
Ketika Galang merasakan hangat kulit Dena yang menempel di tangannya, ia pun segera membuka matanya dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati sang istri yang setengah naked itu,
ini dirumah sakit ya ukhti, siapa saja bisa masuk termasuk suster jaga yang setiap beberapa jam sekali akan mengontrol pasiennya dan dalam hal ini tentunya adalah Dena,,
ya kalau dirumah sih Galang akan sangat- sangat berbahagia sekali ya jika sang istri memberikan signal yang hampir mendekati five G seperti itu, "tapi ini dirumah sakit sayang, kenapa kamu berpakaian seperti ini? " bathin Galang yang segera menutupi tubuh sang istri dengan selimut yang hampir meluruh ke lantai.
"Dena, kamu gerah, kamu lupa kita lagi dimana hmm? " ucap Galang pelan lalu memunguti pakaian pasien yang dibuang sembarang oleh Dena,, waduh ini kalau si ustadz Ardi tiba-tiba melintas apa dia nggak langsung mandi junub malam ini juga tuh,, weh, weh, weh, secara anak sholeh, minum obat kuat aja haram katanya,, hadist darimana Di, pokoknya haram aja mas, udah titik, no debat!!
" mas pakai kan baju nya yah, nanti AC nya mas rubah deh volume nya biar kamu nggak kegerahan " ucap Galang lalu mulai memakaikan baju untuk Dena.
" aku lupa mas, aku pikir kita tidur dirumah" ucap Dena merasa malu.
" hmm, kalau dirumah juga nggak pernah seperti ini kan? " ucap Galang yang mulai mengancingkan satu persatu kancing baju istrinya itu.
" iya, dirumah kan nggak pernah panas kayak ini cuacanya " ucap Dena lagi.
" o,, jadi harus dimatiin dulu AC nya biar bisa lihat kamu kayak tadi, oke pulang besok mas akan praktikan apakah akan berhasil atau justru mengecewakan, hmm kita lihat saja besok" ucap Galang yang sudah selesai membantu Dena mengenakan pakaian nya dan kini ikut duduk disamping sang istri.
" kenapa nggak tidur? " tanya Galang saat Dena masih saja terjaga dia tengah membaca alquran pada aplikasi di ponselnya.
" nggak bisa tidur lagi mas, kamu kalau mau tidur nggak apa- apa, tidur aja, aku mau nunggu subuh" ucap Dena.
" ya udah kita nunggu waktu subuh sama- sama aja" ucap Galang mendekap bahu Dena pelan.
akhirnya mereka bener- bener menunggu waktu sholat subuh tiba tanpa memejamkam mata sedetikpun.
sebelum suara adzan berkumandang Galang membantu Dena kekamar mandi, bukan untuk berwudhu ya karena Dena hanya melakukan tayamum saja, dia kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lumayan terasa lengket begitu pun dengan Galang, dengan cekatan ia mengganti pakaian sang istri dengan pakaian bersih yang dibawa oleh sang mama.
" udah beres, mas tinggal sebentar kekamar mandi ya" ucap Galang lalu melenggang kedalam kamar mandi, namun baru saja ia akan mengguyur tubuhnya dengan shower, terdengar bunyi seperti barang terjatuh.
pranggg,,,
Galang buru- buru memakai handuknya, lalu segera keluar, ia tak mendapati Dena ada dikamar nya namun samar- samar ia mendengar suara rintihan,,
" aww,, " rintih Dena, Galang pun segera menghampiri nya.
" Dena, ada apa, apa yang terjadi, kamu jatuh? " ucap Galang menundukkan tubuh nya untuk lebih jelas lagi melihat keadaan sang istri yang kini terduduk di lantai seraya memegangi telapak kakinya.
" tadi pingin lihat- lihat pemandangan di luar, namun karena tubuhku masih lemah akhirnya aku terjatuh, dan gelas yang ada ditanganku ikut terjatuh " ucap Dena yang masih memegangi kakinya.
