
Dena masih duduk di taman rumah sakit dan rupanya dokter Angga pun belum beranjak dari duduknya.
" kamu masih kuliah Dena, semester berapa? " tanya dokter Angga yang kini menatap Dena.
" iya dok, saya masih kuliah sudah semester tujuh" jawab Dena merasa tak nyaman kini, dia tau bahwa Galang masih mengawasi nya, sedangkan pria di samping nya ini belum menunjukkan tanda- tanda akan bergegas...
hmm, mana mungkin Dena tiba-tiba saja pamit, permisi, sedangkan sang dokter tengah asyik berbincang terhadapnya.
" wah sebentar lagi selesai dong, ada keinginan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjana? " tanya dokter Angga lagi.
" keinginan itu ada dok, tapi saya tidak tau apakah dapat terealisasikan atau tidak " jawab Dena.
" kenapa, apa masalahnya? " dokter Angga menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Dena, hal yang masih di perhatikan oleh Galang dari tempatnya berdiri, Dena tau itu, tapi kenapa pak dokter ganteng ini bikin hati Dena jadi nggak anteng ya, ada yang mantengin tuh Den..
" long story dok, maaf" ucap Dena menangkup kan kedua tangan di depan dadanya.
" apa terkendala biaya, sorry, sorry, saya hanya menggambarkan nya Dena, mungkin masalahmu mirip- mirip dengan saya dulu" ucap dokter Angga menirukan gerakan tangan Dena.
Dena menoleh sekilas melihat kepada dokter di sebelahnya itu.
" dokter dapat beasiswa, jalur apa dok? " Dena nampak menikmati Obrolannya kali ini, hingga ia lupa, bahwa ia sudah terlalu lama meninggalkan Galang dan kedua orang tua Galang, hmm, pamitnya tadi kan ke kamar kecil ya.
" jalur prestasi Adena,,a,,Adreena" jawab dokter Angga lalu ia pun tersenyum.
" panggil Dena saja dok" ucap Dena yang merasa jika pria itu kesulitan menyebutkan namanya.
Angga mengangguk- anggukan kepalanya.
" tapi dokter hebat dong, bisa kuliah kedokteran dapat beasiswa, jalur prestasi lagi, ughh paket komplit itu" puji Dena, yang membuat Angga tersenyum malu.
" itu hanya sebuah keberuntungan Dena, Alhamdulillah saya bisa mewujudkan impian satu- satunya orang tua saya"
Dena mengerutkan dahinya mendengar kata- kata dari dokter tersebut.
" maksud dokter? " tanya Dena.
"aa, iya" baru saja sang dokter akan bercerita, sebuah notice masuk di ponselnya.
" a, maaf Dena, saya harus kembali ke ruangan saya, kapan- kapan kita ngobrol lagi, di lain tempat, oke" ucapnya kepada Dena, lalu bergegas pergi.
Dena merasakan bulu kuduk nya berdiri, ia pun mengeratkan pegangan tangannya lalu mengusap- usap tengkuknya,ia pun bergegas meninggalkan area taman di rumah sakit itu untuk kembali ke ruang perawatan dimana papanya Galang dirawat, Dena manatap lurus ke depan, namun saat melewati sebuah lorong, bulu kuduknya kembali meremang,
" ih, kok horror banget sih disini, siang hari juga, masa iya, ada dedemit berkeliaran, gumam Dena, ada den dedemit kesiangan,, hehehe.
saat itulah Dena merasakan seseorang menyentuh satu tangannya.
__ADS_1
Dena yang sedang dalam ketakutan itupun, reflek mengibaskan tangannya dengan kencang hingga mengenai hidung orang yang akan menyentuhnya tadi.
Dena menoleh untuk memastikan apakah mahkluk di sampingnya ini, nyata ataukah mahkluk astral,, tapi tunggu, tunggu, Dena mendengar suaranya mengadu kesakitan, dan Dena sangat faham siapa pemilik suara itu...
