Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
datang meminang jilid 2.


__ADS_3

Galang melajukkan kendaraan semakin cepat, ia sudah tidak sabar ingin segera sampai dan membagikan kabar bahagia ini kepada mama dan papanya, setibanya di rumah, Galang langsung keluar dari mobil mewah nya,


" Di, tolong masukkin ke garasi ya" pinta Galang pada Ardi yang tengah menyalakan mobil tuan besarnya, sepertinya mereka akan keluar rumah sore ini.


"iya mas" ucap Ardi, yang menyembulkan sebagian wajahnya dari balik kaca mobil.


Galang bergegas naik ke lantai dua, namun langkahnya terhenti di tengah-tengah anak tangga, ketika dilihat nya sang papa dan juga mamanya sudah rapih dengan pakaian khas orang mau ke tempat hajatan.


" pa, ma, siapa yang hajatan ? " tanya Galang.


" mantan calon mertuamu, mau ngijabin mantan calon istrimu lang, kamu mau ikut? " tanya sang mama dengan senyum jahilnya.


" ehm, nggak deh ma, Galang titip doa sapu jagat aja ya buat Anisa sama suaminya" jawab Galang.


" singkat amat doa nya lang nggak ada penjabaran nya lagi? " kini giliran sang papa yang bertanya.


" itu doa paling lengkap pa, sudah mencakup dunia beserta akhirat nya, nggak usah di tambah- tambahin lagi" jelas Galang lagi, ia mencebik kesal karena kedua orang tuanya ini selalu Menjahili dirinya.


" ngomong- ngomong dari mana saja kamu kok baru pulang? " tanya Wijaya nampak serius kini.


" dari melamar anak gadis orang pa" jawab Galang singkat dan padat, kayak doa sapu jagat tadi ya lang, Galang,,,


" diterima? " tanya Wijaya lagi.


" belum" jawab Galang malas.


Wijaya menoleh ke arah sang istri,berbicara lewat pandangan matanya yang ditanggapi dengan senyuman oleh sang istri.


" belum atau tidak diterima nih? " Wijaya semakin gencar menggoda putra semata wayang nya ini.


" papa sama mama kalau mau pergi ya udah pergi aja, keburu sholawatan nanti pengantin nya" ucap Galang kemudian berlalu.


Wijaya dan Ryanti tertawa, melihat wajah Galang yang terlihat kesal karena ulah mereka.


di antar oleh Ardi sang sopir pribadi mereka pun akhirnya pergi meninggalkan rumah untuk memenuhi undangan Broto yang akan menikahkan Anisa hari ini.


Galang sudah selesai membersihkan tubuhnya, mengenakan celana chargo hitam panjang selutut dan atasan tshirt berwarna senada bertuliskan nama Adreena di bagian punggungnya, Galang tampak menuruni anak tangga menuju taman di belakang rumahnya, sebuah gazebo ia pilih untuk menikmati waktu Senggangnya di rumah.


" ini makanan nya mas" seorang wanita paruh baya datang meletakkan nampan yang berisi makanan dan juga secangkir copi late permintaan Galang tadi.


" trimakasih bi" ucap Galang dengan tangan nya lincah di atas keyboard laptop di depannya,tak lupa kaca mata baca yang bertengger kokoh di hidung mancung nya,Galang tengah merekap pemasukan kafe akhir bulan ini, setelah selesai ia pun menutup layar laptop nya.


Galang merebahkan tubuh lelahnya, semilir angin menyapa wajah tampan nya, membuat matanya ingin terpejam, namun sebuah panggilan masuk di handphone nya menggagalkan rencana tidur siang menjelang sore Galang.


" siapa sih, ganggu orang mau tidur aja" gerutu Galang lalu meraih ponsel di samping nya.


wajah malas Galang berubah ceria begitu melihat nama yang tertera pada layar ponsel nya.


my life,,,


"Dena"gumamnya, sebelum menerima panggilan dari Dena.


