Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
calon istri saya.


__ADS_3

Dena memutar bola matanya malas,


"kenapa, apa ucapan mas tadi salah? " tanya Galang.


" iya salah" ucap Dena masih memandangi pantulan tubuhnya didepan cermin.


" gaun sama orang nya,semua cantik " ucapan Galang sukses membuat Dena mengulum senyumnya.


merasa sudah sangat pas di tubuhnya Dena pun bermaksud melepaskan gaunnya, ia lupa jika Galang masih berdiri di situ.


" ehm" Galang berdehem, Dena tersenyum lalu menutup mulut dengan satu tangannya.


" maaf, lupa kalau mas masih disini" ucap Dena yang kembali akan membuka gaunnya, namun saat akan menurunkan zipper nya Dena kembali kesusahan,


" mas tolong " ucap Dena yang membuat Galang duduk kembali.


" apa? " tanya nya.


" zipper nya lagi" ucap Dena pelan.


Galang pun mendekat untuk membuka zipper pada gaun Dena.


sreeeeettttt,,,, terdengar bunyi zipper ditarik hingga kebawah, Galang memalingkan wajahnya saat punggung mulus Dena terpampang nyata di depannya.


" sudah" bisik Galang ditelinga Dena.


" makasih mas,tolong pegangin hujung nya" Dena pun melepas gaunnya hingga meluruh ke lantai, Galang memejamkan matanya, ya walaupun Dena ini bukanlah tipe cewek seksi yang terkadang tak mengenakan apapun di balik pakaiannya bahkan dia memakai inner lengkap sebagai pakaian dalamnya,tapi Galang tetap harus waspada kan bang napi,,?


" udah selesai mas, buka deh matanya" ucap Dena saat kini sudah mengenakan pakaian nya kembali.


Galang membuka matanya, lalu membantu Dena memasukkan gaun putih tersebut kedalam paperbag nya.


"ikut mas ke kantor sebentar ya" ucap Galang saat keduanya sudah berada di depan pintu.


Dena menganggukan kepalanya.


setelah menempuh perjalanan kurang lebih 35 menit, Galang dan Dena sudah tiba di kantor milik Galang.


"mas Ardi dimana mas? " tanya Dena sebelum pintu lift terbuka.


" ada di ruangan mas, kenapa nanyain Ardi kangen ya? " ucap Galang menggoda.


" iya, kangen banget, pengen cepet- cepet sampai"jawab Dena sengaja memanasi Galang.


" kamu,udah pinter sekarang ya, belajar dari siapa?


" nggak ada yang ngajarin,Otodidak aja"


" wuih punya bakat tersembunyi rupanya calon ibu presdir ini ya"


Dena tak menanggapi ucapan Galang tersebut, ia langsung melangkah ketika pintu lift sudah terbuka.


saat itulah tiba-tiba saja Olivia sudah ada di depan Galang menabrakan dirinya kepada Galang.


" duh kalimat nya,, frontal banget sih thor,,, hehe,


" duh, maaf Pak, saya nggak sengaja sungguh"ucap Olivia dengan wajah seolah- olah ia sangat menyesal, padahal ia sangat bahagia dalam hatinya.


Dena yang mendengar suara perempuan bersama Galang itupun kemudian menghentikan langkahnya lalu menoleh,


" kenapa mas? " tanya nya, saat ia melihat Olivia yang tengah berdiri di depan Galang, segera saja Dena menghampiri nya.


" ada apa? " tanya nya lembut kepada Olivia,


" nggak bu, saya nggak sengaja menabrak pak Galang, saya buru- buru, maaf" ucap Olivia


" udah selesai kan, boleh saya bawa calon suami saya masuk? " ucap Dena yang membuat Galang hampir tersedak air liurnya sendiri.


sementara Olivia hanya tersenyum saja, memberi jalan agar Galang segera melangkah bersama sang nona muda.


" ayok mas, ngapain masih disitu " Dena menatap kesal terhadap Galang.


