Berbeda Kasta

Berbeda Kasta
marah nya seorang suami.


__ADS_3

Galang masuk kedalam ruang kerja sang papa yang kini telah menjadi ruang kerjanya, karena sang papa sudah menyerahkan semua urusan perusahaan terhadapnya.


Galang membuka layar laptop nya, mengamati setiap perkembangan dalam bisnis yang dijalani sang papa dan kini diteruskan oleh dirinya.


" aku harus bisa membuat kerjasama dengan tuan ismail kali ini lebih gemilang, dibanding kerja sama nya dengan papa tahun kemarin" ucap Galang lalu kembali membuka halaman website nya, membaca beberapa email yang masuk.


Galang menutup layar laptopnya, lalu ia pun meninggalkan ruang kerjanya.


" pintu kamar kok terbuka, Dena kemana? " tanya nya saat melihat pintu kamar nya yang terbuka.


" Dena, kamu dimana? " tanya Galang seraya matanya melihat ke sekeliling kamar mencari keberadaan sang istri yang tak jua menunjukkan batang hidungnya.


" Dena, sayang" Galang menutup pintu kamar nya lalu keluar, mungkin saja sang istri tengah memasak di dapur bersama sang mama, namun saat ia sudah ada di dapur keberadaan sang istri tak kunjung ditemukan.


" mama lihat Dena nggak? " tanya nya pada sang mama yang tengah menyiangi kacang arcis yang akan di masaknya sore ini.


" mama nggak lihat tuh lang,barangkali lagi ditaman samping"jawab sang mama yang kembali melanjutkan kegiatan nya.


Galang pun berjalan menuju samping rumahnya, namun hasilnya tetap sama sang istri tak ada disana.


" coba ditelepon lang" saran sang mama yang rupanya menyusul sang putra ke taman.


" udah ma, tapi nggak diangkat "


" nomernya aktif? " tanya sang mama lagi.


Galang mengangguk kan Kepala nya.


" ya dilacak dong kalau aktif" ucap sang mama.


" ah, iya kenapa Galang nggak kepikiran kearah itu ya ma, thanks ma,, you are my hero" ucap Galang berlalu namun sebelum itu ia sempatkan mencium pipi sang mama singkat.


" makanya nggak usah panik, hal remeh temeh kayak itu aja nggak terlintas kan dibenakmu, Galang, Galang " ucap sang mama lalu segera kembali kedapur.


Galang naik ke lantai dua menuju kamar nya, ia buka layar laptopnya, mencari keberadaan Dena.


Galang Terpekur kala mendapati bahwa Dena tak membawa serta ponsel nya.


" kamu ceroboh sekali Dena, sekarang aku harus mencari kamu kemana? " ucap Galang menyugar rambutnya kasar.


ia kembali menuruni anak tangga, berjalan cepat menuju ke garasi mobil.


" mau kemana mas? " tanya Ardi.


" kamu lihat Dena nggak? " ucap Galang balik bertanya.


" nggak mas, memangnya nggak ngomong sama mas Galang mau pergi kemana?


" ya kalau dia ngomong, saya nggak usah repot- repot kayak ini Ardi, kamu nih kadang-kadang suka konyol juga ya" ucap Galang kemudian menutup pintu mobilnya, nutup pintu nya sih pelan tapi kata- katanya itu lho,, lumayanlah lah ya Di,,, agak kasar, mendekati kasar atau sedikit kasar,, wes lah,, artine yo podo wae,,,tetap kasar!!


" kenapa jadi marah- marah ya, apa nggak dapat ransum dari nyonya muda kah, apa ketahuan tentang florist girl dan bunga lilinya, eh ngomongin tentang bunga, apakabar nya ya si bunga didalam mobil sana, mana mas Galang bawa mobil yang satunya lagi, weh malang bener nasib bunga" ucap Ardi yang segera mengambil kunci untuk melihat si bunga lili yang kini sedang meratapi nasibnya yang telah dicampakan bahkan sebelum tersentuh oleh tangan si empunya nya.


