Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
mulai terkuak.


__ADS_3

Malam harinya, Galang baru saja pulang dari kantor nya, ada sedikit urusan yang mengharuskan dia untuk hadir.


" Assalamu'alaikum sayang " ucap Galang saat masuk kedalam ruang perawatan Dena yang kini tengah duduk sambil menikmati wedang jahe buatan sang ibu, yang Galang lihat tengah menonton televisi di ruangan sebelahnya.


"wa alaikumussalam, udah selesai urusan nya mas? " tanya Dena, seraya meletakkan gelas minumannya diatas nakas.


" Alhamdulillah sudah, tapi besok mas harus ke kantor lagi, nggak apa- apa kan? " tanya Galang yang kini sudah duduk disamping Dena.


Dena menggelengkan kepalanya, dan Galang mulai tak nyaman kini, dia mulai mengendusi tubuhnya, harum? tentu saja, ia mandi dulu sebelum datang ke rumah sakit tadi ya, mandi kembang tujuh rupa kah lang?


" oh tidak, Galang bukan penganut aliran itu ya"


" ada lho lang, tapi bukan mandi kembang tujuh rupa"


" lalu apa yang tujuh rupa? "


" air dari tujuh sumur"


"untuk mandi?biar apa? "


" iya untuk mandi nanti waktu acara 7 bulanan nya Dena pak presdir, hahaha"


" gimana mas, apa mereka sudah memberikan informasi tentang siapa dalang dibalik penculikan ku kemarin? " tanya Dena, dan Galang tersenyum, rupanya sang permaisuri sedang baik- baik saja kadar hormon kehamilannya ya, padahal kan Galang sudah harap- harap cemas tadi,banyakan cemas nya sih daripada harapan nya, kenapa lang, takut di php in ya?


" he eh"


" mas belum sempat menghubungi mereka , mungkin mereka sudah membahasnya bareng papa dirumah" jawab Galang menutupi yang sebenarnya terjadi.


padahalkan Dalang dari penculikan itu adalah Anita sahabat karib Dena di kampus.


" duit darimana dia menyewa pria- pria bertato itu?


" entahlah, tapi Galang masih menunggu informasi selanjutnya, ia meminta agar para orang kepercayaan sang papa kembali melakukan penyelidikan, rasanya masih ada orang dibalik kejadian yang menimpa sang istri kemarin.


Dan Galang tak ingin membuat Dena menjadi memikirkan hal itu, dia harus relax kan, lalu jika dia tau bahwa sahabat karibnya yang coba mencelakai nya, apa yang akan dia pikirkan, merasa bersalah? kehilangan? dan Galang tidak mau itu sampai terjadi kepada Dena, karena hal itu akan sangat berpengaruh terhadap calon buah hati mereka.


" berbohong demi kebaikan dimakruhkan ya lang? "entahlah nggak berani jawab, takut salah"


" nanti mas coba tanyain ke papa ya? " tambah Galang lagi.


Galang bersiap untuk rebahan di sofa yang ada disamping Dena, saat tiba- tiba handphone nya berdering.


" iya pa, kenapa? " tanya nya lewat panggilan suara, rupanya sang papa yang menghubungi nya.


" bisa pulang kerumah sebentar nggak lang, ada yang ingin papa bicarakan sama kamu"


" gimana ya pa, Galang baru aja pulang dari kantor, seharian ini Galang meninggalkan Dena sendirian dirumah sakit, bisa besok aja nggak pa? " tanya Galang.


" gitu ya, besok apa Dena sudah diperbolehkan pulang? "tanya sang papa.


" nggak tau pa, tapi Dena memaksa untuk pulang, nanti coba Galang diskusikan sama dokter nya"ucap Galang.


panggilan berakhir Galang meletakkan handphone disamping nya, namun baru saja ia akan memejamkan matanya, handphone nya kembali bergetar.


" ck, siapa sih ganggu orang mau istirahat aja" ucapnya lalu kembali meraih ponselnya.


