Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
kamu dimana pak?


__ADS_3

Galang masih ada di dalam ruangan papanya, dia syok dengan penuturan sang papa.


" lalu selain perjodohan yang tak berperikemanusiaan ini kesepakatan apalagi yang telah para buyut itu sepakati? " tanya Galang.


Wijaya belum menjawab pertanyaan Galang, ia memandang keluar pada jendela ruangannya, setelah nya Wijaya tampak melangkah menuju lemari dimana disana Iah ia menyimpan seluruh berkas- berkas dan surat- surat berharga miliknya dan disana pula lah ia menyimpan surat wasiat peninggalan kakek nya yang tentu saja di wasiatkan untuk buyut pertama dan satu-satunya itu, dia adalah Galang aditama Wijaya, yang kini tengah merenungi nasib malangnya,,,


Wijaya mengeluarkan sebuah map yang sudah tampak usang yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu.


" bacalah surat wasiat yang di tulis langsung oleh kakek buyut mu ini, kamu bisa membacanya di sini atau di kamar mu, dimana kamu merasa nyaman'' ucap Wijaya menyerah kan map usang itu kepada Galang.


" kalau Galang perhatikan surat ini sudah berumur ya pa" tanya Galang seraya membolak- balikkan map yang diberikan sang papa kepadanya.


" kamu benar lang, surat wasiat itu di buat saat papa baru menginjak usia 10 tahun, dan saat itu kakek buyutmu yang memang daya pikir dan ingatnya masih cukup baik menulis dengan tangannya sendiri, ya walaupun usianya sudah lanjut" jawab sang papa.


Galang merasa miris sekali dengan jalan hidup yang harus dilaluinya, lahir dari silsilah keluarga yang cukup berada, lalu terlahir juga sebagai anak semata wayang, tapi salah satu kebebasannya sudah di renggut bahkan sebelum dirinya lahir kedunia ini.


" kenapa tidak papa saja yang dijodohkan pa, kenapa harus Galang" tanya Galang masih belum membuka isi surat wasiatnya itu.


" papa sudah dijodohkan sama mamamu lang, dan yang menjodohkan nya itu orang tua papa, kakek kamu"jawab wijaya.


" kenapa ribet banget sih pa, kenapa juga mereka harus repot- repot mencarikan jodoh untuk orang yang janinnya saja belum terbentuk, jangankan janin, papa saja belum baligh kan saat surat wasiat ini dibuat, Galang bener- bener nggak habis pikir pa" ucapnya kemudian mulai membuka surat wasiat itu.


Galang dengan seksama membaca tulisan tangan yang masih bisa di baca itu, pandangannya langsung tertuju pada akhir paragraph di mana disana terdapat tanda tangan sang kakek buyutnya yang tertera di atas materai.


"sastra kusuma Wijaya" gumam Galang membaca nama kakek buyutnya tersebut.


ia kembali membaca, sesekali dahinya berkerut lalu sesekali juga ia alihkan pandangannya terhadap sang papa yang selalu memperhatikan dirinya.


" papa sudah pernah membaca nya" tanya Galang dengan bahasa mata yang menunjuk kepada surat yang tengah dibacanya itu.


" tentu saja sudah lang, hanya saja papa ingin kamu membacanya sendiri agar tidak ada keraguan di dalam hatimu"


Galang kembali membacanya hingga selesai, lalu ia letakkan di atas meja kerja sang papa.


" lalu sekarang bagaimana pa" tanya Galang yang kini tampak berputus asa setelah selesai membaca isi dari surat wasiat itu.


" kamu sudah tau lang apa konsekuensi yang harus kita Terima jika perjodohan ini dibatalkan, tidak perduli apakah itu kamu atau Anisa yang membatalkannya, konsekuensi nya tetap sama lang, hanya orangnya saja yang berbeda, semua aset yang kita dapatkan dari perusahaan milik kakek buyutmu itu harus berpindah tangan menjadi milik keluarga mas Broto seluruhnya, termasuk kafe yang kamu dirikan itu"


Galang tak dapat berpikir jernih kini, memang semua yang mereka peroleh semuanya adalah dari hasil kerja sang papa pada perusahaan milik kakek buyutnya, termasuk kafe yang dikelola oleh Galang yang dananya di gelontorkan dari rekening sang papa, lalu apa yang mereka punya jika perjodohan ini dibatalkan, profesinya sebagai seorang dosen pada universitas swasta tentu saja tidak akan mencukupi kebutuhan hidup kedua orang tuanya dan juga Dena nantinya walaupun dengan segala macam tunjangan nya, kecuali jika sang papa rela turun kasta, ya, tentu saja hanya sang papa yang akan keberatan dengan solusi yang usulkan oleh Galang ini.


"papa tidak punya solusi lain lang, selain melanjutkan perjodohan ini, maafkan papa lang" ucap Wijaya lirih lalu berlalu meninggalkan Galang yang tertunduk lesu, tak berdaya.


___________

__ADS_1


_______


____


beberapa hari telah berlalu, pertunangan Galang dan Anisa sudah di gelar, sesuai keinginan Galang ia hanya ingin acara itu hanya dihadiri oleh keluarga intinya saja, bahkan sampai saat ini Dena tidak mengetahui jika ternyata Galang telah mengkhianati dirinya, dengan melangsungkan pertunangan nya dengan Anisa.


