
Galang dan Dena sudah selesai membersihkan tubuh mereka masing-masing.
saat Galang tengah sibuk memilih pakaian mana yang akan dikenakannya tiba-tiba ponselnya kembali berdering.
" sayang, coba kamu lihat siapa itu" pinta Galang agar Dena menjawab panggilan pada ponselnya.
Dena segera beranjak, bahkan dirinya belum mengenakan pakaian,tubuhnya hanya berbalut handuk sebatas pahanya saja.
" Olivia mas" ucap Dena lalu memberikan ponsel nya kepada Galang yang tengah mengenakan celana bahannya.
" iya sebentar lagi saya berangkat, tunggu saja di kantor " ucap Galang mengakhiri panggilannya.
" nggak sabaran banget sih, nggak tau apa orang baru pulang " gerutu Galang yang malah membuat Dena tersenyum lalu mendekat kepada sang suami yang masih saja mendengungkan kekesalannya.
" sabar mas, jangan menggerutu, dosa lho" ucap Dena seraya mulai mengancingkan satu persatu kancing pada hem putih Galang.
" makasih ya" ucap Galang saat Dena sudah selesai mengancingkan kemejanya.
Galang segera meraih jas hitam nya kemudian berlalu, namun belum lagi kakinya melangkah keluar ,Dena memanggilnya.
" mas, dasinya" ucap Dena menyerah kan dasi berwarna hitam kepada Galang.
"mau dibantuin nggak? " ucap Dena seraya tangannya menari didepan dada sang suami, dengan gerakan naik turun yang langsung dihentikan oleh Galang.
" disini lebih baik" ucap Galang meletakkan tangan Dena pada simpulan dasinya.
Dena dengan cekatan memasangkan dasi untuk Galang.
" udah, duh tampan nya suami aku" ucap Dena yang kembali merapikan dasi Galang.
" suaminya siapa dulu " ucap Galang mencolek dagu Dena, lalu mencium keningnya lama.
" baik- baik dirumah ya, mas berangkat dulu,, assalamu'alaikum " ucap Galang lalu Dena meraih satu tangan nya.
cup,
" kerja yang benar, inget sekarang sudah jadi suami orang, nggak boleh gendong- gendong cewek sembarangan kayak dulu lagi" ucap Dena melerai tangan sang suami.
" siap bu boss" ucap Galang melangkah keluar.
Galang meraih ponsel dari saku celananya saat ia merasa benda pipih itu bergetar.
"kenapa lagi Olivia, sebentar lagi saya sampai" ucap Galang kesal saat lagi- lagi sang sekretaris menghubungi nya.
" maaf Pak, meeting nya di undur, karena hari ini tuan Mohammed ismail harus menemani ibundanya yang tengah dirawat dirumah sakit, saya tidak bertanya secara mendetail tentang hal itu pak, tapi itulah yang beliau sampaikan terhadap saya" ucap Olivia melalui sambungan telepon nya.
" kapan beliau memberitahu mu? " tanya Galang.
" satu jam sebelum ini pak" jawab Olivia.
" kenapa kamu baru mengatakan nya sekarang Olivia princivia alur " ucap Galang yang kini kembali masuk kedalam kamarnya.
" bukankah tadi saya sudah menghubungi pak Galang, namun saya tidak diberi kesempatan untuk bicara, tapi bapak malah marah- marah terhadap saya" ucap Olivia sedikit kesal sebenarnya, tapi siapalah aku ini,, hehehe, dilarang kesal sama atasan ya, ,
Galang terdiam, ia pun kembali mengingat dimana tadi dia langsung saja mengumpat sekretaris nya itu sebelum sang sekretaris menyampaikan informasi untuk nya.
" maafkan saya, sekarang kamu dimana? " tanya Galang kembali tenang.
" saya masih dikantor pak, banyak file yang harus pak Galang tanda tangani besok" ucap Olivia.
" baiklah, kamu boleh pulang jika pekerjaan mu sudah selesai, tidak perlu menunggu sampai waktu kerja selesai " ucap Galang sebelum mengakhiri panggilan nya.
" trimakasih pak" ucap Olivia.