[Olivia ternyata nggak ada dikontrakannya mas]


begitu isi pesan yang diterima Galang dari Ardi yang ditugaskan nya mengawasi kantor, multiplayer sekali ya si Ardiansyah Buchori ini,,,


" apa dugaan ku benar, Olivia juga terlibat dalam hal ini, jika iya maka dia sudah mengambil keputusan yang salah " bathin Galang lalu meletakkan kembali handphone nya setelah sebelumnya ia mengirim pesan balasan untuk Ardi.


[ikuti terus perkembangan kasusnya, segera kabari saya]


Galang merebahkan tubuhnya, matanya lurus menatap langit- langit rumah sakit ini.


" apa sebaiknya Dena ambil cuti kuliah ya, minimal sampai dia melahirkan nanti " ucap Galang lirih.


pukul 03.00 dini hari, Dena kekamar mandi tanpa membangunkan Galang yang tengah terlelap, namun suara langkah kaki nya terdengar juga oleh sang suami.


"mau kemana, kenapa nggak bangunin mas dulu? " tanya Galang lalu membantu Dena meng-handle selang infus ditangan Dena.


" mau buang air kecil mas, aku nggak tega bangunin kamu, tidur nya nyenyak banget, pasti kamu lelah ya? " ucap Dena seraya berpegangan pada bahu sang suami.


" lain kali jangan diulangi, kalau terjadi sesuatu yang buruk di dalam kamar mandi gimana " ucap Galang ikut masuk kedalam kamar mandi.


" kenapa masih disitu mas, keluar deh" pinta Dena.


" udah buruan pipis, mas nggak bakalan lihat " ucap Galang membalikkan tubuhnya menghadap keluar.


saat akan membuka pakaian dalamnya, Dena kapayahan, satu tangannya yang diinfus tak dapat digunakan sepenuhnya, hingga ia harus memanggil sang suami.


"mas" ucapnya pelan.


" apa? " tanya Galang tanpa menoleh.

__ADS_1


" bantuin "ucap Dena lagi.


Galang segera membalikkan badannya.


" kenapa"tanya nya saat kini sudah berdiri didepan Dena.


Dena membalikkan badannya, memberi isyarat agar Galang meluruhkan underwear nya.


" ini? " tanya Galang yang mendapat anggukan kepala dari Dena.


" udah " ucapnya saat kain berbentuk segitiga tak sama sisi itu sudah ada di tangannya.


setelah selesai Galang kembali memakaikan apa yang telah di luruhkannya tadi untuk kembali ketempat nya.


" kayak gini kok sok- sok an mau jalan sendiri emangnya bisa, kalau jatuh gimana, siapa yang disalahin, nggak mungkin kamu kan, pasti mas" ucap Galang seraya menuntun Dena kembali keranjangnya.


"hehehe"Dena tertawa kecil.


" mas aku nggak bisa tidur deh, ambilin makanan dong dilemari pendingin, anak kamu laper nih" ucap Dena, Galang segera bergegas mencari apa ada makanan yang tersedia dilemari pendingin, ia ingat jika sang mama memasukkan beberapa Sterefoam entah apa isinya, apakah bisa langsung dimakan atau perlu dihangatkan terlebih dahulu.


" ada makanan ini, mas panasi dulu di microwave sebentar ya? " ucap Galang menunjukkan sebuah Sterefoam berisi ayam panggang buatan sang mama.


" jangan lama- lama mas"


" iya sebentar" ucap Galang lalu melangkah menuju kitchen set yang ada diruang perawatan sang istri.


sultan bro, kamar perawatan nya aja yang president suite room, mau tau berapa biaya rawat inap per malamnya,, hmmm,, 150 jt per malam,,


itu duit apa daun jambu ya,,


Galang sudah kembali dengan sepiring penuh ayam panggang yang sudah dipanaskan.


" siap untuk disantap " ucapnya penuh semangat, namun semangat nya hilang seketika mana kalau ia melihat sang istri yang kini sudah kembali terlelap di sofa bed nya.


" gini amat jadi suami siaga ya"


" siaga berapa lang?"


" siaga satu"


akhirnya Galang kembali meletakkan ayam panggang yang sudah dipanggang kembali itu kedalam lemari pendingin.


Galang memutuskan untuk berjaga malam ini, toh sebentar lagi adzan subuh berkumandang, nanti malah ketiduran,kan bahaya.


pagi hari, Galang sudah tampak lebih segar dengan setelan kaus dan celana khaki selututnya.


