Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
pulang lebih awal.


__ADS_3

Galang rupanya tak benar-benar terlelap, ia hanya coba memejamkan matanya saja namun tak jua terlelap, akhirnya ia pun membuka halaman sosial media milik nya,saat itu lah tiba-tiba ponsel Dena bergetar sepertinya ada pesan masuk, Galang mengabaikannya, namun selang beberapa menit ponsel sang istri kembali berdering, Galang pun terpaksa beranjak dari tempat tidur nya, sekilas ia melihat pada layar handphone Dena, nama yang tertera pada pesan yang diterima.


" kevin?mau apa anak itu tengah malam begini chating Dena, apa nggak ada waktu lagi" gerutu Galang lalu meraih handphone sang istri yang ada di atas nakas.


[Hi, Dena, kamu kapan masuk kuliah? ]


[kamu kenapa Dena, apa kamu sakit?


tadi aku kerumah mu, tapi rumahmu kosong? ]


Galang kembali meletakkan ponsel Dena ditempat semula.


" aku yakin, anak itu pasti memiliki harapan yang lebih terhadap Dena, apa ini akan baik- baik saja, sementara pernikahan kami memang masih dirahasiakan untuk umum, entahlah, mudah- mudahan Dena mengerti posisinya kini sebagai apa" ucap Galang yang kembali nerebahkan tubuhnya.


sebelum azan subuh berkumandang Galang sudah siap dengan pakaian sholat nya, sementara Dena masih berada di dalam kamar mandi.


tak berapa lama Dena sudah keluar dengan mengenakan kimono nya.


" mas, kamu kenapa? " tanya Dena seraya mengambil pakaian ganti pada kopernya.


Galang tengah membuka aplikasi quran pada smartphone nya saat Dena bertanya.


" lagi baca quran nih " Galang menunjukkan layar ponselnya yang memperlihatkan ayat-ayat suci Al-Quran kepada Dena.


" ck, bukan itu" imbuh Dena.


" terus apa dong? " tanya Galang bingung.


" kenapa terlambat bangunin aku, biasanya mandi selalu berdua, ini kenapa main duluan aja, udah bosen ya, belum ada satu pekan lho aku jadi istri kamu, masa iya udah bosen" ucap Dena yang kini tengah mengeringkan rambut nya menggunakan hairdryer yang memang tersedia di sana.


Galang meletakkan handphone nya sembarang, lalu beranjak mendekati sang istri yang kini tengah menyisir rambut hitam nya.


ia berdiri disamping Dena, Dena pun menoleh.


" kamu ngomong apa sih, sampai kapanpun mas nggak akan pernah bosen hidup bersamamu,kenapa tiba- tiba punya pikiran seperti itu, dapat kata- kata dari mana coba? " ucap Galang seraya menatap wajah sang istri yang sudah kembali segar setelah aktivitas mereka semalam yang sangat melelahkan, bagi Dena tentunya ya,,, kalau Galang sih jangan ditanya, bahkan ia inginnya lagi dan lagi,,


duh pecah telur ya pak,, ho oh.


" lalu kenapa sikap kamu kok berubah " ucap Dena lagi.


" berubah gimana, berubah jadi manusia Laba-laba, batman, ultraman atau iron man" timpal Galang yang memang sebenarnya ia masih kepikiran akan isi chat dari pria mantan mahasiswa nya itu.


baru Dena akan membalas ucapan sang suami, tapi azan subuh sudah terlebih dulu berkumandang, hingga Dena pun mengurungkan niatnya itu.


" udah bahas itunya nanti aja, sekarang kita sholat subuh dulu " ucap Galang seraya mengusap puncak kepala Dena pelan.


setelah selesai melaksanakan sholat subuh secara berjamaah kini keduanya tengah menikmati udara pagi di balkon kamar mereka.


" hari ini kita kulineran aja, kamu mau nggak mas, abis itu kita cari oleh- oleh untuk mama papa juga untuk ibu dan bapak, gimana? " tanya Dena yang menyandar pada tubuh Galang.


" hmm, terserah kamu saja, kemanapun mas akan turuti, yang penting kamu bahagia " ucap Galang mengeratkan tautan jari jemari mereka, karena udara pagi yang dingin.