" aww, sakit Dena" ucap pria yang kini tengah mengusap hidungnya yang berdarah terkena ajian tapak wisa dari Dena , eits salah, salah, ajian tapak tangan maksudnya.
" pak Galang, ucap Dena lalu menundukkan tubuhnya menyamai Galang yang memang tengah terduduk, merintih kesakitan.
"kenapa bapak mengendap- endap, kayak orang mau nodong aja, kan saya reflek pak, maaf" lirih Dena, lalu mengeluarkan tisu dari dalam tas selempang nya, ia pun segera membersihkan sisa darah yang masih menempel pada hidung Galang, saat tangan Dena tak sengaja menyentuh pipi Galang, Galang pun langsung meraih tangan Dena tersebut.
" hanya luka kecil, walaupun tampak berdarah tapi sakitnya tak membekas lara dan tak akan lama, yang perlu kamu tau luka disini" Galang membawa tangan Dena lalu ia letakkan pada tengah dadanya.
" lukanya tak berdarah Dena, tapi sakitnya, bahkan akupun tak tau, rasa seperti apa ini, rasanya pedih, perih, sesak penuh, beradu dan bergemuruh"Galang melepaskan tangan Dena perlahan.
" maaf Pak, tapi sungguh saya belum pernah berjumpa dengan dokter itu sebelum ini, ini kali pertama " ucap Dena.
" awal yang membahagiakan bukan? " kalimat Galang sarat akan sindiran.
Dena menautkan alisnya, lalu berdiri.
" kenapa mudah sekali menyimpulkan,bapak hanya melihat dari luarnya saja, jika itu sebuah rasa cemburu, jujur cemburu bapak lebih dari sekedar cemburu buta, seharusnya tanyakan dulu kebenarannya, apa yang kami perbincangan, bukan asal tuduh seperti itu" Dena bergegas pergi meninggalkan Galang, yang masih duduk termangu.
" yang salah siapa, yang marah siapa, apa benar jika wanita itu tak pernah salah atau tak pernah merasa bersalah, arrghh, Galang berlari menyusul Dena yang hampir membuka handle pintu ruang perawatan papanya, Galang segera mencekal tangannya.
" jangan tunjukkan wajah kusut kita di hadapan papa dan mama saya, bisa? tanya Galang masih menggenggam satu tangan Dena.
" trimakasih " ucap Galang lalu menyingkir agar Dena masuk terlebih dahulu.
" kembali kasih" Dena pun melenggang setelah pintu terbuka.
" kekamar kecil kok lama banget Dena, kamu baik- baik saja? " tanya Ryanti ketika kini Dena duduk di samping nya.
" baik- baik saja bu, tadi pak Galang ngajakin Dena duduk- duduk sebentar di taman.
eits,,, Galang yang mendengar ucapan Dena itu pun, mencebik.
" aku, ngajakin duduk di taman? , oh ayolah Dena, lihatlah darah yang baru kering di hidungku ini, hasil karya tanganmu, dan luka di hati yang tak terlihat dan hanya aku yang merasakan nya, hmm, rupanya kamu benar- benar menghayati peranmu saat ini ya" bathin Galang yang kemudian ikut duduk di samping Dena.
" kenapa tangan mu itu lang" tanya Wijaya yang tak sengaja melihat ada noda merah di lengan Galang.
" a,, tadi Galang tiba- tiba mimisan pa, tapi sudah sembuh kok" jawab Galang sekenanya saja, mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi tadi.
" ma, emangnya waktu kecil Galang pernah mimisan ya, kok mama nggak pernah cerita ke papa sih? " tanya Wijaya, namun lihatlah bola matanya yang ke sana kemari seolah tau jika Galang tengah berbohong kepadanya.
" seingat mama sih nggak pernah pa, tapi mungkin mimisan Galang ini beda tipe ya"jawab Ryanti sambil Mengerlingkan satu matanya.
__ADS_1
" iya ma, tipe- tipe habis kena tonjok sepertinya"ucap Wijaya, yang kemudian meraih Gelas yang ada di atas nakas, Galang yang melihat jika sang papa sedikit kesusahan untuk meraih gelas minumnya itupun, segera meraihnya lalu memberikannya kepada Wijaya, saat itulah Wijaya sedikit berbisik kepadanya.
