
ini kali ke dua Dena mendatangi kafe Galang, namun sepertinya Galang memang tak ingin lagi berjumpa dengan dirinya, Dena sudah mempersiapkan semuanya dari rumah untuk dua kemungkinan yang akan ditemuinya di kafe Galang nanti,
kemungkinan pertama tentu saja jika Galang ternyata memang sedang berada di kafe nya maka Dena akan menanyakannya langsung terhadap Galang,
kemungkinan yang kedua jika ternyata Galang tak ada dan tak ada tanda- tanda akan mengunjungi kafe nya ,maka Dena akan menitipkan sepucuk surat untuk Galang yang akan di titipkan nya kepada salah satu karyawan Galang, apa mau dikata, ponsel Galang tak bisa dihubungi sejak satu minggu yang lalu dan hanya kafe inilah yang Dena tau.
Sudah lebih dari satu jam Dena duduk di kafe itu seorang diri, nasi goreng spesial dan segelas minuman dingin tak di sentuhnya sama sekali, dia hanya ingin bertemu Galang, tapi yang di tunggu- tunggu tak kunjung datang, hingga akhirnya ia putuskan untuk pulang saja, Dimas datang untuk menunjukkan bill pembayaran nya pada Dena, namun saat Dimas akan berlalu Dena memanggilnya.
" tunggu mas" ucap Dena yang berhasil menghentikan langkah kaki Dimas.
" iya mbak ada apa? " tanya Dimas ramah.
" maaf apa saya boleh minta tolong sama mas nya" tanya Dena terlihat kaku.
" selagi saya bisa membantu pasti akan saya bantu,mau minta tolong apa mbak? " tanya Dimas.
Dena mengeluarkan surat dari tas selempang nya lalu ia berikan kepada Dimas.
" tolong jika pak Galang kesini, berikan ini untuk pak Galang ya, maaf karena ponsel pak Galang nggak bisa di hubungi, saya bingung mas" ucap Dena lirih, Dena yang lemah dia tak pernah jatuh cinta apalagi menjalin hubungan dengan lawan jenis, Galang adalah pria pertama bagi Dena, tapi kenapa seperti ini, dia tak tau apakah ini yang namanya patah hati, bukankah ia tak ingin tau apalagi merasakan apa itu yang namanya patah hati, dia bertekad pacaran cukuplah satu kali seumur hidup nya,satu Galang selamanya hanya Galang, tapi rupanya khayalan tak seindah kenyataan, biarlah cinta pertama nya ternyata tak berakhir indahindah tetapi sangat menyakitkan.
" iya mbak, nanti akan saya sampai kan sama mas Galang jika beliau ke sini" ucap Dimas kemudian berlalu, ia tak sanggup melihat wajah Dena yang sendu dan matanya yang mulai berkaca- kaca,
"sebenarnya saya tau mbak,jika dirimu itu pingin bercerita banyak hal tentang mas Galang sama saya, tapi bayang- bayang tatapan tajam mas Galang seolah mengintai dari bilik persembunyiannya, dasar plin plan sampean mas,mas,dulu aja cemburu nya gak kira- kira, lah sekarang kok tega nya juga nggak kira- kira ya, jahat kamu mas" gerutu Dimas.
Dena bergegas melajukkan scooter matic kesayangannya di jalanan yang masih cukup ramai, ia tak tau harus kemana, namun ternyata ia mengarahkan laju roda duanya menuju ke sebuah pusat perbelanjaan.
Dena terus melangkah, ia masuk ke counter pakaian khusus pria, dia tak sadar bahwa pengunjung disana semuanya pria, kecuali seorang pramuniaga yang tampak memperhatikan Dena.
" ada yang bisa di bantu mbak, saya lihat mbaknya seperti orang bingung, mungkin bisa di tanyakan ke kami" ucap pramuniaga itu ramah.
Dena berhenti lalu ia melihat ke sekeliling nya, Dena baru menyadari jika tempat ini adalah...
" ah, bodoh sekali, nagapin coba aku ketempat ini, rupanya memikirkan mu, mengalihkan konsentrasi ku pak" bathin Dena yang kini tersenyum malu, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Dena lelah, lalu duduk pada rest area yang terdapat di pusat perbelanjaan itu, Dena yang tengah fokus pada layar handphone nya tak menyadari jika di sebelahnya ada seorang pria yang juga tengah duduk bersandar, sepertinya lelah juga, pria itupun menoleh, senyum teesungging di bibir tipis nya.
" lagi nungguin siapa? " tanya sang pria dengan suara lembutnya.
Dena yang mendengar jika ada orang yang menyapa atau bertanya padanya itupun lalu menoleh.
__ADS_1
" dokter Angga" ucapnya tak percaya
"udah dari tadi ya duduk di sini, kok saya nggak sadar sih" ucap Dena sumringah seolah ia lupa dengan kegalauan hatinya.
" saya di sini sebelum kamu Dena, mungkin karena suasana yang cukup ramai jadi kita tidak begitu memperhatikan suasana di sekitar kita" jawab Angga santai.
" sendirian atau sama teman? " tanya Angga lagi.
" sendirian saja dok, dokter sendiri? " Dena balik bertanya.
" nemenin mama belanja, udah dari tadi sih cuma saya capek, jadinya istirahat dulu di sini, eh malah ketemu kamu" jawab Angga tersenyum dengan pandangan tak lepas pada wajah Dena.