Galang segera melangkah meninggalkan Olivia yang kini tersenyum licik dibibir nya.


"lihat saja apalagi yang bisa saya lakukan terhadap calon suami anda nona"bathinnya.


Dena menunggu Galang di depan ruangannya.


" kenapa nggak langsung masuk, nungguin mas? " tanya Galang ,saat ia melihat Dena masih berdiri di depan ruangannya.


Dena menganggukan kepalanya.


Galang menggeser pintunya lalu menggandeng satu tangan Dena,


" sepertinya kamu memang harus sering-sering ikut mas ke kantor Dena" ucap Galang seraya membuka jas hitam nya, Dena meletakkan jas Galang di sandaran kursinya, ia pun sibuk memperhatikan ruangan Galang dikantor nya ini.


" buat apa mas? " tanya Dena menanggapi ucapan Galang tadi.


Galang mengenakan kaca mata bacanya sebelum membuka file- file yang lumayan menumpuk di meja kerjanya.


" biar kamu terbiasa, kan perusahaan ini akan menjadi milik kamu juga " ucap Galang seraya memgelus tangan Dena.


" kok aku sih mas, kamu aja ah, aku nggak pantes " tolak Dena, lalu menyandarkan kepalanya di meja kerja Galang.


" ya nggak bisa nggak pantes dong, harus mulai memantaskan diri, kan kamu calon ibu presdir di perusahaan ini"


" kamu lelah? " tanya Galang mengelus puncak kepala Dena.


" dikit" Jawab Dena singkat, dengan posisi kepala yang masih menyandar di meja, Dena menoleh.


" mas"


" hem, kenapa?


" undangannya gimana, udah dikonfirmasi untuk tanggal resepsi nya" tanya Dena yang tak lepas memandangi wajah tampan Galang.


" udah, semua udah beres ,tinggal nunggu hari nya saja" jawab Galang seraya tangannya sibuk membuka file- file di depannya.


dreeetttt,, terdengar bunyi pintu digeser, saat itulah Dena melihat Olivia masuk.


" permisi pak, hari ini kita ada jadwal meninjau lokasi yang akan kita jadikan cluster perumahan di tengah-tengah kota, apa bapak sudah siap? " ucap Olivia manatap kepada Galang.

__ADS_1


" iya, kita akan meluncur ke lokasi sebentar lagi" ucap Galang, setelah nya Olivia pun keluar.


"kamu ikut juga ya" ajak Galang lalu merapikan map yang berisi file- file perusahaan.


" aku, ikut kemana mas? " tanya Dena bingung.


" ikut kerja bareng mas, buat meninjau lokasi yang akan mas beli dari tuan tanah didaerah itu, anggap aja ini training"


Dena mengerutkan dahinya, bingung akan ucapan Galang barusan.


" training jadi nyonya Wijaya " Dena merona pipinya kala mendengar ucapan Galang itu,


Galang beranjak dari duduknya, Dena pun meraih jas Galang lalu memakai kannya pada tubuh Galang.


" calon istri idaman " bisik Galang di wajah Dena.


Dena tersenyum,lalu mulai mengancingkan jas Galang.


" subhanAllah, gantengnya calon suami aku" ucap Dena lalu merapikan tuxedo Galang.


namun dengan gerakan cepat Galang menarik tubuh Dena hingga Dena ada dalam dekapan nya.


Dena mendongakkan kepalanya, Galang meraih dagu Dena, lalu semakin mendekatkan wajah mereka,


"jangan menggoda ku, kamu tau hanya mendengar suara bisikan mu saja bisa membuat goyah iman ku" ucap Galang pelan.


" aku nggak lagi menggoda kok, kamu aja yang mesum, baru di bisikin aja udah lemah iman, gimana kalau aku,,,, ahhh,, Dena berjengit kala Galang menarik pinggangnya lebih dalam,,


" apa, coba apa yang akan kamu lakukan jika dalam posisi seperti ini hem? " ucap Galang meraih dagu Dena.