Galang membuka kembali pakaian kantor nya, Dena segera meraih satu persatu setelan kerja sang suami, mulai dari jas hitam, hem putih polos begitu pula dengan dasi panjang nya, namun saat Galang mulai membuka ikat pinggang nya, Dena menahannya.
" kenapa? " tanya Galang heran.
" lupa sama janjinya" ucap Dena dengan bibir mengerucut.
" janji, janji yang mana " ucap Galang coba mengingat- ingat janji apa kiranya yang sudah ia lupakan.
" Pura-pura atau beneran lupa? " kesal Dena.
__ADS_1
Galang menggelengkan kepalanya, sungguh ia benar-benar lupa alias tidak ingat.
Dena segera berdiri lalu meraih blazer rajut hitam dan tas selempang nya lalu melangkah keluar meninggalkan sang suami yang masih bertanya- tanya sendiri.
" mas Ardi, tolong anterin saya ke rumah ibu ya" ucap Dena sengaja mengencangkan suaranya padahal Ardi tidak ada di situ, jelas tujuannya adalah untuk Galang, yang kini langsung menyambar kaus polo nya lalu segera menyusul sang istri yang kini sudah berada di tangga menuju ke lantai satu dan disana sudah ada Ardi yang sudah siap untuk mengantar kan Galang ke kantor, tapi kenapa kok mas Galang nggak mengenakan seragam kerja nya, tapi hanya memakai kaus polosnya saja, dan lihatlah sang nyonya muda yang kini malah sedang berjalan di depan sang suami.
" lepasin mas, aku mau pergi sama mas Ardi aja, kamu kan nggak sempat anterin aku" ucap Dena coba melerai tangannya dari cekalan sang suami.
" mana kunci nya Di" ucap Galang yang kini sudah berdiri di depan Ardi yang wajahnya penuh dengan tanda tanya,,?????
" berangkat sendiri mas, nggak capek memangnya, mas Galang baru sampai lho dari luar kota, sini biar saya anterin saja mas" ucap Ardi yang belum memberikan kunci mobilnya kepada Galang.
" saya nggak kekantor Di, tapi mau ke rumah mertua, sini mana kuncinya, nanti keburu mbak Dena mu itu naik taxi"ucap Galang yang langsung menyambar kunci mobil yang menggantung ditangan Ardi.
"pengantin baru dramanya kok nggak sudah- sudah ya, ada aja" gumam Ardi.
" kanapa nggak jadi kekantor mas? " tanya Dena yang kini sudah duduk manis didalam lexus hitam milik Galang.
" nggak jadi hari ini, tapi besok" ucap Galang fokus pada jalanan yang dilaluinya.
" oh,,, " ucap Dena singkat.
Galang menoleh sekilas menatap aneh pada Dena yang juga tengah melihat nya.
" kenapa, ada yang salah dengan oh ku? "tanya Dena.
" nggak, mas cuma heran aja, nggak mau nanya kenapa gitu" ucap Galang.
" kalau kamu merasa aku berhak mengetahuinya maka katakanlah, namun jika itu tidak penting untuk ku cukup tau saja, tidak perlu detail nya" ucap Dena.
" serius banget sih sekarang ngomong nya, private sama siapa?
" kehidupan yang mengajarkan ku untuk tau diri mas, dan ibu adalah madrasah pertama ku, aku banyak belajar dari nya, bahkan saat- saat mendekati hari pernikahan kita ,ibu masih selalu menyempatkan waktunya untuk berbicara dari hati ke hati bersamaku" ucap Dena dengan suara tertahan.
" kangen banget ya sama ibu? " ucap Galang membelai pipi Dena, Dena pun menganggukkan kepalanya.
"maaf ya, mas lupa, mas terlalu emosi tadi" ucap Galang lagi.