" Dena, kamu kedinginan? " tanya Galang saat ia melihat bibir sang istri yang sedikit bergetar.


Dena menganggukan kepalanya seraya menelusup kan wajahnya pada dada Galang.


" mau masuk apa di sini aja, mas bisa ambilkan baju hangat untuk mu" ucap Galang pelan.


" di sini aja mas, aku suka sama view nya, indah banget, di kota mana pernah aku menikmati udara pagi seindah ini" ucap Dena.


" ya udah mas masuk ya, mas ambilin baju hangat untuk mu" Galang beranjak masuk kedalam kamar mereka, tak lama kemudian ia sudah keluar dengan membawa sebuah baju hangat untuk Dena yang kini meringkuk di sofa panjangnya.


" mau mas bantuin nggak, atau bisa sendiri? " tanya Galang seraya menyerahkan baju untuk Dena.


" tolong pake in mas, tangan ku udah kebas nih" ucap Dena yang kini sudah duduk disamping Galang.


dengan cekatan Galang memakai kan baju hangat ketubuh Dena, setelah selesai ia pun langsung memeluk erat tubuh sang istri.


" handphone nya mana? " bisik Galang seraya menciumi pipi Dena.


" masih dikamar, kenapa mas, kok tiba-tiba nanyain handphone ku, handphone mu kenapa, lowbatt? " tanya Dena.


" nggak, cuma pingin lihat handphone istriku aja, nggak boleh ya? " ucap Galang yang kini malah mengendus-endus leher jenjang Dena dan tentu saja hal itu membuat Dena merasa geli dan merinding.


" boleh, siapa yang bilang nggak boleh, bahkan aku udah nggak pakai kode pin lagi untuk layar handphone ku, dan aku membebaskan kamu untuk mengetahui semua tentang itu"ucap Dena yang masih erat memeluk tubuh sang suami.


Galang tampak merogoh saku celananya lalu ia mengeluarkan handphone Dena dari dalam nya.


" ini handphone nya, barang kali kamu kangen sama ibu atau pingin ngobrol ,video call an sama beliau mungkin" ucap Galang menyerahkan ponsel Dena.


Dena meraih ponselnya namun sebelumnya ia menatap Galang dengan tatapan tajam nya,


" basa- basi" Ucapnya lalu membuka layar handphone miliknya.


hal pertama yang dilakukannya tentulah memeriksa pesan- pesan masuk atau panggilan- panggilan tak terjawab di handphone nya, namun matanya membelalak sempurna saat ia membaca sebuah pesan dari Kevin, namun sepertinya pesan itu sudah terbaca, tapi siapa? apa mungkin ini perbuatan mas Galang? " tanya nya dalam hati.


"kenapa, ada yang aneh dengan handphone nya kok wajahnya terkejut gitu? " tanya Galang seraya membenahi posisi duduknya agar Dena nyaman berada dalam pelukannya.

__ADS_1


" kamu udah baca pesan dari kevin ya mas? " tanya Dena mulai kesal, dia lupa bahwa tadi dia sudah membebaskan Galang untuk mengetahui isi handphone nya.


"iya, dan dia mengirim pesan itu saat dini hari tadi Dena, apa namanya itu jika bukan perasaan yang lebih terhadap mu" ucap Galang.


Dena melerai pelukan tubuhnya pada Galang.


" sekarang aku tau kenapa sikapmu jadi kayak gini sama aku, ternyata ini penyebabnya, iya? " tanya Dena menelisik wajah sang suami yang masih dengan senyum tipis dibibirnya.


" kamu cemburu sama kevin mas? " tanya Dena lagi seraya membelai pipi mulus Galang yang menggeleng kan kepalanya.


" mas nggak cemburu Dena, tapi mas khawatir sama kamu ,bagaimana saat kamu sudah mulai aktif ke kampus lagi sementara disana tak ada yang tau bahwa kamu itu adalah istriku " ucap Galang.


" aku bisa menjaga diriku sendiri mas, aku nggak mungkin tergoda oleh pria selain kamu" ucap Dena kembali mendekap tubuh Galang yang masih menguarkan sensasi harum dan juga hangat tubuhnya.


