
Pagi pun tiba, Galang menyibak selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh nya malam tadi, ia pun bergegas masuk ke kamar mandi.
beberapa menit kemudian Galang sudah rapih dan harum dengan setelan casual nya hari ini, sebuah celana bahan panjang berwarna hitam ia padu padan kan dengan atasan polo shirt berwarna navi, Galang keluar dari kamarnya lalu turun ke lantai satu.
di ruang keluarga ternyata kedua orang tuanya sudah selesai makan pagi dan kini tengah bersantai, tampak mereka tengah membaca surat kabar edisi hari ini.
" pagi ma, pa" sapa Galang lalu duduk di tengah-tengah papa dan mamanya.
" hmm, harum banget kamu lang, mau ketemu siapa sih, roman- romannya kayak abg lagi kasmaran aja kamu" ucap sang mama memukul pelan bahu Galang.
" mama apa ih, emang kalau Galang harum, seger, rapih, harus ya di artikan seperti itu, nggak juga dong ma, Galang laper nih, sarapan dulu aja deh" ucap Galang beranjak dari duduknya, namun baru beberapa langkah ia berjalan suara Ardi, mengalihkan perhatian nya.
" pak, di luar ada tuan Broto beserta istri dan juga nona Anisa" Ardi menginformasikan kepada tuan besarnya.
Wijaya saling pandang dengan sang istri lalu keduanya memandang tajam kepada putra semata wayang mereka, Galang mengedikkan bahunya, ia menggelengkan kepalanya, pertanda iapun pura- pura tak tau sajalah, biarlah waktu yang menjelaskannya.
" ini bukan ulah mu kan lang? " tanya sang mama, Galang menyipitkan matanya, menggelengkan sekali lagi kepalanya.
" mama jangan suudzon dong sama anak sendiri, Galang masih menjadi anak mama yang sholeh hingga akhirat ya" tak ayal akhirnya Galang pun berbicara.
" kita buktikan di depan, apa bener ke sholehah mu bisa sampai di akhirat atau cukup sampai di sini" imbuh sang mama.
" buktikan saja ma, kalau ucapan Galang terbukti benar, mama harus kasih imbalan buat Galang " ucap Galang sebelum mama dan papanya melangkah untuk menemui tamu yang berkunjung pagi ini.
Galang mengekor di Belakang kedua orang tuanya, ia duduk setelah memberi salam kepada mantan calon mertuanya itu.
__ADS_1
" wah, ada berita apa nih, pagi-pagi sekali mas broto dan keluarga berkunjung ke kediaman kami, kenapa nggak ngasih tau dulu tadi mas, untung kami masih di rumah" ucap Wijaya ramah yang di angguki dengan senyuman ramah pula oleh sang istri yang duduk di samping dirinya kini.
" sebelumnya kami mohon maaf mas Wijaya, karena kedatangan kami ini mungkin membawa berita yang sebenarnya tidak pantas untuk kita bicarakan " ucap Broto yang sekilas memandang kepada Anisa yang tampak menundukkan kepalanya.
Wijaya menoleh kepada sang istri di sampingnya, juga Galang yang ternyata memang sedang melihat ke arah nya.
" maksudnya apa ini mas Broto, apa yang tidak pantas untuk di bicarakan? tanya Wijaya tak dapat menyembunyikan raut kekhawatiran di wajahnya.
" nasi sudah menjadi bubur mas, bahkan ternyata bulir berasnya tak berkeinginan untuk menjadi nasi saat dulu kita sama- sama berencana menanaknya di atas perapian, kita lupa bahwa kayu tak akan sukses menjadi bara, apalagi untuk menjadi arang, jika kita lengah ketika menjaga perapian nya, api melahap nya hingga menjadi abu, semoga abu masih bisa berguna, paling tidak untuk meredam panasnya hawa dari bara yang membara"kalimat- kalimat kiasan yang terlontar sarat akan kekecewaan, namun Wijaya dan juga istri masih belum mengerti kemana arah pembicaraan calon besannya ini, tapi hal itu tentu saja tidak berlaku bagi Galang, dia tau setau- tau nya, wajahnya biasa saja, tak ada gurat kekecewaan apalagi kesedihan, mungkin ada rasa bahagia tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengekspresikan kebahagiaan nya itu, hingga dia memilih untuk diam.
