
Galang segera melajukkan kendaraan nya menuju rumah Dena, ia tidak melewati jalur yang dilewati oleh Ardi tadi,namun ia mengambil jalur alternatif agar lebih cepat sampai, ia tambah kecepatan kendaraan menjadi di atas rata- rata.
" alon- alon asal klakon le" kalau kata nenek tua yang sapu lidi nya di beli oleh Galang lusa lalu.
" ah, kalau ada pilihan ngebut dan pasti kelakon, kenapa juga harus alon- alon" bathin Galang dan fokus pada jalanan yang di lalui nya.
sementara itu di rumah Dena.
" gimana Di, apa kata Galang"tanya wijaya saat Ardi kembali masuk ke dalam rumah setelah selesai menelepon Galang.
" iya Pak, mas Galang segera meluncur, tunggu saja katanya, sebentar lagi sampai " jawab Ardi.
ayah Dena melihat jika kedua lansia itu tak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya.
" a, maaf mas,saya memiliki beberapa helai pakaian santai kalau mas berdua tidak nyaman dengan pakaian yang kalian pakai, dan bisa berganti pakaian di kamar mandi" ucap ayah Dena.
Wijaya dan Broto saling pandang.
" kalau saya nyaman saja mas berpakaian seperti ini, saya tunggu nak Galang sajalah, kalau mas wijaya mau berganti pakaian silahkan saja" ucap Broto.
" iya mas, kita tunggu anak kita saja sebentar lagi datang" sambung wijaya, dia tidak ingin merepotkan ayah nya Dena, yang sama sekali tidak merasa di repotkan.
ayah Dena tersenyum menanggapinya," mungkin mereka tidak nyaman juga jika harus berganti pakaian di rumah orang lain, atau mungkin.. ah sudahlah jangan suudzon dulu" bathin ayah Dena.
Dena masih dikamarnya, handphone nya ia biarkan tak menyala,ia kesal kepada bujang tuanya, yang tak kunjung mengangkat telepon darinya," kamu dimana sih pak, kalau sampai tante itu dan orangtua mu juga tidak mengetahui keberadaan mu, a,, semoga kamu baik- baik saja pak" ucap Dena, dengan perasaan tak karuan khawatir dengan keadaan pujaan hatinya.
"Dena" terdengar sang ayah memanggilnya dari pintu kamarnya, Dena segera beranjak dari tempat tidurnya.
" ada apa pak" tanya nya saat sang ayah sudah ada di depan pintu kamar nya.
" a, kamu ada jas nggak nduk, kasian itu sepertinya bapak berdua itu kedinginan dan nggak nyaman banget sama penampilan mereka"
"jas? Dena nampak mengerutkan keningnya, mengingat- ingat,apakah dirinya memiliki benda yang hanya teruntuk kaum Adam itu ya.
" sepertinya ada pak, coba Dena lihat dulu di lemari ya"ucap nya, lalu membuka lemarinya, dia cari pada gantungan baju khusus blazer nya, dan ternyata ada " tapi kan ini pemberian nya pak Galang, masa iya mau di hibahkan sama orang lain, nanti kalau pak Galang nanya aku jawab apa dong?
__ADS_1
" udah saya hibahkan pak"
" sama siapa"
" bapak- bapak yang kedinginan "
Dena bergidik ngeri membayangkannya, wajah Galang makin ganteng kalau sedang dalam mode rajuk merujak,eh salah merajuk maksudnya, hehehehe,dan juga pak Galang kalau marah ngeri Den,bisa puasa senyum lebih dari satu purnama, beih,, lebay lho den, den.
" ada, tapi cuma satu pak, gimana dong, kan mereka berdua" ucap Dena bingung, padahal dalam hatinya ia berharap ayahnya pun ikut bingung dan mengurung kan niatnya untuk meminjam jas milik Galang itu.
" ya udah sini, bapak ada satu lagi" ucap ayah Dena.
dengan berat hati Dena menyerah kan jas kekasihnya itu kepada sang ayah, untuk di berikan kepada papanya Galang.
duh Dena seandainya kamu dan ayah mu tau bahwa salah satu pria yang ada di depan sana adalah papanya Galang, calon mertua mu dan juga orang yang menentang hubungan mu dengan Galang, apa reaksi kalian? hmmm, entahlah, mungkin memang kalian berjodoh ya, semua yang di hubung-hubungkan memang sangat berhubungan erat sih sepertinya, kalau kata si Ardi yang kini duduk sibuk dengan pikiran nya.