" kakinya kenapa, terluka? " ucap Galang melihat kepada kaki Dena yang ternyata mengucurkan darah segar, ya rupanya pecahan gelas yang terjatuh tadi mengenai kakinya hingga membuat luka nya sedikit menganga.
" tetap disini, mas akan hubungi suster jaga sekarang " ucap Galang.
tak berapa lama seorang perawat laki-laki datang dengan membawa peralatan medis ditangannya.
" nona kenapa bisa begini? " tanya perawat pria tersebut, Galang nengerutkan keningnya.
" nona? bukankah itu sebutan untuk wanita yang belum menikah, sementara Dena adalah istri nya, ah tak apalah mungkin perawat itu belum mengetahuinya" ucap Galang masih coba abai, namun ucapan perawat itu setelahnya sungguh mengusik nya.
" luka pada kaki sepupunya sudah kami bersihkan pak, saya permisi" ucap perawat tersebut, namun Galang buru- buru mendahului langkah kaki pria tersebut.
" dia istri saya bukan sepupu" ucap Galang pelan, dan perawat itu langsung menganggukkan kepalanya.
" a, maaf pak,saya pikir bapak ini pamannya, permisi" ucap pria tersebut sebelum berlalu.
" memangnya wajahku setua itu ya? " tanya Galang lalu melihat pantulan wajahnya dicermin.
Dena pun heran saat melihat suaminya itu yang tak henti- henti memandangi wajahnya sendiri pada cermin.
" mas, kenapa?
__ADS_1
Galang menoleh lalu mendekat kepada Dena.
" memang mas setua itu ya, perbedaan usia kita kentara sekali kah? " tanya Galang yang berdiri didepan sang istri, menunjukkan wajahnya yang putih bersih,hidung mancung juga bibir tipis tapi tanpa hiasan kumis, ataupun jenggotnya, sebenarnya Galang sangat menyukai hal yang disunahkan oleh Nabi tersebut namun apa daya permaisuri tak menyukai keinginan nya itu,maka untuk menghindari urusan yang berdampak semakin rumit nantinya, maka menuruti keinginan sang permaisuri adalah keputusan yang tak dapat diganggu gugat.
" kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu mas, memang siapa yang bilang begitu sama kamu? " tanya Dena.
" perawat tadi bilang kalau mas ini adalah paman kamu, emang mas nggak cocok apa ya jadi suami kamu? " tanya Galang lagi.
" kenapa harus berpikir seperti itu mas, banyak lho paman dan sepupu yang usianya sepantaran, kenapa kamu mikir nya kearah itu, nethink banget sih" ucap Dena
" kamu kok bilang mas negatif thinking sih, nggak ada empati nya kamu sama suami" ucap Galang sedikit kesal.
" lho aku bukan nya nggak empati sama kamu mas, aku tu cuma ingin supaya suami aku ini nggak baperan dengan ucapan orang yang sebenarnya nggak ada manfaat nya itu, buat apa coba, buang- buang waktu, biarin aja orang dengan pendapatnya, bukankah kamu tidak membutuhkan itu lagi, karena mau orang bicara kamu itu pantas nya jadi bapak aku kah, kakak aku lah atau yang lebih tua nya lagi orang mengira kamu itu sebagai kakek aku, tapi kan pada kenyataannya kamu itu adalah suami aku, orang mau bilang apa juga terserah " ucap Dena.
" kamu benar Dena, kenapa aku nggak bisa berpikir dewasa seperti kamu ya, trimakasih sudah menjadi pelengkap hidupku" ucap Galang seraya memeluk Dena dari samping.
" kita disatukan memang untuk saling melengkapi mas, itulah salah satu makna dari pernikahan " ucap Dena yang lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.
setelah melaksanakan sholat subuh secara berjamaah Galang membantu Dena untuk keluar, ia ingin duduk- duduk di taman area rumah sakit ini.
