
masih dalam sesi tanya jawab antara Galang dan papanya dan ada juga sang mama di balik peraduan nya eh, salah persembunyiannya ya....
" pilih salah satu jangan serakah" ucap sang papa dengan senyum terukir di bibirnya.
" Dena pa, Galang sangat mencintai nya begitu pun sebaliknya" jawab Galang tegas sekali jhooooon, tanpa, a, tanpa e, apalagi O....
" lalu bagaimana nasib perjodohan mu dengan Anisa, papa lihat dia dan kedua orang tua nya sangat ingin menjadikan dirimu sebagai menantu mereka "
Galang diam, entah apa yang dipikirkan nya, nyatanya memang ia sangat bingung kini, di satu sisi dia bahagia karena rupanya satu perjuangan nya tak harus di tuntaskan, karena sang papa rupanya memberikan lampu kuning untuk hubungannya dengan Dena, inget lang kuning bukan hijau ya... itu artinya kan masih harus berhati-hati, lalu bagaimana dengan Anisa dan kedua orang tuanya,sungguh tak ada niatan di hati Galang untuk menyakiti perasaan siapapun disini.
" apa papa punya solusinya untuk masalah Galang ini pa? " tanya Galang berharap jawabannya adalah iya,
wes angel, angel.
" kenapa dulu kamu tidak menolak perjodohan ini lang, padahal kan waktu itu kamu sudah menjalani hubungan sama mahasiswi itu kan? " tanya sang papa.
Galang kini memindahi wajah sang papa, terstruktur dari inci ke inci, dari hujung alis mata sampai ke hujung bulu hidung, ah, kenapa papanya ini berubah jadi Tom pada Jerry sih, tapi kalau papanya ini pura- pura oon kayaknya ya, atau sengaja, pertanyaan nya itu lho, sungguh sangat menghinakan, sedangkan sang papa nya sendiri adalah sosok yang tak ingin di perdebatkan di semua perintah nya, dan bukankah perjodohan ini adalah ide, perintah dan paksaan dari dirinya, lah kok sekarang nanya, kenapa dulu....?
dan jawaban nya tentu saja, karena Galang nggak mau di cap sebagai anak durhaka oleh sang papa, sekarang apa?
"Galang tak ingin pernah mengecewakan papa, dan semoga sampai detik ini pun tak akan pernah terjadi" jawab Galang lagi.
" hmm,apa papa terlalu memaksakan kehendak papa kepadamu nak? " tanya Wijaya dengan tangan terulur menyentuh bahu Galang.
" nggak pa, Galang yakin semua keputusan papa hanya inginkan yang terbaik untuk Galang, tapi entah kenapa tidak dengan perjodohan dengan Anisa ini pa, Galang merasa tidak harus patuh, namun dengan cara apa? Galang bingung, dan hanya dengan Dena Galang bisa mengatasi semua kekalutan dan kebingungan Galang, dia sabar menanti dimana bermuara nya hubungan kami, bahkan sampai detik dimana saat papa dan om Broto tiba-tiba ada di rumahnya, apa papa yakin ini hanyalah sebuah kebetulan belaka? " tanya Galang kepada sang papa.
__ADS_1
" tidak ada yang kebetulan dalam dunia ini nak, semua sudah tertulis dalam suratan takdir Nya" jawab sang papa.
" lalu?sekarang apa rencana papa untuk Galang?
"apa yang kamu harapkan dari papa?
" satu yang dari awal ingin Galang perjuangkan dari papa terhadap hubungan Galang dan Dena, yaitu restu " ucap Galang lalu menundukkan kepalanya.
Wijaya terdiam, sungguh dia telah merasa menzolimi putra semata wayangnya ini, merebut kebebasannya dalam menentukan pilihan hidupnya, kepatuhan Galang selama ini sungguh telah menjadikannya kepala keluarga dan ayah yang diktator, tak bisa di bantah, walaupun ia tak pernah berkata dan bertindak secara kasar ,namun penekanan pada setiap kalimatnya adalah hal yang tidak dapat di tawar lagi. kini apakah sudah terlambat, disaat dia dan sang kolega nya, yang tak lain adalah Broto ayahnya Anisa telah melakukan kesepakatan untuk menjodohkan putra dan putri mereka yang hanya satu- satunya itu.
" maafkan papa lang, tapi minggu ini kedua orang tua Anisa menginginkan kita untuk segera meresmikan hubungan kalian, minimal lamaran dulu sebagai tanda jika kamu dan Anisa memang sudah terikat dalam ikatan sebelum pernikahan " ucap sang papa, nampak penyesalan di wajah lelah nya.