" mas percaya sama kamu, tapi mereka, mana mungkin mereka akan percaya begitu saja tanpa bukti tentunya, dan mereka pasti akan mengolok-olok an dirimu sayang, itu lah yang mas takutkan" ucap Galang.


" sekalipun cincin pernikahan itu tersemat di jari manismu, tapi mereka tidak mungkin percaya sebelum melihat bukti konkret nya"


" aku bisa menghadapi dengan caraku sendiri mas, kamu tidak perlu menghawatirkan ku" ucap Dena.


" apa perlu mas mengirimkan bodyguard untuk mengawasi mu dari jauh, sungguh mas nggak tenang Dena"


"justru dengan mas mengirim bodyguard untuk mendampingi ku, maka kecurigaan mereka akan semakin memjadi- jadi saja, kamu tenang aja, aku baik-baik saja mas, oke? " ucap Dena.


hari sudah terang, matahari mulai menyembulkan cahaya dari balik peraduan nya.


namun kedua insan itu masih terlihat saling memberi kehangatan satu sama lainnya.


"aku cinta kamu Dena, hari ini, nanti dan selamanya" ucap Galang lalu terkulai disamping tubuh sang istri,, ya keduanya baru saja selesai melakukan senam aerobik ala- ala pengantin baru namun dengan tujuan yang berbeda, apa tujuannya? tentu saja untuk menyempurnakan rumah tangga mereka dengan hadirnya seorang buah hati, karena hari ini adalah hari terakhir mereka disini, maka manfaatkan momen sebaik-baiknya.


" mas apakah aku akan hamil? " tanya Dena setelah mengenakan pakaian nya dan kembali. terbaring menghadap Galang.


" tentu saja sayang, bukan kah itu yang kita harapkan? " ucap Galang yang merasa aneh akan pertanyaan Dena barusan.


" tapi bagaimana dengan kuliah ku mas, masa iya aku kuliah dengan perut buncit " ucap Dena lesu.


" apa yang kamu khawatir kan sayang, ada aku sebagai ayahnya, kalian akan baik-baik saja, lagipula kuliah mu hanya tinggal beberapa bulan saja kan, apa mas perlu pakai pengaman setelah ini? " tanya Galang lalu mencium bibir Dena singkat.


" udah telat dong mas, gimana kalau yang beberapa hari ini ada yang telah berhasil membuahi sel telur di rahim ku " ucap Dena gamang.


" ya Alhamdulillah dong sayang, itu artinya kita termasuk golongan orang- orang yang beruntung "


"mas" rintih Dena.


" apa, masih mau lagi, yang tadi belum puas, iya?


Dena mencebik kesal karena Galang selalu saja tak serius menanggapi ucapan nya.


" mas angkat telpon dulu ya, siapa tau penting " ucap Galang lalu mengenakan boxer tanpa atasan nya.


" Olivia, ngapain dia menghubungi ku pagi- pagi begini, apa dia tidak tau jika aku tengah berbulan madu" pikir Galang sebelum menerima panggilan yang ternyata dari Olivia sekretaris dikantor nya.


" siapa mas, kenapa nggak langsung di jawab? " tanya Dena yang melihat jika Galang hanya memandangi layar ponselnya saja sedari tadi.


" Olivia, sayang, mas terima panggilanya dulu ya? " tanya Galang meminta persetujuan sang istri.


" angkat aja mas siapa tau penting kan" ucap Dena .


Galang mendekat kepada Dena sebelum menerima panggilan dari Olivia.


" iya, ada apa live, kenapa menghubungi saya, apa tidak ada orang yang bisa meng-handle selain saya? " tanya Galang kesal, karena momen bulan madunya masih saja disibukkan dengan urusan kerja.


" maaf Pak, apa bapak bisa masuk kantor, hari ini ada meeting dengan pengusaha muda dan sukses asal negeri jiran pak? " ucap Olivia pada sambungan telepon nya.


" apa sudah tidak bisa di undur besok saja live, saya baru akan pulang malam nanti " ucap Galang.