" sebenarnya klien papa itu menunda pertemuan nya dengan mas karena beliau tengah merawat ibundanya yang kini sedang ada dirumah sakit, dia pengusaha sukses dinegerinya, namun di balik kesuksesan nya ia tak pernah sombong apalagi meremehkan kedua orang tuanya, dan juga keluarga nya bahkan ia rela jika tender besarnya harus diberikan kepada orang lain jika itu bertentangan dengan keputusan kedua orang tuanya, karena dia percaya suksesnya adalah berkat doa kedua orang tuanya"
" mereka bahagia dengan caranya sendiri sayang, dan kesedihan nya tak pernah ingin mereka tampakkan, jika dulu papa dan mama selalu mendesak mas untuk segera menikah dan kini setelah kita menikah maka mereka ingin agar kita segera memberikan cucu untuk mereka, bahagia tidak hanya tentang materi Dena, namun kasih sayang dan perhatian oleh keduanya juga sumber kebahagiaan "
" kamu benar mas, selama aku tinggal bersama mereka tak sekalipun mereka mengeluh kepadaku, bukan, bukan karena aku anak yang baik dan penurut tapi karena,, ya seperti apa yang kamu katakan tadi mas, mereka ingin menjadikan diriku istimewa dan berharga bagi mereka, bukan juga karena aku adalah satu-satunya, tapi karena aku adalah amanah yang harus mereka jaga"
" sayang" ucap Galang seraya mengelus punggung tangan Dena.
Dena menoleh,
" apa? " tanya nya.
" kamu setuju nggak sama kata-kata Ardi tadi? " ucap Galang.
" yang mau punya anak banyak?
" hmm" jawab Galang singkat.
" yang ini aja belum ada tanda- tanda nya mas, lihat aja dulu, seperti apa prosesnya"
" proses apanya? " tanya Galang bingung.
" ya proses terbentuknya lah!! kesal Dena.
" kalau nggak pakai _lah_?
" bayar!! ketus Dena semakin kesal.
akhirnya mereka sama-sama diam, hingga kini sudah tiba di depan lorong rumah orang tua Dena.
" mas kok ada motor ya didepan rumah ibu, Kira-kira siapa? " tanya Dena.
" ya udah kita lihat aja, mungkin itu temannya bapak sedang berkunjung "ucap Galang lalu menggandeng satu tangan Dena.
" Assalamu'alaikum pak, bu" ucap Dena saat tiba didepan pintu rumah nya.
__ADS_1
" wa alaikumussalam, eh pengan,,,, belum selesai Ayah Dena berucap karena melihat Dena memberi isyarat dengan satu telunjuk didepan bibir nya.
" Dena,, " sapa kevin,, ya ternyata motor didepan itu adalah milik kevin, yang kini tengah memandang kepada Dena dan Galang disebelah nya.
" a, pak Galang rupanya " ucap kevin yang merasa aneh akan kehadiran Galang disamping Dena, dan itu apa, kenapa mereka memakai hena, apa mereka sudah menikah? " tanya Kevin didalam hatinya.
"kevin, ada perlu apa kemari? " tanya Galang langsung, ia malas sekali jika harus berhubungan dengan anak kecil yang ternyata sudah mulai nekat sekarang, bayangkan saja ia sudah beberapa kali ini berkunjung ke rumah orang tua Dena, untuk apa? apakah Galang harus bilang bahwa Dena sudah menjadi istrinya sekarang, atau bagaimana, tapi lihatlah reaksi di wajahnya, dan Galang tau kemana arah penglihatan mantan mahasiswa nya ini,, ya dia tampak tengah memperhatikan jari Dena dan juga jari Galang yang ternyata masih menyisahkan riasan hena ditangannya.
" cuma berkunjung pak, karena saya khawatir Dena tidak ke kampus sudah lebih dari satu minggu, tapi akhirnya saya lega, karena Dena ternyata baik- baik saja " ucap kevin yang sebenarnya masih bertanya- tanya tentang lukisan inai ditangan keduanya.
" Alhamdulillah, aku baik- baik saja vin, trimakasih sudah mengkhawatirkan ku, mungkin lusa aku sudah mulai aktif ke kampus" ucap Dena ramah.
Galang duduk disamping ayah Dena saja, rupanya ia masih menahan keinginan nya sebelum ada persetujuan dari sang permaisuri maka keputusan belumlah halal untuk di umumkan.
setelah obrolan yang menurut Galang sangat lah tidak berfaedah itu akhirnya kevin pamit pulang.
" kevin sering kemari ya pak? " tanya Dena yang kini berpindah duduk disamping sang suami.
" sudah tiga kali ini nduk, memangnya kalian pernah dekat ya, kok seperti nya dia itu perhatian banget sama kamu? " tanya sang ayah.
