Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
papa pingsan.


__ADS_3

" aku pulang ya, siapkan hati dan dirimu, minggu besok aku jemput" ucap Galang sebelum beranjak dari duduknya.


Dena menganggukan kepalanya lalu tersenyum.


Galang berjalan menuju kendaraan nya,dari jauh tampak Ardi sedang asyik memainkan ponselnya.


Galang membuka pintu mobilnya, segera saja Ardi memasukkan ponsel pada saku celananya.


" kemana kita mas, pulang atau ke kafe dulu atau ke rumah yang satunya lagi, secara orang tanvan plus crazy rich macam pak Galang pacarnya di mana- mana Di, Ardi" ucap Ardi yang mulai menjalankan mobilnya.


" ke kafe aja di, tapi nggak lama kok"


Ardi mengangguk- anggukkan kepalanya, lalu mobil pun berjalan di jalanan yang masih ramai.


Ardi menghentikan mobilnya setelah mereka tiba di kafe milik Galang, sementara Galang segera turun tanpa di ikuti oleh Ardi, karena dia bilang hanya sebentar saja, ada sesuatu yang harus dikerjakannya.


" malam Mas, tumben malam- malam ke kafe, ada apa nih" sapa Dimas yang duduk pada meja kasirnya.


" kamu ikut saya ke lantai atas di, ayo" ucap Galang seraya melambaikan tangannya pada Dimas, Dimas pun segera berdiri setelah sebelumnya ia memanggil Angga untuk menjaga meja kasirnya.


"ada apa lagi mas, apa mbak Anisa berulah lagi" tanya Dimas saat mereka kini tengah menaiki anak tangga untuk ke lantai dua.


" nggak Dim,tapi ternyata dia memang tipe wanita yang tidak dapat di cegah apalagi di ancam " jawab Galang yang kini tengah membuka kunci pintu geser nya.


" wah kalau begitu mas Galang harus bergerak cepat mas, takutnya semua akan terlambat buat mas Galang dan juga mbak Denanya" ucap Dimas yang berjalan mengekor di belakang Galang.


" kamu benar Dim,saya harus segera membatalkan perjodohan ini secepatnya.


Galang mengemasi barang- barang pribadinya yang ada pada ruang kerjanya.


" mungkin beberapa hari ini saya nggak ke kafe Dim, saya percayakan semua kebutuhan dan kepentingan kafe sama kamu ya, mintalah bantuan yang lain jika kamu merasa kuwalahan, oke! Galang menepuk pundak Dimas,


" dan jika tiba- tiba keadaan genting segera hubungi saya, jangan sungkan" ucap Galang sambil memasukkan laptop pada tas punggungnya.


" satu lagi Dim, jika Anisa datang kesini segera hubungi saya ya! ucap Galang sebelum melangkah keluar dari ruang kerjanya.


Dimas mengerti ,ia tersenyum lalu mengganggukkan kepalanya.

__ADS_1


" saya tinggal ya, akur- akur kalian disini, saya akan memantau daring dari rumah "


" nggeh mas, tenang saja, mas Galang fokus saja pada masalah yang harus segera di selesaikan, jangan mengkhawatirkan kami, kami ini sudah sangat- sangat dewasa, bukan masanya lagi untuk gotok- gotokan,ya nggak ngga" ucap Dimas kepada Angga yang tengah menghitung pesanan pengunjung.


" iya mas, benar itu, kami bisa di andalkan"tambah Angga yang dibalas dengan acungan jempol oleh Galang sebelum melangkah pergi meninggalkan kafe nya.


"kita pulang Di, jalannya santai aja, nggak usah buru- buru" ucap Galang setelah memasang seatbelt nya.


" baik mas" Ardi pun melajukkan kendaraan nya dengan kecepatan sedang sesuai perintah Galang, tak lupa ia putar sebuah lagu bergenre koplo dalam bahasa Jawa.


~abang biru lampu ne disco


awak Kuru ndue bojo loro~


Galang yang memang sedang menikmati alunan musik dalam lagu yang tengah di perdengarkan itupun nampak memicingkan matanya, lalu segera sadar bahwa lirik lagu itu,, ah.. Galang segera meraih handphone sopirnya itu, lalu ia sentuh tombol off nya.


" lho kenapa mas, bukannya tadi mas Galang nampak sangat menikmati alunan musiknya, tapi kenapa tiba- tiba di matikan" tanya Ardi yang sekilas menoleh pada Galang.


" musiknya saja, tidak dengan lirik lagunya, kamu sengaja ya, menyindir saya, hem! ucap Galang lalu melayangkan kepalan tangannya pada bahu Ardi sambil tertawa.