" apa papa sudah menyanggupi permintaan dari mereka itu pa? " tanya Galang lagi.
Wijaya dapat melihat raut kekecewaan di wajah putra nya ini.
Galang tiba- tiba memeluk sang papa.
" papa nggak usah sedih dan merasa bersalah seperti ini ya, bagi Galang puncak perjuangan cinta Galang dan Adreena adalah untuk mendapatkan restu dari papa, dan sekarang apa yang sudah ada dalam genggaman Galang ,bahkan sebelum Galang meminta apalagi memperjuangkannya dari papa, papa sudah memberikan nya terlebih dahulu, trimakasih pa"
belum selesai Galang berucap namun rupanya Wijaya sudah menitikkan bulir-bulir bening di matanya.
" trimakasih untuk apa lang, bahkan semua kesusahan kalian adalah karena papa" ucap Wijaya sambil menyeka sedikit air matanya.
" doa restu papa dan mama adalah segalanya bagi Galang, lalu apa lagi yang harus Galang takutkan, nggak ada pa"
__ADS_1
" Anisa? " tanya sang papa.
" Galang bukannya menganggap dia tidak ada dalam daftar perjuangan Galang pa, tapi memang yang Galang perjuangkan hanya Dena"
" lalu kamu akan mencampakkan nya begitu saja iya? " ucap Wijaya lemah.
" Galang nggak se sadis itu pa, biarlah itu menjadi masalah untuk Galang, papa tidak perlu mengkhawatirkan nya, percaya sama Galang ya" ucap Galang seraya beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya meninggalkan sang papa sendiri.
" apa hal yang telah menyadarkan dirimu mas? " Tiba-tiba saja sang istri muncul entah dari mana dan kini duduk di samping Wijaya, seraya memijit pelan punggung belakang nya.
" saat kami mengalami musibah yang mengerikan di jalan tadi ma''jawab Wijaya lalu kembali menundukkan kepalanya.
Wijaya tak pernah sekalipun bertemu dengan Dena maupun ayahnya, namun saat pertama kali berjumpa dengan kedua orang yang ternyata sang gadis adalah kekasih dari putra nya itu, entah mengapa hatinya telah terpaut pada kebaikan hati dari masing-masing nya, ayah Dena, mungkin baginya menolong orang yang sedang tertimpa kemalangan seperti apa yang di alami oleh Wijaya and the gank tadi siang adalah hal yang lumrah di lakukan, bukan sesuatu yang berarti, namun bagi Wijaya, yang sungguh kalau si Ardi bilang itu, sombongnya sudah tingkat Dewa, sungguh luar biasa, apa yang di dapatkannya dari kebaikan hati ayah nya Dena itu ,hingga ia sadar bahwa selama ini dirinya tak ubahnya sebutir debu dalam miliaran pasir putih di pantai.
" kenapa mama tak pernah bercerita kepada papa tentang Galang yang ternyata sudah memiliki kekasih, kenapa mama setuju saja waktu Papa berniat menjodohkan nya dengan Anisa' tanya Wijaya.
" papa nggak pernah punya waktu buat mama kan, dan iya, kapan papa pernah meminta pendapat dari mama, papa hanya butuh persetujuan saja jika pun kami tidak menyetujuinya apa papa akan mengurungkan niatan papa itu, tidak kan?".
Wijaya kembali terdiam rasa bersalah dalam dirinya kian bertumpuk, jika tadi Galang masih mampu memendam kekecewaan nya terhadap sang papa, namun sepertinya tidak dengan sang mama yang kini malah meluapkan seluruh kekesalan yang yang di pendamnya selama ini.
" papa tak pernah menceritakan siapa itu Anisa dan kedua orang tuanya, ya walaupun secara lahiriah Anisa adalah gadis yang sangat baik, namun tidak bagi anak kita yang sudah memiliki pilihannya sendiri pa, apa papa tau saat dia mengadu, menangis, tentang ketakutannya di cap menjadi anak durhaka karena telah menjalin asmara dengan gadis yang berbeda strata sosialnya dengan kita, dia takut sebelum berperang melawan ke angkaramurkahan papa, dia tahu papa pasti tidak akan merestui hubungan mereka berdua, namun mama selalu menguatkannya dengan doa di sepanjang sujud mama pa, dan alhamdulillah doa mama di ijabah sama Allah"sang istri nampak beringsut pergi, menyudahi pijitan dan luapan kekesalannya kepada sang suami.
trimakasih, maaf baru update, semoga selalu suka, jazakumullah Katsiron.
__ADS_1