" temen kuliah satu kampus pak, mas Galang juga kenal kok, iya kan mas? " tanya Dena yang melihat kepada Galang yang tengah asyik dengan majalah ditangannya.
" sekedar tau, mas nggak kenal" jawabnya singkat.
" ish, sombong banget sih kamu mas" cibir Dena.
" anak kecil yang memiliki perasaan lebih terhadap kamu itu, mas paham lah cara- caranya"
" mas jangan suudzon kenapa ih, nggak baik tau" ucap Dena lalu berdiri untuk menemui sang ibu yang ternyata baru pulang dari berbelanja sayuran.
" ibu" ucap Dena langsung memeluk erat wanita tersayang nya itu.
" kenapa, gimana bulan madunya, apa sudah terlihat hasilnya? " tanya sang ibu.
" ibu,, " ucap Dena masih memeluk erat sang ibunda.
" ibu sama mamanya mas Galang sama aja deh, nggak ada pertanyaan lainnya apa ya,, kenapa selalu itu yang ditanyain? " ucap Dena.
" lho itu pertanyaan yang wajar nak, apalagi yang bapak sama ibu harapkan jika bukan kehadiran cucu dari kalian " ucap sang ibu.
" sudah dicoba bu, tapi berhasil atau tidak nya kita akan selalu berusaha dan berdoa, semoga secepatnya " ucap Dena yang kini duduk disamping ibunya.
" malam ini mau menginap disini? " tanya sang ibu di sela - sela aktivitas nya yang tengah menyiangi jamur tiram yang akan di masak soup sore nanti.
" mas Galang nggak bawa pakaian ganti bu, dan lagi besok ia harus berangkat pagi ada meeting dengan klien nya dikantor " ucap Dena sedih.
" ya sudah nggak apa- apa nduk, lain waktu kalian bisa bermalam disini, o ya kapan kamu masuk kuliah lagi?
" insya Allah lusa bu, dan juga sebentar lagi Dena akan wisuda" jawab Dena.
" jadi selama itu pernikahan kalian masih dirahasiakan? " tanya ibu Dena kembali.
Dena mengangguk pelan.
" a, Dena, maaf jika pertanyaan ibu sedikit sensitif " ucap ibu Dena melihat kepada Dena.
" nggak perlu minta maaf bu,katakanlah apa yang ingin ibu tanya kan"
" kalian sudah,, em,, em,,, " sang ibu tampak tak ingin meneruskan ucapannya.
" sudah bu,, dan tanpa pelindung, jadi bagaimana jika aku hamil sementara kuliah ku belum selesai? , itu juga yang Dena tanyakan pada mas Galang, tapi dia malah akan sangat bahagia jika sampai Dena hamil bu bahkan kedua orang tuanya sudah sangat menantikan kehamilan Dena nanti nya"ucap Dena.
" ya memang harus begitu nduk, syukur lah jika nak Galang dan juga orang tuanya perhatian sama kamu, sekarang ibu dan bapak sudah tidak khawatir lagi melepaskan kamu tinggal di sana " ucap sang ibu lalu memeluk putri semata wayangnya yang kini telah menjadi istri orang dan harus tinggal terpisah dengan nya.
" kenapa sedih bu, mas Galang sangat menyayangi Dena begitu pun mama dan juga papanya, ya walaupun di awal hubungan Dena dan mas Galang beliau sempat menentang, namun seiring berjalannya waktu dan berbagai kisah dan cerita yang dilalui nya, dan yang pernah membawa mereka ada dirumah kita malam itu, sungguh Allah memang Maha membolak-balikan hati hambanya, dan kami percaya itu bu, dan kepercayaan itulah yang akhirnya membuat Dena bertahan dengan nya, hingga akhirnya Allah mentakdirkan dia menjadi pendamping hidup Dena"
" dan kebahagiaan ibu dan bapak adalah melihat kebahagiaan kalian" ucap sang ibu mengusap puncak kepala putrinya itu dengan penuh rasa sayang.
note: bahagialah dengan apa yang kalian miliki
karena bahagia kita yang ciptakan,, bahagia itu sederhana, jangan meminta pada yang tak mungkin memberi karena cinta tak mengenal pamrih,,
jazakumullah khoiron
__ADS_1
see u,,