" sayang, kenapa telpon, ada masalah? tanya Galang penuh perhatian terhadap Dena.


lama Dena hanya diam tak menjawab sapaan Galang di ujung telepon nya.


" Dena, kamu kenapa, katakan!"pinta Galang karena Dena tak kunjung menjawab tanyanya.


" tadi orang tua bapak kerumah saya",,,


Galang tak dapat menahan keterkejutan nya saat ini,mama dan papanya kan tadi pamitnya mau kerumah mantan calon mertuanya, lalu sekarang apa? kerumah Dena, ngapain pa, ma?yo melamar Dena dong lang,opo maneh!! hehehe,,


" papa sama mama kerumah mu, mereka bilang apa? " tanya Galang penasaran.


" mereka bilang ahad mau datang lagi ke sini , termasuk pak Galang" Jawab Dena.


" untuk? " tanya Galang singkat.


" melamar saya" ucap Dena dengan senyum malu- malu yang tentu saja tak terlihat oleh Galang,,


" kamu tidak bercanda kan sayang?tolong lah, papa dan mama sudah habis- habis an tadi menggoda saya di rumah sebelum mereka pergi, lalu kamu juga mau ikut ambil bagian, jangan ya, bicara nya yang serius- serius saja, boleh? " pinta Galang memelas pada Dena.


"saya nggak bohong pak, sungguh" ungkap Dena.


" kamu siap- siap ya, aku meluncur kerumahmu sekarang, kita beri kejutan buat mama sama papa"Galang akan segera mengakhiri panggilan nya namun Dena menyela nya,


" mau kemana pak, memangnya saya bersedia pergi sama pak Galang, kok main meluncur- meluncur saja, meluncur aja sana sendiri!! dengkus Dena masih merasa kesal, sepenak e dewe, udah nyakitin habis- habis an, mana perjuangan buat memperoleh maaf dari Dena,nggak ada kan? terus sekarang ngajakin otewe, otewe o dewe kono!! [ jalan aja sendiri sana].


" kamu masih marah sama saya, ayolah sayang, jangan membuang- buang waktu, keburu lansia nanti saya nya, emang mau? " goda Galang.


" nggak mau semua nya, dan lagi, siapa disini yang Membuang-buang waktunya percuma, dan siapa yang sudah mendekati usia parubaya,siapa!!hardik Dena.


" oke, semuanya memang saya, lalu saya harus apa, supaya marahmu sedikit mereda hem, ayo coba katakan? " tanya Galang lembut.


" bapak belum menjelaskan kenapa kemarin pak Galang menghilang dari hidup saya, lalu tiba- tiba datang lagi dengan niatan untuk melamar saya, bapak pikir saya ini anak kecil apa! atau abege labil, yang rasa sakit hatinya hanya sehari dua hari saja, saya wanita dewasa pak, bapak sudah mempermainkan perasaan saya!! ucap Dena penuh amarah, kemudian ia memutus sambungan telepon nya.


Dena terdiam di kamar nya, ia merenungi ucapan nya terhadap Galang di telepon tadi, berlebihan kah dirinya, munafik kah? , tapi memang rasa sakit dan kecewa itu masih ada, entah kenapa, mungkin benar apa yang dikatakan oleh dokter Angga, "kamu masih merasa sakit hati dan kecewa saat bertemu dengan nya, itu menandakan jika sebenarnya kamu masih mencintai nya Dena, yakinlah "


Dena meraih handphone nya kembali, bermaksud untuk mengirim kan pesan kepada Galang, namun ia urungkan,


" untuk apa, pasti sebentar lagi si bujang tua itu sudah ada di depan pintu" ucapnya seraya meletakkan kembali benda pintar itu di atas nakas.


.

__ADS_1


.


.


sementara itu Galang sudah bersiap dengan setelan casualnya,mengenakan celana Denim hitam Galang masih mengenakan atasan tshirt hitam bertuliskan nama Adreena,


"tunggu aku sayang, aku akan datang mengembalikan cinta dan sayang yang pernah kau anggap hilang,,,


with love,,


Galang Adreena Wijaya,, aamiin.


