
sepertinya bukan hanya Anisa yang terkejut dengan kehadiran Galang, tapi juga sang mama dan pastinya juga Galang yang dengan gerakan tangannya, memberi isyarat agar Dena segera bersembunyi terlebih dahulu, oh sesungguhnya Galang adalah tipe laki- laki gentle, namun ia tidak boleh egois dengan membiarkan Dena masuk bersamanya lalu kemudian bertemu dengan Anisa, sedangkan di dalam sana sang ayah baru saja terjaga dari koma nya, lalu siapa yang bisa menjamin semua akan baik- baik saja, tidak ada bukan?
" sendirian aja mas? " tanya Anisa lembut, yang di tanggapi Galang dengan senyuman dan anggukan kepalanya saja.
Galang pun masuk bersama Anisa yang berjalan di samping nya.
Galang segera menghampiri sang papa yang tengah memandangi dirinya.
" kamu sembunyikan dimana? " ucap sang papa pelan, namun dapat di dengar oleh Galang.
" pasti nya di tempat yang aman pa"jawab Galang kemudian duduk di samping sang ayah, dia tau siapa yang di maksudkan oleh sang ayah.
" awas, nanti ada dokter tanvan yang melihatnya lalu kepincut sama dia lho, secara wajah Dena kan unlimited lang,nggak ada tu yang seperti dia, the one and only" ucap sang papa coba menggoda putra satu- satunya itu.
Galang memutar bola matanya malas.
" papa istirahat aja, jangan banyak bicara, a,, ma, apa kata dokter tentang papa" tanya Galang kepada sang mama yang duduk bersama Anisa.
" hypertensi lang, dan juga kolesterol nya naik tuh, mama nggak tau deh apa yang dikonsumsi sama papa, kok tiba- tiba saja kolesterol nya naik"jawab sang mama.
" ck, papa jangan seperti anak kecil deh, masa nggak bisa sih nahan godaan sekedar makanan aja, masih banyak lho pa godaan yang lebih besar dari itu, apalagi kalau di kantor, sekretaris papa kinclong banget lho ma, hehehe, ya nggak pa" Galang menggoda sang mama, namun sebuah bantal sofa persegi empat berwarna coklat susu yang melayang dan hampir mengenai wajah Galang, beruntung Galang cukup tangkas dalam gerakan reflek nya, hingga kini bantal sofa tersebut sukses berada dalam pelukannya.
" makasih ma, mama tau banget kalau Galang memang membutuhkan benda ini, lelah ma, pingin rebahan, boleh kan pa" ucap Galang seolah tak menganggap kehadiran Anisa di antara mereka.
sementara Anisa hanya tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil yang sangat ia harapkan dapat masuk dan menjadi bagian di dalamnya itu, dia iri, dirumahnya ia tak pernah bersenda gurau seperti itu bersama papa dan mamanya, semua tertata dalam aturan tata krama,tutur santun dan budi pekerti yang luhur, tidak ada gurau- gurauan yang tercipta, karena sang papa sangat anti dengan hal itu, semua hal adalah serius bagi sang papa, bagitupun sang mama, ia hanya bisa memberi wejangan kepada Anisa bahwa inilah peraturan yang harus mereka patuhi.
" kalau ngomong nggak di saring dulu lang,kamu sama sekali nggak menghargai perasaan nya Anisa ya" ucap sang mama yang tersenyum kepada Anisa.
" nggak apa- apa kok tante, bahkan aku ikut merasakan kehangatan di keluarga om dan tante seperti sekarang ini, Nisa iri tan" jawab Anisa dengan wajah sendunya.
sungguh Galang jengah melihatnya, dia inikan gadis yang masuk secara paksa ke ruang kerja di kafenya waktu itu, dia juga yang mengancam akan memecat karyawannya yang berani menghalangi jalannya, lalu sekarang apa? dia berubah seolah- olah menjadi seorang anak yang terzolimi dalam keluarga nya, dengan mengatakan jika dia iri dengan kehangatan keluarga ini, waw amazing, mari berdiri dan berikan applause untuk wanita di depannya ini, rasanya dia layak untuk dijadikan nominasi sebagai pemeran antagonis wanita, dan Galang pastikan akan memberikan vote sebanyak- banyaknya untuk mantan calon istrinya itu, wuih,, sadis lo lang, kan perjodohan kalian belum di batalkan, se enaknya saja kamu bilang mantan calon istri!! ah, biarlah, anggap saja itu adalah doa, dan mari kita aamiinkan, aamiin...
__ADS_1
sementara Galang yang tengah asyik memeluk bantal sofa nya itu, berjengit, saat merasakan sebuah sengatan listrik bertegangan rendah seperti mengalir pada bahu kokohnya, ia pun menoleh, dan oh ternyata disana telah bersarang sebuah capit milik sang ayah yang terbuat dari jari telunjuk dan sang ibu jari, yang kini tengah beraksi pada tubuh Galang.
" awww, sakit pa, ini sakit beneran pa, Galang nggak bohong, lepasin pa, awww" rintih Galang coba melepaskan tangan sang ayah yang seperti di beri lem Korea pada kedua jemarinya itu, kayak Romeo dan juleha ya lang, hehehe, canda pa...