" inget mas kita belum halal,, aku nggak ingin mengkhianati kepercayaan yang diberikan ibu" Dena beringsut namun rupanya itu sia- dia saja, karena Galang tak berniat melepaskan dekapan nya.


" mas" lirih Dena.


" apa, coba aja kalau bisa" ucap Galang.


" nggak bisa, maaf" pinta Dena tak mampu walupun sedikit saja, Galang benar-benar tak bisa mengontrol dirinya.


"auzubillahhiminassyaitonnirrojim"Dena bergumam, namun Galang masih dapat membaca gerakan bibirnya.


" mana setannya? " tanya Galang masih belum berniat merubah posisinya.


Dena pun menunjuk kearah dada Galang melalui gerakan bibir nya.


"aku, setan nya aku? " tanya Galang lagi.


Dena menganggukan kepalanya.


namun Galang tak mengindahkan nya,,


" mas, jangan kayak gini dong, siapa saja bisa melihat kita seperti ini, mas sengaja ya mau mempermalukan aku? " ucap Dena.


Galang yang tau kemana arah bicara Dena, tentu saja yang dimaksud Dena adalah pintu ruangannya yang masih terbuka lebar, karena si Olivia tak menutupnya setelah keluar dari ruangannya tadi.


Galang meraih remot control untuk pintunya, sejurus kemudian pintu sudah tertutup rapat.


" itu kan yang kamu khawatir kan? " ucap Galang dengan senyum smirk di bibir nya.


" mas, kenapa kamu kayak gini, kamu janji akan selalu menjaga ku, tapi kenapa sekarang kamu juga yang akan merusak ku? " tanya Dena dengan suara berat.


mata Dena mulai berkaca- kaca, tubuhnya bergetar rasa takut telah mendominasi dalam dirinya kala ia melihat Galang dalam versi lain, ya baginya saat ini Galang tak ubahnya laki- laki brengsek, pria mesum dan segala hal buruk adalah Galang.


saat keduanya tengah dalam pikiran nya Masing-masing, terdengar pintu diketuk.


tok


tok


tok


Dena menghapus air mata yang mulai mengalir dihujung matanya.


" mas, ada orang diluar, cepat buka pintunya " pinta Dena pelan.


" kamu masuk lah kedalam ruangan itu, biar mas yang membuka pintunya" sebelum Galang melangkah, Dena meraih satu tangan Galang.


" mas marah sama aku?


Galang tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


" kok dikunci sih lang,nggak biasanya kayak gini, kamu lagi ngapain, sama siapa? " tanya Ryanti, ya rupanya sang mama yang mengetuk pintu tadi.


" lagi ngapain aja, sama Dena ma" jawab Galang yang mendapat cubitan keras di perutnya dari sang mama.


" ngawur kalau ngomong, kalau nggak bisa ngomong yang baik-baik lebih baik diam, itu jauh lebih bermanfaat " ucap sang mama kesal.


" lho, bagian yang mana yang menurut mama adalah kalimat unfaedah itu, yang mana ma? " tanya Galang bingung.


" semuanya !! saat itulah Dena nampak keluar dari dalam ruangan yang di tunjuk Galang sebelum nya tadi.


" Dena, sejak kapan kamu di dalam sini nak, apa yang Galang lakukan terhadap mu, kamu baik-baik saja kan? " ucap Ryanti seraya mengitari tubuh Dena dari segala arah.


" Dena baik-baik saja bu, mas Galang nggak ngapa- ngapain Dena kok" ucap Dena, dengan tubuhnya yang tak henti di perhatikan oleh Ryanti.


Ryanti pun memindai pandangannya kepada putra tunggal nya itu.


" kok mama ragu ya sama jawaban kalian " ucap Ryanti bergantian memandangi wajah anak dan calon menantu ny itu.


belum lagi keraguan Ryanti terjawab, Olivia sudah datang dari arah pintu.


" ada apa liv, apa pak Galang ada kerjaan diluar? " tanya Ryanti.