Dena duduk terpekur seorang diri di kantin yang mulai sepi, karena jam kuliah telah usai.


sudah satu minggu ini Galang tidak mengajar, ponsel nya pun tak dapat di hubungi, Dena pernah mencoba mendatangi kafe milik Galang, namun Dena tak jua menemukan jawaban di sana, semua karyawan Galang mengatakan bahwa bos muda mereka itupun sudah lebih dari satu minggu tidak mengontrol kafe nya, hanya sang nyonya besar saja yang sesekali datang untuk sekedar mengecek kebutuhan di kafe.


" kamu dimana pak, kenapa nggak ada kabar" lirih Dena tak terasa airmatanya ikut mengalir.


" aku nggak tau dimana alamat rumahmu, kamu belum pernah mengajakku kesana" Dena mengusap airmata yang mengalir membasahi kemeja panjangnya.


Dena berjalan lunglai menuju area parkir di kampusnya, matanya tertuju pada satu tempat parkir yang kosong, dimana biasanya disitu lah Galang memarkirkan lexus hitamnya, tapi itu sudah tak pernah Dena temui lagi,


" apa pak Galang sudah resign dari kampus ini, tapi kenapa tidak memberitahu ku? " tanya Dena seraya melangkah menuju kendaraan roda duanya.


Dena melajukkan kendaraan nya pelan, pikirannya tidak karuan, hingga beberapa kali ia sempat akan menabrak pejalan kaki yang tampak berjalan pada bahu jalan.


" kalau lelah istirahat aja mbak, jangan di paksain, bahaya lho" ucap salah seorang pekerja proyek yang kebetulan sedang bekerja memperbaiki jalanan yang berlubang.


" iya mas, trimakasih, tapi sebentar lagi sampai kok" ucap Dena menganggukkan kepalanya kemudian berlalu.


sang pria menggeleng- ngelengkan kepalanya.


Dena sampai di rumahnya, ia langsung masuk ke kamarnya, sang ibu yang melihat sikap Dena yang tak seperti biasanya itu lalu menoleh kepada sang suami.


" Dena kenapa ya pak, kok akhir- akhir ini ibu perhatikan jadi sering mengurung diri di kamarnya saja" tanya sang ibu kepada suaminya yang tengah duduk seraya menikmati segelas kopi panas yang masih mengepulkan asap nya.


" coba ibu deketin, lalu tanya kenapa, kasian juga bapak melihatnya bu, o ya bu, kok bapak perhatikan dosennya Dena itu tidak pernah lagi berkunjung kerumah kita ini ya, apa bapak saja yang nggak lihat? " tanya ayah Dena.


" ibu juga berpikir nya ke arah situ pak, apa mereka bertengkar atau,, hal yang lebih buruk mungkin saja mereka sudah tidak menjalin hubungan lagi? " ucap sang ibu dengan pemikiran nya.


" sebaiknya memang ibu harus menanyakannya langsung kepada Dena, tapi nanti saja tunggu waktu yang tepat" ucap ayah Dena.


__________


______


___


sementara itu di kediaman Anisa.

__ADS_1


" kamu mau minum apa mas, aku mau ganti pakaian dulu dikamar" ucap Anisa yang berdiri di samping Galang.


" tidak perlu,sebaiknya kamu segera bersiap, jangan terlalu lama, masih banyak urusan yang harus di selesaikan" jawab Galang tanpa melihat kearah Anisa yang kemudian berlalu meninggalkan Galang.


" maafkan aku Dena, pasti kamu sangat kecewa padaku" Galang mengusap wajahnya lelah.


tring


tring


tring, Ponsel Galang berdering sebuah panggilan masuk.


" Dimas? ada apa dia menelpon ku"gumam Galang sebelum menerima panggilan dari Dimas.


" iya dim, ada apa?


" mas Galang ke kafe nggak hari ini, mbak Dena nya ada di kafe sekarang, kasian mas, wajahnya sedih banget" ucap Dimas.


Galang tak menjawab.


" kenapa aku merasa seperti bukan diriku saat ini, jika aku menemui Dena, lalu apa yang harus ku katakan, aku nggak sanggup melihat airmatanya, sungguh itu sangat menyakitkan bagi ku Dena" ucapnya dalam hati.


" mas Galang,masih disitu kan? tanya Dimas di ujung teleponnya.


" saya nggak ke kafe hari ini Dim, bilang saja kamu nggak tau ya, jika Dena menanyakan keberadaan saya" ucap Galang lalu mengakhiri panggilan nya.


" arrghhh, Galang meremas rambutnya kasar.


dia merasa menjadi orang yang munafik saat ini.


sementara itu di kafe Galang.


" piye dim, opo jarene mas Galang''tanya Angga penasaran. ( bagaimana dim, apa kata mas Galang)


" katanya dia nggak ke kafe hari ini ngga, beliau berpesan jika mbak Dena bertanya tentang beliau jawab saja' nggak tau" ucap Dimas menjelaskan.


" aku kok kasian sama mbak Dena itu ya, kenapa mas Galang kok nggak gentle banget sih jadi laki- laki ya, kesannya serakah pingin digaet semuanya" ucap Angga kesal.


" hush,, nggak boleh suudzon gitu, kita nggak tau permasalahannya apa, lebih baik diam, cukup ikuti apa yang di suruh sama mas Galang tadi"ucap Dimas kemudian sibuk dengan layar laptop nya.


"sebenarnya aku juga mesakne(kasian) ngga melihatnya, mentolo ( tega) sampean mas, mas" gumam Dimas.


trimakasih, maaf baru update.

__ADS_1


see u....



__ADS_2