
Galang masih memandangi wajah gadis pujaan nya, kemudian ia buka pada kolom pesan dalam obrolan di smartphone nya, tampak Galang mengetik kalimat yang panjang namun di hapusnya kembali, berulang kali ia lakukan hal yang sama, entah apa yang ia tulis, waktu bergulir sangat lamban bagi Galang. ia tak sabar menunggu pagi untuk bertemu dengan pujaan hati. namun matanya belum juga terpejam.
ia hempaskan benda pintar itu di atas bantal. Ingin rasanya ia mendengar suara Dena, mungkin setelah nya ia akan terlelap atau justru tak dapat tidur sama sekali, sepertinya cinta sedang tumbuh subur di dalam rasa di jiwa nya.
pagi menjelang, Galang tertidur sudah hampir pukul dua dini hari, jadi lah kini matanya merah menahan kantuk yang sangat berat, walaupun Galang sudah mandi dan sarapan tapi ia masih belum semangat untuk segera berangkat ke kampus. " butuh semangat pak dosen, telpon Dena aja, barang kali dia belum berangkat ke kampus, kan bisa barengan tuh, cukup lah untuk sekedar ngobrol- ngobrol ringan, jangan yang berat- berat ya pak! masalah bapak udah berat jangan di tambah lagi beban nya.. nanti kelebihan beban jadi obesitas.
Galang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena jalanan cukup ramai, ia ambil handphone di saku celananya, lalu memulai panggilan dengan Dena, panggilan pertama langsung terhubung, namun tak kunjung di jawab , Galang mengulang nya lagi, kali ini langsung di jawab tapi itu bukan suara Dena.
"iya, hallo.. terdengar suara wanita di seberang sana. Galang mengerutkan keningnya.
" kok suara Dena berubah ya? tanya nya dalam hati.
" ini siapa? handphone Dena tertinggal di kamarnya, apa ada yang ingin di sampaikan?
" oh, tidak bu trimakasih, apa Dena ke kampus hari ini bu?
" iya, Dena sudah berangkat di anter bapak nya tadi.
" oh iya, trimakasih bu. assalammualaikum.
" iya, Sama-sama sama Waalaikumussallam.
Galang menutup panggilannya.
"gagal deh ngobrol sama Dena pagi ini, padahal gue pingin banget denger suara galak nya, Galang kembali fokus mengemudikan mobil nya.
Galang masuk ke ruangan para dosen, namun sekilas ia melihat Dena tapi dia tidak sendiri melainkan bersama dua orang, satu wanita dan satunya pria, Galang mengenal temen wanita Dena.
"itu Anita, tapi yang pria itu siapa? kenapa selalu memandang ke arah Dena terus sih, jalan nya kan kedepan mas, kok lihat nya kesamping! nanti nabrak lho,bathin Galang.
Galang segera berlalu ke ruangannya, namun belum sampai di kursi nya ia mendengar suara riuh di luar.
Galang tak mempedulikan nya, namun bukannya mereda tapi malah semakin ramai.
__ADS_1
" ada apa sih?
Galang terkejut sekali saat menyaksikan apa yang terjadi di depan mata nya.
" rupanya ucapan orang yang merasa tersakiti terijabah juga ya, eits.. Galang menggelengkan kepalanya .
" jelek banget sih ucapan gue" ucap nya.
benar saja, karena yang sedang terjadi sekarang ternyata pria yang sedari tadi memandangi Dena itu menabrak tiang yang cukup besar hingga meninggalkan luka di pelipis kepalanya, yang namanya kepala jikalau terluka sedikit saja pasti tuh cairan merah segarnya akan berlebihan jika keluar.
"lho kalau yang namanya hati yang terluka gimana tu lang? eh tersakiti ya! maka ucapan yang terlontar dari bibir sedihnya bisa jadi kenyataan lho, Hati-hati ya dek, jangan bikin sakit hati.bukan berlebihan ya, tapi memang itulah kenyataan nya.
Galang pun memutuskan untuk mendekat dalam kerumunan para mahasiswa di depannya.
" ada apa? tanya Galang. semua menoleh, mereka tau siapa yang bertanya.