Dena duduk di kursi roda yang didorong oleh Galang.
" Di, nanti kalau ada bapak sama ibunya Dena, kamu hubungi saya ya, Dena ngajakin ke taman sebentar " ucap Galang kepada Ardi yang tengah duduk santai di sofa.
" iya mas" ucap Ardi singkat.
" mas, kamu masih inget nggak sama taman ini? " tanya Dena saat kini mereka sudah sampai di taman.
" hmm, apa ya, mas sengaja melupakannya " jawab Galang.
" kok sengaja sih mas" gerutu Dena yang memandangi bunga- bunga yang mulai bermekaran.
"udah ah, nggak usah ngomongin tentang orang lain saat kita sedang berdua, kita bahas aja tentang masa depan kita nanti nya, tentang anak misalnya"
*
*
"mas, bapak sama ibunya mbak Dena udah datang nih" ucap Ardi pada sambungan telepon nya.
" a, iya kita segera kesana" ucap Galang.
" sayang, bapak sama ibu udah sampai, ayok kita masuk" ajak Galang lalu kembali mendorong kursi roda yang diduduki oleh Dena.
" bapak, ibu" ucap Dena lalu menyalami dan memeluk kedua orang tuanya tersebut, lalu di ikuti oleh Galang.
" kamu kenapa, asam lambung nya kambuh, pasti kebanyakan makan sambel ini" ucap sang ibu yang kini duduk disofa yang memang tersedia pada ruangan rawat inap Dena.
" bener itu bu, bahkan beberapa hari ini saya selalu menerima ocehan dan kekesalan dari Dena, karena saya mengurangi jatah makan pedas nya" ucap Galang menatap Dena penuh kemenangan.
" Dena memang begitu nak, bahkan dibelakang kita dia akan kembali mengulangi kebiasaan buruk nya itu" ucap sang ibu menimpali.
" mas, kok ngadu sih" bisik Dena dengan tangannya yang sudah mendarat di perut Galang.
" aww, sakit sayang, kamu hobby banget ya menganiaya mas" ucap Galang yang kini menjadi perhatian ibu Dena.
" Jagan ringan tangan sama suami, kualat " ucap sang ibu yang memang melihat jika Dena tengah mencubit perut suaminya itu.
keduanya lalu tersenyum.
" puas kamu mas, dibelain sama ibu" ucap Dena pelan.
__ADS_1
" kita impas dong, kamu dibelain mama dan aku dibelain ibu, iya kan? " ucap Galang yang tak diindahkan oleh Dena.
setelah beberapa jam akhirnya ayah dan ibu Dena pamit pulang.
" ibu sama bapak pulang dulu nduk, cepet sehat" ucap sang ibu sebelum meninggalkan ruang perawatan sang putri.
" sayang mas hari ini kan ada meeting, kamu nggak apa- apa kan kalau ditemani sama mbak mirna di sini, mas nggak lama kok,setelah meeting selesai mas segera kembali.
" iya mas, nggak apa- apa, aku juga udah baikkan kok" ucap Dena.
setelah salah satu asisten rumah tangga dirumah Galang datang, Galang pun bergegas meninggalkan rumah sakit tersebut.
" jalannya dipercepat aja Di, saya khawatir tuan ismail sudah sampai dikantor" ucap Galang.
Ardi pun segera menambah kecepatan pada mobilnya menjadi diatas rata- rata.
sementara itu seorang laki-laki tampan dengsnbpostur tubuh tinggi kekar nampak sedang berjalan menuju lift di rumah sakit,setelah lift terbuka iapun segera masuk kedalam nya.
" kamar pasien atas nama nyonya Galang aditama Wijaya ada di ruangan apa ya? " wah fasih sekali tuan ismail ini berbahasa Indonesia rupanya ya,, ya karena ibunya adalah asli warga negara Indonesia, jadilah dia itu sering bolak- balik dari Indonesia malaysia ataupun sebaliknya.
