Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
mulai di uji.


__ADS_3

disaat Anisa sedang menikmati makanan nya, Galang sibuk dengan handphone di tangannya.


~Dena, apakah waktu mu luang sore ini? saya berniat ke rumah mu, boleh kah?


~datang aja pak, saya ada di rumah sore ini.


" boleh aku minta air putih mas" pinta Anisa pada Galang.


" a, iya biar aku panggil mbak nya dulu ya" Jawab Galang seraya memanggil salah satu pegawai di rumah nya.


" ah, padahal kan aku inginnya dia yang mengambil air minumnya" bathin Anisa merasa kecewa karena Galang malah menyuruh orang di rumahnya yang mengambil kan minum untuk nya.


"trimakasih mbak" ucap Anisa sebelum meraih gelas yang telah di suguhkan.


Galang berkali- kali memandangi arloji di tangannya, Sudah pukul tiga sore tapi Anisa belum ada tanda- tanda akan pamit pulang.


" mas apa di rumahmu ini ada taman juga, di halaman belakang mungkin? " tanya Anisa yang membuat Galang langsung berdiri.


" lho mau kemana mas? " tanya Anisa, dia khawatir Galang tersinggung akan ucapannya tadi.


" kamu bilang mau lihat taman, ayo ikut aku, di belakang ada taman bunga mini nya mama, mama gemar mengoleksi beraneka ragam flora , mungkin kamu akan menyukainya juga" jawab Galang lalu berjalan terlebih dulu meninggalkan Anisa yang masih termangu, diam di tempat.


" kamu nggak romantis mas, apa kalau sama Dena kamu juga seperti ini? tapi kurasa tidak, aku dapat merasakan hal itu, bahkan saat sedang bersamaku saja kamu tega- tega nya berbalas pesan dengan gadis itu, aku tau mas, dan aku sengaja mengulur waktu ku disini, agar kamu tidak menemuinya"bathin Anisa.


sadar jika tak ada langkah kaki yang mengikutinya, Galang pun menoleh dan benar saja ia mendapati Anisa yang masih berdiri pada posisi nya tadi.


" kenapa masih di situ,kamu berubah pikiran, mau pulang aja atau ada tujuan lain? " tanya Galang dengan santainya.


Anisa menggelengkan kepala nya lalu berjalan menyusul Galang yang berhenti untuk menungguinya.


" kemu mengusirku mas? " tanya Anisa yang saat ini berjalan di samping Galang, sebelumnya ia telah meminta pada wanita yang mengantarkan air minum untuk nya tadi agar mengabadikan momen- moment nya saat berdua bersama Galang.


" nggak kok, aku hanya menebak- nebak saja, maaf jika menyinggung perasaan mu" ucap Galang sungkan.


Anisa dan Galang Sudah sampai di taman bunga mini yang terletak di halaman belakang rumah orang tua Galang ini, namun karena hari Sudah menjelang sore, bunga- bunga yang bermekaran semenjak pagi itu Sudah mulai menangkupkan kelopak nya.


" indah sekali mas, akan lebih indah jika sedang bermekaran ya, mungkin aku harus merubah jadwal untuk berkunjung ke rumahmu menjadi di pagi hari aja ya mas, kamu nggak keberatan kan? "


" tapi aku nggak janji ada di rumah ya, jika kamu kesini, karena biasanya aku nggak di rumah kalau minggu pagi" jawab Galang.


"kamu jogging mas, sama siapa? boleh nggak aku ikut? " pertanyaan Anisa membuat Galang menghembuskan nafasnya kesal.


" huh, kenapa dia ini seperti mengikatku ya,dan apa yang dia lakukan saat ini seolah salah satu caranya membuat ku diam di rumah, menghabiskan waktu bareng dia, apa rencana nya? " tanya Galang di dalam hati.


"a,, maaf nisa, kita kan belum halal, takutnya jadi fitnah jika jalan berdua an" Galang menolak permintaan Anisa tadi.


"ah, iya, stay halal mas" ucap Anisa menimpali ucapan Galang.


waktu Sudah hampir pukul Lima sore, namun Anisa masih asyik menyirami bunga- bunga yang beraneka ragam dan warna itu, saat sedang melangkah untuk memetik dedaunan yang kering Anisa terpeleset dan dia terjatuh.

__ADS_1


" aww, sakit mas" ucap nya sambil memegangi kaki nya yang mengenai batu di taman tadi.


Galang tak menyentuhnya, pikirannya terbang kepada Dena, dia Sudah berjanji akan kerumahnya sore ini, tetapi Anisa malah berulah dengan sengaja menginjakkan kakinya di bebatuan cadas yang tak tersusun, Galang tau karena dia tak sengaja memperhatikan Anisa yang tengah menyiram bunga,namun tiba- tiba saja terjatuh. " ah, norak banget sih Nis, kamu malah bikin aku ilfeel" bathin Galang.


"maaf seperti nya sakit sekali, sebaiknya aku antar pulang saja, apa kamu tidak keberatan jika pulang bersama dengan ku? " Galang menawarkan dirinya.