" tidak bisa pak, beliau ingin bertemu hari ini juga, karena esok beliau akan bertolak ke eropa" jawab Olivia.


" baiklah, akan saya usahakan, kamu atur saja Jadwalnya " ucap Galang sebelum mengakhiri panggilan nya.


" kenapa, kok muka nya kesel gitu? " tanya Dena saat Galang kini kembali duduk disampingnya.


" sayang maaf ya" ucap Galang dengan suara beratnya.


" maaf untuk apa? " tanya Dena tak mengerti.


" kita harus pulang, ada klien papa yang ingin bertemu dan tidak bisa diwakilkan orang lain" ucap Galang lagi.


Dena tersenyum, lalu memeluk pinggang suaminya itu.


" sekarang pulangnya? " tanya Dena lagi.


Galang kembali menganggukan kepalanya.


" ya udah nggak apa- apa mas, kita pulang sekarang " ucap Dena segera beranjak untuk membereskan barang- barang mereka sebelum ceck out nanti.


namun Galang mencekal nya.

__ADS_1


" mas kenapa? kita harus gerak cepat lho" ucap Dena saat ia melihat gelagat mencurigakan dari tangan sang suami yang kini mulai menggerayangi bagian-bagian sensitif di tubuhnya.


" closing ceremony dong " ucap Galang seraya menciumi punggung Dena.


" hmm, baiklah jika tidak dituruti maka aku yang berdosa " bathin Dena yang akhirnya kembali merebahkan tubuhnya yang kini sudah mulai menyatu kembali dengan tubuh sang suami.


" mas kok aku tegang ya" ucap Dena saat kini mereka sudah ada didalam pesawat terbang yang akan membawa mereka pulang ke rumah orang tua Galang.


Galang menggenggam satu tangan Dena lalu ia kecup untuk waktu yang lama.


" aamiin in doa mas ya" pinta Galang yang kini mulai membaca doa.


setelah selesai Galang tak melepaskan genggaman tangannya, ia tau Dena mengalami panic attac dan kemarin saat berangkat pun Dena mengalami hal yang sama dan Galang selalu berhasil menenangkannya.


dan akhirnya mereka sudah tiba di bandara dengan selamat.


keduanya tampak berjalan beriringan dengan senyum bahagia yang selalu terlihat dari bibir keduanya.


" kamu bahagia Dena, nggak marah karena kita harus pulang lebih awal dan memangkas jadwal bulan madu kita? " tanya Galang di sela-sela langkah kaki mereka.


" aku bahagia mas, trimakasih selalu membuatku tersenyum " ucap Dena seraya menyandar pada lengan Galang, Galang mengusap puncak kepala sang istri pelan.


" maaf belum sempurna " ucap Galang pelan, Dena tersenyum lalu semakin mengeratkan tautan jari jemari mereka.


" itu Ardi sudah datang menjemput kita sayang, ayo" ucap Galang mengajak Dena agar mempercepat langkah kaki nya.


" weh pengantin baru, vibesnya tak terbantahkan lagi,, ngguyu terus" ucap Ardi yang berdiri di bahu kendaraan milik Galang.


" nggak ada yang dibawa mas selain koper ini? " tanya Ardi karena tak melihat adanya barang- barang belanjaan milik tuan dan nyonya mudanya itu.


" nggak sempat belanja Di, maaf nggak ada oleh-oleh juga buat kamu" ucap Galang seraya membuka pintu untuk Dena.


" emm, nggak sempat ya,emang selama dua hari disana ngapain aja? masa iya dua hari 48 jam kerjaan nya cuma ngamar doang,,weh apa nggak sengkleh ya " gumam Ardi yang di angguki oleh Galang.


" kamu akan tau jika nanti sudah menjadi pengantin baru seperti saya Di, dan saya jamin kamu akan terus membenarkan ucapan saya ini" ucap Galang yang membuat Ardi menatap penuh selidik kepada tuan muda nya itu.


" wajah mu nggak usah dibingung- bingungkan seperti itu, semakin terlihat ke kepoan nya" ucap Galang yang langsung bisa merubah mimik wajah sang sopir pribadi nya itu.


