja kok suhu nya, kenapa sekarang udah nggak kedinginan lagi? " tanya nya masih belum membuka matanya.
" he eh" jawab Dena yang kini malah duduk disamping Galang.
" eh, kenapa bajunya dibuka semua" ucap Galang yang merasakan jika kulit Dena menempel pada tangannya.
eh, eh, eh,,, jangan diganti jadi ah, ah, ah, ya,,,,
selamat bermalam minggu,
jazakumullah khoiron.
see u,,,
__ADS_1