Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
akhirnya,,


__ADS_3

Dena sudah siap dengan Longdrees peach nya, rambut hitam lurusnya ia kuncir satu kebelakang. Galang tak pernah bosan memandangi wajah istri cantik nya ini, perlahan ia pun berdiri lalu memeluk pinggang Dena dari belakang.


" kamu membuatku semakin jatuh cinta lagi dan lagi Dena" ucap nya pelan dipipi Dena.


cup,,


Dena pun menoleh saat Galang mencium pipi nya.


" dan menjadi istrimu adalah sebuah keberuntungan untuk ku mas, kamu adalah paket sempurna untuk ku yang hanyalah apa? " ucap Dena yang kini malah menyandarkan tubuhnya di dada Galang.


" kamu lebih segala-galanya sayang, bahkan mama begitu bahagia saat tau kamu masih bertahan denganku" ucap Galang membelai pipi sang istri.


Dena mendongakkan kepalanya, saling memandang untuk jedah waktu beberapa detik, hingga keduanya pun tersenyum.


" udah di inget semua apa saja yang akan di beli? " tanya Galang.


" udah mas" jawab Dena, namun saat Galang meraih satu tangannya, Galang tampak meraba- raba jari manis Dena yang rupanya tak mengenakan cincin pernikahan mereka.


" cincin nya mana? " tanya Galang seraya mengangkat jari manis Dena.


" ada di dalam tas aku mas" jawab Dena.


" cincin itu dipakai Dena, bukan disimpan'' ucap Galang lalu membawa Dena agar mengambil cincin pernikahan mereka lalu mengenakan nya.


" mas bohongin aku kan, waktu itu bilang kalau cincinnya ini cuma beberapa karat aja, tapi kenapa waktu akad kok beda, kamu ganti lagi ya? " tanya Dena saat Galang memasukkan cincin berlian di jari manisnya.


" mas hanya menuruti keinginan mu saja, kamu bilang nggak mau yang terlalu besar, dan cincin itu nggak terlalu besar kan bahkan bisa di bilang kecil Dena, lalu dimana letak kebohongan nya? " ucap Galang.


"berat nya mas kenapa harus 10 karat sih, itu pasti mahal kan, aku merasa nggak pantas aja" ucap Dena lagi.


" mulai sekarang kamu harus memantaskan diri, karena kamu adalah istri seorang Galang aditama Wijaya, menantu keluarga Wijaya, oke? " Galang pun menggandeng satu tangan Dena lalu keduanya turun ke lantai satu.


"mau naik mobil yang mana? " tanya Galang menunjukkan beberapa mobil mewah di garasinya.


" naik motor aja boleh nggak mas, udah lama nih nggak naik motor " pinta Dena.


" bukannya mas nggak mau naik motor Dena, kalau mas perginya sendirian oke, resiko nya bisa mas tanggung sendiri, tapi sekarang berdua, kalau tiba-tiba hujan gimana? kata ibu, kamu alergi dingin kan? ,, naik mobil aja ya" ucap Galang memeluk bahu sang istri.


" iya deh, padahal kan nggak ada tanda- tanda akan turun hujan, langitnya aja masih cerah kok" gerutu Dena yang masih bisa didengar oleh Galang.


" iya, mas bilang tadikan kalau tiba-tiba hujan gimana,, mas kan udah janji akan selalu melindungi kamu, terus kalau kamu sampai sakit hanya karena kehujanan gimana coba?


" ya tinggal minum obat aja, udah sembuh kok" Dena masih menggerutu, sebelum akhirnya ia masuk kedalam Porsche milik Galang itu.


" minum obat itu pilihan terakhir sayang, jika ada cara lain kenapa harus memilih minum obat, udah ya keselnya" ucap Galang sebelum melajukkan kendaraan nya.


*


*


*


mereka sudah tiba di pusat perbelanjaan yang dituju.


" mas tunggu" pinta Dena saat tak sengaja ia membuang sedikit noda pada pakaiannya.


Galang pun menoleh,


" kenapa, dress nya kotor? " tanya Galang saat Dena masih mengibas- ngibaskan tangannya.


" udah kok, ada sedikit kotoran tadi" jawab Dena kembali melangkah.


" Dena, mau belanja sendiri atau ditemenin? " tanya Galang saat mereka sudah ada pada counter yang dituju.