" benar bu, saya datang untuk mengingatkan pak Galang, karena saya sudah menunggunya sejak tadi bersama mas Ardi, tapi saya tidak berani untuk,,,Olivia sengaja menjeda ucapannya,


"karena pintunya dikunci dari dalam oleh pak Galang" sambung Olivia sengaja membuat suasana semakin kacau, karena ia tau bahwa sang nyonya besar sedang jelek mood nya.


" benar itu lang" tanya Ryanti dengan wajah penuh selidik.


Galang menganggukan kepalanya, mengiyakan ucapan sekretaris nya itu.


" apa kita bisa pergi sekarang pak, maaf" ucap Olivia seraya menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Galang menoleh kepada Dena,


" ma, Galang pergi dulu, Dena akan ikut bersama Galang" ucap Galang lalu meraih satu tangan Dena, Dena menundukkan kepalanya saat melewati Ryanti.


" Dena tinggal dulu bu, maaf" ucap Dena pelan, Ryanti pun tersenyum.


setelah Galang dan Dena keluar dari ruangan milik Galang rupanya Ryanti masih penasaran dengan apa kiranya yang disembunyikan oleh anak dan calon menantu nya ini, Ryanti masuk kedalam kamar mandi, ia tak menemukan apapun didalam sana, lalu beralih pada ruangan kecil dimana Dena membenahi rambut dan juga pakaian nya yang terlihat acak- acakkan akibat perlakuan Galang tadi, namun hasilnya nihil.


hingga akhirnya Ryanti pun memutuskan untuk keluar dari ruangan Galang ini.


namun saat ia akan melangkah tiba-tiba indra penglihatan nya melihat sebuah benda kecil dan agak panjang tergeletak di lantai tepat dibawah meja kerja Galang.


" gelang, milik siapa, apa ini milik Dena? " tanya Ryanti lalu memasukkan gelang rantai kecil itu kedalam tas nya.


*


*


*


"apa maksud mu bicara seperti itu terhadap mama saya tadi live? " tanya Galang sebelum keluar dari dalam lift nya.


"nggak bermaksud apa- apa pak, saya hanya bicara sesuai fakta saja" jawab Olivia tegang.


Dena yang mendengar nada bicara Galang itu pun menepuk punggung tangan Galang.


" sabar mas, kendalikan emosi mu" bisik Dena di wajah Galang, mendengar bisikan dari Dena Galang mengeratkan genggaman tangannya.


" jangan berbisik kepadaku"ucap Galang pelan.


" maaf, sengaja" Dena menutup mulutnya dengan satu tangannya.


Galang memicingkan satu matanya, bingung dengan jawaban dari calon istri nya ini.


" kita lanjutkan nanti, sekarang tolong jangan ganggu,mas harus menyelesaikan transaksi ini segera "setelahnya Galang, Dena dan juga Olivia masuk kedalam mobil yang dikendarai oleh Ardi,


" kita langsung ke lokasi mas? " tanya Ardi menoleh kebelakang dimana Galang duduk bersama Dena.


"iya langsung aja di, udah tau kan lokasinya?


Ardi menganggukan kepalanya, mobil pun berjalan membelah jalanan yang cukup ramai.


Ardi memarkirkan toyota Porsche Galang di area parkir sebuah resto yang cukup luas.


" reservasi atas nama tuan Galang aditama Wijaya " ucap seorang wanita berseragam batik dihadapan Galang.


" iya benar" ucap Galang ramah.


" silahkan, meeting room tuan sudah siap" ucap wanita itu kemudian memandu Galang dan rombongan nya menuju tempat yang sudah disediakan Galang sebelum nya.


" caramel machiato 2,jasmine tea 2" ucap Galang sebelum duduk di kursinya.


tak berapa lama kemudian, dari arah depan tampak seorang pria paruh baya berjalan ke arah Galang yang tengah duduk bersama Dena dan juga Olivia,sementara Ardi duduk pada meja lainnya.