Dena tersipu malu setelah membaca pesan yang dikirim oleh Galang barusan,,


"gayae marah- marah dena, dena, lah baru dikirimi pesan romantis kayak gitu aja udah klepek- klepek kamu kayak ikan kena putas, jangan pingsan ya saat Galang datang untuk melamar"


" kanapa mudah sekali sih pak untuk memaafkan dirimu, walaupun tak terucap di bibirku, tapi hatiku tak dapat menolak itu, aku memang sangat mencintaimu, hanya kamu" bathin Dena.


Dena masih bermalas-malasan dikamarnya, saat sang ibu mengetuk pintu kamar nya.


" Dena, di luar ada nak Galang, temui sana, jangan membiarkan tamu menunggu terlalu lama, nggak sopan" ucap sang ibu.


" iya bu" ucap Dena, sekilas ia melihat bayangan wajahnya pada cermin, ia sempat kan untuk merapikan rambutnya yang sedikit acak- acakan lalu keluar.


" dimana? ' mata Dena berpendar mencari keberadaan Galang, namun tak dijumpai nya,


" apa di teras depan ya? " tanya nya kembali, mengenakan dress berwarna sage panjang selutut Dena melangkah keluar untuk menemui Galang, tiba di pintu ternyata benar, Galang tangah duduk menyamping memandangi nya yang berdiri di ambang pintu.


" cantik sekali " gumam Galang dengan senyum di bibirnya.


" gombal" jawab Dena lalu duduk di sebelah Galang.


" kok duduk, katanya mau pergi? " tanya Galang dengan pandangannya tak lepas dari melihat wajah Dena.


Dena berdiri dengan wajah bingung, satu tangannya menunjuk kepada dirinya sendiri.


" saya?pergi?bapak ngajakin saya pergi, dengan pakaian seperti ini, nggak, nggak! ucap Dena.


" kenapa, mengenakan pakaian apapun kamu tetap cantik sayang" ucap Galang lembut.


" he eh, bapak bohong juga saya percaya kok" Dena masuk kedalam rumahnya, tak berapa lama kemudian ia sudah siap dengan dres putih panjang selutut tak lupa blezer rajut hitam ia kenakan sebagai penutup dres tanpa lengan nya.


.


.


.


kini keduanya telah sampai pada sebuah toko perhiasan, dena sekilas membaca nama toko perhiasan tersebut.


Dena menarik ujung jaket denim Galang, Galang pun menoleh,


" kenapa? " tanya Galang.


" kenapa nama tokonya kok, nama belakang keluarga pak Galang sih, apa jangan, jangan ini? ucapan Dena terhenti, saat seorang wanita cantik dengan pakaian modis dan make up flawless nya menyapa Galang dan juga Dena dengan senyum ramah dibibirnya.


" sore mas Galang dan juga kakak cantik" sapa wanita yang sepertinya adalah karyawan kepercayaan di toko ini.


" sore cell, gimana bulan ini, stock perhiasan masih banyak atau sudah menipis di gudang" tanya Galang pada wanita cantik di depannya tersebut, yang bertanya kan Galang ya, terus yang di tanyain kan si wanita cantik yang tadi menyapa ramah pada mereka, tapi kenapa yang menampakkan wajah bertanya- tanya kok Dena ya?,,


" pertanyaan macam apa itu, sok akrab dan sok tau banget sih jadi cowok, apa jangan- jangan dia udah sering ke sini ya sama si tante Anisa atau mungkin sama Anisa, Anisa yang lainnya, lalu aku sebagai apa di sini? "belum selesai tanya Dena di dalam hatinya, wanita cantik di depannya itu kembali berucap.


" stock lama sudah sold out semua,dan stock baru sudah datang mas, apa mas Galang ingin mengeceknya, biar saya panggilkan Andra untuk mengantarkan mas Galang ke lantai dua" ucap wanita itu, dan kali ini Dena benar- benar tak dapat mengendalikan jiwa kepopedia nya, ia pun kini menarik satu tangan Galang untuk dibawanya mundur beberapa langkah, hal tersebut rupanya menjadi perhatian beberapa karyawan wanita di toko perhiasan itu.