" apa mereka berantem ya, terus mbak Dena nya kabur lari dari rumah gitu,, hmm, tak pikir kalau masih pengantin baru itu drama pertengkaran nya itu belum rampung pengambilan scene nya, masih yang romantis- romantisan aja, lah lalu iki opo?, alah mboh lah, makanya nikah biar tau Di,jangan maunya mengkhayal aja, keburu rambutnya berwarna ganda lho nanti,,, white and black,,, hehehhe,,,


Galang melajukkan Porsche nya pelan, pandangannya kesana kemari berharap ada Dena, mungkin saja sang istri ingin membeli sesuatu di minimarket sekitaran komplek rumahnya ini, atau ingin membeli makanan favorit nya,, tapi mana?sejauh laju kendaraan nya Galang tak jua berjumpa dengan sang istri.


sementara itu di sebuah taman komplek perumahan elit tampaklah seorang wanita mengenakan long dress berwarna sage dengan aksen pita kecil di pinggangnya tengah berjalan mengelilingi taman seraya tangannya menggemgam setangkai bunga mawar putih yang selalu ia ciumi harum nya.


" hmm, harum banget sih kamu rose,, harummu adalah aromaterapi bagiku" ucap Dena lalu ia pun duduk pada kursi taman, ia tak sendiri di sana banyak juga pasangan muda- mudi dan juga pasangan pengantin baru seperti dirinya yang menghabiskan waktu menjelang senja seperti saat ini.


" Hi,, kita bertemu lagi "

__ADS_1


Dena sontak menoleh ketika mendapati ada suara laki-laki yang menyapanya.


" anda? sejak kapan anda disini, anda mengikuti saya? " ucap Dena menggeser duduknya menjauh dari pria yang tiba-tiba saja sudah duduk disamping nya ini.


" a, maaf, nona jangan salah paham, saya tidak pernah mengikuti nona, ini hanya sebuah kebetulan " jawab pria tersebut yang ternyata adalah Ismail rekan bisnis Galang suami Dena.


" benarkah, lalu apa yang anda lakukan disini, mana pasangan anda? " tanya Dena lagi.


" boleh kah saya mengcopy pertanyaan nona itu, lalu saya tujukan untuk nona? " ucap ismail tersenyum.


Dena tersenyum walau tanpa memandang ke arah pria disamping nya itu.


" saya sendiri saja, kebetulan memang sedang ingin sendiri, tapi ternyata saat tiba di taman ini saya bertemu nona, apa boleh kita berbincang-bincang sebentar? " ucap ismail.


"ya silahkan, saya pendengar yang baik jika anda ingin bercerita" ucap Dena.


sebetulnya bukan itu yang di inginkan ismail, namun sepertinya langkah pertama cukup memberikan lampu hijau yang mulai berkedip- kedip, tak apalah jika ia hanya ingin mendengar cerita dan kesah ismail saja, itu jauh lebih baik dari pada ia tak mendapatkan apa- apa dipertemuan kali ini.


" sebenarnya saya pria single, saya belum memiliki pasangan ataupun juga calon pasangan " ucap ismail membuka obrolan nya bersama Dena yang asyik menciumi bunga mawar putih nya.


"kenapa? anda tipe-tipe pemilih, lalu semua wanita tidak sesuai dengan tipe anda kah? " tanya Dena bersikap sewajarnya, ia lupa bahwa apa yang tengah dilakukan nya ini sudah melanggar kodratnya yang saat ini sudah berstatus sebagai istri orang.


" tidak sama sekali, saya tidak mempunyai standar apapun untuk calon pendamping hidup saya"


" orang tua anda mungkin? "ucap Dena lagi.