" owalah mas, mas, mau ketemu sama besan aja kok ya harus ada cerita di rampok dulu yo, masa iya, bertandang ke rumah calon besan cuma pake underwear yang di tolak sama komplotan pria bergodek tadi sih, kira- kira mbak Dena bakal insecure nggak ya kalau tau itu adalah calon mertuanya,
duh mas, aku kok pingin ngguyu tapi takut kuwalat" bathin Ardi sambil menyeruput teh yang tak lagi hangat itu.
" ini ada jas mas, mungkin bisa mengurangi hawa dinginnya" ucap ayah Dena sembari menyerahkan jas hitam itu kepada Wijaya dan juga Broto, Ardi yang merasa mengenali salah satu merek jas yang pernah di pakai oleh tuan mudanya itu pun tak mampu menahan mata dan bibirnya untuk tidak melongo.
"hmm, awas dimasukin nyamuk Di, Ardi"
" itukan Brioni vanquish nya mas Galang" ucap Ardi pelan menyebut merek jas yang kini sudah dikenakan oleh tuan besarnya.
" weleh, weleh, kok muter- muter koyo ngene sih mas, mumet ndas ku le mikirke(kok muter- muter kayak gini sih mas, bikin pusing kepala aja). tapi tunggu dulu, itukan jas mahal, gajih ku satu tahun saja ora mampu buat beli jas yang jahitannya berlapis emas itu, harganya itu lho setengah M luweh, lah ini apa, mas Galang malah memberikannya secara cuma- cuma kepada kekasihnya itu, , percuma dengkul mu atos Di, itu adalah tanda cinta dan sayang dari mas Galang mu untuk Dena ya, bukan cuma- cuma.
"sepertinya hubungan mereka memang bukan hal yang main- main" bathin Ardi.
baiklah kita tinggalkan saja keriweuhan yang ada di rumah Dena, lebih tepatnya sih di pikirannya Ardi ya, ya karena cuma dia yang tau siapa itu Dena dan juga siapa itu orang tua nya Galang, jadilah sekarang dia sendiri yang riweuh.
"kapok mu kapan!!
Galang tiba di gang kecil menuju rumah Dena, disampingnya sudah ada dua paperbag yang berisi pakaian untuk papanya, dua pasang kalau kata si Ardi tadi, entah untuk apa dia memesan pakaian dua pasang itu, Galang tak diberi kesempatan untuk bertanya kan tadi sama si sopir semprol nya itu.
__ADS_1
matanya berpendar mencari mobil sang papa.
" apa Ardi mengerjai ku ya, kalau memang mereka disini, mana mobilnya, mereka naik apa" banyak tanya dalam diri Galang yang terjawab oleh kedatangan Ardi yang nampak berjalan terburu- buru ke arahnya.
Galang masih berdiam diri dalam mobilnya.
" ayo keluar mas, kok malah diem aja, masih ingetkan rumahnya mbak Dena yang mana? " Ardi nampak kesal karena Galang tak kunjung keluar dari mobilnya.
" kamu ngerjain saya ya di, udah bosen kerja sama saya, udah punya pandangan lain nih ceritanya " ucap Galang membuka sedikit kaca jendela mobilnya.
Ardi makin kesal dengan Galang, dia berdecak dan langsung meraih tangan tuan mudanya itu untuk dibawa keluar dari dalam mobilnya.
" ck, ceritanya nantinya saja mas, ada hal yang lebih penting dari cerita mas Galang itu, ayo cepet jalannya, jangan kayak pengantin sunat kayak gitu, ngleler kayak siput!! ucap Ardi kesal sambil tangannya menggandeng tangan majikannya itu.
" ini sebenarnya ada apa sih Di, kamu ngajakin saya ke sini, bawa pakaian ganti dua pasang untuk siapa? " tanya Galang di sela-sela langkah kaki nya yang di paksa melangkah cepat oleh Ardi.
" jawabnya itu mas"
tunjuk Ardi pada tuan besar nya yang sekarang sudah mengenakan jas Brioni vanquish milik Galang dan celana dasar berwarna senada.
Galang tercengang, sungguh ia tak dapat mengontrol mulutnya untuk tak mengeluarkan suara.
"opo iki Di" ucapnya mengikuti logat Jawa nya si Ardi yang malah geleng- geleng kepala.
" aku yo luweh bingung mas, ( saya juga lebih bingung mas) kenapa bisa kayak gini" jawab Ardi.
hmm, dalam kebingungan ada senyuman yang terukir di bibir Galang yang dilihat oleh Ardi.
" sok tau kamu mas, ini bukan acara lamaran nya mas Galang ya"skak Ardi dan senyum Galang pun langsung sirnah bagai embun di terpa mentari di pagi hari... cesss...
trimakasih, maaf baru update.
jazakumullah katsiron.
__ADS_1