" anter pulang gih, berantem jangan lama- lama nanti jadi terbiasa, nggak bagus! " ucap Wijaya yang di angguki oleh Galang.
Galang lalu menghampiri Dena yang tengah sibuk dengan ponselnya,
"kita pulang saja, disini nggak aman, papa juara dalam me roasting, aku nggak yakin kamu bakal kuat, ayo" ucap Galang kemudian bergegas meraih jaket denim nya, kemudian ia sampirkan pada bahunya.
" Galang anter Dena pulang dulu ma, Galang segera kembali, apa ada sesuatu yang mama butuhkan? tanya Galang sebelum meninggalkan ruangan itu.
sang mama yang sudah mendapatkan kode dari sang papa pun mengerti.
" nggak ada lang,nanti kalau mama butuh sesuatu mama telepon kamu"
Galang menganggukkan kepalanya lalu bergegas pergi, Dena pun tersenyum kepada kedua orang tua Galang sebelum meninggalkan ruangan itu.
Dena merasakan kehangatan saat dirasa sesuatu menempel pada bahunya, ia pun menoleh dan ternyata Galang tengah menyampirkan jaket denim nya tadi di bahu Dena.
" pakailah, mendung di luar, sepertinya hujan akan segera turun " ucap Galang mempercepat langkah kakinya menuju basement rumah sakit ini.
tak ayal Dena pun mempercepat langkah nya agar tak terlalu jauh tertinggal.
____________
________
\_\_\_\_\_
Galang melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang, hujan yang turun dengan derasnya membuat jarak pandang pada kaca mobilnya sedikit terganggu. tak ada percakapan antara Galang dan Dena, padahalkan Galang sudah di wanti- wanti tadi oleh sang papa,Galang mengeratkan cengkeraman tangannya pada kemudi nya, macet di tengah derasnya hujan, seharusnya kan ini adalah moment- moment romantis bagi pasangan kekasih ya, tapi sepertinya hal itu tidak berlaku untuk pasangan kekasih yang satu ini.
Galang menghentikan mobilnya ketika lampu lalu lintas berubah merah.
" Dena, maafkan sikap kekanak-kanakan saya" ucap Galang yang kini tengah menatap Dena yang sedang melihat keluar jendela mobilny, Dena tak menggubris ucapan Galang, sebenarnya ia tengah menikmati guyuran hujan yang membasahi kaca mobil Galang yang sangat meneduhkan baginya, tapi rupanya Galang mengartikan hal lain di balik acuh nya Dena, dia melihat bahwa ternyata di sampingnya ini adalah mobil milik dokter muda yang menemui Dena di taman rumah sakit tadi.
" rupanya kamu benar- benar sudah terpesona dengan pesona dokter muda itu Dena" lirih Galang yang di dengar Dena, Galang segera melajukkan mobilnya setelah lampu lalulintas berubah hijau.
" maksud bapak siapa, saya, terpesona sama dokter Angga? " tanya Dena tak mengerti, karena memang dirinya tak tau jika mobil yang berada di sebelah mereka tadi adalah mobil dokter Angga.
" oh dokter Angga namanya, sepertinya kalian sudah saling bertukar informasi ya"ucap Galang yang kemudian menambah laju kecepatan mobilnya, membuat Dena merinding kini.
" kurangi kecepatannya pak, saya takut"cicit Dena yang kini meringkuk bagai koala, di tengah derasnya hujan dan petir yang terdengar saling bersahutan.
Galang yang mendengar ucapan Dena itupun tersadar bahwa ia tak seharusnya bersikap seperti ini, baru juga minta maaf lah kok sudah di ulangi lagi,, Dena, Dena nasib mu menjalin hubungan dengan pria dewasa sekelas Galang ya,, harus banyakin sabar nya ya... hehehe.
trimakasih, sudah baca semoga selalu suka.
__ADS_1
see u...