" tidak juga, mereka modern parent, semua keputusan tergantung saya, kecuali perusahaan mereka akan selalu ikut andil dalam setiap keputusan yang saya ambil dan saya tak pernah membantah itu" ucap Ismail mulai berkisah tentang sekelumit cerita hidupnya kepada Dena.


" ah, berarti masalah anda sangat simpel, jodoh anda sedang dalam perjalanan menuju ke hati anda, maka persiapkan jiwa dan raga anda agar saat ia datang anda sudah matang bahwa yang anda inginkan bukan lagi sekedar hubungan percintaan ala- ala remaja baru bisa pake lipstik atau remaja yang baru mengenal lintingan tembakau nya saja, tapi hubungan yang serius antara pria mapan dan dewasa yang ingin membina sebuah rumah tangga, bukan membina sebuah rasa " ucap Dena.


" nona benar, saya memang tidak membutuhkan hubungan seperti itu, dan saat ini saya sedang menjalani proses nya"


Dena menoleh sekilas pada pria disamping nya itu.


" belum, tapi mudah- mudahan saja ada hasilnya "


" oh, aamiin, saya ikut mendoakan saja, tapi maaf tidak bisa membantu" ucap Dena.


" em, boleh kita kenalan? ismail memberanikan diri untuk menanyakan hal ini terhadap Dena.


Dena kembali menoleh.


" a, nama saya Ismail "


" Adreena" ucap Dena singkat, sebenarnya ia agak keberatan dengan permintaan si pria, tapi tak apalah toh ia hanya mengenalkan namanya saja.


" boleh aku menyimpan nomor ponsel mu? " tanya Ismail yang kini memberikan ponselnya kepada Dena, reflek Dena menerima nya.


" terimakasih " ucap Ismail saat Dena sudah selesai mengetik kan nomor ponselnya pada handphone nya.


hari semakin mendekati senja, dimana langit sudah mulai berwarna jingga, Dena tersadar jika ia sudah terlalu lama meningglkan rumah.


" maaf saya harus pulang" ucap Dena lalu berdiri melangkah meninggalakan area taman dan juga si pria yang ternyata belum beranjak dari duduknya, ia pandangi tubuh Dena hingga hilang dipersimpangan jalan.


" pasti mas Galang khawatir banget nih, mana handphone nya ketinggalan lagi, duh aku harus cepat sampai dirumah, sebentar lagi masuk waktu maghrib " ucap Dena lalu mempercepat langkah kakinya,, ia berjalan setengah berlari, namun tiba-tiba saja sebuah kendaraan berhenti mendadak di samping nya.


Dena menghentikan langkah nya ketika manik matanya mendapati bahwa yang ada dibalik kemudi adalah sang suami dengan wajah datar nya.


" masuk!! ucap Galang pelan namun penuh penekanan.


Dena tak menjawab namun ia segera masuk kedalam mobil tersebut, biasanya Galang akan turun terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk nya, namun seperti nya tidak untuk kali ini, Dena tau Galang pasti marah padanya.

__ADS_1


tak ada percakapan yang terjadi sehingga keduanya sudah keluar dari dalam mobil nya.


Galang membiarkan Dena berjalan terlebih dulu.


" nanti langsung turun lang,kita makan malam" ucap sang mama dari arah ruang keluarga.


" iya ma" jawab Galang singkat lalu naik ke lantai dua menuju kamar nya.


Dena segera membasuh wajahnya lalu mengganti pakaian nya, ia sudah bersiap mengenakan mukenah lalu duduk diatas ranjang dimana Galang juga duduk disitu.


" maafin aku mas, aku pergi nggak izin kamu, pasti kamu khawatir banget ya sama aku" ucap Dena memberanikan diri membuka percakapan nya dengan Galang, namun Galang tetap diam.


" mas " ucap Dena, namun Galang segera berdiri karena rupanya suara azan sudah berkumandang.


setelah selesai melaksanakan sholat maghrib secara berjamaah Galang turun ke lantai satu tanpa mengajak Dena, namun Dena tetap mengekor dibelakang sang suami, ia tak mau mama mertuanya berpikir yang bukan- bukan tentang mereka.