" maaf mas, tapi sungguh saya nggak ada niatan sama sekali lho untuk menyindir mas Galang, suwer" ucap Ardi menunjukkan dua jari nya.


Ardi nampak menggeser layar ponselnya.


kali ini Ardi nampak memutar sebuah tembang lawas yang di cover ulang.


~ bila ku tatap wajah mu yang


begitu lugu seakan ku tak percaya, aaa~


Galang nampak sangat menikmati alunan musik dan juga liriknya, mengingatkannya pada sosok Anisa, yang dengan wajah lugu nya namun siapa sangka memiliki kepribadian ganda, hmm ya ya ya,, begitulah cinta kisahnya tak pernah usai menemani kisah anak manusia.


Ardi membawa lexus Galang ke dalam garasi mobilnya, sementara Galang sudah berlalu masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu.


saat Galang sampai di rumahnya, suasana sudah sepi, hanya ada beberapa asisten rumah tangga yang sedang asyik bercerita sambil menonton acara televisi.


Galang naik ke lantai dua menuju kamarnya.

__ADS_1


setelah mengganti pakaian nya dengan pakaian yang lebih santai, Galang berbaring di atas tempat tidurnya, ia segera meraih handphone nya yang menyala pada layarnya.


"Dena, ah, aku lupa menelponnya, dia pasti mengkhawatirkan diriku"


" iya sayang, maaf aku baru sampe rumah, jadi belum menghubungi kamu" ucap Galang pada sambungan telepon nya terhadap Dena.


" kebiasaan deh, saya takut pak, kejadian yang menimpa papanya pak Galang terulang lagi"ucap Dena.


" nggak lah Dena, kan saya sama Ardi nggak lewat jalan itu" ucap Galang coba menenangkan kekhawatiran Dena.


tak ada hal penting yang mereka perbincangkan, hingga tak berapa lama panggilan pun berakhir.


Galang masih memikirkan bagaimana caranya ia memberikan alasan yang tepat untuk membatalkan acara lamaran nya bersama Anisa minggu ini,


"arrrggghhh, Galang menghempaskan tubuh nya di atas busa empuknya, karena tak jua menemukan solusi atas masalah yang dihadapinya, Galang pun akhirnya tertidur di ranjangnya.


keesokan harinya seperti biasa Galang yang sudah bersiap dengan segala perlengkapan kerja nampak menuruni tangga untuk sarapan bersama kedua orang tua nya, namun sebelum ia sampai pada tangga yang terakhir,dia mendengar suara tangisan dari arah kamar mama dan papanya, Galang segera membalikkan badannya, masuk ke dalam kamar sang mama,


dreeett... bunyi pintu bergeser.


Galang menghentikan langkah nya dengan wajah terkejut dia melihat sang mama tengah memeluk sang papa yang nampak terkulai lemah dengan mata terpejam dalam pangkuan mamanya.


" papa kenapa ma" tanya Galang seraya menghampiri kedua orang tuanya itu.


" mama nggak tau lang, saat mama hendak mengajak papa turun untuk sarapan tiba- tiba saja papa sudah tidak sadarkan diri " ucap sang mama dengan airmata Berlinangan dan tangannya yang sibuk menepuk- nepuk pipi suaminya itu.


" mama tenang ya, jangan panik, kita tidak bisa berpikir jernih jika panik begini ma, ini mama minum air putih dulu ya" Galang tanpak tenang,walaupun dia tak dapat menolak rasa khawatir nya terhadap sang ayah, yang nampak pucat dan lemah itu, sang mama nampak sedikit jauh lebih tenang sekarang.


" Siapkan mobil Di, kita kerumah sakit bapak pingsan, sekarang ya" ucap Galang pada Ardi melalui sambungan teleponnya.


Galang kemudian menggendong sang papa untuk segera di bawa kerumah sakit, agar mendapatkan tindakan medis secepatnya.


"sayang, papa pingsan dikamarnya, sekarang kami di rumah sakit, dan papa sedang di tangani oleh para dokter, do'ain papa ya"


Galang duduk di kursi tunggu setelah mengirimkan pesan untuk Dena, ia menemani sang mama yang sesekali tampak menghapus air mata yang masih mengalir dipipi nya.


" papa pasti baik- baik saja ma, doa mama selalu menembus langit, Galang sangat percaya itu" ucap Galang lalu membawa sang mama untuk ia sandarkan di bahunya.

__ADS_1


trimakasih, maaf baru update, see u...



__ADS_2