" kami membatalkan perjodohan ini mas"kalimat itu akhirnya meluncur bagai bola panas yang menggelinding bebas, melewati siapa saja, termasuk Anisa yang menangis lirih kini, tak ada pembelaan yang pantas untuk dirinya.
Wijaya dan Ryanti membelalak kan matanya, tak percaya, sungguh ingin sekali mereka menampar pipi mereka sendiri saat ini, berharap ini adalah halusinasi belaka,tapi ternyata semua nyata, tak ada pengulangan kata- kata, namun dari sikap dan bahasa tubuh mereka, seolah meng iyakan apa yang coba Wijaya dan sang istri ingin bantahkan.
" kenapa bisa seperti ini mas, apa memang semuanya sudah tidak dapat di perbaiki lagi, Galang, Wijaya memindahkan pandangannya pada sang putra yang tak menunjukkan ekspresi apapun atas kalimat yang di ucapkan oleh calon besannya itu.
" apa sebenarnya yang terjadi antara kalian berdua, kenapa kalian tidak melibatkan kami dalam mengambil keputusan besar seperti ini, banyak hal yang harus di korbankan, kamu sadar dengan tindakan mu ini nak? tanya Wijaya pelan.
" masalahnya tidak terletak pada nak Galang mas Wijaya, tapi putri kamilah yang menginginkan agar perjodohan mereka di batalkan, alasan apapun itu yang melatarbelakangi keputusan nya ini, biarlah itu menjadi pelajaran berharga untuk dirinya, dan untuk semua konsekuensi yang harus kami tuai, kami sudah mengatur nya serapih mungkin mas, semua sesuai surat wasiat dari mendiang kakek buyut ananda berdua"ucap Broto dengan penuh kekecewaan yang mendalam.
Wijaya masih belum percaya untuk apa yang baru saja ia dengar, sekalipun ia tau bahwa Galang tidak menginginkan perjodohan ini, bahkan terbesit niat dalam hati putra nya itu untuk membatalkan perjodohan ini, namun ia tidak menyangka akan begini jawaban atas keraguan nya untuk rencana Galang tersebut, entahlah mungkin nanti akan ia bicarakan dengan Galang, duduk masalah yang sebenarnya.
" maaf mas Wijaya, sebaiknya kami undur diri, ada hal yang masih mengantri untuk minta di selesai kan" pamit Broto beranjak dari duduknya lalu menghampiri wijaya, mereka berpelukan.
"semoga kita bertemu dalam takdir yang lebih indah dari Ini mas Broto" ucap Wijaya menepuk pelan bahu mantan calon besannya itu.
__ADS_1
setelah mereka pergi meninggalkan kediaman Wijaya, kini Wijaya menghampiri Galang yang tengah sibuk dengan ponsel di tangannya, ia akan beranjak pergi, namun sang papa mencegahnya.
" tunggu dulu Lang, papa masih penasaran dengan apa sebenarnya alasan Anisa memutuskan pertunangan kalian?
Galang tersenyum kemudian kembali duduk di samping sang papa.
" sebenarnya ini adalah masalah pribadi Anisa yang tidak perlu papa dan mama ketahui saat ini, tapi percaya lah, suatu hari nanti papa dan mama akan mengerti kenapa Anisa melakukan semua ini, percayalah pa, ma" ucap Galang menggenggam tangan papanya,
" Galang tidak terlibat dalam hal ini, hanya saja memang hal itu memang harus Galang syukuri, karena Galang ini laki- laki normal seperti seorang laki-laki pada umumnya, papa pasti sudah paham kan kemana arah pembicaraan Galang ini, ma,percaya lah Galang masih anak mama yang soleh dunia akhirat, terbukti kan ma? " Galang menoleh kepada sang mama.
" Galang menagih hadiah dari mama, mana nih hadiah buat Galang?
" hadiahnya nanti, kalau kamu sudah berhasil memberikan mama seorang menantu yang baik hati, sederhana, dan cantik juga, baru deh hadiah nya mama berikan" ucap sang mama, kemudian melangkah keluar mengikuti sang suami yang berjalan ke arah teras di samping rumahnya.
note:terkadang kita kecewa karena harapan yang kita buat sendiri,,
jika beban hidup membuat mu lelah
coba berbaringlah,
dan lihatlah bintang- bintang di atas sana.
trimakasih, happy weekend,
selamat tahun baru, semoga bahagia selalu.
__ADS_1
BarokAllah, see u,, next year.