Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
tetap tenang.


__ADS_3

Galang masuk ke kamarnya, entah mengapa perasaan nya sangat bahagia kini, padahal kan tadi dia melihat Dena bersama seorang pria, o,,. mungkin si bunga lili lah sumber kebahagiaan nya saat ini, Galang senyum- senyum sendiri sambil memeluk guling empuknya,, hayo lagi mbayangin apa tuh pak dos,,,,


sementara itu di kamar nya dena tampak masih menimang- nimang bunga lili putih di tangannya.


" kenapa bunga ini mengingatkanku sama pak Galang ya,, oh ayolah Dena, dia hanya masa lalu mu, bahkan mungkin sekarang dia sedang menikmati manisnya menjadi pengantin baru, dan menikmati masa- masa honeymoon bersama tante Anisa itu" gumam Dena, coba mengalihkan pikir nya tentang Galang, hingga sebuah pesan masuk dari nomor tak di kenal.


~ kamu suka bunganya,,?


i love u, more,,


Dena melempar handphone nya sembarang, kemudian dia memperhatikan bunga di tangannya kini,


" kok aku jadi takut ya, apa mungkin bunga ini dari orang yang mengirim pesan tadi, Hi,, " Dena bergidik ngeri lalu menghempaskan bunga lili putih itu di bawah jendela kacanya.


Dena naik ke tempat tidurnya, mencoba memejamkan mata namun tak kunjung terpejam, hingga ponsel nya berdering, sebuah panggilan masuk untuk nya.


" dokter Angga" gumamnya lalu menerima panggilan dari sang dokter.


" malam dokter" ucapnya ramah.


" malam juga Dena, kamu belum tidur? " tanya sang dokter berbasa- basi.


" belum dok, nggak bisa tidur nih, kayaknya Insomnia deh, punya resep nggak dok biar bisa cepet tidur? " tanya Dena.


" resepnya, buka Al-Quran, terus dibaca sampai matanya lelah, pasti langsung tertidur, tapi nanti bacanya setelah kita selesai ngobrol oke" pinta sang dokter di ujung telepon nya.


Dena terdiam, "bukannya baru siang tadi ya, berjumpa terus berbincang- bincang panjang lebar, ketawa- ketiwi, haha hihi, lah kok sekarang mau ngobrol lagi, apa coba yang mau di obrolin? " bathin Dena dalam diamnya.


" Dena, kamu masih di situ, kok diem aja sih? " tanya sang dokter yang membuat Dena terkesiap seketika.


" a, iya dok, saya disini, dokter mau cerita apa sama saya" tanya Dena.


" kamu masih menyimpan bunga lili tadi Dena " tanya dokter Angga memulai obrolan mereka.

__ADS_1


" emm, masih dok, emang nya kenapa? " Dena balik bertanya.


" kamu nggak curiga bunga itu dari siapa dan untuk siapa? " tanya sang dokter lagi.


Dena diam, sebenarnya dia nggak ada ya rasa curiga atau yang gimana- gimana gitu, tapi setelah membaca pesan dari orang tak di kenal tadi, Dena pun mulai menghubung- hibungkan nya dengan mantan cinta pertamanya itu, tapi kan nggak mungkin juga ya, hil yang mustahal itu mah,,,


" dok, saya mau cerita deh"ucap Dena.


" apa, cerita aja, saya akan setia menemani di sini "ucap sang dokter yang membuat Dena mengulum senyumnya kini.


" dokter romantis banget sih, pasti pacarnya bahagia banget ya punya kekasih seperti dokter Angga ini"


" saya nggak punya pacar Dena, inginnya langsung nikah saja, keburu kadaluwarsa nanti kalau harus pacaran dulu" jawab sang dokter dengan senyum manis di bibir nya.


" wuih main sat set sat set aja ya dok, bagus itu, prinsip hidupnya simple nggak neko- neko saya suka" ucapan Dena membuat jantung sang dokter Berdegup kencang,seperti generang mau perang,, asyeekkk,,


" ya udah, tadi katanya mau cerita, apa? nanti keburu ngantuk kamunya" ucap Angga lagi.