" mas, ini makanan apa sih, masih enakan bubur ayamnya ih" ucap Dena lalu meletakkan sendok nya.


" oatmeal sayang, itu baik untuk asam lambung mu juga, mas suapin ya" ucap Galang lalu mendekat kepada sang istri, ia mulai menyendok oatmeal lalu meminta Dena untuk membuka mulutnya.


"makan ya, walau kamu nggak suka setidaknya ini baik untuk si baby, a,, " pinta Galang.


" buahnya aja mas" tolak Dena, namun Galang tak putus asa, hingga akhirnya Dena menyerah lalu mulai menikmati sarapan oatmeal nya.


" udah cukup mas, perutku mual" ucap Dena, menyingkirkan sendok yang diarahkan ke padanya.


" oke, ini sudah cukup, sekarang baru boleh makan buah, mas kupas dulu " ucap Galang lalu mulai mengupas kulit apel dan juga pisang secara bergantian.


setelah selesai menyuapi sang istri, Galang duduk pada sofa bed disamping Dena.


" Dena, ada yang ingin mas katakan sama kamu"


" apa? " tanya Dena.


" karena kondisi kamu yang belum memungkinkan untuk kuliah, maka mas putuskan sementara waktu kamu ambil cuti dulu ya, paling tidak sampai anak kita lahir, gimana kamu keberatan nggak? " tanya Galang menatap intens kepada Dena.


" aku kuat kok mas, lagian aku kan tinggal yudisium plus wisuda nya aja mas, nggak banyak ngabisin waktu dan pikiran lagi kan, nggak deh mas, aku nggak mau ambil cuti, sayang dong wisuda ku jadi tertunda, satu tahun itu lama lho mas, dua semester kan" tolak Dena.


" tapi mas nggak mau kejadian kemarin terulang lagi, apalagi sekarang kamu itu nggak sendirian lagi, ada dia" ucap Galang seraya mengelus perut sang istri yang masih rata.


" aku bisa jaga diri mas, percaya deh" tolak Dena masih kekeh dengan keinginan nya.


" tapi mas nggak yakin sayang, udah nurut ya, mas nggak mau ambil resiko nya" ucap Galang tak ingin dibantah.


Dena diam, dia tak menolak nya, mungkin hari ini si baby lagi baik moodnya, jadi apapun yang dikatakan oleh sang ayah, ia tak akan bereaksi berlebihan, seperti mual lalu muntah mungkin, hehehe.


" kalau kamu nggak keberatan, besok mas akan urus surat izin cuti untuk mu dikampus " ucap Galang lalu menyeruput teh less sugar nya.


" memangnya boleh kalau aku keberatan, nggak kan, ya udah aku nurut aja, tapi tunggu, kamu bilang akan mengurus surat izin cuti ku kekampus, kamu mau ke kampus? " tanya Dena heran.


" iya, kenapa memangnya? nggak boleh? " Galang balik bertanya.


" boleh, tapi nanti mereka pasti bertanya-tanya kan, apa hubungan kamu sama aku, kenapa nggak ayah ku aja? " Dena memberi saran.


" semua dosen disana udah tau kalau kamu itu istri aku" jawab Galang.

__ADS_1


" hah, siapa yang memberi tau? " tanya Dena makin penasaran.


" ya suami mu lah, siapa lagi"


" kok gitu" rengek Dena seperti tak terima.


Galang mendekat kepada sang istri.


" nggak usah khawatir, mas udah bilang agar pernikahan kita jangan dulu di publikasikan di kalangan mahasiswa, dan mereka memaklumi nya" ucap Galang memeluk sang istri dari samping nya.


"mas nggak mau kamu terlalu banyak pikiran sayang, kesehatan dan keselamatan kalian adalah prioritas mas saat ini, mas harap kamu bisa memahami nya ya" ucap Galang mengusap puncak kepala Dena pelan.


" iya, aku paham" ucap Dena lagi.


setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani sang istri,ke esokkan harinya Dena diperbolehkan meninggalkan rumah sakit, dengan catatan satu minggu sekali ia harus memeriksakan kandungan nya.