" Kok udah selesai makannya, dikit banget lang, tumben? " tanya sang mama saat ia melihat Galang sudah meletakkan sendok di piringnya.


" Galang kekamar dulu ma, ada urusan kantor yang harus diselesaikan, ayo sayang " ajaknya kepada Dena, dan Dena tau itu hanyalah cara sang suami agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi mamanya.


"a, iya mas" ucap Dena lalu melangkah dibelakang Galang.


Galang tetap diam hingga Dena mendengar suara pintu ditutup.


ia tau Galang kini tengah berdiri di samping nya.


" dari mana saja kamu? " tanya Galang dan Dena tak pernah mendengar sang suami bertanya dengan tata bahasa mendekati kasar seperti ini.


" dari taman di ujung komplek mas"


" kenapa nggak izin dulu, atau minimal kamu bisa memberi tau siapa saja yang ada dirumah ini tidak harus saya Dena"


" aku udah nyariin kamu kemana- mana, tapi nggak ketemu dan dibawah juga nggak ada orang, lagian aku cuma ke taman aja kok nggak kemana- mana" jawab Dena masih santai.


" kenapa handphone ditinggal, sengaja biar nggak ada yang gangguin, nggak ada yang nyuruh pulang, masih pingin hidup bebas tanpa harus terkekang oleh mertua atau suami iya? kali ini kalimat yang terlontar dari bibir Galang sungguh telah mampu merubah raut wajah Dena, yang semula biasa saja kini berubah sendu, bahkan kelopak matanya mulai berair, namun ia tengadah kan agar tak sampai tumpah, salahnya juga kenapa pergi tanpa sepengetahuan Galang.


" kenapa nangis, salah apa yang saya ucapkan? " tanya Galang lagi


Dena hanya diam, sungguh Menahan tangis hanyalah menyesakkan dadanya saja saat ini, namun jika diluahkan siapa juga yang akan peduli, sedangkan kini sang suami tengah marah padanya.


" kenapa diam saja, nggak bisa ngomong, lupa caranya merangkai kata- kata? "tanya Galang yang kini melihat kepada Dena.


" Dena!! hardik nya,, sungguh ia tau ia terlalu, namun rasa khawatir nya ternyata tak beralasan, dia kira sang istri tengah tersesat mungkin, karena ia baru beberapa hari saja tinggal dilingkungan ini, tapi ternyata yang di khawatir kan sedang asyik- asyikan ditaman dan andai Galang tau dengan siapa sang istri ditaman tadi, mungkin amarah nya sudah tak dapat dikendalikan nya lagi.


Dena masih menundukkan kepalanya ia tak berniat menjawab pertanyaan dari Galang, namun airmata rupanya sudah menganak sungai dibawah sana.


entah apa yang membuatnya menangis, apakah hardikan dari Galang atukah ia yang menyadari kesalahannya,, atau mungkin kedua-duanya.


Galang mengangkat dagu Dena dengan jari telunjuk nya.


" aku bertanya Dena, jawab! ucap Galang lagi.


" maaf " ucap Dena terisak.


" disini, aku mencarimu kemana mana,menghubungi ponselmu, tapi ternyata ponselmu tak kau bawa ikut serta, semua yang bertanya menjadi amukan ku, karena apa, karena aku sangat mengkhawatirkan dirimu, kamu adalah amanah yang harus aku jaga Dena, dan jika sampai terjadi sesuatu yang buruk terhadap mu, lalu siapa yang akan diminta i pertanggungjawaban nya, siapa Dena, siapa!!


hmmm, marah nya mengerikan pak presdir,,,


terimakasih


jazakumullah khoiron

__ADS_1


selamat isra mi'raj nabi Muhammad SAW.


see u,,,


__ADS_2