" apa itu calon istrinya mas Galang ya,beruntung sekali dia bisa bersuamikan pria sesempurna mas Galang, udah tampan nya kebangetan, crazy rich, baik hati pula, uhhgg so perfect lah pokoknya mas Galang itu" ucap satu wanita kepada wanita di samping nya,,


" udah menghayal nya? ucap wanita satunya lagi.


sementara itu Galang ternyata mengajak Dena untuk duduk pada kursi panjang yang tersedia di toko itu.


"iya, toko ini adalah salah satu cabang toko perhiasan kepunyaan papa" jawab Galang sebelum Dena melontarkan pertanyaan- pertanyaan nya.


" salah satu" lagi, Dena di buat takjub dengan jawaban Galang barusan.


" iya, udah nanya nya di lanjut di mobil aja nanti ya, sekarang kita pilih perhiasan untuk kamu" ucap Galang berdiri seraya menggandeng satu tangan Dena, Dena pun berdiri lalu berjalan di samping Galang kini.


" saya mau yang limited edition cell, ada kan? " tanya Galang pada karyawan nya tersebut.


wanita itu tampak membuka pintu etalase nya, setelah menekan beberapa angka pintu pun terbuka.


" ini yang mas Galang inginkan" ucap wanita itu menunjukkan satu buah cincin mungil bertahtakan berlian, Galang meraih benda kecil yang nilainy mendekati angka dua mil jika di rupiah kan itu.


Galang mengeluarkan benda mungil itu dari dalam kotak nya, Dena yang memang tengah memperhatikan itupun terkejut saat Galang memintanya untuk mengenakan benda mungil namun bernilai fantastis tersebut.


" coba dulu ya, sebentar aja " pinta Galang meraih jari manis Dena.


"ini terlalu mewah pak, nggak pantas buat saya" tolak Dena seraya mencoba melepaskan satu tangannya yang tengah di pegang oleh Galang.


" nggak apa- apa kakak, cincin itu di pesan sama mas Galang khusus buat kakak beberapa bulan yang lalu" ucapan karyawan Galang yang bernama celline tersebut membuat Dena menggelengkan kepalanya.


namun pada akhirnya cincin berlian mungil itu tersemat sempurna di jari manis Dena.


" cantik " puji Galang seraya memandangi secara bergantian antara wajah dan jari manis Dena yang masih di genggamnya.

__ADS_1


Dena tersenyum, cincin itu kembali dimasukkan kedalam box jewellery oleh Galang untuk dibawa nya pulang.


.


.


.


keduanya kini sudah berada di dalam kendaraan dengan Galang yang berada di balik kemudi nya.


" pak" sapa Dena.


" hem, ada apa? " tanya Galang menoleh sekilas kepada Dena.


" tadi kalau saya nggak salah dengar, cincin itu bapak pesan sudah dari beberapa bulan yang lalu kan? " tanya Dena masih menjeda ucapannya.


" iya bener, terus kenapa kalau saya sudah memesannya beberapa bulan yang lalu? " Galang balik bertanya.


" berarti itu bukan buat saya dong" tambah Dena yang membuat Galang menoleh kembali ke arahnya.


" kalau bukan buat kamu, terus buat siapa, Dena adreena? " ucap Galang.


" buat mantan calon istri pak Galang, tante Anisa" jawab Dena.


Galang menepikkan kendaraan nya, sekilas ia menoleh kepada Dena sebelum mengeluarkan kembali benda mungil dari dalam box jewellery nya, lalu ia perlihatkan kepada Dena, Dena menimang- nimang benda yang sama sekali tak pernah ia bayangkan akan tersemat di jari manisnya kelak.


" apa, kenapa pak Galang memperlihatkan lagi benda mewah ini kepada saya? " tanya Dena masih belum mengerti.


" kamu lihat nama yang terukir dalam cincin itu sayang, lalu baca secara lantang"pinta Galang.