" makanya kalau ngomong jangan sembarangan, memangnya kapan kamu pernah lihat papa deket- deket sama Viona Hem " ucap sang papa menyebutkan nama sekretaris di kantor nya, lalu tangannya ia lepaskan dari tubuh Galang.
" santai aja pa, toh mama juga nggak ngerespon ucapan Galang tadi kan, mama percaya nya cuma sama papa tu"ucap Galang menunjuk kepada sang mama dengan tatapan matanya,sementara tangannya mengusap- usap bahunya yang masih tersisa rasa sakit nya.
Wijaya hanya tersenyum bergantian memandang istri dan juga anaknya itu, harta yang paling berharga yang ia miliki saat ini.
Galang menoleh kearah Anisa.
" kamu naik apa nisa kesininya, bawa mobil sendiri atau di antar sopir? " tanya Galang berbasa-basi, agar Anisa tak terlalu merasa jika Galang tak pernah menganggap kehadirannya disini.
Anisa yang sedang menikmati teh hangat buatan Ryanti itupun segera meletakkan gelas minumannya.
" bawa mobil sendiri mas, pak sopir nya sedang mengantar mama sama papa keluar" jawab Anisa dengan senyum terukir di bibirnya.
Galang tersenyum menanggapinya.
" oh tadi kamu nelpon aku ya, maaf ponsel nya di silent jadi nggak denger kalau ada panggilan masuk" jawab Galang.
sementara sang mama yang mendengarkan nya mencebik, mengerucutkan bibirnya.
" percaya sama omongan Galang sama aja nggak percaya sama hari kiamat, dosa besar, nisa, nisa, mau aja kamu di kibulin sama Galang" bathin sang mama, dengan menarik ujung bibirnya.
Galang tau jika sang mama sedang mencibir dirinya walaupun hanya di dalam hati, Galang dapat membaca dari raut wajah dan juga senyum smirk di bibir mamanya itu.
" mama kenapa kayak gitu, ada yang nyangkut ya di giginya " ucap Galang sengaja menggoda mamanya.
" iya, dosa kamu tuh yang masih nyangkut di awang- awang, taubatnya, taubat sambel sih, bukan taubatan nasuha, insaf lang, insaf" ucap sang mama membalas ucapan Galang, Galang pun mencebik kesal, dia memang tidak akan pernah menang jika berdebat dengan kaum hawa di hadapannya ini, jannah ku kalau kata Galang sih.
__ADS_1
" mama udah makan belum ma, laper nggak, biar Galang cariin makanan buat mama ya" ucap Galang lalu berdiri namun sebelum nya ia berpamitan kepada Anisa tanpa mengajaknya untuk ikut serta bersama nya, hanya pamitan ya nis, karena sejujurnya pak dosen ini kepikiran sama Dena dan juga kalimat sang papa tadi, dokter tampan dan kecantikan Dena yang limited edition itu memang harus di waspada seperti nya dan rupanya ampuh menjadikan jantung Galang kebat- kebit kini, hingga berbagai alasan pun ia ciptakan agar bisa menemui Dena di persembunyian nya.
" aku ikut mas, sekalian pamit pulang om dan tante" ucap Anisa yang langsung berdiri lalu menyalami papa dan mamanya Galang,
" trimakasih ya nisa, titip salam sama papa dan mama mu ya" ucap Ryanti.
Anisa tersenyum kemudian ia berjalan mengekori Galang, ia percepat langkahnya agar dapat menyamai langkah panjang Galang.
" tunggu mas" ucapnya kala jarak mereka sudah semakin dekat.
Galang memperlambat langkah kakinya lalu menoleh kepada Anisa.
" kenapa, ada yang ingin kamu bicarakan" tanya Galang dengan wajah dinginnya dan tanpa senyum manis di bibir nya.
" kenapa sikapmu sangat dingin terhadap ku mas, apa ini ada hubungannya dengan mahasiswi mu itu? " tanya Anisa yang kini sudah ada di sebelah Galang, mereka berjalan beriringan.
" bukan kah kamu sudah tau apa jawab atas pertanyaan mu itu Anisa, apa perlu ku ulangi bahwa jawabannya adalah iya!!
" keterlaluan kamu mas" ucap Anisa dengan suaranya yang mulai berat menahan sesak di dadanya.
" bukan kah kita sudah pernah membahas hal ini nisa, dan kamu tetap dalam pendirian mu begitu pun juga aku, jadi Terima saja apa pun itu konsekuensi nya, apa kamu menyerah? " tanya Galang yang kini menghentikan langkah kakinya demi mendengar jawaban Anisa atas pertanyaan nya barusan.
" aku tidak akan pernah menyerah mas, permisi" ucap Anisa kemudian dia pun berlalu meninggalkan Galang, namun belum terlalu jauh ia melangkah kan kakinya, samar-samar ia mendengar seseorang memanggil nama Galang.
" pak Galang"Dena sedikit berlali untuk menemui Galang, Galang yang sudah paham dengan suara dan panggilan itupun menoleh, senyumnya terukir sempurna.
sementara Anisa yang melihat kejadian itu, tampak membalikkan badannya, dia berjalan menuju ke arah Galang juga Dena yang ternyata tidak menyadari kehadiran dirinya.
" mas Galang" sapa Anisa, yang membuat Galang juga Dena segera mengalihkan pandangannya kepada Anisa.
trimakasih semoga selalu suka.
__ADS_1
see u...