" jangan memandangi saya seperti itu dok, saya bisa jantungan" ucap Dena memalingkan wajahnya, ia tak ingin melihat wajah tampan dan senyum manis sang dokter, bikin jantungan dok, hehehe, nggak apa- apa Den, kan kalau jantung nya bermasalah ada dokter Angga disini.
" oh, maaf Dena, saya nggak bermaksud untuk itu, tapi saya hanya merasa wajah kamu seperti menyimpan banyak masalah Dena, kenapa, masalah kuliah, berantem sama pacar kamu? , jadi ceritanya healing nih" goda Angga yang di tanggapi Dena dengan senyum tipis nya saja.
" nggak dok, saya lagi bosen aja, nggak ada masalah kok" elak Dena mencoba menghadirkan aura ke ceriaan di wajahnya, namun tetap saja tak mampu menutupi besarnya rasa kecewa di hatinya.
" nggak apa- apa jika kamu belum terbuka sama saya, itu hal yang wajar Dena, kita baru bertemu beberapa kali saja bukan? pastinya tidak semudah itu untuk dapat percaya kepada orang yang terbilang asing buatmu, maaf, jika terlalu jauh mencampuri urusan pribadimu, tapi kalau masalah kuliah saya rasa itu bukan hal yang terlalu pribadi Dena" ucap Angga yang kini mengalihkan pandangan nya, ia tau Dena sedang tidak baik- baik saja.
" trimakasih untuk perhatian dokter" ucap Dena.
" boleh saya bantu bu" ucap Dena menawarkan diri.
ibu-ibu tersebut lalu memandangi Dena, tersenyum lalu memberikan beberapa paper bagnya kepada Dena.
" trimakasih,kita duduk dulu di sana nak, disana ada putra ibu yang sudah menunggu" ucap wanita paruh baya tersebut.
Dena memindahi pandangannya mencari dimana disana ada putra yang dimaksud wanita itu, dan disana hanya ada seorang laki-laki yang memang masih pantas di sebut putra oleh ibunya, masih muda gaess, hehehe lebih muda dari Galang sepertinya.
" maksud ibu dokter Angga? " tanya Dena penasaran.
wanita itu menoleh lalu tersenyum.
" iya, kamu kenal sama Angga nak? " tanya nya.
Dena tersenyum tersipu, "kenapa tadi main selonong boy aja sih, kan jadi malu Dena, Dena" bathin Dena.
Dena duduk lalu meletakkan satu paper bagnya di samping dokter Angga.
__ADS_1
" trimakasih sudah membantu mama saya kamu perhatian sekali Dena, padahal kamu nggak kenal kan sama mama saya, itulah perhatian yang sesungguhnya tidak ada embel- embel di belakangnya,saya terharu" ucap Angga berbisik di telinga Dena.
" jangan berlebihan memuji saya dok, saya,,, " belum selesai Dena berucap tapi sang dokter sudah menyela nya.
" kenapa kamu bisa jantungan juga kalau di puji " Angga berkata seraya memandangi wajah Dena yang tertunduk kini.
Dena menggeleng- nggelengkan kepalanya, ingatannya kembali kepada sang dosen yang kini menghilang entah kemana, wajahnya kembali murung di bawah sana.
" hey, kenapa sedih lagi, apa kata- kata saya melukai perasaan mu Dena, maaf jika iya" Angga menepuk pundak Dena pelan,
Dena mendongakkan kepalanya dengan tatapan sendu nya, ia mencoba tersenyum, namun senyum di bibirnya tak bertahan lama saat tak sengaja ia melihat sosok pria yang memang saat ini tengah mengalihkan seluruh pikirannya dan tak ada kabar beritanya hingga saat ini, tapi kini tengah berjalan di seberang sana, tapi dia tak sendiri, ada wanita cantik yang berjalan di sampingnya, Dena tau siapa wanita itu.
" pak Galang " lirih nya, hatinya hancur kini, sangat- sangat hancur, hingga tanpa ia sadari airmata nya mengalir tak dapat di bendung begitu saja,
" apa ini adalah jawabnya" gumam Dena lagi dengan airmata yang semakin berderai, Angga yang memang tengah memperhatikan Dena itu pun sibuk memindahi penglihatannya antara Dena dan pasangan di seberang sana, yang diyakininya bahwa Dena mengenali kedua orang yang tengah berjalan berdampingan itu.
Angga menghapus airmata Dena yang mulai membasahi pipinya.
" saya antar pulang sekarang ya" tanpa bertanya siapa dan kenapa, Angga langsung menawarkan diri untuk mengantarkan Dena pulang, dena teflek menganggukan kepalanya lalu berdiri.
Angga sedikit berbincang kepada sang mama, jika ia akan mengantarkan Dena pulang menggunakan mobilnya, sang mama pun mengizinkannya.
Angga mempercepat langkah kakinya, karena Dena sudah jauh di depan sana.
" Dena tunggu" suara Angga mampu menghentikan langkah kaki Dena, tapi rupanya bukan hanya Dena yang mendengar panggilan dari Angga itu, tapi lihatlah pria di seberang sana yang kini menatap sedih kepada Dena.
" Dena" lirih sang pria lalu menundukkan kepalanya.
hehehe, dasar ora jelas kue lang, lang!!!!
nggae gatel ning ati... ( bikin jengkel di hati)
trimakasih, semoga selalu suka.
BarokAllah
see u....
__ADS_1