Dena kembali memperhatikan benda mungil itu, lalu dibacanya lirih,,


Adreena,,


" kan saya bilang tadi baca secara lantang, bukan bisik- bisik tetangga seperti itu, ayo coba di ulang" pinta Galang lagi.


" nggak perlu" ucap Dena menundukkan kepalanya lalu tersenyum di bawah sana, Galang mengangkat dagu Dena dengan jari telunjuk dan jari tengah nya hingga kini wajah memerah Dena terlihat nyata olehnya.


" sekarang percaya, apa saya perlu menjelaskan lagi, tentang alasan saya pergi tanpa pesan seperti yang kamu sangkakan itu, hem? " ucap Galang yang ditanggapi dengan grlengan kepala oleh Dena.


" saya percaya, bahkan selama pak Galang menghilang pun keyakinan saya masih sama belum berubah " jawab Dena dengan mata yang mulai berkaca- kaca.


" sudah, jangan menangis lagi simpan airmatanya untuk hari bahagia kita, oke? " ucap Galang mengelus puncak kepala Dena pelan.


.


.


.


hari yang dinantikan pun tiba, Galang sudah siap dengan pakaian formal nya,mengenakan celana bahan berwarna hitam,hem putih yang di balut jas brioni vanquish yang pernah Dena hibahkan untuk papanya ia kenakan hari ini, hmm, jas dengan berjuta cerita ya lang, he eh, iya in aja, orang lagi bahagia mah kalau ditanya ya he eh, engge,enggeh wae.


Galang duduk di samping Ardi yang tengah mengemudi kan toyota Porsche berwarna hitam metalic milik Galang, sementara papa dan mamanya telah duduk nyaman pada mercedes-benz putih milik sang papa yang di kemudikan oleh Dimas yang sengaja di pinta Galang untuk menemani nya dalam acara lamarannya bersama Dena hari ini.


tak berapa lama mereka sudah tiba di kediaman Dena, Dena menginginkan acara lamarannya kali ini di adakan secara sederhana saja, juga hanya melibatkan keluarga inti dari kedua belah pihak.


Dena keluar dari kamarnya dengan ditemani Dinda, ya semenjak Anita tak lagi bisa di temui oleh Dena atau lebih tepatnya tak ingin lagi bertemu dengan Dena, maka sejak saat itu Dinda lah yang selalu menemani hari- hari Dena di kampusnya.


mengenakan kebaya modern lengan panjang berwarna mint dengan bawahan kain batik bermotif kontemporer Dena nampak Anggun saat berjalan menuju tempat nya di samping ayah dan ibunya.


setelah melalui beberapa sesi dalam lamarannya, tibalah waktu nya Galang untuk secara langsung melamar Dena di hadapan kedua orang tua Dena dan di saksikan oleh keluarga mereka berdua.


Galang maju beberapa langkah untuk lebih dekat kepada Dena yang menundukkan kepalnya kini.


" nggak usah grogi den, santai aja" bisik Dinda seraya mengelus pergelangan tangan Dena berulang- ulang, Dena mengangguk kecil.


ia memang gugup, sungguh gugup, ini pertama kali dalam hidupnya,,,


"bismillah" ucap Dena pelan.


ternyata kalimat yang sama pun di ucapkan oleh Galang....


.


.


.


"Adreena utami putri,


aku sudah menunggu saat- saat seperti ini untuk waktu yang lama, dan butuh banyak waktu untuk mengatakan ini, mempertimbangkan segala hal yang mungkin terjadi, bermunajat kepada Allah untuk menentukan pilihan yang paling tepat, berkali- kali ku tanyakan kepada hatiku sendiri, sudah tepatkah pilihanku ini? dan berkali-kali pula jawaban ku tetap sama yaitu kamu,


will you marry me?,,,


ayo Dena, yes or yes,,,


trimakasih, up nya panjang kali lebar ya,,


jazakumullah khoiron.


semoga selalu suka sampai happy ending


happy Reading,,

__ADS_1


see u,,,



__ADS_2