__ADS_1


" temenin aja" ucap Dena.


" beneran, nggak malu kalau mas lihat belanjaan rahasia mu? " tanya Galang menggoda.


" nggak, kita kan udah sah jadi suami istri, ngapain malu" jawab Dena.


akhirnya Galang menemani Dena untuk membeli segala keperluan nya, begitu pula sebaliknya dia pun menemani Galang saat suaminya itu sibuk memilih- milih seragam bagian dalamnya[ dibaca Underwear red]


setelah selesai berbelanja, keduanya lalu duduk santai di food area pusat perbelanjaan itu,tak beberapa lama kemudian pesanan mereka sudah datang.


Dena menyingkirkan beberapa buah kecambah yang ditambah kan dalam mangkuk makanannya.


Galang pun memperhatikan nya.


" kenapa disingkirkan, nggak suka ? " tanya Galang lalu mengambil kecambah yang diletakkan Dena pada mangkuk miliknya.


Dena menggelengkan kepalanya.


" sayang sekali padahal ini baik untuk reproduksi lho,, tapi biarlah, mungkin biar mas aja yang lebih banyak mengkonsumsi nya, kamu sebagai penerimanya saja"ucap Galang yang mulai menyendok makanan nya, namun belum lagi makanan itu masuk kedalam mulutnya, ia harus menjeda nya,,


"cabenya nggak usah berlebihan, bahaya" ucap Galang lalu menyingkirkan mangkuk cabe yang ada didepan istrinya itu.


" tapi aku suka yang pedas- pedas mas, boleh ya, sedikit lagi, oke" pinta Dena, namun Galang tak bergeming, ia tetap melanjutkan makannya.


" kesehatan kamu lebih utama, mulai sekarang kurangi makan yang pedas- pedas ya" ucap Galang setelah keduanya menyelesaikan makan nya.


Dena mengangguk.


*


*


*


setelah menerima kunci kamar hotel yang telah dibooking oleh Galang sebelumnya, keduanya kini sudah ada didepan kamar.


" bismillah, semoga berhasil " ucap Galang lirih.


" awww, sakit sayang, kenapa kamu mencubit ku, apa ada yang salah dengan ucapan ku tadi? " tanya Galang yang memegangi lengan nya yang dicubit Dena barusan.


" iya salah !!ucap Dena ketus.


Galang tersenyum lalu membawa Dena masuk kedalam kamar mereka.


setelah selesai membersihkan tubuh, keduanya kini tampak duduk di balkon kamar hotel tersebut.


Dena menyandarkan kepalanya pada bahu Galang, Galang berkali-kali mengecupi puncak kepala Dena.


" mas dingin" ucap Dena mengeratkan kedua tangan di badannya.


" kita masuk aja ya" ucap Galang membantu Dena berdiri lalu membopong tubuh istrinya itu lalu ia rebahkan di atas peraduan mereka.


" mas, aku mau ke kamar mandi dulu sebentar ya" ucap Dena beranjak dari tempat tidur nya.


" jangan lama- lama" ucap Galang sebelum Dena benar-benar masuk kedalam kamar mandi.


Galang tengah sibuk dengan ponselnya saat Dena keluar dari dalam kamar mandi, mengenakan dress tanpa lengan dengan belahan dada rendah, yang tentu saja sedikit menyembulkan sebagian sisinya yang masih tersembunyi, Dena melangkah menghampiri Galang yang masih sibuk dengan layar ponselnya dan belum menyadari kehadirannya.


" mas" bisiknya tepat di depan wajah sang suami.


" hmm, apa, udah selesai dikamar mandinya" ucap Galang tanpa menoleh kearah Dena.


" mas" ulang Dena lagi hingga Galang pun menoleh kearah nya.

__ADS_1


"apa sayang",,,, Galang menatap dengan wajah terkejut saat melihat penampilan gadis nya saat ini.


" kamu sudah ridho" ucap Galang membelai kedua pipi istrinya itu, Dena pun menganggukan kepalanya.


Galang menatap wajah Dena dengan penuh cinta kasih, lalu mencium keningnya, perlahan ia membuka zipper pada dress yang dikenakan Dena .


setelah sebelumnya mereka telah melaksanakan sholat sunnah dua rakaat sesuai tuntunan nabi SAW sebelum melakukan hubungan suami istri.