" ruangan Ar Rahman, nomor 23 tuan" jawab wanita berseragam putih dengan senyum manisnya.
" wih, kira- kira doi itu udah punya pawangnya belum ya, kakau belum aku mau nyalon jadi kandidat pendamping hidupnya deh, atau kalau dia ternyata sudah beristri aku rela deh jadi yang kedua ataupun yang ketiga " ucap wanita itu kepada rekan kerja yang duduk disamping nya.
" Cita-cita lo nggak mulia banget sih Ran,emangnya laki- laki tinggal dia aja apa didunia ini" ucap satunya lagi Menimpali.
" Laki-laki sih masih banyak De, tapi yang sempurna kayak doi ya mana ada, kecuali nama yang disebutin sama doi tadi, yang pawangnya sedang terbaring didalam sana, tapi kalau pasangan yang kalem seperti mereka gua nggak berani deh mengganggunya, takut juga gue kalau harus merasakan keraknya neraka, hiiii serem "
ditempat lain, ternyata Dena sedang tak ada dikamar nya, ia tengah berjalan- jalan menggunakan kursi rodanya dan didorong oleh sang asisten dibelakangnya.
" mbak Dena saya izin ke kamar kecil sebentar ya" ucap mirna yang mendapat anggukan dari Dena.
"iya, tapi jangan lama- lama ya mbak" pinta Dena.
setelah mirna masuk kedalam toilet, Dena berniat untuk berdiri lalu melangkahkan kakinya, namun naas ia malah menginjak bebatuan taman yang cukup besar.
" mas Galang,, " teriak Dena, dan tiba- tiba saja ia merasakan ada tangan yang menahan tubuhnya yang hampir saja terjengkal kebelakang lalu akan menimpa batu- baru taman yang sebenarnya tersusun rapih.
" Hati-hati " ucap pria itu ramah.
" Trimakasih " ucap Dena singkat lalu ia mencoba untuk duduk kembali namun belum lagi posisinya sempurna pada kursi tersebut, Dena tak sengaja malah memencet tombol jalan pada kursi roda nya tersebut,namun karena itu adalah area taman hingga kursi roda tersebut malah menabrak bebatuan kembali, dan lagi- lagi Dena hampir saja tersungkur jika saja pria itu tadi langsung pergi neninggalkannya.
" maaf merepotkan anda" ucap Dena kiikuk.
" its okey, saya rasa semua orang akan melakukan hal yang sama jika ia melihat seseorang tengah dalam kesulitan " ucap pria tampan tersebut yang tak lain adalah tuan ismail pathner kerja Galang, namun baik Dena maupun ismail sama- sama tidak tahu dengan siapa kini keduanya tengah berinteraksi.
" apakah nona sendirian saja, dimana teman nona atau mungkin ayah dan ibu nona? " tanya ismail.
" e,, saya bersama asisten pribadi saya, dia ada di toilet " ucap Dena menunduk, sungguh ia tak ingin melihat wajah pria tersebut.
" oke, jika demikian saya permisi " ucap ismail lalu berlalu, namun beberapa langkah kemudian ia tampak mempercepat langkah kakiknya karena sebuah panggilan memintanya untuk segera kembali.
" baiklah saya akan segera meluncur ke kantor nya"ucap ismail kemudian segera masuk kedalam lift yang membawa nya turun ke lantai bawah.
" mbak Dena kenapa mbak, kok kelihatan bingung gitu? " tanya Mirna yang baru keluar dari dalam toilet.
"nggak apa- apa mbak mirna, aku ingin kembali. ke kamar saja mbak" ucap Dena dan Mirna pun langsung mendorong kursi roda tersebut meninggalkan area taman lalu menuju kamar perawatan Dena.
emm, roman- roman nye bakal ada sedikit bumbu- bumbu pernikahan nih,, gurih, manis atau kah asin,semoga saja tidak terlalu pahit ya,,
jazakumullah khoiron
__ADS_1
see u,,,