" suara orang tampan memang ciri khas ya, mengandung gaya gravitasi, kaya ada berat- berat nya gitu dan memeiliki daya tarik yang sangat kuat.
" eh pak Galang, ini pak,Kevin nabrak tiang,kepalanya terluka, jawab salah satu dari mereka. sementara yang di nanti- nantikan suaranya malah sibuk dengan yang punya luka di kepala.
" ehm, Galang berdehem berharap agar Dena menoleh padanya, namun harapannya hampa rek, Dena malah berlalu mengikuti temannya yang terluka tadi untuk di bawa menuju ruangan kesehatan yang ada di kampus ini.
"aduh dua kali di kecewakan, udah kali ini pak dosen jangan mengeluarkan kalimat apapun ya, takut nya langsung di ijabah nanti,
Galang menuju kelas dimana ada Dena di sana. "selamat pagi semuanya! sapa galang yang di jawab dengan semangat oleh se isi ruangan, mereka bahagia sekali jika pagi- pagi dapat jatah sarapan yang bening dan good looking seperti pak Galang ini, ( hanya bagi kaum hawa ya) , minus Dena deh kayak nya, karena raut wajahnya biasa- biasa saja, ya iyalah dia kan setiap hari dengerin suara Galang.
kalau yang lain kan jarang banget dapat momen seperti ini, karena Galang ini adalah tipe- tipe pria irit dalam berbicara, dia cukup membalas sapaan mahasiswa nya dengan senyuman dan anggukan kepala saja,kecuali jika sedang menerangkan pelajaran di kelas.
"sampai magrib pun masih belum mau berbuka deh kayak nya, sebab sahur nya pake kurma yang manisnya nggak habis- habis..."
.kira- kira begitu isi percakapan mereka ketika keluar dari kelas.bukan pemanis buatan seperti yang di tuduhkan Dena ya teman- teman.
Galang keluar terlebih dahulu bermaksud untuk menemui Dena, namun yang di perjuangkan baru saja naik gojek tuh pak dosen, wuih bertubi-tubi ni cidera di hati.
__ADS_1
"sabar pak belum resmi pacaran kan, jadi ya wajar saja lah. belum janjian juga kan kalau mau pulang bareng, eits! di revisi ya bukan pulang bareng tapi mengantar pulang. hmm, Galang melangkah gontai menuju mobil ny.
namun sebuah senyum terukir di bibir merah nya, Galang bukan perokok aktif dek, jadi warna merah di bibir nya asli ya, tidak mengandung pewarna buatan apalagi pewarna tekstil, Hi ngeri banget. sereeemmm.
sebuah ide muncul di kepala nya, kemudian ia mempercepat laju kendaraan nya, bermaksud untuk membuntuti gojek yang di tumpangi oleh Dena.
" kali ini harus berhasil " gumamnya.
ciiiittt, mobil berhenti karena ternyata kendaraan roda dua di depannya itu terus melaju menyusuri lorong sempit rumah Dena.
" lho pak dosen apa kabar nya kah saat ini guys, beliau mengetuk- ngetuk kan sepuluh jari pada kemudi nya, nampak prustasi sekali si bujang jelihim nya Adreena ini. masih pada posisi yang sama sejak mobil nya berhenti mendadak tadi.
handphone sudah di tangan dia berniat untuk melakukan panggilan video pada Dena, namun di urungkan nya. akhirnya ia memilih panggilan suara saja.
panggilan pertama langsung di jawab oleh Dena.
" iya Pak, ada apa, saya baru saja sampai, bapak dimana? Galang diam, dia hanya mendengarkan suara Dena di balik telepon pintar nya.
" pak Galang, bapak masih di situ kah? kok diem aja?
" iya sayang, saya masih di sini, sengaja diem aja biar kamu ngoceh dulu.
tut
tut
tut...
panggilan berakhir.
" lho kok di matiin sih, kesal Galang melempar handphone nya pada Sandaran busa di kursi nya, "ya mental dong pak, sengaja ya biar nggak rusak handphone nya kalau di banting, hihihi.. tahan banting dong.
sepertinya keberuntungan Galang masih tertinggal di pegadaian nih, hayuk pak buruan di tebus lampu hijau hampir menyala sepertinya.
__ADS_1
" bismillah "
_ _ _:_ _ _ _ _