" sayang, aku sangat mencintaimu " bisik Galang ditelinga Dena, bisikan yang tentunya sukses membuat bulu roma Dena meremang kini, hingga untuk hanya sekedar mengatakan iya, pada ungkapan cinta suaminya itu saja rasanya lidahnya tak mampu, hingga ia hanya mampu mengangguk saja.


Galang merebahkan tubuh Dena diatas peraduan nya, dengan gerakan tangkas dan gesit Galang melerai semua jenis pengait yang ada pada pakaian Dena hingga meluruh ke lantai satu persatu.


pandangan keduanya beradu kini,


pria dewasa yang bahkan hampir kadaluwarsa kalau Dena pernah bilang itu kini akan melaksanakan kewajiban nya, setelah melalui berbagai drama beberapa hari belakangan ini, kini semua rasa, keinginan dan gejolak yang timbul sebagai pria dewasa yang sudah halal hukumnya untuk menyentuh semua yang ada pada tubuh sang istri, malam ini akan tersalurkan dengan penuh cinta kasih dan sayang antara keduanya.


Galang melakukan nya dengan penuh kehati- hatian,ia tak ingin malam pertama mereka akan dikenang oleh Dena sebagai malam yang menyakitkan, dan Dena hanya bisa menatap wajah suaminya itu dengan penuh rasa haru.


pria yang tak pernah dibayangkan olehnya kini nyata ada dihadapannya bahkan mereka akan segera menyatu dalam artian yang sesungguhnya.


" kamu sudah ridho mas melakukan kewajiban ini kepadamu? "tanya Galang memastikan,Dena pun mengangguk.


" Hati-hati mas,, aku ta,,,, belum selesai Dena berkata Galang sudah meletakkan jari telunjuknya pada bibir Dena.


" mas tidak akan menyakitimu, percayalah mas akan bermain cantik malam ini" ucap Galang .


dia bahagia karena kehormatan yang telah ia jaga selama ini dapat ia persembahkan hanya untuk laki-laki yang memang sangat mencintai dan dicintai nya.


" jangan tegang" ucap Galang saat kini ia tengah melaksanakan kewajiban nya.


pernikahan mereka telah sempurna, bersamaan dengan menyatunya tubuh mereka.


" semoga apa yang telah tertanam di rahimmu akan dengan mudah menemukan pasangannya hingga akan tumbuh menjadi anak yang sholeh sholeha" bisik Galang dengan mata terpejam.


" dan tentunya cantik dan tampan seperti ayah dan ibunya, aamiin" bisik Dena lalu membelai wajah tampan suaminya.


pukul 04.00 menjelang subuh, terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi hotel dimana keduanya telah menghabiskan malam pertama nya.


" mas aku duluan ya" ucap Dena yang kini sudah mengenakan kimono nya.


" tunggu sebentar, mas juga udah selesai kok"ucap Galang lalu beranjak dari bathtub nya.


Dena segera memalingkan wajahnya kala melihat tubuh Galang yang soo seksi didepannya itu.


" tidak perlu seperti itu, semua sudah terlihat jelas untuk kita bukan? " bisik Galang memeluk tubuh sang istri yang malah berlari meninggalkannya.


" masih malu- malu rupanya, untuk apa coba, bahkan aku sudah melihat semuanya sayang" ucap Galang yang segera memakai handuk lalu melilit kan dipinggang nya.


saat ia masuk ternyata Dena sudah mengenakan pakaian lengkapnya.


" cepet banget pakai bajunya, padahal mas pingin nemenin kamu, siapa tau butuh bantuan, memasang zipper misalnya, hmm"ucap Galang mencolek hidung Dena.


" udah mau subuh mas, buruan pakai baju" ucap Dena yang masih berdiri disamping Galang.


" trimakasih sayang, aku bangga menjadi yang pertama untuk mu, cup" Galang mencium kening Dena untuk waktu yang cukup lama, hingga Dena mendorong dada suaminya itu pelan.


" aku jauh lebih bahagia karena bisa mempersembahkan itu pada pria yang benar-benar mencintaiku" ucap Dena lalu memeluk Galang lebih erat.


trimakasih,, buat yang selalu baca dan suka pada cerita ini...


**note:segala sesuatu sebagai mana adanya, kita kecewa karena membayangkan hal yang berbeda.


see u,,,, barokAllah**.

__ADS_1


__ADS_2