" itu adalah tuan Anugrah Dewantara pak, orang yang akan menjual lahannya" ucap Olivia pelan.


Galang segera berdiri untuk menyambut tamunya tersebut.


" tuan Galang aditama Wijaya" ucap pria tersebut mengulurkan satu tangannya.


" tuan Anugrah Dewantara" ucap Galang saat menerima jabatan tangan pria tersebut.


"2 hektar dengan harga dibawah rata- rata, apa anda sudah memperhitungkan semuanya dengan benar tuan Dewantara? " tanya Galang pada pria ber jas merah maroon di depannya itu.


" saya sudah memikirkan nya dengan sangat matang tuan Galang, anda boleh langsung meninjau lokasinya yang tidak jauh dari resto ini" ucap pria tersebut dengan yakinnya.


" maaf, apa lahan tersebut kosong ataukah terdapat bangunan, rumah warga mungkin? " Galang dan Olivia sontak saja mengarahkan pandangannya kepada Dena, Galang tersenyum melihat keberanian calon istrinya yang baru pertama kali menemaninya menemui klien itu,


" maaf Bu, sebaiknya anda jangan ikut berbicara sebelum pak Galang" bisik Olivia, Dena diam saja dia masih menunggu jawab atas tanya nya.


" bagaimana tuan Dewantara? " tanya Galang.


" ada tuan, di atas lahan itu berdiri sebuah musholla , tapi itu mudah, saya bisa langsung menggusur nya jika kita sudah deal dengan kesepakatan kita hari ini"ucap pria tersebut memandang tak suka terhadap Dena.


"mas, sebaiknya nggak usah diteruskan"bisik Dena kepada Galang.


Galang menganggukan kepalanya, tak ingin menimbulkan persepsi buruk terhadap klien nya itu.


" maaf, apa musholla itu masih aktif digunakan? " tanya Galang lagi.


" saya kurang faham tuan, tapi saya pikir itu bukanlah kendala untuk seorang Galang aditama Wijaya bukan? dengan harga di bawah rata- rata, lokasi yang sangat strategis, seharusnya hal itu tidak akan menjadi pertimbangan khusus untuk tuan Galang apalagi untuk membatalkannya, saya rasa tuan bukan lah orang baru dalam dunia perbisnisan" ucap pria tersebut kembali meyakinkan.


" baiklah saya akan siapkan cek, setelah kita meninjau lokasi nya " ucap Galang pasti, sementara Dena menarik nafasnya berat kala mendengar keputusan Galang ini.


" mas" ucapnya pelan.


Galang mengelus punggung tangan Dena di bawah mejanya.


akhirnya setelah meninjau lokasi lahan yang akan di beli, Galang pun melakukan transaksi pembayaran hari itu juga, dan kini mereka sudah duduk kembali di dalam ruangan sebelumnya tadi.


Galang memindai pandangannya,,


" cari mbak Dena mas" ucap Ardi yang tau jika Galang tengah mencari calon istri nya tesebut.


" iya kemana dia? " tanya Galang.


" mbak Dena sudah ada di dalam mobil mas, kelihatan nya beliau kecewa dengan keputusan yang mas Galang ambil " ucap Ardi.


" hem, ya sudah tolong di awasi Di, aku takut dia pergi " Ardi bergegas menuju area parkir memperhatikan Dena yang ada didalam mobil Galang.


" sekretaris baru tuan? " tanya Dewantara ketika mereka kembali duduk.


" calon istri saya" ucap Galang yang membuat Dewantara salah tingkah kini, untung dia tak mengucapkan apa yang ada didalam benaknya tadi, sejak awal dia memang sudah melihat dari tatapan mata Dena, bahwa wanita itu tampak Tidak menyukai kedatangan nya.


"maaf, saya sudah salah menduga"ucap Dewantara kikuk.


Galang tersenyum.


trimakasih, maaf baru up


jazakumullah khoiron

__ADS_1


see u,,,,



__ADS_2