" apa bisa kalau ada yang lain yang menemani kita mas, aku masih belum terbiasa jika hanya berdua saja" jawab Anisa keberatan, tentu itu bukan lah alasan utamanya, ia tidak ingin Galang menemui Dena, dan dengan menyertakan satu orang saja untuk menemani mereka, besar kemungkinan Galang tidak jadi menemui gadis itu, pikirnya.


" siapa, a.. baiklah aku suruh Ardi saja untuk mengantar kita ya, bagaimana kamu setuju? " tanya Galang.


" iya, nggak apa- apa mas, Nisa berdiri dengan bantuan dahan pohon yang di berikan oleh Galang tadi.


saat akan keluar, mereka berpapasan dengan mama nya Galang yang akan masuk.


" lho,Anisa,kenapa kakinya, jatuh ya? " tanya sang mama.


" iya bu,tadi Terlalu asyik di taman sampai ter jatuh" jawab Anisa.


" mau di anter pulang lang, sendiri apa sama Ardi? " tanya sang mama kepada Galang.


" biar Ardi aja yang nyetir ma, Galang jagain Anisa di belakang "


pipi Anisa merona mendengar ucapan Galang, dia tersenyum tersipu, sedang kan Galang merasa benar- benar menjadi seorang pecundang kini.


______ _______


 


Saat Sudah keluar dari gerbang rumah Anisa Galang menghentikan mobil nya.


" kenapa berhenti mas" tanya Ardi.


"saya mau menemui seseorang di, nanti kamu tunggu di mobil aja ya"


" cewek apa cowok mas orang nya " tanya Ardi lagi.


"cewek" jawab Galang singkat.


" ooooo.... " ucap Ardi panjang.


" oooo, juga" ucap Galang menirukan ucapan sang sopir.


" pacarnya ya mas, saya nggak nyangka lho, ternyata mas Galang ini tipe- tipe bunglon juga ya"Galang tertawa mendengar ucapan Ardi.


" saya nggak cinta sama cewek yang tadi di, tapi dia adalah cewek pilihan papa, saya bisa apa? "jawab Galang.


" ya usaha dong mas, sebelum janur kuning melengkung, perjuangan belum selesai"


" soktoy kamu Di" ucap Galang.

__ADS_1


" saya memang tau mas, masalah mas Galang itu Sudah sering saya temui,masalah orang kaya ya memang gitu,perjodohan, penyatuan bisnis,hingga anak yang di korbankan"


" kalimatmu mengandung aji pengasihan di"ucap Galang.


" ngomong opo to mas, siapa yang di kasihani mas? "tanya Ardi tak mengerti.


" ya aku lah, siapa lagi, benerkan? "


" hehehe, guyon mas, serius banget sih"


mobil Galang berhenti di depan gang menuju rumah Dena.


" lama- lama juga nggak apa- apa mas, nanti tinggal di hitung aja, per menit ya mas " ucap Ardi saat Galang melangkah keluar.


Galang menoleh, lalu tersenyum, lalu dengan langkah pasti menuju rumah Dena.


saat duduk di sebelah Dena Galang mencium aroma parfume Anisa, Galang mulai menghubung- hubungkan nya.


" aroma perfume Dena yang aku cium pada Anisa tadi dan kini kebalikannya, apa Anisa dari sini, tapi untuk apa, apa mereka saling kenal,apa harus aku menanyakan ini pada Dena, tapi apa tidak bunuh diri namanya"Galang bingung sekali.


" kenapa diem aja pak, apa ada yang aneh?" tanya Dena yang melihat Galang hanya diam saja sedari tadi.


" a,Dena, boleh saya tanya sesuatu? " ucap Galang.


"boleh dong, emang sejak kapan saya menentukan tarif atas pertanyaan bapak terhadap saya? "


" apa tadi A,,, " pertanyaan Galang terjedah karena ada pesan masuk di handphone Dena.


" saya lihat dulu ya pak, siapa tau hal penting"ucap Dena. Galang tersenyum mengiyakan ucapan Dena.


" siapa ini, kok nggak ada namanya, tapi kok" Dena segera membuka pesan gambar yang dikirim oleh nomor yang tak dikenalnya, tak hanya satu namun ada beberapa gambar.


Dena membelalakkan matanya saat melihat gambar yang di terimanya.


Galang yang melihat keterkejutan di wajah Dena, mulai gelisah kini.


" pesan apa dan dari siapa Dena" tanya nya.


Dena tak menjawab namun menunjukkan layar handphone nya kepada Galang.


Hal yang sama yang di lakukan Galang bahkan ia mendekatkan wajah nya untuk memastikan penglihatannya, ia segera meraih handphone Dena, namun Dena menahannya.


" saya bisa jelaskan Dena" ucap Galang menatap Dena yang juga sedang menatap nya, namun hal yang tak di sangka Galang, Dena tersenyum lalu berkata


" ini salah satu ujian kita pak, masih banyak ujian lainnya yang menunggu giliran untuk segera menghampiri kita, semoga lulus pak, kan ijazah nya nanti ijab dan sah"


Galang sungguh tak mengira Dena lebih dewasa dari usianya... ia pun tersenyum bahagia.


~***trimakasih Sudah membaca karya receh saya, semoga selalu suka~

__ADS_1


with love***.


__ADS_2