" emm, saya dapat kiriman pesan dari nomor nggak di kenal dok" ucap Dena.


" dia bilang, apa saya suka sama bunga nya?


" hmm, saya sih udah feeling Dena, kamu kurang peka seperti nya, mana mungkin bunga sebagus itu sengaja di buang, terus kenapa jatuhnya harus di sana tadi,itu posisi nya tidak jauh kan dari rumah mu?" tanya Angga.


" saya nggak terpikir sejauh itu dok, mana saya tau kalau bunga itu memang buat saya, lah wong sudah teronggok di tanah kan tadi? " sanggah Dena.


" ya bisa aja kan waktu dia akan menemui kamu, tapi kamunya sedang bersama saya tadi kan, jadilah bunga nya ia tinggalkan di situ, wah maaf kan saya Dena, gara-gara saya kamu gagal deh ngedate sama pengagum rahasia mu" Angga tertawa kecil di balik telepon nya.


" dokter sotoy, saya nggak percaya itu, palingan orang salah kirim pesan aja tadi, buktinya dia nggak hubungin saya lagi dok"


" ya mudah- mudahan saja iya, kalaupun tidak berarti juga iya" ucap sang dokter tertawa kini.


" kok, iya semua sih dok, dokter menghina saya nih ceritanya, awas ya, kalau saya tau siapa pacar dokter, abis dia sama saya" ucap Dena lagi.

__ADS_1


" saya nggak punya pacar Dena, jadi ancaman mu itu nggak tepat sasaran"


" hoax!! bantah Dena tak percaya,,


mereka masih berbincang santai melalui sambungan telepon nya hingga malam semakin larut.


" terimakasih sudah menemani saya malam ini Dena" ucap sang dokter mengakhiri percakapan nya.


" hmm, night dokter Angga, see u" Dena sudah mengantuk berat, ia pun langsung terlelap setelah sambungan telepon terputus.


__________


_______


_____


lain Galang, lain Dena, maka lebih lain lagi dengan Anisa, mantan calon istri Galang, yang kini tengah duduk di kursi pesakitan nya, karena ia kini sedang di adili oleh papa dan mamanya.


" papa sangat kecewa kepada mu Nisa,rasanya papa tidak ingin melihat pagi di esok hari, papa malu nisa, malu sekali, apa yang harus papa katakan kepada keluarga mas Wijaya, alasan apa, sungguh kau telah membunuh kami secara perlahan" Broto tertunduk lesu sedangkan sang istri dengan isak tangisnya masih berusaha menenangkan sang suami.


" sudah lah pa, tidak ada gunanya kita meratapi kemalangan ini, lebih baik kita pikirkan langkah selanjutnya, Nisa!sang mama menoleh kepada Anisa yang tampak menyeka air matanya,


" i,,iya, ma" jawabnya terbata.


" besok kita berkunjung kerumah orang tua nak Galang, kita selesaikan masalah ini, setelah itu kamu temui lah lelakimu itu, bicarakan semuanya hingga satu keputusan dapat kalian ambil hari itu juga, jangan membuang- buang waktu, mama nggak sanggup menanggung dosa dari perbuatan mu itu " ucap sang mama, ia kesal, kecewa, sakit hati dan malu itu pasti, tapi dia adalah seorang ibu, Anisa lahir dari rahimnya, tentulah ia tak bisa egois seperti sang suami, ia bukannya membela Anisa yang jelas-jelas telah melakukan perbuatan yang di larang oleh agama dan adat budaya nya, tapi selalu menyalahkan pun tidak akan merubah apa yang telah di lakukan oleh putrinya, lebih baik lanjutkan apa yang seharusnya memang harus di lanjutkan, hentikan yang memang tidak mungkin lagi di pertahankan.


" sekarang tidurlah, ini sudah sangat larut" ucap sang mama berdiri, lalu membimbing sang suami untuk ikut bersama nya.


hm, tetap tenang, jika ikhtiar sudah di ujung pasrah, jalan satu- satunya adalah Ikhlas.


trimakasih, semoga selalu suka


BarokAllah

__ADS_1


see u....


__ADS_2