" doakan saja semoga saya bisa seberuntung mas Galang yang memiliki istri secantik dan sebaik mbak Dena" ucap Ardi.


" yang mirip aja ya, kalau yang sama Persis nggak ada, orang kembar aja sifat nya berbeda, apalagi istriku ini yang jangankan kembar kakak atau adik saja dia nggak punya Di" ucap Galang menimpali ucapan Ardi yang memimpikan bisa memiliki istri seperti Dena.


" wah kalau gitu harus segera di kembang biakkan mas, sayang dong bibit unggul kalau hanya punya anak satu aja, bikin yang banyak mas, pasti nanti wajahnya tampan dan cantik semua" ucap Ardi yang malah membuat Galang mendapatkan cubitan mesra diperutnua dari Dena .


" harus itu Di, kita satu chanel rupanya ya" ucap Galang yang kini menahan sakit di perutnya akibat capitan tangan sang istri.


" kenapa dicubit, sakit sayang" lirih Galang yang malah mendapatkan tatapan tajam dari Dena.


" mas mesum" ucap Dena pelan. hal yang membuat Ardi menahan tawanya karena melihat sang tuan muda yang kini tengah di marahi oleh istrinya itu.


" langsung pulang kerumah besar atau mau kemana dulu mas? " tanya Ardi sebelum melajukkan kendaraan nya.


" langsung pulang aja Di, saya ada meeting dengan klien kepercayaan bapak setelah ini,kamu anterin saya ya" pinta Galang.


" siap mas" ucap Ardi lalu melajukkan kendaraan nya menuju ke rumah besar.


dan kini mereka sudah sampai didepan pintu gerbang rumah Galang, nampak pintu dibuka oleh petugas keamanan.


"pagi mas" ucap pria paru baya dengan seragam security nya.


Galang tersenyum membuka sedikit kaca mobilnya untuk menyapa pegawai dirumah nya tersebut.


" kamu standby di sini aja Di, saya hanya ganti pakaian Kantor lalu kita berangkat "ucap Galang sebelum keluar dari dalam mobilnya.


" iya mas" ucap Ardi.


Galang lalu menggandeng tangan Dena masuk ke rumah.


" mas tinggal sebentar ke kantor ya, kamu dirumah sama mama, atau jika kangen sama ibu kamu bisa minta anterin Ardi " ucap Galang sebelum masuk kedalam rumahnya.


" aku nunggu kamu pulang aja mas, kalau mau ke rumah ibu, pinginnya ya kamu yang anterin" ucap Dena.


" tapi mas nggak bisa janji, karena mas belum bisa mastiin apa saja agenda kantor hari ini, mas usahain pulang lebih awal ya" ucap Galang mengelus tangan Dena.


" kenapa cepet banget Honeymoon nya sayang,, harusnya kan lusa kalian baru pulang, kenapa hari ini udah dirumah, lang kenapa ini? " tanya sang mama yang tengah membawa baki berisi sayuran hijau yang akan dibawanya kedapur.


" urusan Kantor ma, nggak bisa diwakilkan, harus Galang yang turun tangan" jawab Galang seraya mencium punggung tangan sang mama yang juga di ikuti oleh Dena.


" gimana, honeymoon nya lancar kan? " bisik sang mama di telinga Dena, Dena pun tak mampu menyembunyikan wajah merah merona nya akibat pertanyaan vulgar sang mertua.


" ma, nanya nya di tunda dulu ya, kita mau bersih- bersih dulu, ayo sayang" ajak Galang lalu naik ke lantai atas dimana kamarnya berada.


" trimakasih ya Robb, Engkau telah memberikan jodoh yang baik tak hanya lahirnya namun juga hatinya untuk putra semata wayang hamba aamiin" lirih Ryanti .


note: laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, jika ingin mendapatkan pasangan yang baik maka perbaikilah ahlak dan tingkah laku mu, namun jika ternyata Allah mentakdirkan dirimu berjodoh dengan pria yang belum baik ahlak nya maka itu adalah tugasmu menjadikan lelakimu pribadi yang lebih baik lagi,,karena jodohmu adalah cerminan dirimu, good luck.


jazakumullah khoiron

__ADS_1


see u,,,,



__ADS_2