" Alhamdulillah akhirnya bisa tidur dirumah juga" ucap Galang lalu merebahkan tubuh menjulang nya diatas peraduan nya yang super empuk, kakinya terlihat menjuntai kebawah.


tok


tok


tok


terdengar pintu kamar nya diketuk.


"mas, ada yang ngetuk pintu" ucap Dena, saat ia melihat Galang tak kunjung beranjak dari tidur nya.


" mas" ulangnya, namun hasilnya sama, rupanya Galang sudah terlelap, Dena dapat mendengar halus suara dengkuran nya.


"kasian kamu mas, bayak banget yang harus kamu handle, mulai dari kafe, kantor, belum lagi masalah penculikan ku kemarin, lalu sekarang aku juga yang kayak gini, maafin aku ya" ucap Dena membenahi posisi tidur sang suami kemudian menyelimuti hingga sebatas pinggangnya.


Dena bergegas membuka pintu kamarnya.


" mas Ardi, kenapa mas" tanya nya saat ia melihat rupanya Ardi yang mengetuk pintu kamar mereka.


" mas Galang nya ada mbak? " tanya Ardi.


" tuh"Dena menggeser tubuhnya, agar Ardi bisa menemukan jawab atas tanyanya barusan.


" wah, saya ganggu ya mbak, sepurane mbak, saya akan menunggu di pos security aja, tolong sampaikan sama mas Galang ya mbak ada hal penting yang harus saya sampai kan" ucap Ardi sebelum meninggalkan kamar tuan dan nona mudanya.


" iya, nanti aku sampaikan"


Dena kembali menutup pintu nya, ia pun ikut berbaring disamping Galang, namun ia tak tidur.


ia teringat ucapan Ardi.


" Kira-kira apa ya yang mau diomongin mas Ardi, kayaknya kok penting dan rahasia banget" gumamnya.


Dena duduk, ia merasa perutnya lapar, tapi mau makan apa? sementara si calon bapak sedang tidur berirama disana,, ah aku nggak tega mengejutkannya.


jut, jut, ahhh,,,


Dena kembali merebahkan rubuhnya,


" coba aku tahan, minimal sampai mas Galang bangun lah ya" gumamnya, tapi dia lupa bahwa kini ada janin yang juga membutuhkan asupan makanan darinya.


krukuk,,, krukuk,, krukuk,,,


Dena memegangi perutnya yang ternyata sekarang tak bisa lagi diajak bertahan,, terlalu memaksakan,, sepertinya den,, hmm.


percayalah, jika orang yang sedang menjalankan puasa itu bisa bertahan dari imsak hingga adzan maghrib berkumandang, karena ada doanya ya gess,dan betapa mulianya bulan tersebut, tapi Dena juga udah berdoa tadi, walau bulannya tak semulia ramadhan ya,,


bismillah 3kali, bertahanlah, bertahanlah, bertahan lah,, tapi kenapa masih ingin makan juga,,


entah karena sangking berisik nya cacing- cacing yang sedang ber keroncongan ria didalam perutnya, ataukah Galang yang memang tidurnya tidur ayam, jadilah kini sanggrama Wijaya tampak mengerjapkan matanya, lalu mencari sumber bunyi- bunyian tadi.


Dena memalingkan wajahnya, menahan senyum di bibir nya.


" sayang, kenapa? "tanya Galang lalu menyandar pada sandaran ranjang nya..


" nggak apa- apa mas, kucing yang berisik tadi" ucap Dena, coba menutupi hal yang sebenarnya, berharap agar perutnya tak lagi bersuara.


krukuk,, krukuk, krukuk,,


Galang tersenyum,sedangkan Dena berdecak kesal.


"ck, pakai bunyi lagi ni perut, padahal kalau diam itu lebih elegant lho"


" mau makan apa? " tanya Galang seraya meraih wajah sang istri dengan kedua tangannya.


"maaf, sebenarnya aku nggak berniat bangunin kamu mas, tapi aku lupa bahwa sekarang, aku tak sendiri" ucap Dena lalu melihat kearah perut rata nya.


jazakumullah khoiron

__ADS_1


see u,,,



__ADS_2