
jika Galang masih bisa bersikap tenang mengahadapi dua wanita cantik yang sekarang ada dihadapan nya ini, maka hal itu juga berlaku untuk Dena, karena sebelumnya Galang sudah memberikan briefing kepada Dena, dan rupanya Dena menyerap dengan sempurna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Galang.
" jangan tunjukkan wajah takut apalagi terlihat sangat gugup, Anisa akan merasa di atas angin jika melihatmu seperti itu, tetap tenang, intinya aku padamu" cie, romantis nya pak dosen tampan yang satu ini, cuit,, cuit,,so sweet...
namun Anisa yang terlihat dewasa pada covernya, nyatanya tak dapat mengendalikan emosinya, ya walaupun tidak meluap- meluap, tapi sedikit mendidih sepertinya.
" sejak kapan kamu di sini Adreena" sekarang apa? lihat dan dengarlah ia tak lagi menyebut Dena dengan sebutan adik lagi tapi langsung kepada namanya saja, Adreena.
Dena tak menjawabnya, ia menoleh kepada Galang yang tersenyum menatapnya.
" dia datang bersama saya Anisa" bukan Dena yang menjawabnya melainkan itu adalah suara Galang.
" kamu kesini barengan sama dia mas, keterlaluan kamu mas, aku saja yang sudah jelas dijodohkan oleh orang tua mu, tak pernah sekalipun kamu mengajakku, bahkan hari ini, berkali-kali aku coba menghubungi kamu tapi hasilnya nihil, dan sungguh alasanmu itu nggak elegan sekali mas, aku bukan abege labil seperti dia mas" Anisa menunjuk kepada Dena yang kini semakin merapat kan jaraknya agar lebih dekat lagi terhadap Galang.
" cukup Anisa, kenapa sekarang perangai mu menjadi kasar terhadap orang lain" ucap Galang dengan nada bicara yang dinaikkan.
"tidak semua orang mas, tapi hanya untuk dia" jawab Anisa dengan matanya yang mulai berkaca- kaca dan pandangan matanya menatap tajam kepada Dena, yang kini malah beringsut di samping Galang, Galang menggemgam satu tangan Dena, hal yang sangat di perhatikan oleh Anisa.
" durjana kamu mas, setega- teganya pengkhianat, tapi kamu lebih kejam mas, dan kamu, Anisa kembali menunjukkan jari telunjuknya kearah Dena dan juga tatapan tajam nya, kamu pasti tau dan sadar, tak ada kebaikan yang akan di dapat dari merebut kebahagiaan wanita lain, dan wanita itu adalah saya Adrrena, dan kamu adalah wanita yang telah merenggut apa yang seharusnya menjadi milik saya, kamu pasti paham Dena, tidak ada keberkahan dari apa yang didapat dengan cara mencuri, dan itulah yang kamu lakukan dan yang akan kamu dapatkan hanyalah kesia- sia an belaka, camkan kata- kata saya ini Adreena" ucap Anisa, ia usap airmata yang mulai turun membasahi pipinya, hijabnya pun basah dengan airmatanya.
Galang menghela nafasnya, lalu ia keluarkan pelan, ia sengaja membiarkan Anisa meluapkan segala kekesalan dan kekecewaan nya dihadapan Dena, barulah setelah dirasa Anisa telah selesai mengeluarkan segala kata- kata azimat nya, Galang pun mulai meluruskan apa yang telah si tuduhkan Anisa terhadap Dena.
__ADS_1
" Dengarkan aku Anisa, kali ini aku mohon kamu jangan menyela ucapanku cukup dengarkan, seperti apa yang aku lakukan tadi, saat kamu sedang berbicara kepada Dena" ucap Galang, Anisa hanya memandang Galang dengan raut wajah kecewnya.
" Dena hadir sebelum kamu ada dalam hidup ku Anisa, bukankan Dena sudah pernah menceritakan hal ini kepadamu, aku dan dia menjalin hubungan juga sebelum perjodohan kita yang telah di sepakati oleh orang tua kita, dan juga, dia bukan perebut hak atau kebahagiaan mu, karena aku sudah pernah mengatakan yang sejujurnya terhadap mu tentang hubungan ku dan Dena, tapi apa, kamu malah memilih bertahan, dengan harapan aku akan memilih dirimu di kemudian hari dalam perjalanan perjodohan kita ini, jangan katakan Dena wanita perebut apalagi pencuri hak dan kebahagiaan mu,
karena kamu belum berhak atas diri dan hati ku, karena disini kamulah orang ketiga diantara kami, walaupun kesalahan bukan seutuhnya ada pada dirimu, tapi aku bersyukur Dena adalah tipe wanita setia dalam semua keadaan, bahkan semua hal yang akan aku jalani bersamamu selalu ku ceritakan kepadanya, dan kamu tau Anisa, dia sama sekali tidak keberatan, kamu mau tau alasannya apa, simpel saja Anisa, alasannya adalah karena kami memiliki rasa saling percaya antara satu dengan yang lainnya, dia yang tadi kamu katakan sebagai abege labil, tapi memiliki kepribadian layaknya wanita dewasa, lalu dirimu?pantaskah di sebut sebagai wanita dewasa?
maafkan aku Anisa, aku tidak pernah membohongi dirimu, apalagi main hati di belakang mu, karena semua yang ku lakukan adalah hal yang sudah aku katakan dan sudah pasti kamu ketahui sebelumnya, dan kamu sadar konsekuensi apa yang akan kamu Terima "
" mungkin aku akan datang kerumah orang tua mu secara baik- baik untuk membatalkan perjodohan ini, ku harap kamu dapat berlapang hati untuk menerima keputusan ku ini" ucap Galang mengakhiri kalimat panjangnya.
Dena mendongakkan kepalanya, ia ingin menatap wajah Galang, benarkah yang telah di ucapkan nya tadi, oh sungguh Dena terharu, rasanya ingin menangis saja saat ini, "bapak ibu" lirihnya dalam hati.
Anisa tak lagi menangis, bahkan dia tersenyum saat akan membalikkan badannya untuk segera berlalu meninggalkan Galang dan juga Dena.
Galang menoleh kepada Dena, lalu ia bawa Dena untuk duduk bersama nya.
" kamu udah makan sayang, rencananya tadi aku mau cari makanan buat mama, tapi ternyata Anisa juga pamit pulang,jadi lah kita akhirnya bertemu dengan dia dalam waktu yang tidak tepat" ucap Galang.
" bapak menyesal mengatakan hal itu tadi dihadapan tante Anisa? " tanya Dena tak menanggapi pertanyaan Galang.
" pertanyaan macam apa itu Dena, kamu meragukan diriku? " Galang balik bertanya.
__ADS_1
Dena menggeleng kan kepalanya, ia tampak terisak dan menundukkan kepalanya.
" kalimat terakhir yang di ucapkan oleh tante Anisa tadi pak, kenapa firasat saya mengatakan bahwa ini bukanlah sesuatu yang baik"ucap Dena.
" kamu jangan terpancing dengan kata- kata yang di ucapkan oleh Anisa tadi Dena, dia itu penampilannya saja yang religius,tapi sifatnya entahlah aku pun merasa jika ia telah berubah kini,mungkin ambisinya untuk mendapatkan diriku yang telah merubah pola pikirnya " ucap Galang menepuk telapak tangan Dena yang ia letakkan di atas pahanya.
Dena mengerutkan kening nya, merasa lucu dengan kalimat yang di ucapkan oleh Galang barusan.
" percaya dirinya patut di acungi jari kelingking pak " ucap Dena seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Galang menautkan alisnya lalu membalikkan tubuh Dena untuk menghadap dirinya kini.
" sudah pandai menggoda rupanya ya" ucap Galang menyentil hidung Dena.
" aww, sakit pak" keluh Dena mengusap- usap hidungnya.
trimakasih, semoga selalu suka.
see u...
__ADS_1